Thursday, April 29, 2021

Terjebak di 2010

Sekian lama berlangganan Spotify, beberapa hari belakangan ini saya menyadari kalau selera lagu saya tidak berubah sejak 2010, masa-masa akhir saya kuliah. Saya juga mendengarkan lagu-lagu terbaru atau yang lebih sering saya lakukan adalah memutar saja secara acak tanpa tahu itu lagu apa. Tapi rasanya ada berbeda ketika mendengarkan apa yang dulu sangat saya senangi.

Spotify dengan referensi yang tidak terbatas memang sangat menyenangkan. Kita hampir bisa mendengarkan apa saja, kecuali memang musisinya tidak mau majang di Spotify. Tapi kesenangan streaming itu rasanya berbeda dengan mendengarkan dari MP3 hasil buruan, apalagi dengan rilisan fisik. Tidak ada rasa ingin tahu lebih disana.

Akses yang begitu besar dan lengkap itu membunuh rasa penasaran kita. Kita disajikan yang mirip dengan apa yang kita dengarkan. Tidak perlu bingung menentukan apa yang mau didengarkan. Cukup dengan beberapa klik saja musik sudah diputar, kalau kurang cocok tinggal klik next. Tidak perlu lagi googling band apa saja yang mirip Arctic Monkeys atau bagaimana The Radio Dept. dengan M83 bisa digolongkan dalam Shoegaze. AI memanjakan kita dan kita memang suka dimanjakan.

Menjelang 2010 menurut saya adalah puncak-puncaknya perburuan MP3. Download, barter, atau beli di penjual CD bajakan. Bahkan sampai muncul yang namanya NetLabel, label yang merilis lagu gratis secara online. 

Saya adalah salah satu yang sangat menikmati perburuan MP3. Koleksi saya hampir 80GB yang dikategorikan dalam beberapa genre. Sampai sekarang masih tersimpan aman, kecuali satu folder Indie Pop yang hilang diambil maling bersama laptopnya.

Sebagian besar hasil perburuan saya lakukan di warnet. Supaya lebih efektif, dulu sebelum ke warnet, saya biasanya sudah menyiapkan daftar incaran hasil baca review di Pitchfork, Indierockcafe, Deathrockstar atau Wastedrocker. Bisa dibilang dulu tingkat keberhasilan perburuan saya sekitar 80%. Trik saya paling ampuh adalah dengan "site:mediafire.com" di google. Bisa langsung dapat satu album full, cepat, bisa di-resume dan minim iklan.

Kenikmatan kedua tentu saja mendengarkannya. Seperti ketika saya menulis ini sambil mendengarkan apa yang saya dengarkan dulu. The Strokes, Arcade Fire, Beach House dan teman-temannya yang lain. Sambil berharap gairah, idealisme, dan semangat yang dulu tidak menua secepat raga ini atau kalaupun bisa tetap muda sajalah.

Tulisan setelah mendengarkan Wake Up dari Arcade Fire dengan liriknya yang menggetarkan,

But now that I'm older,
My heart's colder,
And I can see that it's a lie...

 

 

 Bintaro (2011), Masa Pencarian Jati Diri dan Menggalaukan Setiap Hal


 

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.