Sunday, January 20, 2013

Wakil rakyat seharusnya merakyat


Demokrasi itu sangat indah teorinya. Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Negara bahkan didirikan dengan tujuan menyejahterakan rakyatnya, mendidik mereka menjadi pintar, dan melindungi hak-haknya. Semua kebijakan dibuat dengan pertimbangan kepentingan rakyat. Rakyat adalah raja.

Negara modern yang memiliki berjuta-juta penduduk sangatlah susah apabila ingin menerapkan demokrasi langsung. Apabila dipaksakan, yang terjadi adalah ketidakefisienan. Keputusan yang bulat akan sangat lama diperoleh dan ditetapkan. Jadi pilihannya hanyalah demokrasi perwakilan atau tidak langsung. Rakyat memilih wakil-wakilnya yang akan menduduki jabatan legislatif. Melalui wakil-wakilnya itu, pemikiran masyarakat disalurkan.

Demokrasi perwakilan itu bukanlah demokrasi ketika legislatif tidak pernah bersinggungan dengan rakyat yang diwakilinya. Legislatif itu eksklusif. Seakan-akan ada, seharusnya tidak ada, jurang yang sangat lebar yang memisahkan antara legislatif dengan rakyat. Suara rakyat tidak terdengar oleh mereka. Saya sampai bingung, sebenarnya para legislatif itu menyuarakan suara rakyat atau pemikirannya sendiri atau malahan pemikiran partainya.

Saya tidak ingin mengeneralisasi para wakil rakyat yang terhormat itu. Tapi ketika seseorang menduduki kursi legislatif, tidak ada dari mereka yang miskin. Duduk disana berarti kaya raya, punya rumah, mobil, kekuasaan, dan kesibukan yang tiada henti. Itulah alasan mengapa diperebutkan. Bukanlah dongeng bahwa kesenjangan antara yang kaya dan miskin bagaikan tembok berlin yang baru akan runtuh ketika si kaya membuka hati.

Rakyat miskin terlalu berkecil hati untuk mendekati mereka. Sedangkan para legislatif itu dengan rumahnya yang megah, mobilnya yang mewah, dan kesibukannya yang menjadikan waktu seperti sapi perah tidak pernah berhenti bekerja. Mereka membahas peraturan yang tidak pernah selesai. Mereka membawa keluarganya ke eropa untuk belajar dan belanja. Mereka menyusun anggaran untuk memperbaiki ruang rapat mereka sampai taraf mubazir. Mereka juga menjadi selebriti yang berdebat di televisi. Dengan kesibukan yang super padat seperti itu, kapan mereka mendengarkan rakyat? Kalau seperti ini, praktek demokrasi kita hanyalah topeng!

Saya sempat penasaran dengan prestasi legislatif di tahun lalu. Saya coba googling dengan kata kunci “prestasi DPR 2012”. Silahkan lihat sendiri hasilnya.

No comments:

Post a Comment

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.