Thursday, May 31, 2012

Inilah Kiri. Silahkan belok atau jalan terus!

...yang disebut kiri itu ialah orang atau sekelompok orang yang tidak betah pada keadaan yang mapan dan berlangsung. Itulah kiri. Bukan karena membaca buku Karl Marx, Das Kapital, membaca Manifesto Communist, lantas membaca Bismarck tentang nasionalisme atau apapun lainnya, tidak. Kiri itu ialah orang-orang atau sekelompok orang yang tidak betah pada keadaan yang sedang berlangsung dan mapan. Itulah kiri. (Samsir Mohamad)

http://rumahkiri.net/7-dialektika/24-samsir-mohamad-kiri-sejarah-dan-asas

Monday, May 21, 2012

Akhir Pekan Sangat Panjang

Sekarang sudah hari senin. Akhir pekan yang sangat panjang sudah berakhir tanpa terasa. Kalau saja rencana beberapa minggu lalu masih berjalan sesuai rencana, mungkin pikiran saya tidak akan sesumpek ini. Tapi terkadang pilihan yang tidak mengenakkan memang harus dipilih. Sia-sia saya mencuci sepatu New Balance 574 sampai kinclong.

Sangat mengecewakan kalau saya menceritakan apa saja yang saya lakukan selama libur akhir pekan yang sangat panjang ini. Setiap hari rasanya membosankan dan berkeliling di dalam kota Jakarta tidak akan menghilangkan rasa kebosanan. Walaupun selama libur kemacetannya tidak terasa parah, tetapi panasnya tetap saja membuat gerah. Kalau saja saya ber-KTP Jakarta dan salah seorang calon gubernur berkampanye dengan janji akan membuat Jakarta lebih sejuk, tentu pada tanggal 11 Juli nanti, gambarnya akan saya coblos besar-besar.

Dikarenakan rencana perjalanan saya tidak terealisasi minggu lalu, maka rekor perjalanan saya mulai bulan oktober tahun lalu berhenti di bulan mei. Hal ini tidak terprediksi sama sekali. Padahal selama 2 bulan terakhir saya sanggup memanfaatkan setiap libur hari jum'at semaksimal mungkin. Jadi bayangan saya kalau liburnya mulai dari hari kamis, perjalanan akan lebih jauh dan lebih lama. Tapi kenyataannya, saya tidak kemana-mana dengan perasaan kecewa.

Tuesday, May 15, 2012

Menggantung Harapan di Tali Jemuran

Bekerja tanpa mendapatkan gaji itu sangat tidak mengenakkan. Nasib ini lebih buruk dari para buruh yang berunjuk rasa pada tanggal 1 Mei. Sebenarnya saya mendapatkan gaji, tapi rasanya lebih tepat kalau dibilang upah. Upah yang hanya sekitar setengah dari UMR itu dirapel dalam beberapa bulan supaya terlihat banyak. Beberapa bulan inilah yang tidak pasti berapa lama. Sampai sekarang saya sudah menjalani bulan ketiga bekerja dan rekening BRI milik saya belum terisi-terisi juga.

Tentu menjadi pertanyaan kenapa saya masih mau bekerja dengan banyak ketidakjelasan yang jelas-jelas terlihat. Hal yang membuat saya bertahan dengan semua kesulitan ini, mungkin teman-teman saya juga, adalah sebuah janji. Janji dari pemerintah bahwa secepatnya akan dicetak sebuah SK CPNS dengan nama saya di dalamnya. Dan lagi-lagi kata "secepatnya" disini tidak cukup untuk menjelaskan waktu yang konkret.

Kekesalan tentu ada. Keinginan untuk memberontak juga ada dan lebih besar. Tetapi saya terjebak di sebuah sistem yang diciptakan dengan sengaja sehingga orang-orang yang berada di strata yang rendah tidak dapat melakukan perlawanan karena belum cukup memiliki kekuasaan dan kekuatan. Akhirnya apa yang akan saya lakukan adalah menerima. Percaya sajalah kalau pemerintah itu bijaksana.

Bulan februari saya pergi ke Tegal, sebuah kabupaten di Jawa Tengah dan berada di dekat-dekat kaki gunung Slamet. Saat itu saya ditawari mengajar SD di sebuah kampung antah berantah. Saya yang sedang menganggur dengan semangat langsung berangkat kesana. Walaupun sampai disana saya malahan dilarang untuk mengajar oleh ayah teman saya dengan alasan yang sebenarnya ingin saya tentang, tetapi saya menghormati dan tidak mau menentang orang tua.

Ayah teman saya itu mengatakan bahwa menjadi guru di daerah pelosok itu tidak enak. Kalau masih berstatus honorer, gajinya sangat kecil. Hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Kalau tidak dibarengi dengan iktikad baik, sangat jarang ada yang mau mengajar.

Saya sempat berpikir, barangkali karena standar hidup di daerah pelosok yang rendah, sehingga pendapatan yang kecil rasa-rasanya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi setelah saya merasakan keadaan saya sekarang ini, saya jadi tersadar apa sebenarnya yang membuat mereka tetap bertahan menjadi guru honorer selama bertahun-tahun dan akut. Mereka rela hidup pas-pasan atau memiliki pekerjaan lain untuk menutupi kekurangan demi sebuah jaminan bagi keluarganya. Harapan mereka adalah kebijaksanaan dari pemerintah bahwa suatu hari nanti, mereka akan diangkat derajatnya dan status honorer dihilangkan.

Mungkin kondisi seperti ini jugalah yang dirasakan oleh pegawai-pegawai honorer bergaji rendah lainnya. Setelah bertahun-tahun bergantung pada harapan dan lelah menunggu kemudian mereka akan berunjuk rasa menuntut diangkat menjadi pegawai negeri. Sekeras apapun mereka berteriak, pengambilan keputusan tetap saja berada di tangan penguasa. Penguasa juga mengerti kalau mencari pekerjaan di Indonesia itu sangat susah. Jadi kurang berguna berteriak kencang-kencang atau menghancurkan benda yang ada di sekitar. Keputusan ada di tangan mereka yang syukur-syukur tergerak hatinya.



< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.