Tuesday, November 27, 2012

danau dan bukit


Kesalahan itulah yang benar

Entah sejak kapan saya tertarik dengan hukum dan perpolitikan. Saya sudah lupa. Tetapi sejauh yang saya ingat, saya awalnya terpengaruhi (lagi-lagi) oleh buku-buku diskonan yang saya beli. Ketika buku-buku itu dijual dengan harga yang sangat murah karena tidak laku, maka saya siap sedia membelinya. Walaupun saya tidak tahu kapan buku itu selesai dibaca atau bahkan mulai dibaca. Saya seperti wanita yang tergila-gila dengan diskon sepatu atau baju. Syukur saja objeknya berbeda.

Dulu itu saya sempat berpikir kalau politik itu tabu. Orang-orang berpolitik karena ingin berkuasa, mensejahterakan diri sendiri berkedok pro rakyat, kepentingan umum menjadi nomor dua. Tetapi sekarang saya tidak ingin lagi menjadi apatis ria yang tidak peduli dengan keadaan Negara. Tidak peduli sama dengan membiarkan. Setidaknya sekarang saya berusaha memahami sedikit tentang politik dan hukum yang ada. Saya tidak ingin dibodoh-bodohi oleh para penghisap yang berkuasa.

Berusaha memahami tidaklah menjawab pertanyaan yang ada. Tetapi terus melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru dari pemahaman yang masih setengah. Selama ini saya masih bertanya-tanya, apakah hukum yang dibuat manusia itu sebuah kebenaran? Atau jangan-jangan orang yang bertindak melanggar hukum adalah yang benar. Ketika timbul pertentangan antara hukum dengan budaya, hati nurani, dan sisi manusiawi, mana yang harus dibenarkan? Apakah tetap berpihak pada hukum atau sebaliknya?

Perkara pencurian sandal dibawa ke pengadilan, seorang nenek yang dituduh mencuri buah coklat diadili, apakah hati nurani dan sisi manusiawi kita mengatakan itu benar? Saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa hukum itu benar-benar buta –bagi yang tidak punya kuasa- karena tidak disesuaikan dengan hati nurani, budaya dan sisi manusiawi. Hukum itu diciptakan oleh logika manusia yang berusaha adil. Seadil-adilnya manusia tetap tidak adil bagi yang lainnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang widyaiswara pengisi materi  Percepatan Pemberantasan TIPIKOR yang sangat menjaga integritasnya. Apakah hukum itu mutlak? Beliau menjawab, kalau di pengadilan hukum itu mutlak. Pertanyaan saya terjawab setengah. Setengahnya lagi saya coba timang-timang sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia bertindak lebih mengikuti hati nurani dan sisi manusiawi dirinya dibandingkan hukum yang ditulis. Walaupun terkadang, sadar atau tidak sadar, bertentangan dengan hukum dan dianggap salah di mata hukum. Tapi buat saya, tidak semua hal yang salah dari sisi hukum adalah salah. Ketika kesalahan itu adalah kebenaran menurut hati nurani, budaya, kemanusiaan, dan lainnya, maka hal itu tidak salah. Saya baru akan menganggap kesalahan itu adalah salah ketika dibawa ke pengadilan dimana hukum itu mutlak. Ketika masih berada di luar pengadilan, di pinggir jalan, di warung makan, atau di tempat selain pengadilan, maka kesalahan itu tidak salah. Beda tempat, statusnya berbeda.

Saya tidak sedang melakukan pembenaran terhadap tindakan saya yang merelakan uang Rp50.000 untuk terbebas dari tilangan polisi karena tidak punya SIM. Kalau saja ada yang berpikir seperti itu, silahkan saja. Saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya saja. Pemikiran ini sudah lama ada. Tetapi karena kebetulan otak saya mulai bergejolak lagi, jadi saya tulis saja sebagai pelampiasan. Lebih enak keluar kalau sedang panas-panasnya.

Saat ditilang, semua orang ditawari dua pilihan, memilih sidang atau diwakilkan. Kalau memilih sidang, silahkan bawa bukti tilang dan sidang sendiri di bulan desember. Kalau diwakilkan, bayar Rp50.000 dan setelah data-data saya dicatat dan disuruh tanda tangan, saya dapat bebas pergi. Polisi bergerombol, menilang seperti nelayan menjaring ikan, lalu memberi dua pilihan tadi seakan-akan semua itu sah. Saya tidak tahu semua itu sah atau tidak, ada atau tidak peraturan yang mengaturnya-serius, saya benar benar tidak tahu. Motor saja saya tidak punya, apalagi memahami peraturan-peraturan seperti itu. Tapi karena polisi-polisi itu bertindak seperti semuanya sudah tersistem, maka saya berpikir kalau itu sah-sah saja.

Pertimbangan kedua saya adalah motor yang saya gunakan adalah pinjaman dari teman saya Rifqy. Kalau saya sok-sokan berintegritas dan tidak mau mengeluarkan Rp50.000, maka saya tidak hanya menyusahkan diri sendiri, tetapi juga keluarga teman saya itu. Saya tentu tidak mau jauh-jauh dari Bogor ke Jogja, di tengah-tengah jadwal diklat yang padat, hanya untuk sidang karena ditilang polisi di bulan desember nanti. Jadi apa saya mesti menyusahkan orang lain demi sebuah integritas. Sisi manusiawi dan hati nurani saya bersorak-sorak mengatakan itu tidak benar. Lebih baik membayar uang Rp50.000 dan masalah selesai.

Dilema itu muncul, ketika itu saya benar-benar bingung. Saya bertanya tentang sistem transfer bank kepada teman-teman saya yang lain dan tidak ada yang mengerti. Saya terus berpikir bagaimana caranya supaya apa yang saya lakukan tidak melanggar hukum. Tapi kemudian saya berpikir lagi, memangnya saya tahu hukum yang mengaturnya bagaimana. Jangan-jangan ada aturan yang mengatur tentang pungutan Rp50.000 itu dan diwakilkan. Sayapun menggunakan azas praduka tidak tahu dan setelah menimbang-nimbang sisi baik dan buruknya, keuntungan dan kerugian, hukum dan manusiawi, maka saya memutuskan untuk diwakilkan dan membayar.

Saya tidak mau dibilang salah. Apa yang saya lakukan itu tidak salah menurut hati nurani dan sisi manusiawi. Kalau ada sisi manusiawi seseorang yang menganggap menyusahkan orang lain adalah sebuah hal yang benar, maka dia bukan manusia. Dari sisi hukum, saya juga tidak tahu salah atau benar. Kalaupun salah, saya hanya akan mengaku salah kalau sudah di pengadilan.

Wednesday, October 24, 2012

Minggu'


Aku langsung melihat jam di handphone ketika terjaga pagi ini, 04.20, waktu yang sama dengan kemarin. Konyol! Aku lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi, teringat aku belum shalat isya. Kosan ini sepi sekali, seperti hanya aku penghuninya dan tikus yang terkadang numpang lewat. Oh ya kucing juga ada. Aku teringat semalam, entah pukul berapa, sepasang kucing siap bertarung tepat di bawah jendela kamarku. Suaranya sangat berisik. Aku dengan banyak rasa malas berjalan ke luar kamar dan mengambil sapu bersiap-siap menjadi pelerai. Aku kenal kedua kucing itu. Warnanya sama-sama perpaduan hitam dan putih. Kucing yang ada lonceng di lehernya bernama Ketty. Aku tahu namanya dari Ema, anak ibu kos. Bagian atas badannya berwarna hitam. Sedangkan, bagian dada sampai moncongnya berwarna putih. Tepat di bawah hidung ada segaris warna hitam yang terkesan seperti kumis. Dia jadi terlihat macho. Aku juga sempat mendengar cerita yang tidak tahu benar atau tidaknya mengenai kucing ini. Katanya ketika Ketty masih kecil, dia punya seorang ibu susu. Seorang wanita yang sering menggendong Ketty sambil memberikan langsung susu dari payudaranya. Mereka bilang wanita itu sinting. Rumahnya selalu aku lewati setiap hari, 3 rumah dari tempat aku sekarang tinggal. Tapi sekarang wanita itu sudah hilang, tidak ada yang tahu kemana. Kucing yang satu lagi tidak kalah macho dari Ketty. Warnanya hitam dan putih juga, tetapi campur aduk dan tidak berpola. Satu hal yang membuat kucing ini terlihat macho adalah lukanya yang menyebar di sembarang tempat di badannya. Kulit-kulit yang tak berbulu lagi, keras, dan kering. Dan aku masih ingat tatapan matanya yang tajam seolah ingin berkata “aku ini kucing liar, jangan kau macam-macam”. Akhirnya dengan sapu aku berhasil melerai mereka berdua. Ketty berlari menuruni tangga dan kucing satu lagi naik ke atas genteng. Walaupun mereka masih terus bertatapan, tapi sepertinya mereka tidak berkelahi lagi. Setidaknya tidak di bawah jendela kamarku. Aku melanjutkan tidur yang terganggu dan terbangun untuk shalat isya seperti yang tadi sempat aku ceritakan. 

Beberapa menit setelah aku shalat isya, adzan subuh berkumandang. Saat aku aku sudah rebahan di atas kasur masih memakai sarung. Kurang tidur dan tiba-tiba bangun itu benar-benar membuat kepala rasanya berat. Lalu tanpa sadar aku terlelap lagi mengabaikan kumandang adzan. Aku terbangun lagi pukul enam kurang lima belas menit. Dengan otak yang belum berfungsi dengan normal aku masuk lagi ke kamar mandi, berwudhu, lalu shalat subuh. Selesai shalat aku menjatuhkan kepalaku ke atas kasur yang tepat berada di belakang sajadah. Ini adalah posisi tidur favoritku di kamar ini dengan menjadikan kasur sebagai bantal.  Sambil memandang langit-langit kamar aku sempat berpikir tujuan sebenarnya aku shalat itu apa. Apakah untuk mendapatkan pahala, terhindar dari neraka, atau apa? Pertanyaan yang sederhana tetapi rumit dan sulit menjawabnya.. Akupun mengalihkan perhatian ke netbook yang selalu menjadi teman setiaku di kamar ini. Kunyalakan, buka browser, dan mengecek berita terbaru di Antara. Lagi-lagi polemik KPK dengan Polri. Para penegak hukum yang seharusnya saling mendukung, malah bersitegang dan tidak akur. Penyakit Negara ini memang sudah akut. Orang-orang yang diamanahkan kekuasaan takut kehilangan kekuasaannya. Malah menjadikan kekuasaan itu sebagai kekuatan. Mereka takut miskin seperti rakyat yang sejatinya berkuasa. Tapi sekarang mereka sudah menghilangkan kepercayaan rakyat. Rakyat sekarang sudah pintar dan tidak bisa dibodohi. Hanya tinggal menunggu klimaks saja sampai rakyat sebagai penguasa sebenarnya benar-benar marah.

***

Sebenarnya pagi ini aku sedang gundah. Seperti ada sebuah perasaan kosong yang merasuk. Tentu aku tahu penyebabnya, tapi tidak akan aku ungkapkan disini dan saat ini. Itu adalah sebuah sisi sensitif dari seorang laki-laki yang tidak akan diumbar dengan gratis. Aku merasa ini adalah efek dari buku Ajip Rosidi yang aku baca semalam. Tapi kemarin aku juga membaca bukunya Charles Dickens, pagi harinya aku menyelesaikan Bromocorahnya Mochtar Lubis, dan 2 hari yang lalu aku membaca Beauty Affair karya Abdullah Harahap. Aku memang senang bergonta-ganti bacaan sebelum sampai ke halaman terakhirnya. Walaupun akhirnya buku itu selesai aku baca, tetapi terkadang ketika melanjutkan membaca aku harus mengulang beberapa halaman yang sudah terbaca supaya menyegarkan kembali ceritanya. Akibatnya cerita-cerita mereka menjadi campur aduk di kepalaku. Membuat kegundahan ini semakin rumit, serumit pemikiran-pemikiran mereka yang coba dimediakan lewat tutur bahasa.

Hati yang gundah seperti ini sudah sering terjadi. Sampai-sampai aku bisa menemukan sendiri penyembuhnya. Jangan berpikir kalau aku gundah karena seorang wanita. Anggapan itu terlalu picik. Ada banyak hal yang lebih patut diurusi daripada seorang wanita. Hal-hal itu menjadi komplotan pertanyaan di kepalaku dan ketika pertanyaan itu tidak terjawab tetapi pikiran ini terus memaksa bertanya maka saat itulah kegundahan itu muncul. Kalau sudah gundah seperti itu aku akan mencoba mengalihkan konsentrasi dengan menyibukkan diri. Aku paham menyibukkan diri akan membuat aku lupa. Begitu juga pagi ini, tiba-tiba aku terpikir untuk lari pagi. Melihat jam baru setengah tujuh dan hawa Jakarta masih sejuk. Aku mencoba berpikir apa yang harus dibawa. Ini pertama kalinya aku berniat sendiri untuk lari pagi. Aku sebenarnya sangat malas kalau disuruh lari. Rasa malas itu muncul karena aku memang tidak kuat kalau disuruh lari. Baru beberapa menit berlari dadaku akan terasa seperti digebuk-gebuk dari dalam, napas menjadi tidak teratur, dan pikiranku akan kacau tidak terkontrol. Tapi pagi ini, justru pikiran yang tidak terkontrol itulah yang aku cari. Jadi aku menyiapkan DAP trekstorku yang hanya berkapasitas 512mb, membersihkan sepatu NB yang masih ditempeli sisa-sisa pasir dari sawarna, dan uang Rp22.000. Aku siap untuk berangkat ke velodrome.

Aku mau melewatkan saja cerita aku berlari di velodrome, hal yang memalukan ketika aku hanya sanggup berlari dua kali putaran, tapi tentu rasanya akan ada yang bolong dari catatan ini. Jadi aku persingkat sajalah. Aku mulai berlari-lari kecil sambil diiringi lagu Tristan, duo folk dari Jakarta yang CDnya aku dapat secara gratis di Demajors. Stopwatch kunyalakan, napas kujaga supaya tetap teratur, dan langkah kaki diiramakan tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Aku berlari melewati pelari lain dengan percaya diri, menyalip di antara kerumunan anak SMP berpakaian olahraga yang berjalan santai, dan memperlambat lari ketika terpesona dengan seorang dara. Aku menyelesaikan satu putaran dengan sukses. Sambil berlari aku memilih-milih untuk mengganti lagu, Tristan terlalu sendu di pagi hari yang cerah ini. Aku membuka album Lou Reed-Transformer, lalu memilih I’m so free. Aku semakin bersemangat.
Yes, I’m Mother Nature’s son
And I’m the only one
I do what I want and I want what I see   
Could only happen to me
I,m so free. I’m so free
When I feel good, I’m so free
Early in the morning, I’m so free
Late in the evening, I’m so free
I’m so free…   

Setengah putaran kedua aku lewati, kakiku mulai terasa berat. Aku terlalu bersemangat sepertinya sampai lupa mengatur napas dan tempo lari jadi berantakan. Patut aku beritahu juga, aku punya betis kaki yang besar. Teman-temanku selalu kaget kalau melihat betisku yang seperti ini. Kalau kemudian mereka berkomentar aneh-aneh, itu sudah menjadi hal yang biasa. Betisku ini memang barang langka dan berat. Kalau aku berlari, beban paling berat yang perlu ditahan adalah keseluruhan kakiku ini. Mengangkatnya mengorbankan kalori yang banyak. Jadi aku berpikir wajarlah kalau setelah berlari satu setengah kali mengelilingi stadion velodrome betisku ini terasa semakin berat. Sedangkan napasku sebenarnya masih kuat. Tetapi betisku yang besar ini tidak mendukung. Jadi aku memutuskan untuk berhenti sebelum dua putaran di depan sebuah warung yang menjual minuman. Aku mengecek stopwatch dan ternyata aku hanya berlari selama delapan menit. Sangat payah! Aku mencopot sepatu dan memegang betisku yang rasanya seperti ditarik kencang. Susah memang kalau memiliki betis pemain bola, tetapi jarang dilatih berlari. Berlari sebentar saja, otot-ototnya sudah menjerit-jerit meminta oksigen lebih.

***

Aku berjalan pulang sambil sesekali mengguyur tenggorokan dengan sebotol air minum. Jalan pemuda pagi ini sangat lengang jika dibandingkan dengan keadaannya pada hari kerja. Kendaraan bermotor tidak terlalu ramai dan cahaya matahari tidak terlalu terik, Jakarta membuat betah kalau sedang seperti ini. Tapi Jakarta yang seperti ini hanya bisa dinikmati di akhir pekan ketika jutaan pekerja yang sedang libur memilih untuk istirahat di rumah. Ketika sudah masuk hari kerja, tidak ada lagi yang menarik dari Jakarta, kecuali uang dan fasilitasnya.

Aku sempat berpapasan dengan pak rahmat. Dia sedang mengayuh sepedanya yang berwarna merah. Dengan matanya yang sudah tua, aku yakin dia tidak melihatku yang sedang berjalan di trotoar. Jadi aku memutuskan untuk tidak menyapanya. Sepeda yang warna merahnya sudah memudar itu selalu jadi alat transportasinya kemana-mana. Ada keranjang dari kayu diboncengannya. Aku sering melihat keranjang itu berisi botol-botol bekas. Aku tidak tahu pekerjaan Pak Rahmat itu sebenarnya apa, tapi aku sering melihat dia mengumpulkan botol-botol yang sudah tidak terpakai dan terbengkalai. Kasihan aku melihatnya. Menurut perhitunganku, melihat dari raut wajahnya dan kulit yang sudah mengendur, umurnya sudah nyaris 80 tahun atau mungkin lebih, tapi dia masih terlihat kuat. Tuntutan hidup barangkali memaksa. Aku sebenarnya tidak terlalu kenal dengannya. Kami hanya sesekali bertemu di mushalla. Dia selalu memakai baju koko berwarna abu-abu. Aku ingat betul warnanya karena baju itulah yang selalu dia pakai. Dia jarang sekali menjadi imam shalat walaupun dari segi umur dia sudah yang paling senior. Aku akan beritahu alasannya. Dia biasanya berwudhu di mushalla dan ketika dia berwudhu, baju kokonya dilepas, dia memakai kaos dalam putih polos yang sudah lusuh. Setelah berwudhu dia akan memakai lagi baju koko yang tadi dilepasnya dengan sangat perlahan. Benar-benar pelan. Kancing demi kancing dengan sangat hati-hati. Umur yang menua memang melemahkan. Gara-gara kesulitan mengancing bajunya, dia sering ketinggalan takbir pertama, bahkan al fatihah lewat, dan ketika ayat pendek akan selesai dibaca, ketika beberapa detik lagi imam akan bertakbir untuk rukuk, dia akan buru-buru mengikuti dengan kancing baju yang belum dikancingkan semuanya. Dibiarkan terbuka. Tapi beberapa hari terakhir dia selalu menjadi imam ketika shalat maghrib. Suaranya terdengar sangat lemah dan dia membaca dengan pelan dan terkadang samar-samar. Lafadznya lugu dan sederhana dan memang tidak bisa dibandingkan dengan ustadz-ustadz kondang di luar sana, tapi benar-benar membuat kepala ini tertunduk.  

Aku lanjut berjalan. Di depan pasar inpres, aku sempat makan bubur sambil menonton seorang laki-laki dengan ototnya yang kekar dan kulitnya yang hitam membongkar muat pasir dari sebuah truk. Dia bekerja tanpa jeda dan tanpa suara. Menyekop tiap pasir kemudian melemparnya ke tumpukan pasir di pojok jalan. Seperti tidak ada hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari menyekop pasir. Atau dia ingin bersegera mungkin, tidak tahu. Setelah semua pasir berhasil diturunkan barulah dia berhenti, mengambil kausnya yang digantungkan di pinggiran bak truk yang kemudian digunakan untuk mengelap keringatnya. Lalu dia masuk ke dalam truk dan pergi tanpa basa-basi. 

Akhirnya aku sampai di kosan dengan kaus yang masih basah dengan keringat, dengan botol minum kosong yang masih di tangan, dan dengan pertanyaan di kepala yang bertambah banyak. Aku tidak mau keluar lagi di minggu pagi.

Wednesday, October 3, 2012

Man Machine

Beberapa minggu belakangan ini, saya punya jam tidur yang berantakan. Pola tidur saya tidak terjadwal, seenaknya saja. Bisa sepulang dari kantor, setelah makan malam, dini hari, atau pagi. Tetapi anehnya, saya selalu bangun di waktu yang itu-itu saja. Setidaknya saya selalu bangun di tiga jenis waktu. Sekitar pukul 12 antara malam dan pagi, pukul 4 pagi sebelum subuh, dan pukul 8 pagi yang seharusnya saya sudah mengabsen di kantor.

Kalau saya tertidur sehabis jam makan malam, sekitar pukul 7, maka pukul 12 kurang atau lebih saya biasanya terbangun. Mata ini sudah seperti jam weker yang otomatis terbuka tanpa dipaksa. Setelah bangun maka saya akan kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya biasanya menikmati bubur di warung kopi, membaca buku murahan yang menumpuk di kamar, atau mengisi blog yang tak menghasilkan uang ini.

Jadwal bangun saya yang kedua adalah pukul 4 pagi. Ini terjadi hampir setiap hari. Tidak peduli saya tidur di jam yang dibilang baik, sekitar pukul 9 atau 10 malam, atau di pagi hari yang terlalu pagi. Bagaimana mungkin saya tidak terbangun ketika mushalla yang hanya berjarak 15 meter dari kosan saya sudah menyuarakan bahwa shalat itu lebih baik dari tidur. Sebenarnya saya tidak terbangun karena seruannya itu, tetapi secara aerodinamika, ada jalur udara yang mengarah langsung ke kamar saya melalui atap-atap dan tembok-tembok rumah penduduk yang menyebabkan suara yang merambat di udara benar-benar terasa di kamar ini. Suara yang berasal dari toa mushalla itu lebih sanggup membangunkan daripada alarm yang saya set di handphone.

Ketika saya sedang malas-malasnya bangun pagi dan di kantor sedang tidak ada kerjan, maka saya biasanya saya akan memilih untuk bangun siang, maksimal pukul 8 pagi. Sebenarnya saya ingin tidur lebih lama lagi, tetapi teriknya cahaya matahari pagi yang langsung masuk ke dalam kamar ini benar-benar membuat gerah. ada sebuah efek rumah kaca mini yang terjadi di dalam kamar saya ini. Ketika jendelanya hanyalah sebuah keca besar yang berukuran 1,5 m x 1 m, maka layaknya bumi yang sudah terlalu banyak ditutupi oleh karbondioksida, cahaya yang masuk ke dalamnya akan terjebak dan susah untuk keluar karena akan dipantul-pantulkan, sehingga suhu di dalamnya akan semakin memanas. Mau tidak mau sayapun mandi dan berangkat ke kantor.

Tetapi mulai hari ini, semua jadwal itu harus ditata ulang lebih ketat. Setiap pagi dan sore jari ini harus menempel di mesin absen yang kalau telat semenit saja akan memangkas tunjangan saya sekian persen. Saya manusia tetapi merasa seperti hewan peliharaan yang dilepas mencari makan setiap pagi dan disuruh masuk kandang ketika senja. Atau seperti mesin yang sudah diset tupoksinya dan bekerja terjadwal dan selalu berada di jalur seharusnya. Haha! Hidup saya bisa saja seperti sapi atau mesin, tapi saya tetap manusia. Percayalah!

Monday, September 10, 2012

Hujan dan Jakarta masih berteman

Sudah lama sekali hujan tidak membasahi Jakarta. Sampai saya lupa kapan terakhir kali dia turun. Tapi pagi ini suara rintik-rintik air itu terdengar lagi, suara yang mulai terdengar asing disini. Membuat saya terbangun dari tidur dan keluar melihat. Hujan akhirnya bersua dengan Jakarta. Menguapkan rindu-rindu penghuninya.

Ketika masih tinggal di bintaro, saya punya kebiasaan buruk yang dilakukan ketika hujan. Menyeduh segelas kopi dan memutar lagu sendu. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka itu pasangan serasi. Pikiran saya untuk sekejap menjadi hening. Keheningan dan ketenangan yang sangat susah dicari di tengah kota yang hiruk pikuk ini.




Wednesday, August 29, 2012

Mereka tidak peduli dengan minyak yang akan mengotori celana mereka yang merah

Tuesday, August 14, 2012

Pikiran dan Rasa Lapar

Terjebak di bandara pada bulan buasa dengan perasaan lapar karena hanya sahur dan berbuka dengan air putih itu rasanya... lapar sekali! Belum lagi ditambah pesawat yang akan saya naiki delay satu jam. Rasanya rasa lapar ini semakin menjadi-jadi. Bayangan saya, dalam dua jam ke depan saya sudah mengisi perut sambil menghirup udara malam kota Medan. Tapi sepertinya akan tertunda satu jam dan semoga tidak lebih.

Pikiran saya semakin dipenuhi makanan yang tidak (belum) bisa dimakan. Teman saya baru saja menagih traktiran di Nelayan. Tiba-tiba juga saya jadi rindu nasi goreng Pak Tiam, martabak mesir Salim, ikan Arsik buatan enyak, dan... stop stop stop!! Sebentar lagi saya akan naik ke pesawat.

Berbeda-beda itu indah kalau satu, seperti halnya pelangi.

Membingungkan memang kalau melihat manusia tindas menindas hanya karena warna kulit yang sedikit berbeda atau saling mencaci karena berbeda agama atau saling meludahi karena beda suku. Seharusnya kita hidup saling berdampingan dan damai, tetapi kenyataannya berbeda. Kaum mayoritas merasa ekslusif dan minoritas dikerdilkan.

Ketika perbedaan dan kesenjangan sanggup membutakan logika, maka setiap hal bisa dikambinghitamkan. Hal-hal sepele yang membesar atau isu yang tidak jelas asal-usulnya sering dijadikan sumber masalah. Padahal tanpa sadar, kita sendirilah sumber masalah karena sangat mudah terprovokasi.

Tidak ada yang salah dengan perbedaan. Hanya saja manusia dengan fanatismenya yang tinggi tidak ingin disamakan dengan yang lain. Alasan mengikuti ego inilah sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok. Kalau saja kelompok-kelompok manusia yang berbeda bisa hidup dengan tenggang rasa, rukun, dan damai, tentu akan menjadi indah. Seperti pelangi, satu dan warna-warni.

Monday, July 30, 2012

Senja Menggila


Monday, July 16, 2012

Pulang berarti memiliki tempat yang disebut rumah

Tengah malam, saat itu saya sedang berada di ruang tunggu bandara dengan kaki yang diluruskan di atas kursi panjang dan tas yang menjadi bantal. Saya sempat berpikir kalau saya akan pulang. Tapi tidak. Kali ini saya akan terbang semakin jauh dari rumah dan membuat saya semakin rindu untuk pulang. Kerinduan ini jauh lebih unggul dibandingkan kerinduan untuk bertemu gadis yang disuka.

Ada sisi kenikmatan tersendiri ketika saya hanya bisa pulang setahun sekali. Kenikmatan dari kerinduan yang memuncak yang tidak akan bisa ditemukan kalau saya bisa pulang setiap hari. Rasa rindu karena jarang bertemu. Rasa rindu yang membuat sendu. Begitu kerinduan itu sanggup terlampiaskan, setiap hal yang terjadi akan menjadi meriah. Hal biasapun akan terasa mewah. Senyum, perhatian, tawa, dan canda yang tak biasa ada menjadi ada.

Pulang ada karena ada rumah. Walaupun rumah itu hanya berisi satu orang atau dua atau tidak ada seorangpun. Selalu ada yang membuat kita rindu untuk pulang. Kalau rumah sudah tidak berisi lagi, maka yang akan kita temukan hanyalah memori. Hal yang sangat menyedihkan ketika kerinduan hanya bisa terobati oleh memori. Maka banyak-banyak bersyukurlah kalau rumah kita masih berisi satu orang atau dua atau lengkap barangkali. 

Thursday, June 21, 2012

Berita Buruk adalah Baik

Hampir semua orang percaya apa yang diberitakan oleh media-media. Saya juga percaya kalau yang mereka tulis adalah fakta. Tetapi ketika sebuah berita hanya disampaikan secara sederhana dan tidak dibahas lebih dalam tentu akan menimbulkan sebuah kesalahpahaman. Orang-orang yang kemudian membacanya secara gamblang dan tidak mencoba mengeksplor latar belakangnya akan cepat menyimpulkan. Kalau sudah begini, jatuhlah korban baru.

Setiap hal atau kejadian selalu mempunyai dua sisi, sisi terang dan sisi gelap. Sebuah berita seharusnya disampaikan dengan mempertimbangkan kedua sisi itu. Keduanya harus diseimbangkan. Tetapi yang menjadi kenyataannya adalah kita manusia lebih tertarik membaca pokok berita tentang pencurian atau pembunuhan dibandingkan membaca penjelasan kenapa pencurian atau pembunuhan itu bisa sampai terjadi, apalagi membaca berita panen padi atau kerbau yang melahirkan. Sudah pasti tidak laku.

Dunia yang dinamis, globalisasi teknologi, dan pemikiran manusianya yang praktis merubah cara kita mengonsumsi berita. Semua berita berusaha disampaikan sesingkat-singkatnya, sepadat-padatnya, setepat-tepatnya, dan update. Buat anak-anak muda sekarang yang umurnya menengah ke bawah, koran yang terbit sehari sekali sudah tidak menarik lagi. Mereka lebih senang membuka HP pintarnya kemudian browsing berita terbaru dari website-website yang menyampaikan berita dalam hitungan detik. Itupun kalau mereka sedang tertarik membaca berita atau sudah bosan membuka facebook dan twitter.

Semuanya lebih praktis memang dan hemat. Tidak perlu mengeluarkan uang Rp3000 sampai Rp5000 untuk membeli koran kalau hanya ingin mengetahui berita terbaru. Media online itu menyediakan berita-berita yang jauh lebih baru daripada koran. Tetapi dibalik keunggulannya itulah kelemahannya. Ketika sebuah berita berusaha disampaikan se-singkat, padat, tepat, dan cepat-nya, maka keseluruhan berita tidak bisa disampaikan. Banyak hal yang dihilangkan menjadi resume dari si penulisnya dan terkadang peristiwa yang samar buntut dan kepalanya diberitakan dengan alasan segera.

Sekarang tergantung kepada pembacanya. Apakah akan menerima dengan mulut lebar doktrin yang diberikan oleh media kemudian menelannya bulat-bulat -syukur-syukur tidak meracau sok tahu- atau menerimanya dengan tangan terbuka kemudian memilah-milah mana yang harus dikunyah. Semua terserah kita sebagai manusia yang dikaruniai akal.



Monday, June 4, 2012

Mempersiapkan Amunisi Bukan Untuk Perang



Amunisi buat malam ini sudah disiapkan. Entah kenapa saya rasanya tidak ingin tidur secepat biasanya. Hujan sedang mengguyur Jakarta yang di luar sana.  Awalnya saya memutar playlist yang berbau dream pop dan ambient, saya jadi terbawa suasana. Hujan dan ambient itu serasi, menggoda mata untuk segera terpejam. Tapi sepertinya tidak untuk malam ini.

Mie sedaap kari spesial paling top, tidak bermaksud promosi, menjadi alternatif kalau sedang hujan dan malas berjalan jauh. Cukup untuk mengganjal perut sampai saya tidur dan melupakan rasa lapar. Dua sachet nescafe classic siap untuk diseduh. Sebenarnya saya sedang diet kopi. Kalau minum terlalu banyak bisa-bisa saya melihat bumi berputar-putar dan gelap. Tapi mau bagaimana lagi, sementara ini dilupakan sajalah dulu. Pensil HB, drawing pen, spidol hitam, dan penghapus menjadi satu tim yang siap bekerja mencoret-coret kertas A3 yang saya bawa kabur dari kantor. Ready to start.

Thursday, May 31, 2012

Inilah Kiri. Silahkan belok atau jalan terus!

...yang disebut kiri itu ialah orang atau sekelompok orang yang tidak betah pada keadaan yang mapan dan berlangsung. Itulah kiri. Bukan karena membaca buku Karl Marx, Das Kapital, membaca Manifesto Communist, lantas membaca Bismarck tentang nasionalisme atau apapun lainnya, tidak. Kiri itu ialah orang-orang atau sekelompok orang yang tidak betah pada keadaan yang sedang berlangsung dan mapan. Itulah kiri. (Samsir Mohamad)

http://rumahkiri.net/7-dialektika/24-samsir-mohamad-kiri-sejarah-dan-asas

Monday, May 21, 2012

Akhir Pekan Sangat Panjang

Sekarang sudah hari senin. Akhir pekan yang sangat panjang sudah berakhir tanpa terasa. Kalau saja rencana beberapa minggu lalu masih berjalan sesuai rencana, mungkin pikiran saya tidak akan sesumpek ini. Tapi terkadang pilihan yang tidak mengenakkan memang harus dipilih. Sia-sia saya mencuci sepatu New Balance 574 sampai kinclong.

Sangat mengecewakan kalau saya menceritakan apa saja yang saya lakukan selama libur akhir pekan yang sangat panjang ini. Setiap hari rasanya membosankan dan berkeliling di dalam kota Jakarta tidak akan menghilangkan rasa kebosanan. Walaupun selama libur kemacetannya tidak terasa parah, tetapi panasnya tetap saja membuat gerah. Kalau saja saya ber-KTP Jakarta dan salah seorang calon gubernur berkampanye dengan janji akan membuat Jakarta lebih sejuk, tentu pada tanggal 11 Juli nanti, gambarnya akan saya coblos besar-besar.

Dikarenakan rencana perjalanan saya tidak terealisasi minggu lalu, maka rekor perjalanan saya mulai bulan oktober tahun lalu berhenti di bulan mei. Hal ini tidak terprediksi sama sekali. Padahal selama 2 bulan terakhir saya sanggup memanfaatkan setiap libur hari jum'at semaksimal mungkin. Jadi bayangan saya kalau liburnya mulai dari hari kamis, perjalanan akan lebih jauh dan lebih lama. Tapi kenyataannya, saya tidak kemana-mana dengan perasaan kecewa.

Tuesday, May 15, 2012

Menggantung Harapan di Tali Jemuran

Bekerja tanpa mendapatkan gaji itu sangat tidak mengenakkan. Nasib ini lebih buruk dari para buruh yang berunjuk rasa pada tanggal 1 Mei. Sebenarnya saya mendapatkan gaji, tapi rasanya lebih tepat kalau dibilang upah. Upah yang hanya sekitar setengah dari UMR itu dirapel dalam beberapa bulan supaya terlihat banyak. Beberapa bulan inilah yang tidak pasti berapa lama. Sampai sekarang saya sudah menjalani bulan ketiga bekerja dan rekening BRI milik saya belum terisi-terisi juga.

Tentu menjadi pertanyaan kenapa saya masih mau bekerja dengan banyak ketidakjelasan yang jelas-jelas terlihat. Hal yang membuat saya bertahan dengan semua kesulitan ini, mungkin teman-teman saya juga, adalah sebuah janji. Janji dari pemerintah bahwa secepatnya akan dicetak sebuah SK CPNS dengan nama saya di dalamnya. Dan lagi-lagi kata "secepatnya" disini tidak cukup untuk menjelaskan waktu yang konkret.

Kekesalan tentu ada. Keinginan untuk memberontak juga ada dan lebih besar. Tetapi saya terjebak di sebuah sistem yang diciptakan dengan sengaja sehingga orang-orang yang berada di strata yang rendah tidak dapat melakukan perlawanan karena belum cukup memiliki kekuasaan dan kekuatan. Akhirnya apa yang akan saya lakukan adalah menerima. Percaya sajalah kalau pemerintah itu bijaksana.

Bulan februari saya pergi ke Tegal, sebuah kabupaten di Jawa Tengah dan berada di dekat-dekat kaki gunung Slamet. Saat itu saya ditawari mengajar SD di sebuah kampung antah berantah. Saya yang sedang menganggur dengan semangat langsung berangkat kesana. Walaupun sampai disana saya malahan dilarang untuk mengajar oleh ayah teman saya dengan alasan yang sebenarnya ingin saya tentang, tetapi saya menghormati dan tidak mau menentang orang tua.

Ayah teman saya itu mengatakan bahwa menjadi guru di daerah pelosok itu tidak enak. Kalau masih berstatus honorer, gajinya sangat kecil. Hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Kalau tidak dibarengi dengan iktikad baik, sangat jarang ada yang mau mengajar.

Saya sempat berpikir, barangkali karena standar hidup di daerah pelosok yang rendah, sehingga pendapatan yang kecil rasa-rasanya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi setelah saya merasakan keadaan saya sekarang ini, saya jadi tersadar apa sebenarnya yang membuat mereka tetap bertahan menjadi guru honorer selama bertahun-tahun dan akut. Mereka rela hidup pas-pasan atau memiliki pekerjaan lain untuk menutupi kekurangan demi sebuah jaminan bagi keluarganya. Harapan mereka adalah kebijaksanaan dari pemerintah bahwa suatu hari nanti, mereka akan diangkat derajatnya dan status honorer dihilangkan.

Mungkin kondisi seperti ini jugalah yang dirasakan oleh pegawai-pegawai honorer bergaji rendah lainnya. Setelah bertahun-tahun bergantung pada harapan dan lelah menunggu kemudian mereka akan berunjuk rasa menuntut diangkat menjadi pegawai negeri. Sekeras apapun mereka berteriak, pengambilan keputusan tetap saja berada di tangan penguasa. Penguasa juga mengerti kalau mencari pekerjaan di Indonesia itu sangat susah. Jadi kurang berguna berteriak kencang-kencang atau menghancurkan benda yang ada di sekitar. Keputusan ada di tangan mereka yang syukur-syukur tergerak hatinya.



Saturday, April 28, 2012

Ayo Memancing!


Tuesday, April 24, 2012

Antidote for Bored



Ketika rasa jenuh sudah mencapai ubun-ubun, kepala ini benar-benar terasa panas dan penat. Berpikir semakin tidak jernih dan terkadang muncul pemikiran untuk melakukan hal-hal gila, inilah yang saya takutkan. Memikirkan apa yang akan saya lakukan untuk menghilangkan kejenuhan malahan mempercepat penumpukan kejenuhan atau bahkan menimbulkan kejenuhan baru. Komplikasi terjadi, semakin menumpuk, semakin jenuh, kepala semakin berat, saya siap meledak.

Harus keluar dari Jakarta. Satu hari saja sudah cukup. Jakarta sudah tidak ketulungan lagi sumpeknya. Tapi kemana? Itu misteri selanjutnya yang harus dipecahkan.

Okelah. Urusan kemana ini mudah mengatasinya. Masalah yang lebih kompleks lagi adalah teman seperjalanan. Buat saya yang tidak ahli dalam hal ajak-mengajak ini, mengajak orang lain adalah pekerjaan yang lebih berat dan sebuah dilema. Kalau mengajak orang lain saya merasa sedikit tidak enakan. Karena waktu dan, terutama, keuangan tiap orang itu kan berbeda-beda. Walaupun sebenarnya kondisi keuangan saya sedang krisis juga, tapi selalu ada alokasi untuk jalan-jalan. Risikonya ya saya harus puasa senin-jumat atau lebih. Tetapi lebih mengesalkan lagi kalau yang diajak malahan bertanya balik, "si A ikut gak?" atau dia mengajukan sebuah kondisi "aku ikut kalau dia ikut.". Ah, kepala saya semakin penat rasanya. Apa susahnya berkata "YA" atau "TIDAK". Yasudahlah, selamat tinggal.

Dan kalau saya ketahuan jalan sendiri, komentar teman-teman saya beragam dan sepertinya mereka melihat saya seperti anak seorang pejabat yang banyak uang. "tebel bener kantong ni orang" atau "abis ngepet dimana bang?", komentar mereka tidak jauh-jauh dari hal itu. Saya hanya bisa tersenyum. Mau dijawab "ya", takutnya jadi berbohong. Kalau dijawab "nggak", mereka tidak percaya. Lebih baik diam saja kalau begitu.

Karena sudah terbiasa jalan sendiri, saya ya santai-santai saja kalau tidak ada teman. Ini juga yang membuat saya tidak terlalu memaksa kalau mengajak orang. Kalau dia sudah berkata "tidak", ya sudah. Dan biasanya saya sudah menyerah kalau orang pertama sudah berkata "tidak". Ujung-ujungnya jalan sendiri.

Saya malahan merasa lebih nyaman kalau jalan sendiri. Kenapa? Karena saya tidak perlu capek-capek memikirkan orang lain, tidak perlu mendengarkan komentar dan pertimbangan ini itu, dan saya jadi lebih bebas juga. Terserah mau jalan kemana, caranya bagaimana terserah, mau jungkir balik atau jalannya nungging terserah kita sendiri. Enaknya itu. Tidak enaknya ya tidak ada teman buat foto-foto dan mengobrol. Tetapi justru itulah tantangannya. Bagaimana caranya supaya kita bisa mendapat teman mengobrol selama di perjalanan. Jadi rasanya benar juga kalimat yang sering dikutip orang-orang, "it's not about the destination, but the journey". Walaupun sebenarnya tanpa sebuah tujuan kita tidak akan merasakan sebuah petualangan.

Tuesday, April 17, 2012

secepatnya, nanti, atau kapan-kapanlah

Kenyang sudah saya mendengar kata menikah. Sepertinya obrolan orang-orang yang sudah bekerja tidak lagi tentang pacar-pacaran. Tetapi naik satu tingkat menjadi hal yang lebih berat, seperti menikah. Setidaknya pemikiran angkatan saya yang baru lulus tahun lalu dan sekarang sedang magang seperti itu. Bagaimana tidak. Kira-kira setahun lagi para pria-pria sudah sanggup memenuhi kebutuhannya dan untuk memberi makan anak istri sepertinya cukuplah. Kalau hidup sudah mapan, jadi apa lagi yang ditunggu?

Pemikiran itu sederhana sekali. Memang lebih enak memikirkan yang gampang-gampang. Tidak perlu banyak pertimbangan dan perhitungan ini itu. Tetapi karena kita terlalu sering berpikir yang gampang-gampang maka beberapa hal bisa menjadi sangat rumit. Begitu juga menikah disini. Tidak hanya kesiapan materi yang seharusnya kita lihat dan semua itu tidak semudah mengucapkan ijab qabul. Ah! Saya berbicara seperti seorang yang sudah ahli saja.

Saya sebenarnya ingin tertawa ketika terjebak di obrolan berat seperti itu. Tetapi demi menghormati norma-norma yang ada, ditahan sajalah. Walaupun akhirnya saya jadi ikut-ikutan meramaikan suasana. Tetapi lucu juga. Umur saya itu 21 tahun lebih beberapa bulan dan teman-teman saya juga tidak jauh beda. Tetapi obrolannya seperti perkumpulan orang-orang nyaris berkepala tiga yang sudah sangat risih karena tidak kawin-kawin.

Saya jadi merasa ada fase hidup yang saya lompati atau karena bergerak terlalu cepat, fase itu tidak sadar sudah dijalani. Fase apa itu? Sangat susah dijelaskan karena saya sendiri juga tidak tahu. Saya hanya merasa sedikit aneh saja. Ketika orang-orang seumuran yang lain masih kebingungan mengurusi skripsi, kami disini sudah jauh mengobrol masalah nikah-menikah.

Biarkan sajalah teman-teman saya ini menikah duluan. Toh nanti kalau mereka sudah menikah duluan terus melihat saya yang masih melajang berkeliaran kemana-mana, mereka jadi iri sendiri. Atau jangan-jangan saya yang jadi iri melihat mereka. Tidak tahulah. *hehehe

Saturday, March 31, 2012

SUCX zine #5 "akhirnya dirilis"


Dahaga hampir 2 tahun terpuaskan juga. Banyak lika-liku, kemalasan, bahkan terpikir untuk berhenti. Tetapi seperti orang yang kehausan, dahaga ini tidak akan hilang kalau tidak meminum air segar. Kami juga seperti itu, sekali memulai tidak ada kata berhenti. Paling tidak sampai materi-materi yang terpisah bersatu menjadi sebuah zine yang utuh dan siap untuk dikonsumsi. Walaupun membutuhkan waktu bertahun lamanya dan kami terlihat seperti sudah tak bernyawa.
Minggu lalu saya ke kampus. Selain untuk mengambil heater, saya rindu ngeteh di pagi hari, saya juga bertemu teman saya di plasma untuk ketok palu mengenai zine ini. Sepertinya ini bakalan volume terakhir. Rasanya sudah sangat berat kalau ingin dilanjutkan lagi. Saya memang bukan founding father-nya, saya masuk di tengah-tengah, tetapi melalui zine inilah saya mulai belajar menulis. Jadi rasanya sedih juga. Sebagai gantinya, ide untuk membuat fanzine yang baru muncul. Tidak tahu kapan.

download: http://www.mediafire.com/?gg5g7e64s7qlh3d

Ini mungkin edisi terakhir. Tetapi jangan menangis, kami akan muncul lagi.

Before Home: Sambutan Hangat di Lampung

09 Nopember 2011 



            Bangun (05.20)
Pada saat saya tersadar, tidak tahu pukul berapa saat itu, semua serba gelap. Setelah meraba-raba kasur saya berhasil mendapatkan hp, saya mengecek jam dan ternyata sudah pukul setengah 6. Tetapi semua masih terlalu gelap, aneh sekali. Saya berdiri dan coba mengingat-ingat posisi jendela. Jendela berhasil terbuka dan cahaya akhirnya masuk ke dalam kamar. Diluar sudah fajar, sudah mulai terang, tetapi matahari belum terbit.
            Sarapan Nasi Uduk
Selesai mandi, saya langsung membereskan barang-barang. Kapal ke canti hanya berangkat sekali dalam sehari. Tepatnya jam 7 pagi. Saya sudah siap-siap untuk berangkat dan di meja ruang tamu sudah tersedia nasi uduk dan segelas teh manis. Aduh nikmat sekali.
Mandi di rumah ini benar-benar tidak bisa santai. Akan saya jelaskan sedikit. Rumah ini sudah berdinding beton. Susunan batanya terlihat jelas di dalam rumah. Lantainya plesteran semen yang tidak rata, tetapi selalu terlihat mengkilap. Melihat ke langit-langit rumah, bambu yang bersilangan dan genteng merah yang tersusun rapi. Di kamar yang saya tiduri, langit-langit kamar ditutupi dengan sambungan-sambungan karung yang dijahit. Kebanyakan adalah bekas karung beras dengan merk yang beraneka ragam. Pencitraan sebuah asbes. Dan yang paling menarik buat saya adalah sedikitnya daun pintu di rumah ini. Tiga pintu yang langsung menghadap keluar berada di depan, samping, dan belakang, sedangkan pintu yang berada di dalam rumah hanya ada satu, SATU. Itupun pintu WC. WC dan kamar mandi berbeda, kamar mandi tidak ada pintunya. 
Bagaimana seseorang dapat mandi dengan tenang di dalam sebuah kamar mandi yang tidak ada pintunya. Maksud saya kamar mandi di rumah orang lain. Kalau di rumah sendiri tentu santai-santai saja. Walaupun saya seorang laki-laki, tetap saja ketakutan kalau-kalau ada orang yang tiba-tiba masuk itu ada. Bayangkan ketika sedang enak-enaknya mandi sambil berdendang, tiba-tiba seseorang yang tidak dikenal nyelonong masuk. Horor!

            Homestay GRATIS.
Sedikit terjadi konflik ketika saya akan pergi. Bapak yang punya rumah menolak ketika saya akan membayar uang penginapan. Katanya “Tidak usah. Bawa saja. Bapak ikhlas kok.” Saya melihat ke arah istrinya. Ibu itu hanya tersenyum-senyum. Saya sebenarnya senang, tetapi saya mengerti sedikitlah mengenai tata-krama. Si Bapak melanjutkan “Mas Dedi uda mau menginap di rumah kami, kami uda senang kok. Kalau misalnya dateng lagi, jangan lupa singgah kesini”. Saya harus menjawab apa. Bingung. Saya hanya bisa senyum-senyum saja akhirnya. Sayapun menyerah dan berangkat ke pelabuhan diantar anak laki-lakinya dengan motor. Perasaan saya campur aduk.




            Naik Kapal (07.20)
Sudah hampir pukul 7, tetapi belum ada tanda-tanda kapal akan berangkat tepat waktu. Orang-orang sedang sibuk memuat barang. Sekitar pukul setengah 8 kapal mulai bergerak meninggalkan pulau sebesi. Saya mengambil posisi duduk di buritan di sebelah pengemudinya, saya lebih senang menyebutnya pengemudi daripada nakhoda. Misteri mengenai pengemudi kapal ini akhirnya terpecahkan.
Saya cerita sedikit mengenai pegemudi kapal ini. Sewaktu menaiki kapal yang menuju ke pulau sebesi hari sebelumnya, saya bertanya-tanya, bagaimana cara pengemudinya melihat arah kapalnya. Lihat saja, kaki-kaki penumpang yang duduk di atap kapal menutupi kaca bagian depan kapal. Kalau pengemudinya berada di dek bawah, bagaimana dia bisa melihat? Saya benar-benar ingin tahu.
Sekarang saya tahu. Pengemudi kapal ini mengendalikan kapalnya dengan cara yang benar-benar bertentangan. Menaikturunkan kecepatan menggunakan tangan dan membelokkan arah kapal dengan kaki. Sebuah tali ditarik untuk menambah kecepatan kapal atau diulur kalau mau diperlambat dan sebuah besi yang diinjak dengan kaki menggantikan kemudi. Perlu diingat. Ini kapal tradisional, bukan mobil. Pengemudinya duduk tepat di sebelah saya di atap kapal. Dan saya belajar satu hal. Jangan menentang ombak, ikuti iramanya. 



            Dermaga Canti dan Angkot Biru (09.00)
Kapal berlabuh di dermaga Canti sekitar pukul 9. Tujuan saya selanjutnya adalah Bandar Lampung. Saya sudah membuat janji dengan ketua kelas saya, Dharma, untuk bertemu disana. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot biru menuju Kalianda. Hanya saya sendiri penumpangnya, duduk di depan di sebelah supir yang mulai curhat mengenai kondisi perangkotan disana. Katanya orang-orang sudah jarang sekali naik angkot. Sepeda motor ada dimana-mana sekarang. Angkot lebih banyak digunakan sebagai kurir barang.
Dia juga bercerita mengenai isu-isu terbaru saat ini mengenai anak gunung Krakatau yang mulai mengeluarkan asap. Media-media menyebutkan asap ini beracun. Wisatawan yang berkunjung menurun drastis. Dua bulan yang lalu, setiap minggu selalu ada rombongan yang berkunjung ke sebesi. Sekarang, sepi sekali.
            Kalianda (09.45)
Saya tiba di terminal kalianda. Berdasarkan info dari sopir angkot yang saya naiki, kalau mau ke Bandar lampung, menunggu bisnya di Fajar. “Kesana naik ojek biar gampang, kasih saja tiga ribu. Dekat kok. Disana banyak travel juga. Tapi mahal. Mending naik bis.”, katanya sambil menurunkan saya di terminal kalianda.

            Fajar (09.50)
            Bis Bukit Barisan (10.40)
Saya naik ojek sampai ke Fajar. Turun dari ojek, tanpa banyak tanya, saya langsung membayar Rp3000. Fajar itu sebuah pertigaan ternyata. Kendaraan-kendaraan dari Bakauheni melewati jalan ini kalau ingin ke Bandar Lampung. Mobil-mobil travel sudah banyak yang ngetem. Saya sudah beberapa kali ditawari dan selalu menolak.
Perlu sedikit saya jelaskan perbedaan mobil “travel” di Sumatra dan Jawa. Kalau di Sumatra mobil travelnya itu mobil pribadi semua. Platnya hitam. Kebanyakan adalah mobil-mobil keluarga seperti kijang kapsul, xenia, avanza, innova, sampai APV. Biasanya hanya diisi oleh 7 orang.  Jadi serasa naik mobil pribadi kalau di dalamnya. Nyaman memang, tapi mahal. Berbeda dengan di Jawa. Mobil travelnya sejenis bis-bis tanggung. Platnya kuning dan sudah ada perusahaan legalnya. Contohnya Cipaganti yang ke Bandung dan X-trans yang sering saya pakai ke bandara.
Sudah lebih dari setengah jam saya duduk di pertigaan ini. Tetapi bis ke Rajabasa belum muncul-muncul juga. Hari sudah semakin panas. Saya tadi sempat menunggu dengan seorang Ibu dan anak gadisnya. Tapi mereka menyerah dan naik travel. Saya tetap di pertigaan ini menunggu sebuah bis untuk muncul. Hampir satu jam dan sebuah bis besar muncul. Ada tulisan Rajabasa di kaca depannya. Saya angkat ransel, melambai-lambaikan tangan dan langsung naik ketika bisnya berhenti. Kondisi bisnya? Sebelas-dua belas dengan metro mini. Tapi saya sangat senang. Berarti inilah transportasi paling murah.

            Terminal Rajabasa Lampung (13.20)
            Rumah Dharma (13.50)
Dharma akan menjemput saya di terminal Rajabasa. Dia sangat antusias sepertinya waktu saya bilang akan ke Lampung. Tidak tahu dia antusias karena saya akan datang atau karena saya datang membawa sebuah barang yang sangat dia idam-idamkan. Barang apa itu? Rahasia.
Saya akhirnya bertemu dengan Dharma dan langsung meluncur ke rumahnya. Ibunya sangat ramah, baru sampai saya langsung disuruh makan. Sepertinya saya memang terlihat sedang kelaparan. Selesai makan, shalat, istirahat sebentar, saya langsung diajak untuk jalan. Sebelum ke Lampung saya memang sudah meminta untuk diajakin jalan-jalan kalau sudah sampai disana. Saya tidak menyangka seburu-buru ini. Saya baru saja merebahkan diri di kasur.

            Pantai Kelapa Rapet
Tujuan kami adalah pantai Kelapa Rapet yang kalau disingkat menjadi Klara, seperti nama wanita. Kami ditemani oleh dua orang teman si Dharma, Primbon dan Mr.X –sial, saya lupa nama lagi, kami semua sekampus di Bintaro. Perjalanan ke sana sangat jauh. Kami sudah lama keluar dari Bandar Lampung dan ini sudah kabupaten yang berbeda. Akhirnya kami mulai menyusuri jalanan aspal di pinggir pantai. Keren. Rasanya seperti melintas di jalur kereta lintas utara Jawa. Mirip-mirip seperti itulah.
Sampai di pantai Klara. Banyak pondok-pondok di pinggir pantainya. Kondisi pantainya sendiri biasa saja. Seperti kebanyakan pantai yang sudah sering dijamah manusia. Kami duduk di satu pondok, mengobrol, sambil berharap dapat melihat sunset. Tapi sepertinya sunset tidak akan terlihat dari pantai ini. Kecuali matahari terbenam jauh ke selatan.

            Stasiun Tanjung Karang
            Kereta Sriwijaya II (21.00)
Malam harinya saya sudah merencanakan untuk melanjutkan perjalanan ke Palembang menggunakan kereta. Jadwal keretanya pukul 21.00. Kembali dari pantai klara saya langsung mengantri tiket di Stasiun Tanjung Karang. Ternyata antriannya sangat panjang. Untuk menghemat waktu, saya mengantri tiket dan Dharma mengambil ransel saya di rumahnya. Saya merasa sedikit tidak enak karena tidak dapat berpamitan langsung dengan orang tuanya di rumah.
Tiket kereta sudah habis, tetapi saya berhasil mendapatkan tiket di gerbong tambahan. Awalnya saya bingung apa itu gerbong tambahan. Nanti setelah naik saya baru mengerti. Gerbong tambahan adalah gerbong ekonomi yang menempel di belakang gerbong bisnis dengan harga yang sama dengan bisnis. Kereta yang saya naiki adalah Sriwijaya II dan itu kereta bisnis dengan harga tiket Rp70.000. Kalau saja saya tahu tiket kereta ekonomi yang berangkat besok paginya hanya Rp10.000, tentu saya akan rela menggembel satu malam saja. Tapi semua sudah terlambat.
Setelah mendapatkan tiket, saya mendatangi Dharma yang sedang menunggu di parkiran. Ransel saya sudah dibawa, tetapi sepatu saya ketinggalan. Sepertinya saya memang harus kembali ke rumahnya. Kasihan ketua kelas saya ini harus mondar-mandir. Sampai di rumahnya, saya disuruh makan lagi. Saya tidak menolak, tetapi hanya sedikit segan. Jadinya ya makan sajalah. Sudah lama juga rasanya saya tidak makan yang berkualitas. Setelah berpamitan, kami harus kembali lagi ke stasiun Tanjung Karang untuk mengejar kereta jam Sembilan.
Di stasiun saya bertemu lagi dengan Primbon. Sebelum masuk ke dalam kereta dia malahan berusaha memberi saya sedikit pegangan uang. Dia memaksa, saya menolak. Semua orang di stasiun memperhatikan kami. Tapi maaf saja teman. Kalau wujudnya oleh-oleh, mungkin saya masih bisa terima. Uang harusnya menjadi benda yang paling kita hindari di dunia.  Saya juga sempat melihat Dharma memasukkan sesuatu ke dalam kantong belakang saya. Saya sempat berpikir kalau-kalau dia menyelipkan narkoba. Tapi sepertinya itu uang dari barang yang saya bawakan. Sambutan yang meriah dari Lampung. Saya naik ke kereta yang siap melaju ke Palembang pukul 21.00.
Total pengeluaran hari 3:
Rp15.000 (kapal ke Canti) + Rp5.000 (angkot ke Kalianda) + Rp3.000 (ojek ke Fajar) + Rp5.000 (Mizone) + Rp17.000 (Bis Bukit Barisan) + Rp3.000 (tahu dan arem-arem) + Rp10.000 (pondok pantai Klara) + Rp70.000 (Tiket kereta Sriwijaya II)
=Rp128.000

Thursday, March 29, 2012

... (1)

Maret sudah akan berakhir. Banyak kekesalan, cerita, omelan, dan umpatan yang ingin keluar. Tetapi semua harus tertahan. Saya sedang berada di masa-masa transisi. Hidup saya yang awalnya normal mulai bertindak fluktuatif. Titik keseimbangan baru harus dicari.

Saturday, February 25, 2012

Kenikmatan di Bulan Februari


Cinta Tak Pernah Mati
Kalau melihat judul dan sampulnya, sudah tentu buku ini tidak akan saya beli. Melihatnya seperti melihat undangan pernikahan atau kado buat mereka yang menikah, cocok sekali. Tapi lihat daftar penulis yang terdapat di sampulnya. Dua jempol untuk penerbitnya!
Dari 17 penulis di dalamnya, hanya 3 orang yang pernah saya baca karyanya, Fyodor Dostoevsky, Leo Tolstoy, dan Mark Twain. Cukup melihat nama mereka bertiga, pandangan saya mengenai buku ini langsung bertolak belakang dengan judul dan sampulnya. Saya yakin isinya berbeda dan semakin membuat penasaran.
Buku ini pertama kali saya lihat di Toga Mas Jogja sewaktu ada diskon besar-besaran di awal tahun. Saya masih ingat sekali harganya Rp38.000. Tetapi buku ini tidak jadi saya beli karena finansial kurang mendukung. Saya sudah memegang buku John Steinbeck, Leo Tolstoy, dan satu buku lainnya. Kalau ditambah buku ini lagi, takutnya saya tidak bisa kembali ke Jakarta. Tetapi akhirnya buku ini saya temukan di Blok M, masih mulus dengan harga Rp20.000. Senang sekali rasanya.
Cinta tak pernah mati ternyata cerpen karya Honore de Balzac, ceritanya mengenai seorang tentara berstatus tahanan yang berhasil kabur ketika melintasi gurun pasir di sekitar sungai nil. Kemudian dia bertemu dengan seekor macan betina dan rasa takut yang awalnya muncul berubah menjadi kasih sayang karena sudah lama bersama. Balzac menyorot sisi psikologis dari tokoh ciptaannya dan pesan yang saya terima adalah hewan juga punya jiwa. Akhirnya cerpen ini berakhir tragis bercucuran air mata.
Semua cepen di dalamnya memang bertemakan cinta. Tetapi cinta dalam sudut pandang yang jauh lebih luas, sampai saya sendiri ragu menggolongkannya tema cinta atau tidak. Lihat saja cerpen Akutagawa yang menceritakan hubungan antara Buddha dan hambanya atau cerita mengenai bekas luka seorang penjual tiket karya Somerset Maugham.
Saya membutuhkan hari yang cukup lama untuk menyelesaikan membaca buku ini. Setiap cerita memiliki sudut pandang yang berbeda dan gaya bercerita penulisnya yang berbeda juga.Selesai membaca satu cerita suasana hati saya langsung labil, berubah-ubah tidak menentu. Karena itu membacanya seperti kredit motor, dicicil sedikit demi sedikit.
Beberapa cerita dapat membuat pembacanya tersenyum bahkan tertawa, seperti cerita O. Henry dan Maupassannt. Kalau tertarik dengan cerita bertemakan horror, silahkan baca Rudyard Kipling dan Edgar Allan Poe. Cerita lainnya dapat membuat dahi berkerut dan memaksa kita pelan-pelan mencernanya. Kalau membaca lagi maka kita akan diajak untuk merenung. Baca cerpen Leo Tolstoy, ini favorit saya, maka anda akan benar-benar murung. Mungkin sedikit kutipan akan mendukung.
"Ketika kami kaya raya, kami tidak pernah merasakan kedamaian: tak ada waktu untuk bercakap-cakap, merenung tentang jiwa kami, atau berdoa kepada Tuhan. Kami punya banyak kecemasan."
Saran saya kalau anda menemukan buku ini, konsumsi dan cerna perlahan-lahan. Kenikmatan dari pesan yang disampaikan pengarangnya akan terasa lebih....



My Bloody Valentine - Loveless
Bukan karena orang-orang merayakan valentine, maka saya memutar rekaman ini dengan intensitas yang lebih tinggi bulan ini, tapi karena saya memang sedang ingin. Saya kecanduan raungan gitar Kevin Shields. Pantas saja banyak orang yang memuja dan memuji Loveless, termasuk saya yang baru berumur 1 tahun 2 hari ketika album ini dirilis. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Lihat ekspresi wajah orang yang sedang mendengarkannya. Itu lebih jujur.
Album ini semakin melegenda karena dengar-dengar hampir membangkrutkan Creation Records. Alan McGee rela mengeluarkan dana ratusan ribu poundsterling untuk membiayai proses rekaman album ini selama 2 tahun. Walaupun penjualannya tidak bisa dibilang sukses kala itu, tapi Loveless sudah seperti berhala bagi pemuja shoegazing sekarang dan mungkin selamanya.
Track favorit saya tentu semuanya, tapi "when you sleep" lebih sering berputar-putar di kepala dan berhasil membuat saya tersenyum dengan mata sayu.
When I look at you. Oh, I dont know what I feel.



Wednesday, February 22, 2012

Demokrasi tanpa partai politik, bisa tidak?

Saya teringat sewaktu saya mengubek-ubek pasar kebayoran dan saya menemukan sebuah kaos bertuliskan "bisa tidak demokrasi tanpa partai politik?". Walaupun kaos itu tidak saya beli, tetapi kata-katanya benar-benar tidak bisa dilupakan. Apalagi kalau mengikuti berita kondisi politik di Indonesia sekarang ini. Terkadang saya terpikir kira-kira bisa tidak sebuah negara demokrasi tidak diperebutkan oleh partai-partai politik.
Tujuan dari didirikannya partai politik adalah untuk merebut kekuasaan politik di sebuah negara, walaupun mereka berkata mereka akan mewakili rakyat karena rasanya mustahil kalau ingin menerapkan demokrasi langsung di negara kita ini. Setelah mereka berhasil berkuasa, tujuan itu sedikit bergeser menjadi bagaimana mempertahankannya. Jadi jangan heran kalau kita melihat pemilu seperti sebuah perang internal. Penuh dengan strategi, mulai dari bagaimana caranya mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya sampai bagaimana menyiapkan serangan di kala fajar.
Menurut teori klasik Aristoteles, politik merupakan usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pengertian lainnya mengatakan, politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional dan nonkonstitusinal. Kalau dipersatukan menjadi politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional dan nonkonstitusional untuk mewujudkan kebaikan bersama. Kebaikan bersama tentu saja kebaikan bersama partai politiknya. Kalau mereka katakan demi kebaikan masyarakat, that's bullshit!
Pernah terpikir tidak kenapa ada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)? Ilmu sosial dan ilmu politik pada awalnya dapat berjalan berbarengan, tetapi sekarang saya merasa kedua ilmu itu bertentangan. Ilmu sosial fokus pada kepentingan masyarakat umum sedangkan ilmu politik lebih terfokus pada kepentingan sebuah kelompok atau golongan. Kebanyakan sekarang itu adanya politik berkedok sosial. Berkoar-koar mengenai kesejahteraan untuk rakyat, sembako murah, atau apalah yang lainnya.
Dia yang banyak uang, dia yang berkuasa. Rasa-rasanya semua bisa dibeli dengan uang. Kursi di parlemen saja bisa dijual. Kalau saya punya mesin waktu, bakalan saya lempar mereka ke zaman batu.

Wednesday, February 15, 2012

The more you ignore me, the closer i get

Hari ini tiba-tiba terjadi kehebohan di jejaring sosial. Siaran persidangan kasus wisma atlit yang diputar sepanjang hari masih kalah kehebohannya. Awalnya hanya beberapa orang, mereka menyebar link sebuah situs yang merilis jadwal tour Morrissey di Singapura dan Jakarta pada bulan Mei nanti, kemudian semakin ramai yang menyebar link situs ini dan beritapun menyebar kemana-mana.
Konser mantan vokalis The Smiths itu dijadwalkan di Jakarta tanggal 10 mei dan kata-katanya hanya tersedia 4700 tiket. Ribuan orang senang, ribuan orang siap membeli celengan, ribuan orang siap bernyanyi "The more you ignore me, the closer i get.You're wasting your time......."

Tuesday, February 14, 2012

Grammys 2012

Grammy Awards tahun lalu, album The Suburbs-nya Arcade Fire menang nominasi Album of The Year. Tahun sekarang, ada album 21-nya Adele. Sebuah kewajaran kalau Adele sampai mendapatkan enam awards. Dia benar-benar populer, terutama di kalangan mahasiswa -teman-teman saya kalau berkaraoke, Adele selalu masuk ke dalam list, sampai satu album penuh sepertinya. Saya tahu Adele dari mereka ini.- Berbeda kondisinya dengan Arcade Fire tahun lalu. Siapa yang memprediksi mereka bakalan menang. Lihat saja saingannya ada Katy Perry, Lady Gaga, Eminem, dan Lady Antebellum. The Suburbs dapat masuk ke dalam nominasi saja sudah merupakan kekagetan tersendiri.
Kalau disuruh memilih dari sekian banyak nominasi dan nomenee, saya akan benar-benar bingung. Bukan bingung karena memilih yang enak diantara yang enak-enak, tetapi karena terlalu sedikit yang benar-benar saya dengarkan masuk ke dalam nominasi. Kalau yang saya tahu, banyak lah. Zaman sekarang siapa yang tidak kenal Katy Perry atau Lady Gaga. Penjual es kelapa pinggir jalan mungkin juga tahu. Tergantung umur juga sebenarnya dan pergaulan. Radiohead, The Decemberists, Death Cab for Cutie, Fleet Foxes, Mumford and Sons, Cut Copy, Kings of Leon masuk nominanasi dan tidak ada satupun yang memperoleh award. Mereka memang payah masalah rebutan award, tapi siapa yang peduli.
Setelah baca-baca dan ketahuanlah produser album 21 adalah Jim Abyss. Pantas saja! Saya juga baru tahu di dalam 21 ada cover Lovesong dari The Cure. Lagu ini memang selalu menggoda.

Backsound while writing:
Fleet Foxes - White winter hymnal
The Cure - Lovesong
Mumford and Sons - The Cave

Tuesday, January 31, 2012

tiba-tiba sibuk

Menahan kantuk dengan kopi. Ini sudah gelas ketiga. Benar-benar sangat mujarab. Tetapi stamina otak sudah tidak mampu menyaingi. Saya masih ingat pesan guru biologi. Mie instan menstimulus otak dengan instan. Mata dan otak bertemu di ketidakselarasan. Berebutan, kejar-kejaran, baku hantam. Masih ada lima halaman lagi. Harus selesai hari ini.

Tuesday, January 24, 2012

Waiting for Superman


Film dokumenter ini menyorot kondisi pendidikan di Amerika yang ternyata tidak seperti bayangan saya selama ini. Saya berpikir kalau semua penduduk Amerika itu mendapatkan pendidikan yang cukup karena pendapatan perkapita negara tersebut yang lebih dari sepuluh kali pendapatan perkapita Indonesia. Dengan pendapatan yang jauh lebih besar, dibandingkan dengan penduduk Indonesia, tentu masalah pendidikan bukan menjadi masalah bagi mereka. Tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian saya, yaitu biaya pendidikan di Amerika yang ternyata berkali-kali lipat juga mahalnya dibandingkan di Indonesia.
Hal yang menjadi pusat perhatian dari film ini adalah bagaimana memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di Amerika karena banyak public school yang hanya menjadi persinggahan sementara sebelum anak-anak itu akhirnya di-drop out. Sebelumnya ada dua jenis sekolah di Amerika sana, yang pertama adalah public school, disebut sekolah negeri kalau di Indonesia, dan kedua adalah private school yang mirip seperti sekolah swasta. Bagi keluarga yang mampu menyekolahkan anaknya di private school tentu tidak akan ada masalah dengan kualitas yang diberikan oleh sekolah tersebut. Tetapi keluarga yang berpenghasilan rendah tentu tidak sanggup, padahal mereka dan anaknya sangat ingin memperoleh pendidikan yang berkualitas. Ada beberapa public school yang memiliki kualitas di atas rata-rata, tetapi kursi yang tersedia sangat sedikit. Disinilah mereka yang kurang mampu mempertaruhkan masa depan anaknya pada keberuntungan.
Penelitian dilakukan dan ada beberapa penyebab semakin menurunnya kualitas pendidikan di public school, sementara biaya pendidikan terus meningkat. Lingkungan yang tidak baik menjadi kambing hitam pertama. Lingkungan memberi pengaruh yang besar terhadap kualitas public school di lingkungan itu. Tetapi itu anggapan zaman dulu, setelah diteliti lebih dalam penyebab lingkungan yang buruk adalah karena sekolah itu sendiri. Sekolah-sekolah menjadi drop-out factories. Anak-anak menjadi pengangguran, tidak ada kegiatan, sehingga mereka mulai bertindak kriminal dan semakin memperburuk keadaan lingkungan.
Kebanyakan public school gagal karena kualitas pendidiknya yang bisa dibilang payah. Guru-guru di public school memiliki sejenis antibody yang disebut tenure. Ini adalah kebijakan birokrasi yang menjadikan guru-guru di public school kebal terhadap pemecatan, sama seperti guru-guru di sekolah negeri di Indonesia yang berstatus PNS. Untuk memperoleh tenure ini juga sangat mudah. Guru-guru hanya perlu mengajar kurang lebih selama dua tahun. Setelah itu mereka otomatis mendapat tenure. Hal ini menyebabkan mereka seenaknya saja mau mengajar atau tidak karena gaji akan tetap masuk ke tabungan.
Guru-guru di Amerika berlindung dibalik serikat guru, di dalam film disebutkan NEA dan AFT. Serikat guru inilah yang bisa dibilang membela hak-hak guru ketika dianggap terjadi pertentangan, seperti ketika Michelle Rhee, chancellor of the Washington, D.C. public schools, mengatakan akan menutup sekolah-sekolah yang kurang efektif dan memecat guru-guru yang payah. Perlu diketahui juga, serikat guru menyumbang dana yang tidak sedikit bagi dua partai besar di Amerika, Republican Party dan Democratic Party. Jadi ada simbiosis mutualisme yang terjadi di dunia politik yang menyebabkan masalah tenure sulit dibicarakan di parlemen.
Akhir film ini adalah sebuah undian yang dramatis. Public school yang reputasinya baik biasanya memiliki pendaftar yang melebihi kuota kursi yang mereka punya. Maka dibuat sebuah peraturan yang mewajibkan sekolah-sekolah membuat sebuah undian sebagai bentuk dari tes masuk. Para pendaftar dipaksa beradu keberuntungannya pada putaran bola, cabutan kertas, atau komputer yang memilih secara acak.  Mereka yang beruntunglah yang dapat bersekolah. Mereka yang tidak dipanggil namanya hanya bisa tertunduk lesu, menangis, atau berpura-pura tersenyum.

Thursday, January 5, 2012

Enemy Radio

Sudah lama sekali rasanya saya tidak mendengarkan radio. Masa-masa remaja dulu sewaktu saya masih memakai putih abu-abu, radio satu-satunya hiburan. Bukan karena tidak ada televisi, tetapi karena saya sering pulang terlalu larut. Terlalu melelahkan kalau harus menonton televisi. Lebih santai mendengarkan radio sambil melakukan pekerjaan lain di kamar saya yang selalu berantakan dan tidak beraturan karena buku, kertas, pakaian berserakan dimana-mana. Lalu saya akan terlelap dengan radio terus menyala sampai pagi. Itu sudah menjadi kebiasaan.
Saya mulai berhenti mendengarkan radio sejak hati saya menolak arus mainstream radio. Saya ingat sewaktu semester-semester awal kuliah, saya masih memiliki radio di kamar yang dinyalakan hanya setiap hari minggu jam 2 siang untuk mendengarkan alternative zone di global radio atau dinyalakan untuk memutar kaset Mocca album friends sebagai pengantar tidur kalau sedang mengalami gangguan tidur. Selain dari itu jarang sekali dinyalakan karena radio-radio menyajikan hiburan yang monoton. Mereka takut menjadi berbeda karena takut tidak laku.
Sekarang saya mulai mendengarkan radio lagi. Radio online tepatnya yang memerlukan koneksi internet agak cepat. Terima kasih kepada kemajuan teknologi dan arus globalisasi, saya jadi bisa mendengarkan NME radio. Saya biasanya hanya membaca majalahnya, itupun versi digital. Kalau saja radio-radio lokal, televisi juga, memutar single-single seperti di playlist NME radio, barangkali kondisi hiburan tidak akan separah sekarang ini yang dipenuhi oleh tema romantis dan patah hati. Masih banyak objek lain yang harusnya lebih diperhatikan. But it's always about money and popularity.


< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.