Kita tanpa sadar selalu mengenakan topeng. Topeng dari kayu berukirkan lekukan-lekukan yang menyamarkan wajah dibaliknya. Kita selalu berusaha mengenakan topeng yang baik, terbagus dan termahal. Berharap dengan topeng yang baik kita menjadi orang yang baik, minimal dipandang baik oleh orang lain. Semua orang ingin terlihat baik, menjadi pemeran protagonis di filmnya sendiri.
Mengganti topeng itu pilihan yang sudah seperti kewajiban. Kita takut ketinggalan model topeng terbaru yang ramai dipakai dan ditawarkan oleh mereka-mereka yang mengaku menguasai kualitas. Padahal yang mereka harapkan adalah kertas-kertas bergambar pahlawan nasional yang memajang tampang tanpa ekspresi. Kita ditipu mentah-mentah.
Kita terisolasi dinding perspektif orang lain yang kita bangun sendiri. Sehingga apabila kita memandang sesuatu akan terbias dahulu oleh dinding-dinding tersebut sebelum impulsnya disampaikan ke otak. Otak kita menerjemahkan itulah yang kita pandang, walaupun sebenarnya tidak. Baik dan buruk menjadi mutlak. Kita memandang baik karena mereka memandang begitu.
Lupa diri, itulah yang terjadi akhirnya. Kita terlena bagusnya topeng yang kita kenakan, efek baiknya tentu saja, dan efek samping dilupakan. Kita lupa bagaimana wajah kita sebenarnya. Kita lupa bagaimana caranya membedakan warna karena semua warna sudah mereka kotak-kotakkan ke dalam hitam dan putih.
Kenapa kita tidak mengenakan topeng yang biasa saja, topeng yang apa adanya, topeng yang benar-benar kita suka, topeng yang langsung menguliti kepala.Tidak peduli sebagus apa topeng yang mereka kenakan dan bagaimana pandangannya.
No comments:
Post a Comment