Beberapa
teman saya menyarankan untuk membuka akun twitter, beberapa yang lain menyuruh
membeli HP android, dan kakak saya ingin mewariskan Blackberry-nya. Tanpa perlu
pikir panjang saya menolak semua, baik secara langsung maupun tidak langsung,
karena hal-hal itu sudah saya pertimbangkan dari lama. Saya belum merasa perlu
memikirkannya untuk kedua kali.
Jujur, saya
menghindari segala bentuk kemudahan komunikasi tanpa bertatap muka, walaupun
itu susah. Facebook, twitter, whatsapp, bbm, dan teman-temannya yang
lain, bahkan sms dan telepon. Saya
menganggap kemudahan-kemudahan itu sebagai jebakan. Lewat sms atau telpon saja
saya sudah sering tertipu dan menipu. Misalnya ketika menanyakan kabar kepada
seseorang, berapa persentase jawaban tidak sehat, kurang sehat, atau sakit yang
muncul? Jawaban itu hampir selalu sehat, sehat, sehat. Alhamdulillah. Walaupun
terkadang kenyataannya mules, sakit kepala, atau kelaparan. Saya adalah bukti
yang hampir selalu menjawab sehat ketika ditanya masalah kabar.
Saya juga melihat
orang-orang lebih berani berkomunikasi dan beragumentasi lewat dunia maya.
Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan dirinya seperti tidak ada rasa
grogi dan malu. Kalaupun ada, rasa itu bisa ditahan di dalam kamar. Seperti
yang saya lakukan melalui blog ini. Berceloteh mengenai hal-hal tidak penting.
Hal yang bisa dibilang parah adalah ketika seseorang di kehidupan nyata yang
cenderung introvert bisa menjadi
sangat berisik di dunia maya. Sedangkan kebalikannya dianggap biasa saja. Lebih
parah lagi kalau orang tersebut adalah anak kamar yang sangat jarang keluar. Di
Jepang yang seperti ini disebut Hikikomori. Mereka biasanya memanfaatkan berbagai
jejaring sosial untuk berkomunikasi. Dunia nyata dan maya sudah terbalik
fungsinya.
Komunikasi
lewat telepon masih lebih baik dibandingkan sms, saya hanya ingin (bisa) membandingkan
dua ini saja. Melalui telepon feedback
yang diharapkan dapat langsung diperoleh. Seseorang yang belum ahli dalam
berimprovisasi akan memberikan feedback berupa
respon alam bawah sadarnya yang lebih jujur. Dia tidak memiliki banyak waktu
untuk mengarang cerita. Berbeda dengan SMS. Feedback disampaikan sepenuhnya
berasal dari kesadaran. Waktu bisa diulur-ulur untuk menciptakan improvisasi
yang diharapkan indah. Respon itu menjadi tidak lagi jujur. Sesorang bisa saja
terlihat antusias tetapi kenyataannya sinis.
Saya merasa
tertipu dengan itu semua. Sehingga saya lebih suka berkomunikasi face to face. Bahasa tubuh lawan bicara menyampaikan respon yang lebih jujur dari kata-kata. Kau dapat memahami apakah yang disampaikan adalah kejujuran atau karangan. Perasaannya juga dapat jelas tergambarkan. Bosan, sedih, gembira, bahagia. Media-media yang menjadi substitusi dari mengobrol tidak sanggup menyajikan itu semua. Hanya beberapa kata, status, atau emoticons yang dapat sedikit menggambarkan. Itupun kalau jujur. Tetapi sesuatu yang dilakukan untuk mengharapkan reaksi tidak mencerminkan kejujuran.
Terkadang saya berpikir untuk membebaskan diri. Membuang HP ini ke tong sampah. Hidup ke masa lalu dimana kantor pos masih menjadi nomor satu. Tetapi ketika fungsinya masih jauh lebih unggul daripada kerumitan-kerumitan yang saya pikirkan, maka HP ini tetap saya bawa kemana-mana. Saya hanya meminimalisir penggunaannya saja. Sebatas hal-hal yang penting dan kalau saya mulai membahas hal-hal yang tidak penting berarti itu bukan saya, tetapi diri saya yang sedang bosan dan mulai gila.
Terkadang saya berpikir untuk membebaskan diri. Membuang HP ini ke tong sampah. Hidup ke masa lalu dimana kantor pos masih menjadi nomor satu. Tetapi ketika fungsinya masih jauh lebih unggul daripada kerumitan-kerumitan yang saya pikirkan, maka HP ini tetap saya bawa kemana-mana. Saya hanya meminimalisir penggunaannya saja. Sebatas hal-hal yang penting dan kalau saya mulai membahas hal-hal yang tidak penting berarti itu bukan saya, tetapi diri saya yang sedang bosan dan mulai gila.
kau mulai gila?
ReplyDeletetandanya udah dari dulu sih.