Beberapa minggu lalu kios souvenir saya Partopi Tao Co. di Parapat dirobohkan eskavator. Kios mini yang menjual kaos yang beraliran Pop itu kini sudah rata dengan aspal. Rencananya kios-kios yang dirobohkan akan dirapikan menjadi pedestrian. Pembangunan pedestrian ini sepertinya termasuk salah satu program revitalisasi wisata di Parapat yang sedang jadi target pemerintah.
Sebenarnya saya ikhlas saja apabila kios saya digusur, karena sebenarnya kios itu berdiri di atas tanah negara dan tidak ada dokumen pinjam pakai sehingga bisa juga dibilang bangunan ilegal. Tapi nilai historisnya bagi saya terlalu mahal untuk dihilangkan.
Bagi keluarga saya kios di Pante ini (orang Parapat biasa bilangnya "Pante") punya banyak kenangan. Kenangan yang dulu terasa tidak enak, tapi sekarang ketika hilang ternyata sedih juga. Keluarga besar saya sangat bertumpu pada wisata Danau Toba. Kami adalah pedagang makanan musiman. Biasanya jualan ketika tahun baru, lebaran, libur kenaikan kelas, dan festival Pesta Danau Toba.Jajaran kios souvenir saya ini dulu adalah sisi warung makanan yang konsepnya bongkar pasang. Ketika musim ramai wisatawan dipasang, ketika tidak terlalu ramai ya dibongkar. Rangkanya adalah balok kayu, atapnya seng, dan ditutupi terpal. Lebih permanen dari warung pecel lele.
Ketika musim liburan, rasanya jadi menjengkelkan karena saya harus membantu keluarga jualan. Tidak ada istilah pergi jalan-jalan ketika liburan, adanya jualan-jualan. Spesialisasi saya dulu adalah cuci piring. Jadi sejak kecil saya sudah terbiasa mencuci piring yang rasanya tidak habis-habis. Ketika tugas selesai saya biasanya keliling Pante 1 lap, melihat keramaian sambil berharap supaya bisa merasakan liburan yang sebenarnya.
Sejak krisis moneter tahun 1997 melanda, wisata Parapat sangat terdampak, bahkan sistemik sampai sekarang. Wisatawan menurun drastis, hotel-hotel sepi, dan wisatawan yang datang mulai membawa makanan sendiri. Mereka hanya datang ke Parapat untuk mandi di danau atau sekadar menyebrang ke Samosir. Warung makanan mulai berkurang dan warung yang bertahan menaikkan harga makanan untuk menutupi biaya. Paling terkenal adalah menembak harga. Akibatnya wisatawan jadi enggan datang dan mencap Parapat tidak lagi enak.
Beberapa tahun kemudian (saya lupa tahunnya), ketika Parapat sedang sepi, sisi lahan warung makanan di Pante yang sedang kosong diperebutkan oleh orang-orang dengan memasang patok. Siapa yang cepat, dia yang dapat. Kakak saya yang dulu sedang berjualan di rumah langsung bergegas ikut perebutan. Dia berhasil mendapatkan walaupun tidak terlalu lebar. Dulu ketika berjualan, warung makanannya bisa sampai 10 meter, sekarang hanya dapat tidak sampai 3 meter. Lahan itulah yang kemudian dibangun menjadi seperti kondisi sebelum dirobohkan.
Kami sempat berjualan makanan beberapa kali di kios baru itu. Tapi hasilnya sudah berbeda. Ketika kakak saya kemudian memutuskan untuk pindah ke medan, kios itu kemudian disewakan kepada orang lain.
Sekian tahun disewakan, saya baru tahu kalau biaya sewanya hanya 2jt per tahun. Ketika pembayaran sewanya mulai macet, saya kemudian mengajukan tawaran untuk saya kelola sendiri. Sekaligus menjaga agar kios itu tidak diklaim orang lain karena secara dokumen hukum memang tidak ada sama sekali.
Kios saya renovasi kecil-kecilan supaya terlihat lebih rapi dan akhir 2017 mulai jualan perdana. Selama 1,5 tahun berjualan, struggling-nya sangat terasa dan disinilah saya menyadari bahwa wisata Parapat itu benar-benar "mati". Bahkan ketika akhir pekan, seperti tidak ada orang yang tertarik untuk datang ke Parapat. Wisata Parapat benar-benar hanya bisa mengandalkan libur lebaran dan tahun baru.
Setelah libur lebaran 2019, kios saya terkena longsor. Dinding belakang jebol dan kios penuh terisi tanah. Dengan sisa-sisa modal yang ada, apalagi dengan cash flow yang sangat lambat, akhirnya Partopi Tao Co. pindah lokasi ke sekitar Masjid Raya Parapat. Souvenir yang awalnya beraliran Pop berubah jadi Syariah.
Kios di Pante rencananya dibiarkan mati suri sampai wisata Parapat bangkit lagi. Tapi ternyata malah mati benaran dihantam eskavator. :-(
No comments:
Post a Comment