Film apakah yang terakhir kau tonton? Apakah film box office yang
diputar di bioskop atau film yang tidak diputar di bioskop (Indonesia) dan kau berhasil
menontonnya setelah mengeluarkan sedikit usaha untuk men-download? Kalau
saya bertanya kepada diri saya sendiri, maka saya akan menjawab yang kedua.
Film yang baru saja saya tonton berjudul The Hundred-Foot Journey. Sekilas, maka akan
terbayang film tentang petualangan, penjelajalan, adventure. Tetapi
sayangnya tidak. Film ini bercerita tentang dunia tata boga, masak-memasak
makanan yang membuat perut lapar.
Saya tidak mengetahui film ini sebelumnya sampai saya melihat poster film
ini di salah satu website berbagi film. Didominasi warna kuning dengan gambar
segerombolan orang sedang bercengkrama, sayapun teringat film Little Miss
Sunshine. Dan setelah melihat trailer-nya dan membaca sinopsisnya di
IMDB, maka saya merasa kedua film ini memiliki kesamaan. Keduanya berlatarkan
keluarga besar dan cerita yang, saya rasa, tidak bertele-tele dan didramatisir.
The Hundred-Foot Journey bercerita tentang Hassan Kadam yang sejak
kecil sudah diperkenalkan dengan dunia masak-memasak oleh Ibunya. Dikarenakan
restoran mereka di India dirusak oleh sekelompok orang dan Ibunya
meninggal, merekapun (Papa Kadam, Hassan, dan empat saudaranya) memutuskan
untuk pindah ke eropa dan akhirnya tinggal di sebuah desa di Prancis yang
bernama Saint-Antonin-Noble-Val.
Setelah mereka dibantu oleh Marguerete, yang
kemudian menjadi teman dekat Hassan, Papa Kadam memutuskan membuka restoran
India yang dinamakan Maison Mumbai di bekas sebuah restoran yang terbengkalai.
Di seberang Maison Mumbai, tepatnya seratus kaki (one hundred feet),
terdapat restoran Prancis mewah, Le Saule Pleureur yang dimiliki oleh seorang
wanita bernama Madame Mallory yang sangat berambisi untuk mendapatkan bintang
kedua Michelin Stars, bintang pertama sudah didapatkannya 30 tahun yang
lalu ketika suaminya masih hidup. Michelin Stars sendiri adalah sebuah
penghargaan yang sangat bergengsi untuk sebuah restoran di Prancis.
Singkat cerita, setelah banyak perselisihan antara Maison Mumbai dan Le
Saule Pleureur, Hassan bekerja di Le Saule Pleureur dan membantu Madame Mallory
mendapatkan ambisinya selama ini, yaitu bintang kedua Michelin Stars. Bintang kedua Michelin
Stars ini juga membuka karir Hassan untuk jenjang yang tertinggi. Diapun
pindah ke Paris dan bekerja untuk sebuah restoran La Baleine Grise yang
berprinsip Cooking is no longer art, it’s
a science. La Baleine Grise mengolah makanan menggunakan teknik-teknik
memasak yang inovatif dan futuristik.
Di Paris Hassan mencapai puncak keberhasilannya, wajahnya mengisi cover berbagai majalah, orang-orang
meminta untuk berfoto bersama. Tetapi disinilah dia mulai merasakan suatu
kekosongan. Dia mulai merasa terdapat kekurangan dari masakannya. Dan
kekurangan itu seperti tidak dapat dijelaskan, dia tidak mengetahui
penyebabnya. Diapun menyadari bahwa kekurangan tersebut terdapat di
Saint-Antonin-Noble-Val dimana terdapat keluarganya, Marguerite, dan Madame
Mallory. Dia hampir mendapatkan bintang ketiga Michelin Stars, tetapi dia sadar bahwa yang dibutuhkannya adalah rumah,
keluarganya.
Sepanjang film, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan perdesaan di
Prancis, hutan dengan jamurnya, dan warna dari sinar matahari yang tidak
terlalu terik tetapi justru meneduhkan. Suasana yang meneduhkan itu menjadi
sangat indah ketika dipadukan dengan warna-warna menyala, merah dan kuning,
dari buah tomat atau jeruk yang baru dipetik, dan tentu saja masakan yang
selalu membuat kita menelan air liur.
Saya merindukan film-film seperti ini. Film tentang slice of life dengan cerita yang mengalir dan konflik yang tidak
dipaksakan. Bukan film tentang superhero, tembak-tembakan, tangis-tangisan,
apalagi sinetron tentang hewan-hewananan. Menonton The Hundred-Foot Journey rasanya menyenangkan dan mengobati
kerinduan.
Sebagai penutup, saya terbayang-bayang quote
dari Papa Kadam, “Wherever the family is, that is the home”



copy film nya dong...
ReplyDelete