Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Saturday, August 8, 2015

The Hundred-Foot Journey

Film apakah yang terakhir kau tonton? Apakah film box office yang diputar di bioskop atau film yang tidak diputar di bioskop (Indonesia) dan kau berhasil menontonnya setelah mengeluarkan sedikit usaha untuk men-download? Kalau saya bertanya kepada diri saya sendiri, maka saya akan menjawab yang kedua.

Film yang baru saja saya tonton berjudul The Hundred-Foot Journey. Sekilas, maka akan terbayang film tentang petualangan, penjelajalan, adventure. Tetapi sayangnya tidak. Film ini bercerita tentang dunia tata boga, masak-memasak makanan yang membuat perut lapar.

Saya tidak mengetahui film ini sebelumnya sampai saya melihat poster film ini di salah satu website berbagi film. Didominasi warna kuning dengan gambar segerombolan orang sedang bercengkrama, sayapun teringat film Little Miss Sunshine. Dan setelah melihat trailer-nya dan membaca sinopsisnya di IMDB, maka saya merasa kedua film ini memiliki kesamaan. Keduanya berlatarkan keluarga besar dan cerita yang, saya rasa, tidak bertele-tele dan didramatisir.
The Hundred-Foot Journey bercerita tentang Hassan Kadam yang sejak kecil sudah diperkenalkan dengan dunia masak-memasak oleh Ibunya. Dikarenakan restoran mereka di India dirusak oleh sekelompok orang dan  Ibunya meninggal, merekapun (Papa Kadam, Hassan, dan empat saudaranya) memutuskan untuk pindah ke eropa dan akhirnya tinggal di sebuah desa di Prancis yang bernama Saint-Antonin-Noble-Val.

Setelah mereka dibantu oleh Marguerete, yang kemudian menjadi teman dekat Hassan, Papa Kadam memutuskan membuka restoran India yang dinamakan Maison Mumbai di bekas sebuah restoran yang terbengkalai. Di seberang Maison Mumbai, tepatnya seratus kaki (one hundred feet), terdapat restoran Prancis mewah, Le Saule Pleureur yang dimiliki oleh seorang wanita bernama Madame Mallory yang sangat berambisi untuk mendapatkan bintang kedua Michelin Stars, bintang pertama sudah didapatkannya 30 tahun yang lalu ketika suaminya masih hidup. Michelin Stars sendiri adalah sebuah penghargaan yang sangat bergengsi untuk sebuah restoran di Prancis.

Singkat cerita, setelah banyak perselisihan antara Maison Mumbai dan Le Saule Pleureur, Hassan bekerja di Le Saule Pleureur dan membantu Madame Mallory mendapatkan ambisinya selama ini, yaitu bintang kedua Michelin Stars. Bintang kedua Michelin Stars ini juga membuka karir Hassan untuk jenjang yang tertinggi. Diapun pindah ke Paris dan bekerja untuk sebuah restoran La Baleine Grise yang berprinsip Cooking is no longer art, it’s a science. La Baleine Grise mengolah makanan menggunakan teknik-teknik memasak yang inovatif dan futuristik.

Di Paris Hassan mencapai puncak keberhasilannya, wajahnya mengisi cover berbagai majalah, orang-orang meminta untuk berfoto bersama. Tetapi disinilah dia mulai merasakan suatu kekosongan. Dia mulai merasa terdapat kekurangan dari masakannya. Dan kekurangan itu seperti tidak dapat dijelaskan, dia tidak mengetahui penyebabnya. Diapun menyadari bahwa kekurangan tersebut terdapat di Saint-Antonin-Noble-Val dimana terdapat keluarganya, Marguerite, dan Madame Mallory. Dia hampir mendapatkan bintang ketiga Michelin Stars, tetapi dia sadar bahwa yang dibutuhkannya adalah rumah, keluarganya.
Sepanjang film, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan perdesaan di Prancis, hutan dengan jamurnya, dan warna dari sinar matahari yang tidak terlalu terik tetapi justru meneduhkan. Suasana yang meneduhkan itu menjadi sangat indah ketika dipadukan dengan warna-warna menyala, merah dan kuning, dari buah tomat atau jeruk yang baru dipetik, dan tentu saja masakan yang selalu membuat kita menelan air liur.

Saya merindukan film-film seperti ini. Film tentang slice of life dengan cerita yang mengalir dan konflik yang tidak dipaksakan. Bukan film tentang superhero, tembak-tembakan, tangis-tangisan, apalagi sinetron tentang hewan-hewananan. Menonton The Hundred-Foot Journey rasanya menyenangkan dan mengobati kerinduan.

Sebagai penutup, saya terbayang-bayang quote dari Papa Kadam, “Wherever the family is, that is the home”

Tuesday, January 24, 2012

Waiting for Superman


Film dokumenter ini menyorot kondisi pendidikan di Amerika yang ternyata tidak seperti bayangan saya selama ini. Saya berpikir kalau semua penduduk Amerika itu mendapatkan pendidikan yang cukup karena pendapatan perkapita negara tersebut yang lebih dari sepuluh kali pendapatan perkapita Indonesia. Dengan pendapatan yang jauh lebih besar, dibandingkan dengan penduduk Indonesia, tentu masalah pendidikan bukan menjadi masalah bagi mereka. Tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian saya, yaitu biaya pendidikan di Amerika yang ternyata berkali-kali lipat juga mahalnya dibandingkan di Indonesia.
Hal yang menjadi pusat perhatian dari film ini adalah bagaimana memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di Amerika karena banyak public school yang hanya menjadi persinggahan sementara sebelum anak-anak itu akhirnya di-drop out. Sebelumnya ada dua jenis sekolah di Amerika sana, yang pertama adalah public school, disebut sekolah negeri kalau di Indonesia, dan kedua adalah private school yang mirip seperti sekolah swasta. Bagi keluarga yang mampu menyekolahkan anaknya di private school tentu tidak akan ada masalah dengan kualitas yang diberikan oleh sekolah tersebut. Tetapi keluarga yang berpenghasilan rendah tentu tidak sanggup, padahal mereka dan anaknya sangat ingin memperoleh pendidikan yang berkualitas. Ada beberapa public school yang memiliki kualitas di atas rata-rata, tetapi kursi yang tersedia sangat sedikit. Disinilah mereka yang kurang mampu mempertaruhkan masa depan anaknya pada keberuntungan.
Penelitian dilakukan dan ada beberapa penyebab semakin menurunnya kualitas pendidikan di public school, sementara biaya pendidikan terus meningkat. Lingkungan yang tidak baik menjadi kambing hitam pertama. Lingkungan memberi pengaruh yang besar terhadap kualitas public school di lingkungan itu. Tetapi itu anggapan zaman dulu, setelah diteliti lebih dalam penyebab lingkungan yang buruk adalah karena sekolah itu sendiri. Sekolah-sekolah menjadi drop-out factories. Anak-anak menjadi pengangguran, tidak ada kegiatan, sehingga mereka mulai bertindak kriminal dan semakin memperburuk keadaan lingkungan.
Kebanyakan public school gagal karena kualitas pendidiknya yang bisa dibilang payah. Guru-guru di public school memiliki sejenis antibody yang disebut tenure. Ini adalah kebijakan birokrasi yang menjadikan guru-guru di public school kebal terhadap pemecatan, sama seperti guru-guru di sekolah negeri di Indonesia yang berstatus PNS. Untuk memperoleh tenure ini juga sangat mudah. Guru-guru hanya perlu mengajar kurang lebih selama dua tahun. Setelah itu mereka otomatis mendapat tenure. Hal ini menyebabkan mereka seenaknya saja mau mengajar atau tidak karena gaji akan tetap masuk ke tabungan.
Guru-guru di Amerika berlindung dibalik serikat guru, di dalam film disebutkan NEA dan AFT. Serikat guru inilah yang bisa dibilang membela hak-hak guru ketika dianggap terjadi pertentangan, seperti ketika Michelle Rhee, chancellor of the Washington, D.C. public schools, mengatakan akan menutup sekolah-sekolah yang kurang efektif dan memecat guru-guru yang payah. Perlu diketahui juga, serikat guru menyumbang dana yang tidak sedikit bagi dua partai besar di Amerika, Republican Party dan Democratic Party. Jadi ada simbiosis mutualisme yang terjadi di dunia politik yang menyebabkan masalah tenure sulit dibicarakan di parlemen.
Akhir film ini adalah sebuah undian yang dramatis. Public school yang reputasinya baik biasanya memiliki pendaftar yang melebihi kuota kursi yang mereka punya. Maka dibuat sebuah peraturan yang mewajibkan sekolah-sekolah membuat sebuah undian sebagai bentuk dari tes masuk. Para pendaftar dipaksa beradu keberuntungannya pada putaran bola, cabutan kertas, atau komputer yang memilih secara acak.  Mereka yang beruntunglah yang dapat bersekolah. Mereka yang tidak dipanggil namanya hanya bisa tertunduk lesu, menangis, atau berpura-pura tersenyum.

Thursday, August 4, 2011

Aku, The Call of The Wild, dan Into The Wild

Kemarin saya baru menonton Into The Wild. Setelah sekian lama mencari dan menunggu, akhirnya dapat juga film ini. Kisah nyata Christopher McCandless yang meninggalkan kuliahnya untuk menuju Alaska.
Hal yang paling menarik adalah buku favorit yang dibaca oleh Chris. Penulisnya adalah Jack London. Ketika pertama kali disebutkan Jack London di filmnya, saya langsung melihat ke rak miyako. Oh man, ternyata bukunya saya punya, The Call of the Wild.
Buku ini saya beli beberapa minggu yang lalu ketika berburu buku dengan teman kuliah (fauzi, rizki, sanda, lambok). Waktu membelinya saya tidak tahu siapa itu Jack London dan buku apa yang sedang saya pegang. Bisa dibilang saya seperti bocah, melihat banyak artwork di dalamnya dan font ukuran (sepertinya) 14, timbul niat ingin membeli.
Tawar menawar sedikit alot dengan pembukaan harga 35rb. Saya tawar 15rb. Penjual meminta 25rb. Saya tetap 15rb. Dia berkurang lagi menjadi 20rb. Saya tetap 15rb. Dia tidak mau kurang dari 20rb. Bahasa batak keluar, dia takluk, saya menang ,walaupun 15rb masih terlalu mahal untuk sebuah buku bekas seperti ini.
Jodoh memang susah ditebak. Tak peduli seberapa tidak menarik  buku itu buat orang lain,  kumal, membosankan, tetapi ada hal yang memanggil saya untuk memilikinya. Kita memang berjodoh. Aku, The Call Of The Wild, dan Into The Wild.

Tuesday, May 17, 2011

Honeymoon on Ice

Saya baru menonton film Eternal Sunshine Of the Spotless Minds dan sepertinya judul Honeymoon on Ice "The Trees and The Wild" terinspirasi dari film ini.

The Trees and The Wild
Honeymoon on Ice

i'll be sitting and i'll be waiting for you
cause all this thoughts and all this hopes will go
blue time awaits you now
and breaks you now

i'm on your side
i'm on your side
i'm on your side
and memories is all we got so hold my hand
and we'll ease it out tonight tonight
i can feel you in my sleep
the fear of eve is in my grief the smile light is flashing both my eyes
i'll be sitting and i'll be waiting for you
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.