Saturday, 7 September 2013

domba- domba kelaparan

Ada saat kondisi-kondisi tertentu dimana ada keinginan dari pikiran untuk mengungkapkan sesuatu hal tetapi sayangnya pikiran tidak mengenalnya. Hanya ada keinginan untuk mengungkapkan kekosongan, sembarangan, tak beraturan, membingungkan yang mungkin membuat pembaca mengernyitkan dahinya dilingkupi pertanyaan. Tapi siapa peduli dengan pembaca. Kalau peduli dengan pembaca maka yang diungkapkan akan menjadi sesuatu yang sangat komunikatif dan menyenangkan untuk dibaca diulang-ulang.
Lalu timbul pertanyaan “apakah tujuan sebuah tulisan adalah untuk dibaca?”
Lalu seseorang menjawab “eksistensi sebuah tulisan ada karena ada yang membaca. Kalau tidak ada yang membaca maka tulisan itu tidak ada”
“Lalu bagaimana korelasi antara tulisan dengan pembaca?”
“Kau harus mengibaratkan mereka seperti air dan hujan, kalau tidak ada air maka tidak ada hujan. Begitu juga jika tidak ada tulisan maka tidak ada pembaca.”
“Lalu bagaimana kalau dianalogikan sebaliknya?”
Seseorang itu tidak menjawab, mungkin merasa jengah atau salah menganalogikan, lalu dia meninggalkan pikiran. Pikiran lalu mencoba menghitung domba-domba imajiner untuk dapat tertidur. Tetapi hal itu adalah tindakan kuno bagi pikiran yang habis disuntik dengan kafein berlebih dan dibayangi rasa lapar yang menggemetarkan tangan. Hal-hal bergerak lebih cepat sekaligus lebih lambat. Lalu semuanya saling bertabrakan dan menghancurkan. Pikiran mengikuti dengan berlari kencang, menabrak, menghancurkan, lalu melompat ke dalam jurang. Akhirnya dia tertidur

Friday, 9 August 2013

Menjadi Pemalu

Sudah lama sekali blog ini tidak diisi tulisan, sudah hampir setengah tahun. Kalau diibaratkan sebuah rumah, tentu atap-atapnya sudah dipenuhi sarang laba-laba dan lantainya berdebu tebal. Tetapi ada alasan untuk itu. Saya mulai merasa menulis tentang diri sendiri, bercerita pengalaman atau kondisi perasaan, adalah hal yang memalukan dan menggelikan.  Entah mengapa, walaupun sebenarnya hal itu tidaklah memalukan.


Thursday, 14 March 2013

Sepeda Sekolah

Panjul berlari keluar rumah. Sepedanya kesayangannya hilang. Dalam kepanikan dia berusaha tenang.  Penjaga warung di depan rumah tadi melihat seseorang laki-laki berdasi membawa sepedanya. Orang itu pasti pencuri. Pencuri itu ingin dikejarnya, tapi tidak tahu kemana. Dia hanya bisa berlari.

Panjul terus berlari. Sekarang lebih kencang. Dia berlari ke jembatan perbatasan dengan desa sebelah. "Pencurinya pasti dari desa itu. Desa ini tidak pernah menyimpan pencuri.", otaknya mulai mencari-cari tersangka. Dia berlari sepanjang jalan desa yang berbatu. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi dia tidak menangis. Dia hanya sesekali meringis karena lupa memakai alas kaki.

Daripada disebut sepeda, benda itu lebih pantas dikatakan besi tua. Kalau saja Panjul tidak merawatnya dengan tekun, tentu saja sepeda itu hanya akan menjadi onggokan besi tak berguna. Persendiannya berkarat,  bautnya longgar, dan bunyinya menjeritkan umur yang renta. Semangat Panjul untuk bersekolah yang menggiatkan dia untuk merawat besi tua itu dengan sayang. Dengan menggunakan sepeda saja, perlu waktu sejam untuk sampai ke sekolahnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana cara dia ke sekolah tanpa sepeda itu. Dan sekarang hatinya benar-benar remuk.

Pengejaran Panjul tidak sia-sia. Instingnya benar-benar tajam untuk menduga kemana tujuan pencuri itu. Dia melihat seorang laki-laki di atas jembatan. Berpakaian sangat rapi dengan celana berwarna hitam, kemeja putih, dan sebuah dasi. Di dekat laki-laki itu ada sepedanya yang disandarkan di pinggir jembatan. Penjaga warung tadi juga mengatakan bahwa laki-laki itu berdasi. Tidak salah lagi, orang itulah pencurinya. Panjul semakin kencang berlari. Dia takut laki-laki itu membawa lari sepedanya lagi.

Jaraknya dengan laki-laki itu semakin dekat. Pada detik-detik seperti itu, fokusnya hanya pada laki-laki itu dan sepedanya. Panjul memandang keduanya terus-menerus secara bergantian. Sepedanya tidak bergerak, laki-laki itu juga. Dia berdiri diam memandangi sungai. Panjul bersiap-siap untuk melabrak pencuri itu.

"Aku sudah menunggumu dari tadi.", tiba-tiba laki-laki itu bersuara.

Panjul terkejut, tapi dia tidak lantas diam.  "Kau pencuri. Kembalikan sepedaku!", katanya sambil mendekat untuk meraih sepedanya.

Laki-laki itu bergerak dari posisi diamnya, dia memandangi Panjul yang sedang mengangkat sepeda kesayangnnya. "Apa yang membuatmu cukup lama untuk sampai kesini? Aku sudah menunggu dari tadi. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan."

"Sejak kapan pencuri banyak bicara?", sepedanya sekarang sudah berdiri di sebelahnya.

"Apa kau tahu siapa aku?", laki-laki itu balik bertanya.

Panjul hanya diam. Dia tidak menjawab.

"Aku ini Menteri Pendidikan. Aku ingin membangun sekolah di desa ini. Kasihan melihat disini tidak ada sekolah dan aku kasihan melihatmu harus bersepeda dua jam sehari hanya untuk menuntut ilmu. Bagaimana desa ini bisa maju kalau sekolah saja tidak ada. Kau harus senang karena akan ada sekolah disini.", laki-laki itu menjelaskan.

"Lantas kenapa kau mencuri sepedaku, Pak Menteri? Kau sudah tahu kalau aku mungkin tidak akan bisa bersekolah tanpa sepeda ini. Kakiku sampai luka karena mengejarmu.", Panjul mulai merasakan perih di kakinya.

"Sudah aku jelaskan tadi. Aku ingin berbicara beberapa hal denganmu."

"Kenapa tidak di rumahku saja? Kau bisa datang dengan baik-baik. Tidak akan ada yang mengusir atau menuduh kau pencuri. Kau bahkan akan disuguhi teh."

"Terlalu banyak orang yang tidak memahami arti pendidikan disana. Kau pasti mengerti bagaimana susahnya berbicara dengan orang-orang yang tidak berpendidikan. Mereka kolot. Hanya ingin hasil yang instan tanpa memahami prosesnya. Di desa ini, aku hanya melihat kau yang masih bersemangat untuk bersekolah. Anak-anak lainnya lebih memilih untuk bekerja di sawah. Aku harap kau mau membantuku. Aku akan membangun sekolah di desa ini." kata laki-laki itu.

Panjul menimbang-nimbang apa yang dikatakan laki-laki itu. Dia masih belum bisa menerima pencuri sepedanya ternyata seorang menteri. Kalau yang dikatakan oleh laki-laki itu adalah kebohongan, maka itu adalah kebohongan yang paling tolol yang pernah terjadi. Seorang pembohong sekalipun tidak akan mengarang cerita konyol seperti itu. Kalau apa yang dikatakan laki-laki itu benar, mungkin saja benar, tidak ada salahnya sekali-kali untuk percaya. Toh sepedanya sudah kembali ke kuasaannya. Dia juga ingin agar teman-temannya yang lain merasakan sekolah.

"Bagaimana caraku membantu bapak? Bapak tentu tahu aku masih SMA.", tanya Panjul ke laki-laki itu dengan lebih sopan.

Muncul sebuah seringai di wajah laki-laki itu, "Jadi kau bersedia membantuku? Ada banyak yang bisa kau lakukan. Kalau kau bersedia, akan aku jelaskan semua. Aku jamin desa ini akan maju."

"Aku belum bilang bersedia. Aku ingin tahu dulu apa yang akan aku lakukan.", Panjul mulai mencurigai laki-laki itu. "Kapan bapak mau membangun sekolah disini?"

"Sebagai seorang yang berpendidikan kau tentu paham. Tidak ada yang bisa dibuat dengan instan selain indomie, selalu ada proses yang harus dijalani.", laki-laki itu mulai membual.

"Kapan?", sela Panjul.

"Langsung ke inti. Aku suka gayamu.", Laki-laki itu menjawab dengan sedikit tersenyum. "Tahun depan adalah pemilu presiden. Kalau aku menang dan jadi presiden, akan aku bangun sekolah di desa ini. Aku bisa juga membantu membangun rumahmu. Karena itu aku berharap kau mau membantuku."

Panjul terkesiap. Dia terdiam sebentar untuk mencoba mencerna situasi lawan bicara yang dihadapinya. Awalnya seorang pencuri, lalu menteri, dan sekarang calon presiden. Dia teringat tiga tahun lalu, menjelang pemilu, ada seorang laki-laki yang mencalonkan diri menjadi gubernur berkunjung ke desanya. Laki-laki itu berhasil menarik simpati seluruh warga desa dengan janjinya untuk membangun jalan di desa itu yang tidak pernah layak dan banyak janji-janji lainnya. Sekarang laki-laki itu menjabat sebagai gubernur dan sampai sekarang dia seperti sudah lupa janjinya. Desa itu dilupakan dan jalan tidak berubah. Tetap berbentuk tanah bergelombang yang menjadi tempat kerbau berkubang setelah hujan.

"Kenapa harus menunggu menjadi presiden dulu? Kalau bapak benar-benar ingin membantu, ingin membangun sekolah, tentu sekarang juga bisa. Tidak harus menunggu menjadi presiden.", kata Panjul.

Wajah laki-laki itu berubah menjadi datar. Seringai di wajahnya sudah hilang dari tadi. Dia menyangka akan mudah menaklukkan Panjul dan menjadikannya tim sukses di desa ini. Ternyata tidak. Tapi dia tetap tenang seperti sudah biasa menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

"Aku mengakui kau memang anak yang cerdas. Tapi kau tidak memahami birokrasi. Aku tidak sedang meledekmu. Tidak. Anak seumurmu wajar tidak mengerti hal seperti itu karena memahami birokrasi bukanlah hal yang mudah. Bahkan orang-orang yang terlibat di birokrasi bertahun-tahun belum tentu paham filosofi mereka bekerja. Dan..."

Laki-laki itu terdiam sejenak. Lalu menghela napas.

"Ah! Aku benci berbasa-basi. Tapi ketika terlibat di dunia politik semakin jauh, maka semakin banyak basa-basi yang harus dikeluarkan. Begini saja. Aku hanya ingin kau membantuku. Bantu aku agar menang di desa ini. Kita membuat kesepakatan. Kalau kau setuju untuk membantuku, aku juga akan membantumu. Aku akan memperbaiki rumahmu. Lantainya akan aku semen, atapnya akan diganti dengan genteng. Aku akan membelikanmu motor. Kau tidak perlu capek lagi menggowes kalau ingin bersekolah. Aku juga akan memberikan modal untuk ayahmu. Kalian bisa membuka usaha di desa ini. Kalian bisa membuka warung nasi atau jualan apapun yang kalian mau. Aku bisa membantu itu. Kau hanya perlu mengatakan ya untuk membantuku. Hanya itu. Lalu kalau aku berhasil menang menjadi presiden, akan aku bangun desa ini, akan aku bangun sekolah. Bagaimana menurutmu?"

Wajah laki-laki itu berubah menjadi serius. Sebuah keseriusan yang menggambarkan kesungguhan. Panjul-pun menjadi bimbang dengan tawaran laki-laki itu. Keluarganya sudah cukup lama terjebak di lingkaran hidup yang pas-pasan dengan kemungkinan untuk bebas yang sangat kecil. Kebebasan baru akan didapat setelah mati karena setelah itu, kemiskinan akan menjadi harta yang harus diwariskan. Jadi tidak heran ketika sudah beberapa orang dari desa itu yang cukup berani untuk mengakhiri hidupnya sendiri demi sebuah kebebasan. Tapi Panjul masih mengingat pengingkaran yang dilakukan gubernur sekarang. Dia tidak ingin desanya dikhianati lagi. Kalau dia bersedia membantu laki-laki itu, maka secara tidak langsung dia akan bertanggung jawab atas semua janji-janji yang akan dibuat. Ketika semua janji-janji itu tidak ditepati, maka dia akan menjadi kambing hitam. Seluruh desa akan menghujatnya. Kemungkinan terburuk adalah dia akan diusir atau mungkin dibunuh. Sedangkan dia pernah bercita-cita untuk membangun desanya itu.

"Aku heran mengapa para politisi selalu siap dengan janji-janji yang tak pernah habis. Seperti tidak ada yang bisa mereka berikan selain janji. Perjanjian itu baru akan ditetapi kalau mereka menang di pemilihan. Tapi janji itu hanyalah lisan. Tidak ada yang berani menjadikannya tulisan yang bisa digugat.", kata Panjul tiba-tiba.

"Ketika mereka menang dan ditagih janjinya, mereka selalu berbicara proses sebagai alibi. Siklus empat tahunan itu selalu terjadi seperti itu. Rakyat sebenarnya sudah mulai jengah. Tapi apa yang bisa dilakukan rakyat kecil seperti kami? Kami hanya bisa memilih orang dengan janji yang paling menarik dan dengan kemungkinan terbesar dia memenuhi janjinya. Aku terkadang berpikir lebih baik tidak memilih. Tapi apakah itu lebih baik atau lebih buruk. Lalu aku berpikir lebih baik memilih yang lebih baik di antara pilihan yang buruk daripada tidak memilihnya sama sekali."

Laki-laki itu sedikit keheranan, tapi sebagai seorang politisi senior, dia sudah biasa menghadapi setiap situasi dengan tenang. Dia sebenarnya tidak terlalu terobsesi untuk menjadi Presiden, tetapi tekanan dari partai membuatnya harus menyiapkan strategi dan ,terutama, dana ekstra. Partailah yang sudah menjadikannya orang besar dan sekarang partai mengharapkan imbalan yang seimbang dari simbiosis mutualisme yang terbentuk. Tetapi seperti utang budi yang tak pernah dapat terbalaskan, partai selalu mengungkit jasa yang sudah diberikannya dan mengharapkan imbalan yang progresif dan tidak pernah habis.

Dia sudah ingin keluar dari partai sejak lama dan menjalani hidup yang lebih tenang tanpa gangguan. Tetapi perpolitikan adalah wujud lain dari labirin kehidupan seperti kemiskinan yang dihadapi warga di pedesaan. Tekanan dari partai dan modal miliyaran yang sudah dikeluarkan menjadikan kekuasaan adalah satu-satunya jalan keluar menuju ketenangan.

"Apa kau menolak tawaranku?", tanya laki-laki dengan tegas.

"Aku tidak menolak, hanya saja aku tidak mau menerima tawaran Bapak.", Panjul menjawab.

"Apa bedanya? Kau mulai bertingkah sok pintar dengan logika yang berbelit-belit. Aku sempat berpikir kalau kau lebih pintar dari orang-orang desa lainnya. Ternyata sama saja. Semua warga desa sama saja.". Ekspektasi dan optimisme yang terlalu tinggi dari laki-laki itu atas Panjul menjadikan hatinya benar-benar kecewa. Dia tidak bisa menahan emosi yang berusaha keluar menguasai.

"Aku tidak menolak. Aku hanya tidak percaya dengan politisi yang terlalu mengumbar janji. Semakin tinggi janji yang mereka tawarkan maka kemungkinan untuk tidak ditepati akan menjadi semakin tinggi. Mereka sama saja dengan penipu.", Panjul menjelaskan.

"Kau menuduhku penipu sekarang?", tanya laki-laki itu dengan berang.

"Tidak ada yang menuduh bapak penipu. Aku hanya mengatakan mereka yang tidak menepati janjinya adalah penipu."

"Kau tidak berkata seperti itu tadi. Secara tidak langsung kau sudah menuduhku penipu. Memangnya kau siapa berani menuduhku penipu."

Panjul memutar sepedanya ke arah desa dan menaikinya. Dia memilih untuk pulang ke rumah daripada terus  berdebat dengan laki-laki itu yang mungkin tidak akan jelas ujungnya. Rasa sedih akan kehilangan sepedanya sudah hilang. Perasaan sedih itu sekarang berubah menjadi kekesalan terhadap laki-laki yang menjadi lawan bicaranya. Tapi dia berusaha menahan perasaannya dan tetap tenang. Dia tidak ingin meladeni perkataan laki-laki itu lagi. Setidaknya sekarang sepedanya sudah aman di tangannya. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi.

"Mau kemana kau?", tanya laki-laki itu.

Panjul hanya diam. Dia tidak mengacuhkan laki-laki itu sambil mulai menggowes sepedanya.

"Lancang sekali kau meninggalkanku. Aku sedang berbicara kepadamu. Kau benar-benar tidak tahu sopan santun."

Melihat Panjul meningkalkan dan tidak mengacuhkannya, laki-laki menjadi semakin berang. Dia merasa seperti dihina. Apalagi oleh seorang anak dari desa yang diremehkan oleh orang-orang. Harga dirinya seperti diinjak-injak. Laki-laki itu menjadi kalap, emosinya tidak dapat lagi dikontrolnya. Dia mendorong Panjul yang mulai menggowes sepedanya sampai terbanting di jembatan.

"Apa yang bapak lakukan?", Panjul membentak.

Laki-laki itu tidak lagi dapat berpikir dengan jernih. Pandangannya sudah gelap dan otaknya sudah dikuasai amarah. Ketenangan yang daritadi tergambarkan di wajahnya lenyap. Wajahnya berubah menjadi buas dikarenakan kemarahan. Dia melihat sepeda Panjul yang tadi dicurinya tergeletak di jembatan. Sepeda itu diangkat dengan kedua tanggannya, tidak memerlukan tenaga yang banyak untuk mengangkat sepeda itu, lalu dilempanya sepeda itu ke sungai. Besi tua itu sempat mengenai pembatas jembatan yang diikuti suara besi beradu dan patah sebelum terjun jatuh ke sungai.

Panjul yang sedang meringis kesakitan karena badannya terbanting keras melihat kejadian itu dengan mulut menganga. Pikirannya sempat kosong sebelum merespon apa yang sebenarnya terjadi. Seketika mendengar suara benda yang masuk ke sungai, Panjul langsung bangkit dan berlari ke pinggir jembatan. Dia sempat melihat sepedanya yang terbawa arus dan tenggelam menghilang.

"Apa yang kau lakukan?". Tanya Panjul dengan penuh amarah. Tetapi ketika dia menoleh ke belakang, laki-laki yang ditanyainya sudah menghilang. Matanya mulai mencari-cari, tetapi wujud laki-laki itu sudah lenyap. Tidak ada. Tidak ada dimana-mana. Laki-laki itu menghilang seperti angin yang tak berjejak.

Panjul kebingungan. Pikirannya mulai membayangkan nasib sekolahnya besok. Sekolah tanpa sepeda itu adalah sebuah penyiksaan. Dia harus berjalan kaki selama tiga jam lebih atau terancam tidak dapat bersekolah.

Amarah, kesedihan, kekesalan, dan kekecewaan memenuhi perasaannya. Objek pelampiasan sangat dibutuhkannya saat itu. Tetapi tidak ada apa-apa selain tanah, langit yang berawan, dan angin. Pikiran dan perasaannya benar-benar terbebani. Tidak ada pilihan yang bisa dilakukannya selain menjerit. Menjerit sekeras-kerasnya dengan harapan beban perasaan itu terlampiaskan.

Dg. Sija, 14 Maret 2013

Monday, 4 February 2013

Tulisan Ngawur


Beberapa teman saya menyarankan untuk membuka akun twitter, beberapa yang lain menyuruh membeli HP android, dan kakak saya ingin mewariskan Blackberry-nya. Tanpa perlu pikir panjang saya menolak semua, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena hal-hal itu sudah saya pertimbangkan dari lama. Saya belum merasa perlu memikirkannya untuk kedua kali.

Jujur, saya menghindari segala bentuk kemudahan komunikasi tanpa bertatap muka, walaupun itu susah. Facebook, twitter, whatsapp, bbm, dan teman-temannya yang lain, bahkan sms dan telepon.  Saya menganggap kemudahan-kemudahan itu sebagai jebakan. Lewat sms atau telpon saja saya sudah sering tertipu dan menipu. Misalnya ketika menanyakan kabar kepada seseorang, berapa persentase jawaban tidak sehat, kurang sehat, atau sakit yang muncul? Jawaban itu hampir selalu sehat, sehat, sehat. Alhamdulillah. Walaupun terkadang kenyataannya mules, sakit kepala, atau kelaparan. Saya adalah bukti yang hampir selalu menjawab sehat ketika ditanya masalah kabar. 

Saya juga melihat orang-orang lebih berani berkomunikasi dan beragumentasi lewat dunia maya. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan dirinya seperti tidak ada rasa grogi dan malu. Kalaupun ada, rasa itu bisa ditahan di dalam kamar. Seperti yang saya lakukan melalui blog ini. Berceloteh mengenai hal-hal tidak penting. Hal yang bisa dibilang parah adalah ketika seseorang di kehidupan nyata yang cenderung introvert bisa menjadi sangat berisik di dunia maya. Sedangkan kebalikannya dianggap biasa saja. Lebih parah lagi kalau orang tersebut adalah anak kamar yang sangat jarang keluar. Di Jepang yang seperti ini disebut Hikikomori. Mereka biasanya memanfaatkan berbagai jejaring sosial untuk berkomunikasi. Dunia nyata dan maya sudah terbalik fungsinya.

Komunikasi lewat telepon masih lebih baik dibandingkan sms, saya hanya ingin (bisa) membandingkan dua ini saja. Melalui telepon feedback yang diharapkan dapat langsung diperoleh. Seseorang yang belum ahli dalam berimprovisasi akan memberikan feedback berupa respon alam bawah sadarnya yang lebih jujur. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk mengarang cerita. Berbeda dengan SMS. Feedback disampaikan sepenuhnya berasal dari kesadaran. Waktu bisa diulur-ulur untuk menciptakan improvisasi yang diharapkan indah. Respon itu menjadi tidak lagi jujur. Sesorang bisa saja terlihat antusias tetapi kenyataannya sinis.

Saya merasa tertipu  dengan itu semua. Sehingga saya lebih suka berkomunikasi face to face. Bahasa tubuh lawan bicara menyampaikan respon yang lebih jujur dari kata-kata. Kau dapat memahami apakah yang disampaikan adalah kejujuran atau karangan. Perasaannya juga dapat jelas tergambarkan. Bosan, sedih, gembira, bahagia. Media-media yang menjadi substitusi dari mengobrol tidak sanggup menyajikan itu semua. Hanya beberapa kata, status, atau emoticons yang dapat sedikit menggambarkan. Itupun kalau jujur. Tetapi sesuatu yang dilakukan untuk mengharapkan reaksi tidak mencerminkan kejujuran.

Terkadang saya berpikir untuk membebaskan diri. Membuang HP ini ke tong sampah. Hidup ke masa lalu dimana kantor pos masih menjadi nomor satu. Tetapi ketika fungsinya masih jauh lebih unggul daripada kerumitan-kerumitan yang saya pikirkan, maka HP ini tetap saya bawa kemana-mana. Saya hanya meminimalisir penggunaannya saja. Sebatas hal-hal yang penting dan kalau saya mulai membahas hal-hal yang tidak penting berarti itu bukan saya, tetapi diri saya yang sedang bosan dan mulai gila.

Sunday, 20 January 2013

Wakil rakyat seharusnya merakyat


Demokrasi itu sangat indah teorinya. Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Negara bahkan didirikan dengan tujuan menyejahterakan rakyatnya, mendidik mereka menjadi pintar, dan melindungi hak-haknya. Semua kebijakan dibuat dengan pertimbangan kepentingan rakyat. Rakyat adalah raja.

Negara modern yang memiliki berjuta-juta penduduk sangatlah susah apabila ingin menerapkan demokrasi langsung. Apabila dipaksakan, yang terjadi adalah ketidakefisienan. Keputusan yang bulat akan sangat lama diperoleh dan ditetapkan. Jadi pilihannya hanyalah demokrasi perwakilan atau tidak langsung. Rakyat memilih wakil-wakilnya yang akan menduduki jabatan legislatif. Melalui wakil-wakilnya itu, pemikiran masyarakat disalurkan.

Demokrasi perwakilan itu bukanlah demokrasi ketika legislatif tidak pernah bersinggungan dengan rakyat yang diwakilinya. Legislatif itu eksklusif. Seakan-akan ada, seharusnya tidak ada, jurang yang sangat lebar yang memisahkan antara legislatif dengan rakyat. Suara rakyat tidak terdengar oleh mereka. Saya sampai bingung, sebenarnya para legislatif itu menyuarakan suara rakyat atau pemikirannya sendiri atau malahan pemikiran partainya.

Saya tidak ingin mengeneralisasi para wakil rakyat yang terhormat itu. Tapi ketika seseorang menduduki kursi legislatif, tidak ada dari mereka yang miskin. Duduk disana berarti kaya raya, punya rumah, mobil, kekuasaan, dan kesibukan yang tiada henti. Itulah alasan mengapa diperebutkan. Bukanlah dongeng bahwa kesenjangan antara yang kaya dan miskin bagaikan tembok berlin yang baru akan runtuh ketika si kaya membuka hati.

Rakyat miskin terlalu berkecil hati untuk mendekati mereka. Sedangkan para legislatif itu dengan rumahnya yang megah, mobilnya yang mewah, dan kesibukannya yang menjadikan waktu seperti sapi perah tidak pernah berhenti bekerja. Mereka membahas peraturan yang tidak pernah selesai. Mereka membawa keluarganya ke eropa untuk belajar dan belanja. Mereka menyusun anggaran untuk memperbaiki ruang rapat mereka sampai taraf mubazir. Mereka juga menjadi selebriti yang berdebat di televisi. Dengan kesibukan yang super padat seperti itu, kapan mereka mendengarkan rakyat? Kalau seperti ini, praktek demokrasi kita hanyalah topeng!

Saya sempat penasaran dengan prestasi legislatif di tahun lalu. Saya coba googling dengan kata kunci “prestasi DPR 2012”. Silahkan lihat sendiri hasilnya.