Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Tuesday, November 27, 2012

danau dan bukit


Wednesday, August 29, 2012

Mereka tidak peduli dengan minyak yang akan mengotori celana mereka yang merah

Monday, July 30, 2012

Senja Menggila


Tuesday, April 24, 2012

Antidote for Bored



Ketika rasa jenuh sudah mencapai ubun-ubun, kepala ini benar-benar terasa panas dan penat. Berpikir semakin tidak jernih dan terkadang muncul pemikiran untuk melakukan hal-hal gila, inilah yang saya takutkan. Memikirkan apa yang akan saya lakukan untuk menghilangkan kejenuhan malahan mempercepat penumpukan kejenuhan atau bahkan menimbulkan kejenuhan baru. Komplikasi terjadi, semakin menumpuk, semakin jenuh, kepala semakin berat, saya siap meledak.

Harus keluar dari Jakarta. Satu hari saja sudah cukup. Jakarta sudah tidak ketulungan lagi sumpeknya. Tapi kemana? Itu misteri selanjutnya yang harus dipecahkan.

Okelah. Urusan kemana ini mudah mengatasinya. Masalah yang lebih kompleks lagi adalah teman seperjalanan. Buat saya yang tidak ahli dalam hal ajak-mengajak ini, mengajak orang lain adalah pekerjaan yang lebih berat dan sebuah dilema. Kalau mengajak orang lain saya merasa sedikit tidak enakan. Karena waktu dan, terutama, keuangan tiap orang itu kan berbeda-beda. Walaupun sebenarnya kondisi keuangan saya sedang krisis juga, tapi selalu ada alokasi untuk jalan-jalan. Risikonya ya saya harus puasa senin-jumat atau lebih. Tetapi lebih mengesalkan lagi kalau yang diajak malahan bertanya balik, "si A ikut gak?" atau dia mengajukan sebuah kondisi "aku ikut kalau dia ikut.". Ah, kepala saya semakin penat rasanya. Apa susahnya berkata "YA" atau "TIDAK". Yasudahlah, selamat tinggal.

Dan kalau saya ketahuan jalan sendiri, komentar teman-teman saya beragam dan sepertinya mereka melihat saya seperti anak seorang pejabat yang banyak uang. "tebel bener kantong ni orang" atau "abis ngepet dimana bang?", komentar mereka tidak jauh-jauh dari hal itu. Saya hanya bisa tersenyum. Mau dijawab "ya", takutnya jadi berbohong. Kalau dijawab "nggak", mereka tidak percaya. Lebih baik diam saja kalau begitu.

Karena sudah terbiasa jalan sendiri, saya ya santai-santai saja kalau tidak ada teman. Ini juga yang membuat saya tidak terlalu memaksa kalau mengajak orang. Kalau dia sudah berkata "tidak", ya sudah. Dan biasanya saya sudah menyerah kalau orang pertama sudah berkata "tidak". Ujung-ujungnya jalan sendiri.

Saya malahan merasa lebih nyaman kalau jalan sendiri. Kenapa? Karena saya tidak perlu capek-capek memikirkan orang lain, tidak perlu mendengarkan komentar dan pertimbangan ini itu, dan saya jadi lebih bebas juga. Terserah mau jalan kemana, caranya bagaimana terserah, mau jungkir balik atau jalannya nungging terserah kita sendiri. Enaknya itu. Tidak enaknya ya tidak ada teman buat foto-foto dan mengobrol. Tetapi justru itulah tantangannya. Bagaimana caranya supaya kita bisa mendapat teman mengobrol selama di perjalanan. Jadi rasanya benar juga kalimat yang sering dikutip orang-orang, "it's not about the destination, but the journey". Walaupun sebenarnya tanpa sebuah tujuan kita tidak akan merasakan sebuah petualangan.

Saturday, March 31, 2012

Before Home: Sambutan Hangat di Lampung

09 Nopember 2011 



            Bangun (05.20)
Pada saat saya tersadar, tidak tahu pukul berapa saat itu, semua serba gelap. Setelah meraba-raba kasur saya berhasil mendapatkan hp, saya mengecek jam dan ternyata sudah pukul setengah 6. Tetapi semua masih terlalu gelap, aneh sekali. Saya berdiri dan coba mengingat-ingat posisi jendela. Jendela berhasil terbuka dan cahaya akhirnya masuk ke dalam kamar. Diluar sudah fajar, sudah mulai terang, tetapi matahari belum terbit.
            Sarapan Nasi Uduk
Selesai mandi, saya langsung membereskan barang-barang. Kapal ke canti hanya berangkat sekali dalam sehari. Tepatnya jam 7 pagi. Saya sudah siap-siap untuk berangkat dan di meja ruang tamu sudah tersedia nasi uduk dan segelas teh manis. Aduh nikmat sekali.
Mandi di rumah ini benar-benar tidak bisa santai. Akan saya jelaskan sedikit. Rumah ini sudah berdinding beton. Susunan batanya terlihat jelas di dalam rumah. Lantainya plesteran semen yang tidak rata, tetapi selalu terlihat mengkilap. Melihat ke langit-langit rumah, bambu yang bersilangan dan genteng merah yang tersusun rapi. Di kamar yang saya tiduri, langit-langit kamar ditutupi dengan sambungan-sambungan karung yang dijahit. Kebanyakan adalah bekas karung beras dengan merk yang beraneka ragam. Pencitraan sebuah asbes. Dan yang paling menarik buat saya adalah sedikitnya daun pintu di rumah ini. Tiga pintu yang langsung menghadap keluar berada di depan, samping, dan belakang, sedangkan pintu yang berada di dalam rumah hanya ada satu, SATU. Itupun pintu WC. WC dan kamar mandi berbeda, kamar mandi tidak ada pintunya. 
Bagaimana seseorang dapat mandi dengan tenang di dalam sebuah kamar mandi yang tidak ada pintunya. Maksud saya kamar mandi di rumah orang lain. Kalau di rumah sendiri tentu santai-santai saja. Walaupun saya seorang laki-laki, tetap saja ketakutan kalau-kalau ada orang yang tiba-tiba masuk itu ada. Bayangkan ketika sedang enak-enaknya mandi sambil berdendang, tiba-tiba seseorang yang tidak dikenal nyelonong masuk. Horor!

            Homestay GRATIS.
Sedikit terjadi konflik ketika saya akan pergi. Bapak yang punya rumah menolak ketika saya akan membayar uang penginapan. Katanya “Tidak usah. Bawa saja. Bapak ikhlas kok.” Saya melihat ke arah istrinya. Ibu itu hanya tersenyum-senyum. Saya sebenarnya senang, tetapi saya mengerti sedikitlah mengenai tata-krama. Si Bapak melanjutkan “Mas Dedi uda mau menginap di rumah kami, kami uda senang kok. Kalau misalnya dateng lagi, jangan lupa singgah kesini”. Saya harus menjawab apa. Bingung. Saya hanya bisa senyum-senyum saja akhirnya. Sayapun menyerah dan berangkat ke pelabuhan diantar anak laki-lakinya dengan motor. Perasaan saya campur aduk.




            Naik Kapal (07.20)
Sudah hampir pukul 7, tetapi belum ada tanda-tanda kapal akan berangkat tepat waktu. Orang-orang sedang sibuk memuat barang. Sekitar pukul setengah 8 kapal mulai bergerak meninggalkan pulau sebesi. Saya mengambil posisi duduk di buritan di sebelah pengemudinya, saya lebih senang menyebutnya pengemudi daripada nakhoda. Misteri mengenai pengemudi kapal ini akhirnya terpecahkan.
Saya cerita sedikit mengenai pegemudi kapal ini. Sewaktu menaiki kapal yang menuju ke pulau sebesi hari sebelumnya, saya bertanya-tanya, bagaimana cara pengemudinya melihat arah kapalnya. Lihat saja, kaki-kaki penumpang yang duduk di atap kapal menutupi kaca bagian depan kapal. Kalau pengemudinya berada di dek bawah, bagaimana dia bisa melihat? Saya benar-benar ingin tahu.
Sekarang saya tahu. Pengemudi kapal ini mengendalikan kapalnya dengan cara yang benar-benar bertentangan. Menaikturunkan kecepatan menggunakan tangan dan membelokkan arah kapal dengan kaki. Sebuah tali ditarik untuk menambah kecepatan kapal atau diulur kalau mau diperlambat dan sebuah besi yang diinjak dengan kaki menggantikan kemudi. Perlu diingat. Ini kapal tradisional, bukan mobil. Pengemudinya duduk tepat di sebelah saya di atap kapal. Dan saya belajar satu hal. Jangan menentang ombak, ikuti iramanya. 



            Dermaga Canti dan Angkot Biru (09.00)
Kapal berlabuh di dermaga Canti sekitar pukul 9. Tujuan saya selanjutnya adalah Bandar Lampung. Saya sudah membuat janji dengan ketua kelas saya, Dharma, untuk bertemu disana. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot biru menuju Kalianda. Hanya saya sendiri penumpangnya, duduk di depan di sebelah supir yang mulai curhat mengenai kondisi perangkotan disana. Katanya orang-orang sudah jarang sekali naik angkot. Sepeda motor ada dimana-mana sekarang. Angkot lebih banyak digunakan sebagai kurir barang.
Dia juga bercerita mengenai isu-isu terbaru saat ini mengenai anak gunung Krakatau yang mulai mengeluarkan asap. Media-media menyebutkan asap ini beracun. Wisatawan yang berkunjung menurun drastis. Dua bulan yang lalu, setiap minggu selalu ada rombongan yang berkunjung ke sebesi. Sekarang, sepi sekali.
            Kalianda (09.45)
Saya tiba di terminal kalianda. Berdasarkan info dari sopir angkot yang saya naiki, kalau mau ke Bandar lampung, menunggu bisnya di Fajar. “Kesana naik ojek biar gampang, kasih saja tiga ribu. Dekat kok. Disana banyak travel juga. Tapi mahal. Mending naik bis.”, katanya sambil menurunkan saya di terminal kalianda.

            Fajar (09.50)
            Bis Bukit Barisan (10.40)
Saya naik ojek sampai ke Fajar. Turun dari ojek, tanpa banyak tanya, saya langsung membayar Rp3000. Fajar itu sebuah pertigaan ternyata. Kendaraan-kendaraan dari Bakauheni melewati jalan ini kalau ingin ke Bandar Lampung. Mobil-mobil travel sudah banyak yang ngetem. Saya sudah beberapa kali ditawari dan selalu menolak.
Perlu sedikit saya jelaskan perbedaan mobil “travel” di Sumatra dan Jawa. Kalau di Sumatra mobil travelnya itu mobil pribadi semua. Platnya hitam. Kebanyakan adalah mobil-mobil keluarga seperti kijang kapsul, xenia, avanza, innova, sampai APV. Biasanya hanya diisi oleh 7 orang.  Jadi serasa naik mobil pribadi kalau di dalamnya. Nyaman memang, tapi mahal. Berbeda dengan di Jawa. Mobil travelnya sejenis bis-bis tanggung. Platnya kuning dan sudah ada perusahaan legalnya. Contohnya Cipaganti yang ke Bandung dan X-trans yang sering saya pakai ke bandara.
Sudah lebih dari setengah jam saya duduk di pertigaan ini. Tetapi bis ke Rajabasa belum muncul-muncul juga. Hari sudah semakin panas. Saya tadi sempat menunggu dengan seorang Ibu dan anak gadisnya. Tapi mereka menyerah dan naik travel. Saya tetap di pertigaan ini menunggu sebuah bis untuk muncul. Hampir satu jam dan sebuah bis besar muncul. Ada tulisan Rajabasa di kaca depannya. Saya angkat ransel, melambai-lambaikan tangan dan langsung naik ketika bisnya berhenti. Kondisi bisnya? Sebelas-dua belas dengan metro mini. Tapi saya sangat senang. Berarti inilah transportasi paling murah.

            Terminal Rajabasa Lampung (13.20)
            Rumah Dharma (13.50)
Dharma akan menjemput saya di terminal Rajabasa. Dia sangat antusias sepertinya waktu saya bilang akan ke Lampung. Tidak tahu dia antusias karena saya akan datang atau karena saya datang membawa sebuah barang yang sangat dia idam-idamkan. Barang apa itu? Rahasia.
Saya akhirnya bertemu dengan Dharma dan langsung meluncur ke rumahnya. Ibunya sangat ramah, baru sampai saya langsung disuruh makan. Sepertinya saya memang terlihat sedang kelaparan. Selesai makan, shalat, istirahat sebentar, saya langsung diajak untuk jalan. Sebelum ke Lampung saya memang sudah meminta untuk diajakin jalan-jalan kalau sudah sampai disana. Saya tidak menyangka seburu-buru ini. Saya baru saja merebahkan diri di kasur.

            Pantai Kelapa Rapet
Tujuan kami adalah pantai Kelapa Rapet yang kalau disingkat menjadi Klara, seperti nama wanita. Kami ditemani oleh dua orang teman si Dharma, Primbon dan Mr.X –sial, saya lupa nama lagi, kami semua sekampus di Bintaro. Perjalanan ke sana sangat jauh. Kami sudah lama keluar dari Bandar Lampung dan ini sudah kabupaten yang berbeda. Akhirnya kami mulai menyusuri jalanan aspal di pinggir pantai. Keren. Rasanya seperti melintas di jalur kereta lintas utara Jawa. Mirip-mirip seperti itulah.
Sampai di pantai Klara. Banyak pondok-pondok di pinggir pantainya. Kondisi pantainya sendiri biasa saja. Seperti kebanyakan pantai yang sudah sering dijamah manusia. Kami duduk di satu pondok, mengobrol, sambil berharap dapat melihat sunset. Tapi sepertinya sunset tidak akan terlihat dari pantai ini. Kecuali matahari terbenam jauh ke selatan.

            Stasiun Tanjung Karang
            Kereta Sriwijaya II (21.00)
Malam harinya saya sudah merencanakan untuk melanjutkan perjalanan ke Palembang menggunakan kereta. Jadwal keretanya pukul 21.00. Kembali dari pantai klara saya langsung mengantri tiket di Stasiun Tanjung Karang. Ternyata antriannya sangat panjang. Untuk menghemat waktu, saya mengantri tiket dan Dharma mengambil ransel saya di rumahnya. Saya merasa sedikit tidak enak karena tidak dapat berpamitan langsung dengan orang tuanya di rumah.
Tiket kereta sudah habis, tetapi saya berhasil mendapatkan tiket di gerbong tambahan. Awalnya saya bingung apa itu gerbong tambahan. Nanti setelah naik saya baru mengerti. Gerbong tambahan adalah gerbong ekonomi yang menempel di belakang gerbong bisnis dengan harga yang sama dengan bisnis. Kereta yang saya naiki adalah Sriwijaya II dan itu kereta bisnis dengan harga tiket Rp70.000. Kalau saja saya tahu tiket kereta ekonomi yang berangkat besok paginya hanya Rp10.000, tentu saya akan rela menggembel satu malam saja. Tapi semua sudah terlambat.
Setelah mendapatkan tiket, saya mendatangi Dharma yang sedang menunggu di parkiran. Ransel saya sudah dibawa, tetapi sepatu saya ketinggalan. Sepertinya saya memang harus kembali ke rumahnya. Kasihan ketua kelas saya ini harus mondar-mandir. Sampai di rumahnya, saya disuruh makan lagi. Saya tidak menolak, tetapi hanya sedikit segan. Jadinya ya makan sajalah. Sudah lama juga rasanya saya tidak makan yang berkualitas. Setelah berpamitan, kami harus kembali lagi ke stasiun Tanjung Karang untuk mengejar kereta jam Sembilan.
Di stasiun saya bertemu lagi dengan Primbon. Sebelum masuk ke dalam kereta dia malahan berusaha memberi saya sedikit pegangan uang. Dia memaksa, saya menolak. Semua orang di stasiun memperhatikan kami. Tapi maaf saja teman. Kalau wujudnya oleh-oleh, mungkin saya masih bisa terima. Uang harusnya menjadi benda yang paling kita hindari di dunia.  Saya juga sempat melihat Dharma memasukkan sesuatu ke dalam kantong belakang saya. Saya sempat berpikir kalau-kalau dia menyelipkan narkoba. Tapi sepertinya itu uang dari barang yang saya bawakan. Sambutan yang meriah dari Lampung. Saya naik ke kereta yang siap melaju ke Palembang pukul 21.00.
Total pengeluaran hari 3:
Rp15.000 (kapal ke Canti) + Rp5.000 (angkot ke Kalianda) + Rp3.000 (ojek ke Fajar) + Rp5.000 (Mizone) + Rp17.000 (Bis Bukit Barisan) + Rp3.000 (tahu dan arem-arem) + Rp10.000 (pondok pantai Klara) + Rp70.000 (Tiket kereta Sriwijaya II)
=Rp128.000

Saturday, December 24, 2011

Before Home: Sebesi Island

07 Nopember 2011 
Pasar Minggu (20.00)
Kp. Rambutan
Bis Primajasa (21.30)
Sesuai rencana, saya berangkat dari pasar minggu tanggal 7 nopember jam 8 malam langsung menuju terminal kampung rambutan. Lalu menuju Merak menggunakan bis Primajasa.
Total pengeluaran hari 1:
Rp4.000 (angkot) + Rp17.000 (primajasa) + Rp2.000 (permen jahe)
= Rp23.000

08 Nopember 2011
Merak (00.30)
Masjid Rihlatul Qudsiyah

Alasan kesekian kenapa saya berangkat malam adalah sunrise. Entah kenapa saya jadi mupeng melihat matahari terbit dari tengah lautan. Sedikit konyol tapi biarlah. Ujung-ujungnya saya harus mencari penginapan sementara sampai menunggu ferry jam 4 nanti. Dan yang saya temukan adalah mesjid pas sebelum gerbang masuk pembelian tiket ferry. Nama mesjidnya adalah Mesjid Rihlatul Qudsiyah dan tempatnya sudah seperti tempat penampungan korban bencana, manusia tepar dimana-mana sesuai posisi yang dirasanya enak. Sayapun mencari-cari posisi yang wenak juga. Inilah salah satu berkah tinggal di Indonesia, banyak mesjidnya, kecuali Bali.
KM Windu Karsa Pratama (03.45)
No Sunrise, Cloudy Sky (05.30)
Bakauheni (06.15)
Flat Rate Ojek
Keluar dari pelabuhan seperti biasa banyak yang menawarkan angkutan, ada bis, ojek, travel dan angkot. Yang paling ngotot menawari saya adalah tukang ojek. Saya sampai kesal juga, akhirnya saya tanya harga. Tukang ojek di pelabuhan ini sudah terorganisir dengan baik sepertinya. Saya dibawa ke pangkalannya dan diperlihatkan standar tarif dari bakauheni ke berbagai tempat dan itu tidak bisa ditawar. Ke Kalianda kalau tidak salah Rp50.000 saya tawar Rp20.000. Saya tidak ada niat naik ojek, saya menawar sambil berlalu pergi. Si tukang malah tertawa dan mengejek saya “mau ngeliat harga doank bang”. Sayapun semakin kesal dan berkata dengan lantang “YA”. Masih pagi emosi sudah meninggi.
Angkot Kuning (06.30)
Kalianda (07.20)

Bubur Ayam #enak
Angkot Biru (07.40)
Dermaga Canti (08.10)
Saya terlalu pagi sampai di canti. Jadwal kapal yang menyeberang ke sebesi adalah pukul 13.00. Ini gara-gara para tukang ojek beringas di terminal kalianda. Saya jadi tidak bisa berpikir dengan jernih. Perkiraan awal sebenarnya saya ingin berputar-putar di kalianda dulu sampai kira-kira agak siang. Tapi rencana berantakan sudah dan hitungannya masih 5 jam lagi sampai pukul 13.00. Mulai kebingungan apa yang harus saya lakukan selama 5 jam kedepan.
Pantai Canti (10.50)

Masjid Dermaga
Makan Siang Lalapan
Angkat Jangkar (13.20)
Pulau Sebesi (15.10)

Homestay
Hanya ada 1 penginapan di pulau sebesi dan itu milik pemerintah. Model penginapannya adalah kamar-kamar menghadap langsung ke laut karena memang letak penginapannya di pinggir laut. Rate satu malamnya Rp200.000 dan dapat diisi sampai 10 orang. Kalau berangkat dengan rombongan hitungannya itu murah, tapi saya seorang diri. Oleh bang Hayun, dia kuncen penginapan itu dan yang mengurus wisatawan di sebesi, saya dibawa ke rumah mertuanya. Disediakan 1 kamar dengan rate Rp50.000 per malam.

Gubuk Seng (17.25)
Sewaktu saya duduk-duduk di dermaga, ada lelaki yang mendekati saya. Saya tidak kenal, tetapi setelah dijelaskan kalau dia tangan kanan bang Hayun dan tadi yang meminjamkan motor ke bang Hayun dan saya sewaktu mencari-cari homestay di rumah warga barulah saya ingat, tapi saya lupa namanya siapa sekarang. Penyakit lama. Dia orangnya terlalu banyak omong tapi kesannya tidak sombong. Jadi asyik ngobrol-ngobrolnya. Dia cerita apa saja sampai-sampai saya lupa tapi kebanyakan tentang sebesi. Dan ujung-ujungnya dia cerita tentang Gubuk Seng. Gubuk Seng itu desa di sebesi yang biasanya kalau orang-orang ingin melihat krakatau pergi kesana karena posisinya langsung menghadap krakatau. Si abang yang saya lupa namanya itu ternyata sangat berbakat dalam hal promosi. Sayapun tertarik dan rela menyewa ojek si abang sebesar Rp30.000. Berangkatlah kami ke Gubung Seng yang cukup jauh juga ternyata karena harus memutari setengah pulau dan jalannya hanya jalan tanah standar dilalui oleh satu orang. Kalau ada dua orang berpapasan, sudah pasti salah satunya harus keluar dari lajur.
Sunset and Krakatau

Listrik Menyala Pukul 18.00
Makan Malam #gratis

Kembali dari Gubuk Seng, saya dibawa si abang yang saya lupa namanya ke penginapan bang Hayun. Katanya cuma mau ada perlu sebentar. Sampai di penginapan bang Hayun ternyata ada tamu lain juga, saya pikir saya sendiri wisatawan disini, dan mereka sedang makan malam. Lapar jadinya saya. Bang Hayun tiba-tiba menawari saya makan, sayapun tanpa pikir panjang tidak menolak. Sambil makan sambil mengobrol sayapun tahu ternyata yang saya pikir wisatawan tadi bukanlah wisatawan yang saya pikirkan. Tapi mereka adalah teman lamanya bang Hayun. Dan ternyata sayalah satu-satunya wisatawan. Setelah cerita lama-lama misteri terkuak kenapa tidak ada wisatawan lain. Di TV sedang heboh-hebohnya berita tentang asap gunung Krakatau yang beracun. Itulah penyebab kenapa orang-orang berpikir beberapa kali kalau ingin berkunjung. Tetapi menurut pengakuan penduduk lokal tidak ada apa-apa disana. Televisi hanya membesar-besarkan masalah. Efeknya sudah beberapa bulan terakhir tidak ada wisatawan dan sepertinya saya menjadi satu-satunya wisatawan yang bodoh tetapi beruntung karena tidak mengikuti perkembangan televisi.
Good Night (21.00)
Saya tidur sekitar pukul 9 malam dan setelah itu saya tidak sadar apa-apa lagi. Saya sempat terbangun, nyamuk-nyamuk mulai menyerang, tidak tahu jam berapa karena semuanya serba gelap. Membuka atau menutup mata sama saja gelapnya. Kalau semua sudah gelap, tidak ada lampu menyala berarti sudah lewat pukul 12 malam.
Total pengeluaran hari 2:
Rp11.500 (ferry) + Rp17.000 (angkot kuning) + Rp5.000 (bubur ayam) + Rp10.000 (angkot biru) + Rp8.000 (makan siang) + Rp15.000 (kapal ke sebesi) + Rp30.000 (gubuk seng)
= Rp96.500

Wednesday, November 30, 2011

Home: bigger plan than aeroplane



Sudah 3 kali lebaran haji saya selalu di kampung orang. Dan rasanya benar-benar tidak enak. Tidak ada daging yang bisa disantap. Malam takbirannya juga anyep. Tidak seperti di kampung yang takbirannya selalu meriah. Takbiran terakhir di parapat, warga disuruh keliling kota sambil megang obor. Seru! Kota besar memang kalah jauh kalau soal perayaan takbiran. 
Sayapun berniat untuk berlebaran haji di kampung halaman. Rindu juga dengan masakan nyonya besar yang tidak ada tandingan enaknya. Teman-teman saya juga sudah pulang ke daerahnya masing-masing. Dan saya sudah mulai menetap di pasar minggu yang sangat saya hindari selama ini. Benar-benar tidak ada pekerjaan itu benar-benar membosankan. Mulailah saya browsing harga tiket pesawat. 
Seperti biasa, perlu mengorek tabungan dalam-dalam kalau ingin naik pesawat. Sekitar 600an ribu. Saya yang semua sumber pendapatannya sedang anjlok tentu merasa sangat sayang mengeluarkan uang segitu banyak hanya untuk perjalanan selama 2 jam. Sampai di Medan juga saya bingung mau ngapain lama-lama karena semua teman lagi sibuk-sibuknya kuliah. Tercetuslah ide untuk sekalian berkeliling sumatera. Sekalian membuang waktu menganggur beberapa hari. Tetapi karena waktunya sudah mepet dengan lebaran haji, dengan berat hati saya putuskan lebaran haji di kampung orang lagi.

Bagi saya, yang paling menentukan hematnya suatu perjalanan adalah rencana. Rencana yang matang untuk memaksimalkan fungsi waktu dan dana yang ada. yak, saya butuh sebuah rencana. Target utama saya sebenarnya adalah bukit tinggi. Dengar-dengar kotanya tenang, dingin, ramai, dan makanan enak. Tapi kalau dari jakarta langsung ke bukit tinggi perlu waktu sekitar 30an jam. Berlama-lama di dalam bis adalah hal pertama yang saya hindari.
Palembang masuk ke dalam list. Kebetulan pembukaan sea games ada disana dan saya sangat ingin melihat jembatan Ampera yang tersohor itu beserta sungai Musi yang kesohorannya sama. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan pembukaan sea games karena dengar-dengar tiket masuknya tidak terjangkau kantong orang-orang seperti saya. Pembukaan sea games cuma alasan. Waktu saya bilang ke teman saya di MAN dulu, azlia dan ricky, kalau saya mau kesana, mereka antusias sekali sepertinya. Efek tidak pernah dikunjungin teman lama begini lah.
Menurut kitab suci para traveler, Lonely Planet, dari lampung ke palembang ada kereta yang berangkat  pagi dan malam. Pagi yang berangkat adalah kereta ekonomi, sedangkat pada malam hari jatahnya kereta bisnis. Harga tiket kelas ekonomi adalah Rp45.000 dan kereta bisnis Rp65.000. Dengan begini lampung masuk ke dalam list.
Saya berencana berangkat dari Jakarta tanggal 7 November, H+1 lebaran. Saya ingin cepat-cepat kabur dari pasar minggu. Di rumah kakak saya ini benar-benar terasa penganggurannya. Kalau di kosan masih enak. Selalu ada yang bisa dikerjakan entah itu bersih-bersih, menyuci, atau sebaliknya, berantakin kamar. Kalau berangkat tanggal 7 malam, kemungkinan sampai Lampung tanggal 8 pagi. Dilanjutkan kereta api malam, berarti sampai Palembang tanggal 9 pagi. Hal kedua yang saya hindari adalah sampai di tujuan malam hari karena kemampuan eksplorasi jadi terasa turun satu tingkat.
Pertimbangan satu lagi. Kalau kita menumpang di tempat teman yang notabenenya dia sudah lama menetap di tempat itu, biasa-biasanya orangnya sudah malas jalan kemana-mana. Kalau ditinggal jalan sendiri tidak enak hati rasanya. Target saya adalah pembukaan Sea Games tanggal 11 Nopember, ini hanya alasan, tapi teman saya yang di palembang memaksa. Kalau saya sampai di Palembang tanggal 9 pagi. Kemungkinan besar tanggal 9 dan 10 bakalan jadi idle days.
Saya mulai berpikir keras bagaimana caranya berangkat dari Jakarta tanggal 7, tetapi sampai di Palembang tanggal 10. Jawabannya ada di Lampung dan yang saya temukan adalah pulau Sebesi. Orang-orang yang ingin mendaki gunung Krakatau mayoritas singgah di pulau ini. Rutenya dari pelabuhan Bakauheni ke Kalianda terlebih dahulu lalu ke pelabuhan Canti menggunakan angkot. Kemudian menyeberang ke sebesi menggunakan kapal rakyat. Sebesi in the list.
Kapal ke pulau sebesi hanya ada sekali sehari, yaitu pukul 13.00. Dan kapal dari sebesi ke canti cuma ada sekali juga, pukul 07.00. Kalau dari lampung lanjut ke palembang menggunakan kereta, berarti kereta pagi sudah pasti tidak terkejar. Jadi rencanya saya berangkat dengan kereta malam. Dengan waktu menyeberang dengan kapal hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam, saya mulai terpikir apa yang harus saya lakukan di Lampung dari sekitar pukul 08.30 sampai 21.00. Saya sudah buat janji dengan Dharma. Sekalian mengantarkan buku pesanannya. Setelah itu tidak tahu mau kemana. Cari-cari tempat dan saya temukan adalah pantai pasir putih. Pantai pasir putih sebagai cadangan saja karena saya sudah bilang ke si Ketua buat ngajakin jalan-jalan kalau sudah sampai disana.
Capek juga kalau dijabarin satu persatu rencananya. Intinya, saya berencanya berangkat dari Lampung menuju Palembang dengan kereta malam tanggal 9 Nopember. Sampai di Palembang tanggal 10 pagi. Karena target di Palembang hanya jembatan Ampera, sungai Musi, dan kawasan Jakabaring, semua ini berdekatan, sepertinya waktu 2 hari cukuplah. Perkiraan sampai di Bukit Tinggi kalau tidak tanggal 11 ya tanggal 12 lalu menginap satu malam. Jam gadang, ngarai sianok, goa jepang, benteng fort de kock, jembatan limpapeh, pasar atas, pasar bawah, dan danau maninjau adalah target perjalanan. Setelah itu besoknya langsung berangkat menuju parapat buat mengurus berkas-berkas yang belum pasti dipakai atau tidak.

Post ini sudah lama saya buat, sebelum-sebelum lebaran haji la. Bukan bermaksud mengikuti saran si Dharma apalagi Inten yang minta dibuatin field report-nya. Dan bukan bermaksud menyaingi dan ikut-ikutan field report-nya Sanda atau Izati tentang Bali. Tapi memang post ini sudah lama membeku menjadi draft. Dulu saya berpikir beberapa kali buat mengklik tombol "PUBLISH POST" karena takut rencana tinggal rencana. Tapi sekarang rencana bertransformasi menjadi fakta, walaupun semua fakta tidak sesuai rencana.

Thursday, October 27, 2011

Nice but sad farewell

Post ini saya tulis ketika saya masih di stasiun lempuyangan, tidak tahulah kapan dipublisnya di blog. Sudah bingung tidak ada kerjaan lagi selain menunggu kereta kahuripan tujuan bandung yang jadwal berangkatnya pukul 20.20.
Saya sudah ready di lempuyangan mulai pukul 16.00 bareng Ryan aka jojom, izati aka ijonk dan iwan. Mereka semua berangkat sekitar pukul setengah 5. Jadilah saya last man standing yang memandang teman saya pergi satu persatu.
Pertama adalah ijonk yang balik menggunakan prameks menuju klaten. Sempat ada rasa tidak rela juga kalau berpisah dengan teman seperjalanan yang hampir seminggu bersama.Setelah prameks tujuan klaten berangkat, prameks tujuan kutoarjo langsung masuk stasiun. Dan sekarang giliran iwan yang cabut. Tinggallah saya dan jojom yang belum hilang juga aura kemahoannya.
Jojom naik kereta progo tujuan pasar senen. Keretanya sendiri sudah ngetem di stasiun ntah dari jam berapa. Tapi dia belum naik-naik ke kereta karena harus menunggu teman sekorban pencaloan. Dia bingung karena mas-mas yang sekorban pencaloan dengan dia awalnya mengatakan kalau tidak bisa balik ke Jakarta, tapi kemudian semua jadi ambigu.
Sudah pukul setengah lima lebih. Sebentar lagi progo akan berangkat dan si mas-mas yang ditunggu tidak muncul-muncul juga. Setelah ditimbang-timbang, kalau si mas-mas tidak jadi ikut maka saya ngikut kereta progo sampai kebumen. Lumayanlah itung-itung pengganti rencana ke kebumen yang tidak jadi bareng si sanda sebelum ke bali dulu.
Lima menit lagi dan si mas-mas tidak muncul-muncul. Naiklah kami ke gerbong nomer 3. Saya tidak mau meletakkan tas saya sampai benar-benar dipastikan kalau si mas-mas benar-benar tidak bisa. Dan yang terjadi kemudian adalah si jojom mendapat sms dari si mas-mas yang bilang kalau dia sudah menunggu di gerbang masuk peron.
Mulai berpacu dengan waktu, si Jojom berlari-lari ke gerbang peron dan saya jalan santai di belakang. Tidak tahulah transaksi apa yang sempat terjadi di gerbang peron. Tapi beberapa detik kemudian yang saya lihat adalah kereta progo sudah mulai bergerak. Sedangkan si Jojom dan mas-masnya masih berada di gerbang peron. Akhirnya terjadilah pemandangan joging-joging akhir petang mengejar kereta. Saya ngakak sendiri melihat mereka lari terbirit-birit mengejar gerbong terakhir yang kalau tidak salah bernomor 9. Syukur saja mereka berhasil naik lewat pintu terakhir, kalau tidak tidak tahulah apa yang terjadi. Yang pasti saya sekarang tidak jadi ke kebumen.
Karena tidak jadi ke kebumen saya bingung mau ngapain. Terjadilah wisata kuliner singkat sekitar stasiun. Kemudian saya mencari posisi yang enak buat tidur sambil menunggu pukul 20.20.
Nice but sad farewell

Wednesday, August 17, 2011

Pulau Jawa dan Ujian Kompre Tahap Kedua



Kita selalu berusaha memotivasi diri kita dengan sesuatu hal. Tanpa motivasi kita akan terus-terusan diam, malas bergerak atau tidur-tiduran di kamar. Dengan motivasi kita akan lebih semangat, lebih bergairah, dan lebih giat. Intinya motivasi adalah dorongan yang mampu memaksa kita untuk mau melakukan sesuatu, walaupun sebenarnya tidak mau.
Itu sedikit teori motivasi dan ada banyak hal yang mampu memotivasi orang-orang. Mulai dari uang, kesenangan, wanita, pahala, sampai ancamanpun bisa memotivasi orang-ancaman DO. Tidak ada batasan hal-hal apa saja yang dapat dijadikan orang-orang sebagai motivasi. Dan tidak semuanya hal yang baik.
Beberapa bulan yang lalu saya menempel gambar vinyl player di dinding dibelakang meja buat laptop. Berharap dengan memandangi gambar vinyl player, saya jadi semangat buat mengerjakan TA. Dan hasilnya adalah 50:50, ambigu kalau menjelaskan pengaruhnya.
Kali ini, dalam rangka menghadapi ujian kompre, yang saya tempel adalah gambar peta pulau jawa tanpa batas-batas antar provinsi, tanpa garis sungai, tanpa jalur kereta. Yang ada hanya peta yang benar-benar buta dengan "P.JAWA" di tengahnya. Dan ditempel mirip seperti waktu saya menempel gambar vinyl player dulu.
Kalau ada yang berpikir gambar pulau jawa memotivasi saya untuk terus membuka modul soal-soal yang kemudian isinya saya bahas satu-persatu. Anda salah besar, kesalahan yang sangat besar malahan. 
Gambar pulau jawa saya tempel karena saya ingin berkeliling pulau jawa. Minimal nanti saya sudah puas dengan pulau jawa sebelum ditempatkan di daerah yang kalau kita membuka peta Indonesia masih bingung mencarinya dimana. Dan masa-masa yang tepat adalah setelah ujian kompre tahap kedua.
Kalau saya tidak lulus kompre tahap pertama, Alhamdulillah. Berarti saya tidak perlu mencari-cari dan mengarang-ngarang alasan lagi untuk segera balik ke kosan. Kalau lulus, lebih Alhamdulillah lagi karena saya tidak harus menghadapi soal-soal yang semakin dicerna semakin enek rasanya. Walaupun saya harus memikirkan siasat apa yang pantas dikeluarin. Karena kakak-kakak saya tidak gampang dikibulin dengan alasan-alasan kelas teri. Apalagi kalau mereka tahu rencana seperti ini.
Kakak-kakak saya itu sama seperti kebanyakan orang Indonesia pada umumnya. Rasa takut lebih dominan. Tersirat dari banyaknya kata "kalau" yang digunakan. Kalau begini bagaimana, kalau begitu bagaimana. Dan selalu diikuti dengan kalimat bermakna buruk. Jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah diikuti kalimat bermakna positif. "kalau nanti sehat bagaimana" . Apa kita pernah mendengar kata seperti itu? tidak pernah!
Bisa dikatakan kompre tahap kedua adalah jembatan yang sanggup menghubungkan pulau sumatera dan pulau jawa. Dan kalau jembatan ini tidak ada berarti saya harus mencari-cari akar gantung Ficus benjamina supaya dapat berayun ke seberang seperti manusia tak berbaju di jungle book. 
Intinya, gambar pulau jawa adalah anti-motivasi saya untuk membuka modul-modul materi dan soal bahas. Dan lebih memilih untuk mencerna Lonely Planet. Tapi ini belum pasti. Siapa tahu saya jadi semakin semangat untuk belajar buat kompre karena sudah terbiasa menolak nilai-nilai motivasi. Kalau ini terjadi berarti azas pembuktian terbalik itu berlaku juga di motivasi. Tapi lihat sajalah nanti. Saya jadi giat belajar atau tidak.

Selamat Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia! 
Walaupun kemerdekaan Indonesia baru berada di atas kertas seperti yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma.

Wednesday, April 20, 2011

Suburban kids of sweden

Saya memang anak desa. Tapi desa saya indah seperti swedia.







Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.