Monday, February 4, 2013

Tulisan Ngawur


Beberapa teman saya menyarankan untuk membuka akun twitter, beberapa yang lain menyuruh membeli HP android, dan kakak saya ingin mewariskan Blackberry-nya. Tanpa perlu pikir panjang saya menolak semua, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena hal-hal itu sudah saya pertimbangkan dari lama. Saya belum merasa perlu memikirkannya untuk kedua kali.

Jujur, saya menghindari segala bentuk kemudahan komunikasi tanpa bertatap muka, walaupun itu susah. Facebook, twitter, whatsapp, bbm, dan teman-temannya yang lain, bahkan sms dan telepon.  Saya menganggap kemudahan-kemudahan itu sebagai jebakan. Lewat sms atau telpon saja saya sudah sering tertipu dan menipu. Misalnya ketika menanyakan kabar kepada seseorang, berapa persentase jawaban tidak sehat, kurang sehat, atau sakit yang muncul? Jawaban itu hampir selalu sehat, sehat, sehat. Alhamdulillah. Walaupun terkadang kenyataannya mules, sakit kepala, atau kelaparan. Saya adalah bukti yang hampir selalu menjawab sehat ketika ditanya masalah kabar. 

Saya juga melihat orang-orang lebih berani berkomunikasi dan beragumentasi lewat dunia maya. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan dirinya seperti tidak ada rasa grogi dan malu. Kalaupun ada, rasa itu bisa ditahan di dalam kamar. Seperti yang saya lakukan melalui blog ini. Berceloteh mengenai hal-hal tidak penting. Hal yang bisa dibilang parah adalah ketika seseorang di kehidupan nyata yang cenderung introvert bisa menjadi sangat berisik di dunia maya. Sedangkan kebalikannya dianggap biasa saja. Lebih parah lagi kalau orang tersebut adalah anak kamar yang sangat jarang keluar. Di Jepang yang seperti ini disebut Hikikomori. Mereka biasanya memanfaatkan berbagai jejaring sosial untuk berkomunikasi. Dunia nyata dan maya sudah terbalik fungsinya.

Komunikasi lewat telepon masih lebih baik dibandingkan sms, saya hanya ingin (bisa) membandingkan dua ini saja. Melalui telepon feedback yang diharapkan dapat langsung diperoleh. Seseorang yang belum ahli dalam berimprovisasi akan memberikan feedback berupa respon alam bawah sadarnya yang lebih jujur. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk mengarang cerita. Berbeda dengan SMS. Feedback disampaikan sepenuhnya berasal dari kesadaran. Waktu bisa diulur-ulur untuk menciptakan improvisasi yang diharapkan indah. Respon itu menjadi tidak lagi jujur. Sesorang bisa saja terlihat antusias tetapi kenyataannya sinis.

Saya merasa tertipu  dengan itu semua. Sehingga saya lebih suka berkomunikasi face to face. Bahasa tubuh lawan bicara menyampaikan respon yang lebih jujur dari kata-kata. Kau dapat memahami apakah yang disampaikan adalah kejujuran atau karangan. Perasaannya juga dapat jelas tergambarkan. Bosan, sedih, gembira, bahagia. Media-media yang menjadi substitusi dari mengobrol tidak sanggup menyajikan itu semua. Hanya beberapa kata, status, atau emoticons yang dapat sedikit menggambarkan. Itupun kalau jujur. Tetapi sesuatu yang dilakukan untuk mengharapkan reaksi tidak mencerminkan kejujuran.

Terkadang saya berpikir untuk membebaskan diri. Membuang HP ini ke tong sampah. Hidup ke masa lalu dimana kantor pos masih menjadi nomor satu. Tetapi ketika fungsinya masih jauh lebih unggul daripada kerumitan-kerumitan yang saya pikirkan, maka HP ini tetap saya bawa kemana-mana. Saya hanya meminimalisir penggunaannya saja. Sebatas hal-hal yang penting dan kalau saya mulai membahas hal-hal yang tidak penting berarti itu bukan saya, tetapi diri saya yang sedang bosan dan mulai gila.

1 comment:

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.