Saya teringat sewaktu saya mengubek-ubek pasar kebayoran dan saya menemukan sebuah kaos bertuliskan "bisa tidak demokrasi tanpa partai politik?". Walaupun kaos itu tidak saya beli, tetapi kata-katanya benar-benar tidak bisa dilupakan. Apalagi kalau mengikuti berita kondisi politik di Indonesia sekarang ini. Terkadang saya terpikir kira-kira bisa tidak sebuah negara demokrasi tidak diperebutkan oleh partai-partai politik.
Tujuan dari didirikannya partai politik adalah untuk merebut kekuasaan politik di sebuah negara, walaupun mereka berkata mereka akan mewakili rakyat karena rasanya mustahil kalau ingin menerapkan demokrasi langsung di negara kita ini. Setelah mereka berhasil berkuasa, tujuan itu sedikit bergeser menjadi bagaimana mempertahankannya. Jadi jangan heran kalau kita melihat pemilu seperti sebuah perang internal. Penuh dengan strategi, mulai dari bagaimana caranya mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya sampai bagaimana menyiapkan serangan di kala fajar.
Menurut teori klasik Aristoteles, politik merupakan usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pengertian lainnya mengatakan, politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional dan nonkonstitusinal. Kalau dipersatukan menjadi politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional dan nonkonstitusional untuk mewujudkan kebaikan bersama. Kebaikan bersama tentu saja kebaikan bersama partai politiknya. Kalau mereka katakan demi kebaikan masyarakat, that's bullshit!
Pernah terpikir tidak kenapa ada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)? Ilmu sosial dan ilmu politik pada awalnya dapat berjalan berbarengan, tetapi sekarang saya merasa kedua ilmu itu bertentangan. Ilmu sosial fokus pada kepentingan masyarakat umum sedangkan ilmu politik lebih terfokus pada kepentingan sebuah kelompok atau golongan. Kebanyakan sekarang itu adanya politik berkedok sosial. Berkoar-koar mengenai kesejahteraan untuk rakyat, sembako murah, atau apalah yang lainnya.
Dia yang banyak uang, dia yang berkuasa. Rasa-rasanya semua bisa dibeli dengan uang. Kursi di parlemen saja bisa dijual. Kalau saya punya mesin waktu, bakalan saya lempar mereka ke zaman batu.
No comments:
Post a Comment