Tuesday, April 24, 2012

Antidote for Bored



Ketika rasa jenuh sudah mencapai ubun-ubun, kepala ini benar-benar terasa panas dan penat. Berpikir semakin tidak jernih dan terkadang muncul pemikiran untuk melakukan hal-hal gila, inilah yang saya takutkan. Memikirkan apa yang akan saya lakukan untuk menghilangkan kejenuhan malahan mempercepat penumpukan kejenuhan atau bahkan menimbulkan kejenuhan baru. Komplikasi terjadi, semakin menumpuk, semakin jenuh, kepala semakin berat, saya siap meledak.

Harus keluar dari Jakarta. Satu hari saja sudah cukup. Jakarta sudah tidak ketulungan lagi sumpeknya. Tapi kemana? Itu misteri selanjutnya yang harus dipecahkan.

Okelah. Urusan kemana ini mudah mengatasinya. Masalah yang lebih kompleks lagi adalah teman seperjalanan. Buat saya yang tidak ahli dalam hal ajak-mengajak ini, mengajak orang lain adalah pekerjaan yang lebih berat dan sebuah dilema. Kalau mengajak orang lain saya merasa sedikit tidak enakan. Karena waktu dan, terutama, keuangan tiap orang itu kan berbeda-beda. Walaupun sebenarnya kondisi keuangan saya sedang krisis juga, tapi selalu ada alokasi untuk jalan-jalan. Risikonya ya saya harus puasa senin-jumat atau lebih. Tetapi lebih mengesalkan lagi kalau yang diajak malahan bertanya balik, "si A ikut gak?" atau dia mengajukan sebuah kondisi "aku ikut kalau dia ikut.". Ah, kepala saya semakin penat rasanya. Apa susahnya berkata "YA" atau "TIDAK". Yasudahlah, selamat tinggal.

Dan kalau saya ketahuan jalan sendiri, komentar teman-teman saya beragam dan sepertinya mereka melihat saya seperti anak seorang pejabat yang banyak uang. "tebel bener kantong ni orang" atau "abis ngepet dimana bang?", komentar mereka tidak jauh-jauh dari hal itu. Saya hanya bisa tersenyum. Mau dijawab "ya", takutnya jadi berbohong. Kalau dijawab "nggak", mereka tidak percaya. Lebih baik diam saja kalau begitu.

Karena sudah terbiasa jalan sendiri, saya ya santai-santai saja kalau tidak ada teman. Ini juga yang membuat saya tidak terlalu memaksa kalau mengajak orang. Kalau dia sudah berkata "tidak", ya sudah. Dan biasanya saya sudah menyerah kalau orang pertama sudah berkata "tidak". Ujung-ujungnya jalan sendiri.

Saya malahan merasa lebih nyaman kalau jalan sendiri. Kenapa? Karena saya tidak perlu capek-capek memikirkan orang lain, tidak perlu mendengarkan komentar dan pertimbangan ini itu, dan saya jadi lebih bebas juga. Terserah mau jalan kemana, caranya bagaimana terserah, mau jungkir balik atau jalannya nungging terserah kita sendiri. Enaknya itu. Tidak enaknya ya tidak ada teman buat foto-foto dan mengobrol. Tetapi justru itulah tantangannya. Bagaimana caranya supaya kita bisa mendapat teman mengobrol selama di perjalanan. Jadi rasanya benar juga kalimat yang sering dikutip orang-orang, "it's not about the destination, but the journey". Walaupun sebenarnya tanpa sebuah tujuan kita tidak akan merasakan sebuah petualangan.

No comments:

Post a Comment

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.