Demokrasi itu sangat indah teorinya. Pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Negara bahkan didirikan dengan tujuan
menyejahterakan rakyatnya, mendidik mereka menjadi pintar, dan melindungi
hak-haknya. Semua kebijakan dibuat dengan pertimbangan kepentingan rakyat.
Rakyat adalah raja.
Negara modern yang memiliki berjuta-juta penduduk sangatlah
susah apabila ingin menerapkan demokrasi langsung. Apabila dipaksakan, yang
terjadi adalah ketidakefisienan. Keputusan yang bulat akan sangat lama
diperoleh dan ditetapkan. Jadi pilihannya hanyalah demokrasi perwakilan atau
tidak langsung. Rakyat memilih wakil-wakilnya yang akan menduduki jabatan legislatif.
Melalui wakil-wakilnya itu, pemikiran masyarakat disalurkan.
Demokrasi perwakilan itu bukanlah demokrasi ketika legislatif
tidak pernah bersinggungan dengan rakyat yang diwakilinya. Legislatif itu
eksklusif. Seakan-akan ada, seharusnya tidak ada, jurang yang sangat lebar yang
memisahkan antara legislatif dengan rakyat. Suara rakyat tidak terdengar oleh
mereka. Saya sampai bingung, sebenarnya para legislatif itu menyuarakan suara
rakyat atau pemikirannya sendiri atau malahan pemikiran partainya.
Saya tidak ingin mengeneralisasi para wakil rakyat
yang terhormat itu. Tapi ketika seseorang menduduki kursi legislatif, tidak ada
dari mereka yang miskin. Duduk disana berarti kaya raya, punya rumah, mobil,
kekuasaan, dan kesibukan yang tiada henti. Itulah alasan mengapa diperebutkan. Bukanlah
dongeng bahwa kesenjangan antara yang kaya dan miskin bagaikan tembok berlin
yang baru akan runtuh ketika si kaya membuka hati.
Rakyat miskin terlalu berkecil hati untuk mendekati
mereka. Sedangkan para legislatif itu dengan rumahnya yang megah, mobilnya yang
mewah, dan kesibukannya yang menjadikan waktu seperti sapi perah tidak pernah
berhenti bekerja. Mereka membahas peraturan yang tidak pernah selesai. Mereka
membawa keluarganya ke eropa untuk belajar dan belanja. Mereka menyusun
anggaran untuk memperbaiki ruang rapat mereka sampai taraf mubazir. Mereka juga
menjadi selebriti yang berdebat di televisi. Dengan kesibukan yang super padat
seperti itu, kapan mereka mendengarkan rakyat? Kalau seperti ini, praktek demokrasi kita hanyalah topeng!
Saya sempat penasaran dengan prestasi legislatif di
tahun lalu. Saya coba googling dengan
kata kunci “prestasi DPR 2012”. Silahkan lihat sendiri hasilnya.
No comments:
Post a Comment