Sunday, 10 December 2017

Tips Berumah Tangga #1

Kali ini saya akan bercerita mengenai tips berumah tangga. Karena masih terhitung pengantin baru, ehm..., jadi saya, hanya, dapat menjamin tips ini dapat diaplikasikan dan hasil tetap bergantung pada yang maha kuasa dan kedua belah pihak.

Pada fase awal menikah, sangat diperlukan pembahasan mengenai hak dan kewajiban suami istri. Hal ini penting, karena jika tidak, maka ujung-ujungnya adalah perdebatan yang tak berujung. Sang suami akan menggunakan argumen bahwa istri harus menuruti suami, sedangkan sang istri akan berargumen bahwa hal itu tidak adil. Emansipasi harus ditegakkan. Perdebatan-perdebatan seperti itu yang, katanya, berdasarkan agama, kebiasaan, kodrat, keadilan, dan lainnya tidak akan memuaskan kedua pihak dan tidak mengikat. Adanya adalah capek lahir batin.

Solusinya adalah komitmen. Suami istri harus memutuskan hak dan kewajiban masing-masing yang disepakati. Kalau bisa dijadikan seperti dokumen kontrak yang berpasal-pasal dan ditandatangani kedua belah pihak. Jangan lupa sekalian sanksi kalau salah satu pihak melanggarnya. Sanksinya tidak perlu berat-berat, misalnya ada tambahan uang saku Rp20.000,00 bagi pihak yang dirugikan tiap kali terjadi pelanggaran.

Jadi jangan heran kalau rumah tangga isinya adalah berbagai macam komitmen. Mulai dari pembagian tugas rumah tangga sampai pengelolaan anggaran rumah tangga. Apabila di kemudian hari masi ditemukan kasus-kasus yang menjadi perdebatan, diskusikan, sepakati, dan masukkan sebagai addendum komitmen. Dengan begini, insyaallah kekisruhan dalam rumah tangga dapat diminimalisir.

Strategi ini jugalah yang membuat saya bisa tenang setiap bulan meminta jatah biji kopi, beli CD atau yang lain. Kalau istri protes, langsung diingatkan komitmen yang sudah disepakati. Hahaha...

Begitu juga sekitar dua bulan yang lalu, saya dan istri membuat komitmen baru. Hal ini berkaitan dengan kenaikan tunjangan yang akan segera cair. Saya menawarkan untuk membeli kamera yang sedikit lebih bagus dari Lumixnya dia itu, yang putaran setting sudah dol, yang akhirnya hanya bisa pilih mode auto. Dia menyepakati dan pada hari eksekusi, dengan berat hati, diapun merelakan uang keluar dari rekening keluarga dan terbelilah Olympus OMD E-M10 Mark II, seken.

Sekitar sebulan setelah pemakaian, saya menyadari kalau kualitas gambar dari lensa kitnya masih kurang tajam. Sehingga sekarang saya sedang melakukan lobi-lobi supaya anggaran pengadaan lensa baru dapat disetujui. Ini istri udah kayak banggar aja.

- d -









Saturday, 30 September 2017

Perihal 5 Kalimat Deskripsi

Akhir-akhir ini saya mulai merasakan apa yang saya takutkan, kemampuan membangun rangkaian kalimat yang mulai menurun dan menghilang. Rasa ingin menulis yang saya miliki tidak diimbangi dengan kemampuan menuliskan. Beberapa kali ide yang ada saya tuliskan, tetapi beberapa menit kemudian rangkaian kalimat itu menjadi tidak pas. Lalu tombol backspace akan ditekan-tekan berusaha menghilangkan rangkaian yang tidak pas dan tanpa sadar semua yang saya tuliskan akan hilang. Inilah namanya kebuntuan dalam menerjemahkan pemikiran ke dalam tulisan.

Kebuntuan ini mulai saya sadari ketika saya berusaha membuat deskripsi suku batak dan danau toba ke dalam 5 kalimat. Singkat cerita, saya memiliki proyek (obsesi) kecil-kecilan tentang souvenir berkualitas premium di Parapat, Danau Toba. Produk utamanya adalah kaos, sedangkan souvenir lainnya sebagai peramai saja. Melalui produk kaos ini saya tidak hanya ingin menjual barang, tetapi juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui label kertas yang tergantung di kaos. Saya ingin memberikan informasi bagi pembeli tentang suku batak dan danau toba melalui tulisan di label kertas tersebut. Target saya adalah 5 kalimat deskriptif yang menarik, informatif, baku, dan tentunya bagus, menurut saya.

Salah satu contoh adalah gambar berikut ini. Akhirnya saya menyerah membentuk kalimat, saya sudah menghapus berkali-kali, dan hanya membuat poin-poin yang kemudian akan saya kembangkan menjadi kalimat. Tetapi rangkaian kalimat sesuai dengan kriteria yang saya inginkan tidak terbentuk juga. Sudah 2 minggu sejak permasalahan ini muncul dan permasalahan yang lebih besar adalah kaos sudah siap dipasarkan, tetapi saya tidak akan memasarkan sampai label ini jadi.


Baiklah, kemampuan yang saya rasa meningkat justru adalah kemampuan saya dalam mendesain. Peningkatan itu sebenarnya dikarenakan jam terbang di pekerjaan, syukurnya kantor memberikan kebebasan selama masih dalam batas wajar dan mulai berani keluar dari zona nyaman atau kebiasaan.

Kemampuan saya dalam menulis berkebalikan dengan desain. Dengan demikian langsung dapat ditarik kesimpulan bahwa jam terbang saya menulis kalah dengan desain. Tetapi bukan demikian, menulis dalam pekerjaan (kantor pemerintahan) jauh lebih mudah dikarenakan tidak memerlukan kemampuan yang mumpuni. Kreatifitas, dapat dikatakan, dipelukan secukupnya saja karena sudah terdapat format tulisan yang harus diikuti. Menulis dalam pekerjaan juga tidak memperhatikan ketertarikan pembaca. Tujuan utamanya hanyalah menyampaikan informasi sesuai dengan EYD dan selera atasan, titik. Jadi jangan heran kalau jarang sekali ditemukan seseorang yang memiliki hobi membaca laporan.

Jika kondisi minat baca di Indonesia dibilang memprihatinkan, maka minat baca saya bisa dibilang sama memprihatinkannya. Jika saja membaca caption instagram masuk hitungan, mungkin saya dan penduduk Indonesia lainnya tidak akan dicap memprihatinkan. Tetapi memang seperti pepatah, entah dari mana, mengatakan, "visual speaks louder." Manusia lebih tertarik melihat gambar daripada membaca tulisan yang panjang karena, mungkin, otak manusia lebih mudah dan cepat menerjemahkan gambar daripada tulisan. Instagram yang sepertinya paham betul pepatah tersebut ditambah dengan strategi bisnis, maka saya, salah satu korbannya, menjadi lebih menyukai menggeser timeline yang tak berujung itu daripada membaca buku. Instragam disini menjadi kambing hitamnya!

Kesadaran itu semualah yang mendorong saya ingin berkomitmen untuk lebih rajin membaca dan menulis. Untung-untung rasa saya dalam menulis jadi lebih baik. Katanya kan rasa itu seperti pisau, semakin sering diasah akan semakin tajam. Semoga komitmen ini bukan hanya sekedar nama seperti komitmen atas hal-hal yang sebelumnya yang sering dilupakan begitu saja. Semoga.

Oh ya, deskripsi suku batak dan danau toba masih belum ketemu yang pas.


- d -

Tuesday, 8 August 2017

Cerita Singkat, Berita Besar



2017, singkat cerita, berita besarnya, saya sudah menikah. Alhamdulillah.


Beberapa teman tidak menyangka saya akan menikah, dan setelah menikah, beberapa teman melihat saya seperti belum menikah. Berbeda dengan istri saya, namanya Tulad Peni Kharisma, sebelum menikah saja sudah ada yang bertanya punya anak berapa. *hahahaha *siap-siap ditendang pas tidur

Rasanya tahun ini waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa sudah bulan Agustus. Laju waktu yang sudah berlalu memang terasa lebih cepat.

Januari 2017
Bulan januari merupakan yang paling berat tahun ini, pikiran saya terpecah antara skripsi dan persiapan pernikahan. Apalagi penguji skripsi saya adalah seorang profesor yang berkemampuan super, hanya dengan melihat judul di sampul skripsi saja sudah tahu apa isinya. Tetapi saya termasuk golongan yang beruntung karena pertanyaan tersulit yang diajukan adalah menyebutkan isi Nawacita. Saya hanya dapat menyebutkan satu poin dan dengan belas kasih sang profesor, kemudian saya hanya diminta menyebutkan isi Pancasila. Nasionalisme saya diuji dan tentu saja ujian skripsi saya diakhiri dengan gemilang.

Februari 2017
Februari tahun ini merupakan kesedihan. Saya harus berpisah dengan waktu luang yang berlimpah, berpisah dengan kontrakan yang penghuninya, katanya, gak berotak, berpisah dengan musik senam 1000 setiap hari jumat,dan berpisah dengan uang beasiswa.
Selanjutnya saya pindah ke Semarang. Kenapa Semarang? Karena teman-teman saya tidak banyak yang mau ke Semarang. Mereka lebih memilih Jogja. Saya juga awalnya ingin ke Jogja atau Bandung, tetapi dengan banyak pertimbangan saya akhirnya memilih Semarang. Dengan demikian dapat dipastikan sejak mengabdi pada negara tahun 2012, saya sudah berpindah kota sebanyak tiga kali, tidak termasuk Jakarta.

Maret 2017
11 Maret 2017, saya menikah dengan Tulad Peni Kharisma, seorang gadis desa. Ini bukan perumpamaan, rumahnya benar-benar di desa. Jendela kamar kami tepat menghadap sawah. Rasanya seperti tinggal di villa di Ubud saja. Setiap kali sawah tersebut dipanen maka saya dapat memastikan bahwa umur pernikahan kami pas dibagi tiga bulan karena tanggal pernikahan kami bertepatan dengan masa tanam.

Perbedaan budaya Batak dan Jawa yang sangat mencolok menyebabkan saya merasakan hal yang namanya "kaget budaya". Salah satu contoh misalnya: beberapa kali saya terjebak dalam kata-kata "hanya silaturahmi". Saya yang dibesarkan dalam budaya yang blak-blakan akan menerjemahkan "hanya silaturahmi" sebagai hanya silaturahmi. Ternyata makna "hanya silaturahmi" dapat bermakna lamaran atau semua keluarga berkumpul untuk membicarakan hal formal. Bagaimanapun dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung dan syukurlah orang batak pandai berimprovisasi.

April - Juli 2017 kebanyakan menganggur atau diisi dengan pekerjaan serabutan di kantor. Beginilah nasib pegawai titipan seperti saya. Lama-lama saya mau ganti profesi di KTP jadi Pegawai Nganggur dan Serabutan sajalah.

Tetapi satu hal yang perlu selalu diingat dan dijunjung adalah selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Saya dan Ny. Sinaga jadi memiliki banyak waktu dan tenaga untuk jalan-jalan. Kendalanya hanya satu, reformasi anggaran oleh Menteri Keuangan Rumah Tangga.




Saturday, 31 December 2016

Satu-satunya di 2016

Postingan ini akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir di tahun 2016. Itupun kalau postingan berhasil diselesaikan.


Tahun 2016 rasanya tahun yang paling memalaskan, tapi sekaligus juga bersejarah. Kemalasan saya bisa dilihat dari jumlah postingan di blog ini. Saya menjadi korban dari kemajuan era digital dimana akses terhadap hal-hal yang menghibur dan menghabiskan waktu dengan sia-sia itu sangat banyak dan mudah. Lihat saja, saya lebih suka melihat instagram daripada membaca berita di kompas. Saya sering juga membuka kompas tapi terkadang hanya membaca judulnya saja, dan mencari-cari berita yang menarik untuk dibaca berlama-lama. Sedangkan ketika membuka instagram saya bisa tidak sadarkan diri sampai muncul sms berisi sisa kuota.
Tetapi instagram juga memberi saya banyak inspirasi dan informasi penting. Lebih dari setengah dari jumlah akun yang saya follow adalah akun-akun yang dapat menghibur Andre dari terlalu sering melihat foto-foto wanita. Oia, Andre adalah teman satu kontrakan saya yang rajin ke gereja, mencuci, dan berkomentar. Jadi, akun-akun yang saya follow kebanyakan adalah toko cd, toko buku, illustrator, traveler, komik strip, tukang sablon, dan beberapa teman yang-sebenarnya-malas-saya-follow-tetapi-segan-kalau-tidak-difolback.
Dengan berakhirnya tahun 2016, maka hanya kurang sebulan lagi agar saya genap dua tahun tinggal di Solo dan bersiap untuk berpindah kota lagi. Kota selanjutnya adalah ketidaktahuan, tidak tahu akan berpindah ke kota mana lagi.
Hidup di Solo itu santai, tenang, tanpa tekanan dan memang bakalan dirindukan. Bayangkan ketika orang-orang dengan tertib berhenti ketika lampu merah tanpa ada yang menerobos atau melanggar garis, walaupun ada, itupun sangat-sangat sedikit. Kota yang saya impikan untuk tinggal itu seperti ini, bukan lagi Jogja, apalagi Jakarta, apalagi Medan.
Semua hal di kota ini rasanya masih dalam tahap wajar. Fasilitas secukupnya, kemacetan masih wajar, cuaca panasnya juga, dan harga makanan apalagi. Dengan beberapa kriteria itu, maka saya berani mengatakan kota Solo merupakan kota paling layak huni. Belum lagi kegiatan yang berbasis hiburan masyarakat yang setiap bulan selalu ada. Mulai dari festival jenang sampai konser-konser band metal.
Di setengah jam sebelum berganti tahun, saya takut postingan ini kebablasan masuk ke 2017, selain karena rasa malas tadi dan rasa ngantuk juga. Tulisan yang ngalor-ngidul tanpa bentuk dan alur yang jelas ini akan saya posting dengan rasa malas yang besar.


Terima kasih 2016 yang bersejarah.

Saturday, 8 August 2015

The Hundred-Foot Journey

Film apakah yang terakhir kau tonton? Apakah film box office yang diputar di bioskop atau film yang tidak diputar di bioskop (Indonesia) dan kau berhasil menontonnya setelah mengeluarkan sedikit usaha untuk men-download? Kalau saya bertanya kepada diri saya sendiri, maka saya akan menjawab yang kedua.

Film yang baru saja saya tonton berjudul The Hundred-Foot Journey. Sekilas, maka akan terbayang film tentang petualangan, penjelajalan, adventure. Tetapi sayangnya tidak. Film ini bercerita tentang dunia tata boga, masak-memasak makanan yang membuat perut lapar.

Saya tidak mengetahui film ini sebelumnya sampai saya melihat poster film ini di salah satu website berbagi film. Didominasi warna kuning dengan gambar segerombolan orang sedang bercengkrama, sayapun teringat film Little Miss Sunshine. Dan setelah melihat trailer-nya dan membaca sinopsisnya di IMDB, maka saya merasa kedua film ini memiliki kesamaan. Keduanya berlatarkan keluarga besar dan cerita yang, saya rasa, tidak bertele-tele dan didramatisir.
The Hundred-Foot Journey bercerita tentang Hassan Kadam yang sejak kecil sudah diperkenalkan dengan dunia masak-memasak oleh Ibunya. Dikarenakan restoran mereka di India dirusak oleh sekelompok orang dan  Ibunya meninggal, merekapun (Papa Kadam, Hassan, dan empat saudaranya) memutuskan untuk pindah ke eropa dan akhirnya tinggal di sebuah desa di Prancis yang bernama Saint-Antonin-Noble-Val.

Setelah mereka dibantu oleh Marguerete, yang kemudian menjadi teman dekat Hassan, Papa Kadam memutuskan membuka restoran India yang dinamakan Maison Mumbai di bekas sebuah restoran yang terbengkalai. Di seberang Maison Mumbai, tepatnya seratus kaki (one hundred feet), terdapat restoran Prancis mewah, Le Saule Pleureur yang dimiliki oleh seorang wanita bernama Madame Mallory yang sangat berambisi untuk mendapatkan bintang kedua Michelin Stars, bintang pertama sudah didapatkannya 30 tahun yang lalu ketika suaminya masih hidup. Michelin Stars sendiri adalah sebuah penghargaan yang sangat bergengsi untuk sebuah restoran di Prancis.

Singkat cerita, setelah banyak perselisihan antara Maison Mumbai dan Le Saule Pleureur, Hassan bekerja di Le Saule Pleureur dan membantu Madame Mallory mendapatkan ambisinya selama ini, yaitu bintang kedua Michelin Stars. Bintang kedua Michelin Stars ini juga membuka karir Hassan untuk jenjang yang tertinggi. Diapun pindah ke Paris dan bekerja untuk sebuah restoran La Baleine Grise yang berprinsip Cooking is no longer art, it’s a science. La Baleine Grise mengolah makanan menggunakan teknik-teknik memasak yang inovatif dan futuristik.

Di Paris Hassan mencapai puncak keberhasilannya, wajahnya mengisi cover berbagai majalah, orang-orang meminta untuk berfoto bersama. Tetapi disinilah dia mulai merasakan suatu kekosongan. Dia mulai merasa terdapat kekurangan dari masakannya. Dan kekurangan itu seperti tidak dapat dijelaskan, dia tidak mengetahui penyebabnya. Diapun menyadari bahwa kekurangan tersebut terdapat di Saint-Antonin-Noble-Val dimana terdapat keluarganya, Marguerite, dan Madame Mallory. Dia hampir mendapatkan bintang ketiga Michelin Stars, tetapi dia sadar bahwa yang dibutuhkannya adalah rumah, keluarganya.
Sepanjang film, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan perdesaan di Prancis, hutan dengan jamurnya, dan warna dari sinar matahari yang tidak terlalu terik tetapi justru meneduhkan. Suasana yang meneduhkan itu menjadi sangat indah ketika dipadukan dengan warna-warna menyala, merah dan kuning, dari buah tomat atau jeruk yang baru dipetik, dan tentu saja masakan yang selalu membuat kita menelan air liur.

Saya merindukan film-film seperti ini. Film tentang slice of life dengan cerita yang mengalir dan konflik yang tidak dipaksakan. Bukan film tentang superhero, tembak-tembakan, tangis-tangisan, apalagi sinetron tentang hewan-hewananan. Menonton The Hundred-Foot Journey rasanya menyenangkan dan mengobati kerinduan.

Sebagai penutup, saya terbayang-bayang quote dari Papa Kadam, “Wherever the family is, that is the home”
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.