Kenyang sudah saya mendengar kata menikah. Sepertinya obrolan orang-orang yang sudah bekerja tidak lagi tentang pacar-pacaran. Tetapi naik satu tingkat menjadi hal yang lebih berat, seperti menikah. Setidaknya pemikiran angkatan saya yang baru lulus tahun lalu dan sekarang sedang magang seperti itu. Bagaimana tidak. Kira-kira setahun lagi para pria-pria sudah sanggup memenuhi kebutuhannya dan untuk memberi makan anak istri sepertinya cukuplah. Kalau hidup sudah mapan, jadi apa lagi yang ditunggu?
Pemikiran itu sederhana sekali. Memang lebih enak memikirkan yang gampang-gampang. Tidak perlu banyak pertimbangan dan perhitungan ini itu. Tetapi karena kita terlalu sering berpikir yang gampang-gampang maka beberapa hal bisa menjadi sangat rumit. Begitu juga menikah disini. Tidak hanya kesiapan materi yang seharusnya kita lihat dan semua itu tidak semudah mengucapkan ijab qabul. Ah! Saya berbicara seperti seorang yang sudah ahli saja.
Pemikiran itu sederhana sekali. Memang lebih enak memikirkan yang gampang-gampang. Tidak perlu banyak pertimbangan dan perhitungan ini itu. Tetapi karena kita terlalu sering berpikir yang gampang-gampang maka beberapa hal bisa menjadi sangat rumit. Begitu juga menikah disini. Tidak hanya kesiapan materi yang seharusnya kita lihat dan semua itu tidak semudah mengucapkan ijab qabul. Ah! Saya berbicara seperti seorang yang sudah ahli saja.
Saya sebenarnya ingin tertawa ketika terjebak di obrolan berat seperti itu. Tetapi demi menghormati norma-norma yang ada, ditahan sajalah. Walaupun akhirnya saya jadi ikut-ikutan meramaikan suasana. Tetapi lucu juga. Umur saya itu 21 tahun lebih beberapa bulan dan teman-teman saya juga tidak jauh beda. Tetapi obrolannya seperti perkumpulan orang-orang nyaris berkepala tiga yang sudah sangat risih karena tidak kawin-kawin.
Saya jadi merasa ada fase hidup yang saya lompati atau karena bergerak terlalu cepat, fase itu tidak sadar sudah dijalani. Fase apa itu? Sangat susah dijelaskan karena saya sendiri juga tidak tahu. Saya hanya merasa sedikit aneh saja. Ketika orang-orang seumuran yang lain masih kebingungan mengurusi
skripsi, kami disini sudah jauh mengobrol masalah nikah-menikah.
Biarkan sajalah teman-teman saya ini menikah duluan. Toh nanti kalau mereka sudah menikah duluan terus melihat saya yang masih melajang berkeliaran kemana-mana, mereka jadi iri sendiri. Atau jangan-jangan saya yang jadi iri melihat mereka. Tidak tahulah. *hehehe
cie, sudah ngomongin nikah. rasanya ini negasinya lah ya. haha
ReplyDeleteboleh juga. hehe
ReplyDelete