Tuesday, August 30, 2011

Selamat merayakan 1 Syawal!

"Kita tidak jadi menang hari ini. Masih ada satu pertarungan lagi."
Begitulah kata-kata pengumuman dari mesjid setelah shalat isya yang berhasil membubarkan orang-orang yang berkumpul dan bersiap-siap untuk takbiran. Lucu juga pilihan kata-katanya menurut saya dan tertundalah takbiran dengan obor malam ini.
Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa disebut hari kemenangan. Apa karena kita semua benar-benar menang atau supaya kita merasa menang. Padahal kita tidak tahu kita apakah kita menang atau tidak. Apalagi orang seperti saya yang puasa ala kadarnya. Apakah saya akan dianggap sebagai pemenang dan merayakan 1 syawal sebagai hari kemenangan?
Mendengar hari kemenangan, orang-orang jadi merasa senang, gembira, bahagia. Jarang kita temukan orang yang bersedih. Saya penasaran kenapa orang-orang merasa begitu bahagia. Apa karena mereka sudah tidak akan berlapar-lapar lagi, minimal sampai tahun depan, atau karena mereka akan mengenakan baju baru, atau karena akan ada pesta kecil-kecilan di rumah. 
Tidak tahulah. Sayapun tidak tahu jawabannya. Kalau orang-orang senang, saya akan ikut-ikutan senang. Kalau orang-orang bersedih, saya akan ikut-ikutan sedih. Esensinya saya tidak tahu apa. Rasa dingin sepertinya membuat otak saya sedikit beku, semua jadi terlihat negatif.
Saya hanya mau mengucapkan selamat merayakan 1 Syawal 1432 H. Tidak peduli 1 Syawal kalian hari ini atau besok. Dan jangan memperdebatkan siapa yang salah atau siapa yang paling benar karena jawabannya tidak akan kita temukan. Benar dan salah itu paralaks bergantung darimana kalian memandang.
(semoga Allah menjadikan kita) bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)
dan berbahagialah! kalau kalian merasa 1 syawal ini hari kemenangan kalian.

Friday, August 26, 2011

Hari ini, 23 Agustus 2011


Saya baru tidur sekitar pukul setengah 1. Bukan karena belajar buat kompre, tapi karena saya sedang menyiapkan list barang yang mau dipacking nanti sambil membuat afdrukan sablon. Kompre sesi 3 sudah tinggal beberapa jam lagi. Saya masih sempat-sempatnya menyiapkan sablonan. Tidak tahu la apa yang ada di otak ini.
Bangun jam setengah 4, lalu jalan ke ceger buat mencari makan sahur. Jalan sudah nyeret kayak zombie, males, dan ngantuk. Soal-soal TO 2 di tangan makin menambah rasa ngantuk saja. Selama ujian kompre saya hanya bermodal soal-soal TO 2. Rasanya sudah tidak sanggup lagi kalau harus baca-baca modul tebal.
Setelah perut terisi dan adzan subuh menandakan saya harus berhenti mengisi, konsentrasi saya terpecah. Sablon atau soal-soal TO 2. Akhirnya saya memilih menyablon sambil belajar. Karena kaos ini mesti jadi hari ini. Sedangkan waktu sudah benar-benar mepet. Packing barang-barang saja belum. Kalau belajar bisalah dicicil sedikit demi sedikit.
Semua berjalan lancar sampai saya masuk ruang ujian dan membaca soal ujian kompre hari ketiga. Ini soal ajib bener ya. Baru dibaca sedikit langsung meruntuhkan semangat untuk membaca yang berikutnya. Berhasil juga mengkhatamkan 130 soal, walaupun yang bolong lebih banyak dari yang terisi. Di depan pengawas sudah mulai koar-koar masalah waktu. Alhamdulillah semua yang bolong sudah terisi penuh. Terisi penuh dengan pilihan B, hahaha
Setelah ujian, saya kembali ke masa pra sejarah dimana uang belum ditemukan. Kaos Iron Maiden dibarter dengan novel Harry Potter. Uang tidak berlaku disini karena uang hanyalah pembentuk image untung atau rugi. Begini kita semua merasa diuntungkan.  Saya beruntung karena berhasil melepas kaos Iron Maiden yang sudah sangat lama mendiami lemari, tidak pernah dipakai karena saya bukan anak metal. You are what you wear, mate. Btw, thank you Rara “The Momo Geisha”.
Buru-buru cabut balik ke kosan. Saya harus packing barang-barang. List barang-barang yang harus dibawa sudah disiapin. Kerjaan tinggal mencari barangnya dimana. Si ochol menawarkan tumpangan, sekalian mau ngejarah bacaan katanya. Dan akhirnya dia balik dengan tas penuh buku pinjaman. Gak tau lah berapa buku yang dibawa ini orang.
Packing dilakukan dengan kilat. Waktu yang mepet membuat saya tidak sempat mandi. Biarlah yang penting tidak tecium bau. Jam satu kurang sekian saya berangkat ke travel, sebelumnya pamitan dulu dengan peghuni yang lain. Tenyata saya yang pertama angkat kaki. Tapi tenang saja, kita bakalan bertemu lagi. Yudisium atau kompre tahap kedua.
Bis jam 1 full-booked. Saya mendapat yang jam setengah 2 dengan kursi di sebelah supir. Baru berangkat saya sudah mulai mengantuk. Membosankan, tidak ada seorangpun yang bersuara. Akhirnya saya dengan pak supir mengobrol berdua. Cerita masa mudanya yang sudah merantau 30 tahun di Jakarta, menikah dengan istri beragama Buddha, kemacetan Jakarta, dan pekerjaannya sekarang yang saya bilang seperti beruang. Mengumpulkan uang dalam sehari untuk makan beberapa hari. Upah sehari bisa mencapai setengah juta, tetapi 3 hari kemudian dia libur bekerja. Begitulah kira-kira pekerjaan supir bis travel, sama seperti beruang.
Check in lancar, sekarang tinggal menunggu jam 5 dan itu satu setengah jam lagi. Menunggu memang membosankan. Apalagi ada kalimat di buku Frankenstein yang sedang saya baca yang sangat menggambarkan keadaan saat ini. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi pikiran manusia daripada ketenangan tanpa kesibukan dan ketidakpastian setelah perasaan dibebani peristiwa menyedihkan.
Pesawat yang ke medan on time juga, walaupun pesawat-pesawat sebelumnya pada delay. Itu prasangka awal, karena pesawat saya delay-nya setelah saya naik ke pesawat. Semakin kesal juga setelah melihat ternyata kursinya sangat rapat. Seperti kursi bis ekonomi jurusan blok m - bekasi. Perlu sedikit usaha kalau mau meluruskan kaki. Jadi tidak salah status saya waktu beli tiket dulu "di masa-masa puasa, maskapai penerbangan kapitalis semua". Ini buktinya.
Saya ingat betul waktu pesawat take off, yaitu waktu berbuka untuk daerah jakarta. Jadi saya berbuka puasa di udara sewaktu pesawat belum stabil karena masih dalam posisi menanjak. Lumayanlah berbuka dengan sunset. Saya tidak membawa bekal apa-apa karena tadi packing saja sangat buru-buru. Ini juga salah satu kesenangan saya terbang di sore hari. Kita merasa lebih tinggi dari matahari.
Singkatnya, setelah beberapa kali disenggol pramugari, saya mendarat di Medan dengan selamat. Tujuan pertama tentu saja acara buka bersama teman-teman MAN. Langsung menelpon saudara Tanzil ,yang entah sejak kapan nama belakangnya sudah berganti menjadi supertramp, untuk minta dijemput. Dan jemputan datang sekitar 15 menit kemudian.
Ternyata kemacetan di Medan sudah mulai menyaingi Jakarta. Tapi jangan samakan dengan kemacetan yang seperti di Jakarta. Kalau di Jakarta kemacetan disebabkan karena melimpahnya jumlah kendaraan, di Medan penyebabnya adalah orang-orangnya yang tidak sabaran, angkot yang berhenti sembarangan atau tukang becak yang berjalan sangat pelan. Kesabaran kita benar-benar diuji.
Sampai juga di tempat acara buka bersama, rumah Ricky, setelah tadi si Tanzil sempat menubruk mobil avanza dari belakang dan sambil berlalu saya melambaikan tangan ke yang punya mobil sambil bilang "maaaff pak". Sukur saja yang punya mobil tidak mau memperpanjang masalah.
Yang ikut buka bersama tidak seramai tahun lalu. Kebanyakan lagi PKL di luar Medan jadinya tidak bisa hadir. Saya langsung mencari makanan karena perut sudah sangat minta diisi. Menu tahun ini ada ayam bakar ternyata. Langsung saya hajar walaupun saya tidak ada bayar kolektifan. Saya terus makan sambil mengikuti run down acara yang saya tidak mengerti. Yang penting saya makan dan terus tertawa. Kerjaan kalau sudah ngumpul begini ya ketawa terus. 
Sekitar pukul setengah 10, kakak saya sudah mulai menteror. Acara buka bersama juga sudah kelar dan kami sudah siap-siap buat pulang. Setelah pamitan dengan ibu si Ricky yang sudah rela menyediakan makanan buat kami, kamipun pulang dengan hati gembira. Tujuan pertama adalah mengantar para wanita. Padahal saya berharap saya segera pulang karena badan sudah benar-benar lelah.  
Setengah 11 lewat selesai juga mengantar wanita-wanita ke rumahnya masing-masing. Tinggallah 4 orang lelaki, Sarep, Anca, Tanzil, dan seorang lelaki di kursi belakang yang sudah kelelahan dan ingin segera pulang. Tetapi ketika ditanya mau kemana dulu ini, saya dengan semangat langsung menjawab makan burger. Penyakit saya kalau sudah berkumpul dengan teman kumat lagi. Lupa sudah saya dengan rasa lelah.
Setelah berkeliling-keliling, akhirnya diputuskan buat makan sate padang. Sate padang di medan lebih nikmat. Tidak seperti di jakarta, mahal dan  tidak enak. Membuat saya jadi perhitungan kalau mau membelinya. Sambil mengobrol sana sini, melupakan waktu dan rasa lelah. Rasanya saya ingin muda selamanya, tapi itu melanggar kodrat manusia.
Jam sudah menunjukkan jam setengah 12. Akhirnya kami cabut pulang. Tetap saja saya diantar terakhir karena rumah saya dan rumah si Sarep hanya beda gang. Setelah menyinggung masalah si Miss Rip off yang membuat saya ingin masuk trauma center, saya sampai di rumah jam 12 kurang. Kakak saya sudah tidur sepertinya. Saya disambut keponakan yang segera senang karena buku sebelas patriot akhirnya sampai di tangannya. 
Saya masuk kamar dan persiapan untuk istirahat. Saya sudah memprediksi kakak saya akan mengomel waktu sahur nanti. Tapi tenang saja. Itu sudah menjadi hal biasa. Dia malahan akan terheran-heran kalau saya sampai di rumah cepat. Sambil berkata  atau lebih tepatnya menyindir "tumben cepet pulangnya" atau "tumben langsung pulang". ah, semua itu sudah biasa.

Lebih Tinggi dari Matahari


Wednesday, August 17, 2011

Pulau Jawa dan Ujian Kompre Tahap Kedua



Kita selalu berusaha memotivasi diri kita dengan sesuatu hal. Tanpa motivasi kita akan terus-terusan diam, malas bergerak atau tidur-tiduran di kamar. Dengan motivasi kita akan lebih semangat, lebih bergairah, dan lebih giat. Intinya motivasi adalah dorongan yang mampu memaksa kita untuk mau melakukan sesuatu, walaupun sebenarnya tidak mau.
Itu sedikit teori motivasi dan ada banyak hal yang mampu memotivasi orang-orang. Mulai dari uang, kesenangan, wanita, pahala, sampai ancamanpun bisa memotivasi orang-ancaman DO. Tidak ada batasan hal-hal apa saja yang dapat dijadikan orang-orang sebagai motivasi. Dan tidak semuanya hal yang baik.
Beberapa bulan yang lalu saya menempel gambar vinyl player di dinding dibelakang meja buat laptop. Berharap dengan memandangi gambar vinyl player, saya jadi semangat buat mengerjakan TA. Dan hasilnya adalah 50:50, ambigu kalau menjelaskan pengaruhnya.
Kali ini, dalam rangka menghadapi ujian kompre, yang saya tempel adalah gambar peta pulau jawa tanpa batas-batas antar provinsi, tanpa garis sungai, tanpa jalur kereta. Yang ada hanya peta yang benar-benar buta dengan "P.JAWA" di tengahnya. Dan ditempel mirip seperti waktu saya menempel gambar vinyl player dulu.
Kalau ada yang berpikir gambar pulau jawa memotivasi saya untuk terus membuka modul soal-soal yang kemudian isinya saya bahas satu-persatu. Anda salah besar, kesalahan yang sangat besar malahan. 
Gambar pulau jawa saya tempel karena saya ingin berkeliling pulau jawa. Minimal nanti saya sudah puas dengan pulau jawa sebelum ditempatkan di daerah yang kalau kita membuka peta Indonesia masih bingung mencarinya dimana. Dan masa-masa yang tepat adalah setelah ujian kompre tahap kedua.
Kalau saya tidak lulus kompre tahap pertama, Alhamdulillah. Berarti saya tidak perlu mencari-cari dan mengarang-ngarang alasan lagi untuk segera balik ke kosan. Kalau lulus, lebih Alhamdulillah lagi karena saya tidak harus menghadapi soal-soal yang semakin dicerna semakin enek rasanya. Walaupun saya harus memikirkan siasat apa yang pantas dikeluarin. Karena kakak-kakak saya tidak gampang dikibulin dengan alasan-alasan kelas teri. Apalagi kalau mereka tahu rencana seperti ini.
Kakak-kakak saya itu sama seperti kebanyakan orang Indonesia pada umumnya. Rasa takut lebih dominan. Tersirat dari banyaknya kata "kalau" yang digunakan. Kalau begini bagaimana, kalau begitu bagaimana. Dan selalu diikuti dengan kalimat bermakna buruk. Jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah diikuti kalimat bermakna positif. "kalau nanti sehat bagaimana" . Apa kita pernah mendengar kata seperti itu? tidak pernah!
Bisa dikatakan kompre tahap kedua adalah jembatan yang sanggup menghubungkan pulau sumatera dan pulau jawa. Dan kalau jembatan ini tidak ada berarti saya harus mencari-cari akar gantung Ficus benjamina supaya dapat berayun ke seberang seperti manusia tak berbaju di jungle book. 
Intinya, gambar pulau jawa adalah anti-motivasi saya untuk membuka modul-modul materi dan soal bahas. Dan lebih memilih untuk mencerna Lonely Planet. Tapi ini belum pasti. Siapa tahu saya jadi semakin semangat untuk belajar buat kompre karena sudah terbiasa menolak nilai-nilai motivasi. Kalau ini terjadi berarti azas pembuktian terbalik itu berlaku juga di motivasi. Tapi lihat sajalah nanti. Saya jadi giat belajar atau tidak.

Selamat Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia! 
Walaupun kemerdekaan Indonesia baru berada di atas kertas seperti yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma.

Monday, August 15, 2011

Dinding Perspektif Orang Lain

Kita tanpa sadar selalu mengenakan topeng. Topeng dari kayu berukirkan lekukan-lekukan yang menyamarkan wajah dibaliknya. Kita selalu berusaha mengenakan topeng yang baik, terbagus dan termahal. Berharap dengan topeng yang baik kita menjadi orang yang baik, minimal dipandang baik oleh orang lain. Semua orang ingin terlihat baik, menjadi pemeran protagonis di filmnya sendiri.
Mengganti topeng itu pilihan yang sudah seperti kewajiban. Kita takut ketinggalan model topeng terbaru yang ramai dipakai dan ditawarkan oleh mereka-mereka yang mengaku menguasai kualitas. Padahal yang mereka harapkan adalah kertas-kertas bergambar pahlawan nasional yang memajang tampang tanpa ekspresi. Kita ditipu mentah-mentah.
Kita terisolasi dinding perspektif orang lain yang kita bangun sendiri. Sehingga apabila kita memandang sesuatu akan terbias dahulu oleh dinding-dinding tersebut sebelum impulsnya disampaikan ke otak. Otak kita menerjemahkan itulah yang kita pandang, walaupun sebenarnya tidak. Baik dan buruk menjadi mutlak. Kita memandang baik karena mereka memandang begitu.
Lupa diri, itulah yang terjadi akhirnya. Kita terlena bagusnya topeng yang kita kenakan, efek baiknya tentu saja, dan efek samping dilupakan. Kita lupa bagaimana wajah kita sebenarnya. Kita lupa bagaimana caranya membedakan warna karena semua warna sudah  mereka kotak-kotakkan ke dalam hitam dan putih.
Kenapa kita tidak mengenakan topeng yang biasa saja, topeng yang apa adanya, topeng yang benar-benar kita suka, topeng yang langsung menguliti kepala.Tidak peduli sebagus apa topeng yang mereka kenakan dan bagaimana pandangannya.

Saturday, August 13, 2011

Oh God, I miss my hometown.

Mesjid an nasr itu mirip dengan mesjid di kampung. Minimal ada 2 hal yang mirip yang membuat saya rela berjalan jauh untuk shalat tarawih walaupun ada mesjid MBM yang jaraknya kurang dari 100 m dari kosan.
Poin pertama yang mirip adalah tarawihnya 8 raka'at dan ayat yang dibaca tidak sampai membius saya untuk tidur. Poin kedua adalah karena saya harus berjalan cukup jauh dulu untuk sampai kesana. Sama seperti di kampung, bahkan kalau di kampung saya malahan mesti berjalan lebih dari 2 kilo, menuruni bukit, menghirup udara dingin, lalu sewaktu pulang, duduk di pinggir danau memandangi pantulan cahaya-cahaya kota sambil menggerak-gerakkan ujung kaki bermain air.
oh God, I miss my hometown.
Saya rindu kedinginan. 
Saya rindu menggunakan sweater tebal.
Saya rindu minum teh pagi di halaman.
Saya rindu langitnya sewaktu malam.
Saya rindu mendaki bukit di belakang rumah.
Saya rindu lolongan anjing tetangga.
Saya rindu segalanya.
and I miss you mom.


Foto kampung saya di slide KSPK yang ditemukan sewaktu UAS. :)

Wednesday, August 10, 2011

Ketenangan

 

White Shoes and The Couples Company - Vakansi

Semilir bertiup angin di tepi pantai
Daun-daun berdansa dan nyiur melambai
Aduh senang bunga berkembang asri
Setahun bekerja kita membanting tulang
Inilah waktunya  kita berlibur panjang
Melupakan semua problema hati
Aduh indahnya abadi
Surya menyapa
Mari berjalan kaki bersama-sama,
menghabiskan hari

Sibuk terus dikantor itu tak baik pula
Slalu pulang malam dan lupa keluarga
Jangan marah,mari menyanyi saja
Rindu semerbak alami
Nyiur melambai
Walau berjalan kaki aku nikmati
Menghabiskan hari

Aduh indahnya abadi
Surya menyapa
Aduh indahnya abadi
Surya menyapa
Mari berjalan kaki bersama-sama
Menikmati alam sentosa
Merayakan sinar sang surya
Menghabiskan hari


Tuesday, August 9, 2011

Hari ini, 8 Agustus 2011


Ceritanya hari ini saya kehilangan sekitar 6 kilo berat badan. Si Indra ngajakin buat nimbang badan di depan klinik. Saya sudah memprediksi, berat badan saya bakalan turun dibandingkan terakhir kali menimbang sekitar sebulan sebelum puasa. Dan ternyata benar, 6 kilo lemak lenyap dalam 8 hari puasa.
Kalau lemak di badan itu berkurang sangat jelas memang kalau efeknya itu ke perut. Perut ini jadi lebih langsing dan hampir six pack. hahaha. Bukan karena olah raga tetapi karena efek tidak langsung dari mahalnya harga tiket pesawat. Jatah sebulan habis hanya untuk sebuah kursi yang akan saya duduki kurang dari 3 jam. Harga kursi mendekati lebaran memang selalu bergejolak, bukan hanya harga sembako.
Perjalanan hari ini berlanjut ke puring. Kalau orang-orang senang berburu fashion disini, saya lebih senang naik ke lantai 2. Saya mau mengambil CD Rock n Roll Mafia dan buku kedua Supernova "akar". Ada CD The Radio Dept juga, tapi finansial lagi bermasalah setelah saya membayar sebuah kursi yang berharga hampir 7 digit.-travel yang depan BP recommended la, pegawainya yang recommended maksud saya. hahaha-
Sampai di puring saya langsung ketemu si ari buat mengambil CD dan si pangab, yang menurut saya salah satu orang tidak waras yang terlihat waras, buat mengambil buku supernova "akar". Tapi buku supernova kelupaan dibawa sama ini orang, dia malah nawarin saya buku macem-macem dan seperti biasa, mulai ngeluarin komentar, teori, opini dia yang ngawur ngidul yang membuat kepala saya berputar-putar ditempatnya.
Orang ini memang sudah tidak waras lagi. Saya rasa dia kebanyakan baca buku. Terutama buku dagangannya yang sudah kekuningan atau hilang sebagian halamannya. Jadinya dia ngomong kayak buku filsafat yang penuh teori dan opini yang harus dikonsumsi pelan-pelan dulu baru kita dapat mengerti. Bahkan dosen saya tidak ada yang ngomongnya seilmiah dia.
Karena buku supernova "akar" gak dibawa, jadilah dia menawarkan bukunya yang membuat saya geleng-geleng kepala buat membelinya. Mulai dari buku ayu utami yang agak normal, buku Nayla dari Djenar Maesa Ayu yang saya rasa jangan sebaiknya kalian beli kalau kalian belum berpikiran dewasa, sampai-sampai buku pramoedya ananta toer yang berbahasa belanda. Saya mulai berpikir ngapain ini orang nawarin buku sastra, padahal sudah jelas dia selalu nanyain kabar Gayus kalau saya singgah.
Akhirnya saya jatuh hati sama buku The Catcher in The Rye. Si Pangab bilang, kalau baca buku ini bawaannya jadi pengen bunuh orang dan buku  inilah yang dibaca Chapman sebelum menembak John Lennon lima kali. Saya awalnya tidak percaya sampai saya di kosan dan bertanya ke om google. Dan tulisan di cover belakang bukanlah review atau komentar tetapi kalimat "Mengapa buku ini disukai para pembunuh?". Saya baca sedikit, dan isinya kira-kira tentang pemeran protagonis anti-hero. menarik.
Sayapun pulang dengan CD Rock n Roll Mafia dan buku The Catcher in The Rye. Saya sudah bosan mendengarkan teori-teori konotasi dari si pangab yang kalau didengarkan lebih lama lagi akan memaksa semua energi yang tersisa dari makan sahur untuk dialokasikan ke isi kepala. Bisa-bisa saya tidak sanggup hanya untuk balik ke kosan.

Friday, August 5, 2011

The Discussion (Max Ginsburg)

The Radio Dept. - The Worst Taste in Music

Thursday, August 4, 2011

Aku, The Call of The Wild, dan Into The Wild

Kemarin saya baru menonton Into The Wild. Setelah sekian lama mencari dan menunggu, akhirnya dapat juga film ini. Kisah nyata Christopher McCandless yang meninggalkan kuliahnya untuk menuju Alaska.
Hal yang paling menarik adalah buku favorit yang dibaca oleh Chris. Penulisnya adalah Jack London. Ketika pertama kali disebutkan Jack London di filmnya, saya langsung melihat ke rak miyako. Oh man, ternyata bukunya saya punya, The Call of the Wild.
Buku ini saya beli beberapa minggu yang lalu ketika berburu buku dengan teman kuliah (fauzi, rizki, sanda, lambok). Waktu membelinya saya tidak tahu siapa itu Jack London dan buku apa yang sedang saya pegang. Bisa dibilang saya seperti bocah, melihat banyak artwork di dalamnya dan font ukuran (sepertinya) 14, timbul niat ingin membeli.
Tawar menawar sedikit alot dengan pembukaan harga 35rb. Saya tawar 15rb. Penjual meminta 25rb. Saya tetap 15rb. Dia berkurang lagi menjadi 20rb. Saya tetap 15rb. Dia tidak mau kurang dari 20rb. Bahasa batak keluar, dia takluk, saya menang ,walaupun 15rb masih terlalu mahal untuk sebuah buku bekas seperti ini.
Jodoh memang susah ditebak. Tak peduli seberapa tidak menarik  buku itu buat orang lain,  kumal, membosankan, tetapi ada hal yang memanggil saya untuk memilikinya. Kita memang berjodoh. Aku, The Call Of The Wild, dan Into The Wild.

Tuesday, August 2, 2011

Homicide - Barisan Nisan


Homicide - Barisan Nisan

Matahari terlalu pagi mengkhianati
Pena terlalu cepat terbakar
Kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan
pada ruang ketidakmungkinan
Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan
untuk berkata tidak mungkin tanpa darah mereka mengering,
Sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi
Sebelum semua paru disesaki tragedi

Dan pengulangan menemukan maknanya sendiri
dalam pasar dan semerbak deodoran
Atau mungkin dalam limbah dan kotoran,
Atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
Atau mungkin dalam pembebasan ala monitor 14 inci yang menawarkan hasrat pembangkangan
ala Levi’s dan Nokia
Atau dalam 666 halaman hikayat para bigot dan despot yang menari ketika jelaga Azaghtot berangsur menjadi kepulan pitam berselubung Michael Jordan di pabrik-pabrik makloon para produsen kerak neraka berlapis statistik,
Pembenaran teatrikal supermall
opera sabun penyusun UU pemilu yang mencoba membanyol tentang kekonyolan demokrasi,
Yang rapih berdasi
menopengi mutilasi pembebasan
dengan sengkarut argumen basi
tentang bagaimana menyamankan posisi pembiasaan diri
di hadapan seonggok tinja para sosok pembaharu dunia bernama pasar bebas
dan perdagangan yang adil,
Untuk kemudian memberlakukan hidup seperti Akabri
Dan dikebiri matahari yang terlalu pagi mengkhianati

Dan heroisme berganti nama menjadi C-4, Sukhoi, dan fiksi berpagar konstitusi
Menjenguk setiap pesakitan dengan upeti bunga pusara dari makam pahlawan tetangga bernama Arjuna dan manusia laba-laba,
Pahlawan Dari Cobain hingga Vicious,
Dari berhala hingga anonymous bernama burung garuda Pancasila
Yang menampakkan diri pada hari setiap situs menjadi spejal bebatuan
Yang melayang pada poros yang sejajar dengan tameng dan pelindung wajah para penjaga makam Firaun ber-khakhis
Yang muncul 24 jam matahari dan gulita bertukar posisi di setiap pojokan,
Bahkan di kakus umum dan selokan,
Mencari target konsumen dan homogenisasi kelayakan

Maka setiap angka menjadi ‘maka’ dan ‘makna’,
Ketika kita disuguhi setiap statistik
dan moncong senjata dengan ribuan unit SSK untuk menjaga stabilitas,
bagi mereka yang akan dinetralisir karena menolak membuang buku Pantone sebagai panduan kebenaran
Sejak hitam dan putih hanya berlaku di hadapan mata sinar Xerox.
Menolak terasuki setan dan tuhan
yang mewujud dalam ocehan pencerahan kanon-kanon tumpukan Big Mac dan es krim Cone yang berseru:
“Beli…beli…beli..., konsumsi…konsumsi kami,
sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha para anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!!”

Oh, betapa menariknya dunia yang sudah pasti,
Menjamin semua nyawa dan pluralitas dengan lembaran kontrak asuransi,
Dengan janji pahala bertubi,
Dengan janji akumulasi nilai lebih, bursa saham
Dan dengan semantik-semantik kekuasaan yang hanya berarti ketika periode berkala para representative di gedung parlemen mulai tawar-menawar jatah kursi
Dan kekuatan hanya berlaku pasca konsumsi cairan suplemen tonik
Dan para bigot bertemu kawanan
Dan cinta hanya akan berlaku setelah melewati sederetan birokrasi ideology berwarna merah
hijau, hitam, kuning, biru, merah, putih, dan biru,
dan merah, dan putih.

Oh betapa indahnya dunia yang berkalang fajar poin-poin Nafta
Sehingga pion-pion negara yang berkubang di belakang pembenaran evolusi mereka
Dengan berpetangkan saluran-saluran pencerahan para rockstar yang lelah berkeluh kesah
kala peluh mongering kasat di hadapan pasanggiri lalat-lalat pasar
dan kilauan refeksi etalase dan display berhala-berhala
Berskala lebih thaghut dari ampas neraka
di antara robekan surat rekomendasi para negara donor,
perancang undang-undang dan fakta-fakta anti terror,
Para arsitek bahasa penaklukan,
Para pengagung kebebasan,
Kebebasan yang berlaku di hadapan layar Flatron, kemajemukan ponsel, demokrasi kotak suara,
dan pluralisme gedung rubuh

Oh betapa agungnya dunia di hadapan barisan nisan yang dikebiri matahari
dan terlalu pagi mengkhianati
Maka, jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini, wahai rotasi CD dan seperangkat Boombox ringkih,
Jangan izinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan, wahai bentangan celluloid dan narasi.
Dan demi perpanjangan tangan remah di mulutmu, anakku,
jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini.
Demi setiap huruf pada setiap fabel yang kututurkan padamu sebelum tidur, zahraku, mentariku,
jangan sedetikpun izinkan aku berhenti menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus,
lelap tertidur tanpa satu mata membuka,
tanpa pagi berhenti mensponsori keheningan berbisa,
tanpa di lengan kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan,
bintang dan sabit,
palu dan arit,
bumi dan langit,
lautan dan parit,
dan sayap dan rakit
Hingga seluruh paruku sesak merakit setiap pasak-pasak kemungkinan terbesar,
Memperbesar setiap kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan
untuk berkata tidak mungkin
tanpa darah mereka mongering
sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi

Dan matahari tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk mengkhianati

Monday, August 1, 2011

Selamat datang Ramadhan, mari saling memaafkan

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.