Showing posts with label daylife. Show all posts
Showing posts with label daylife. Show all posts

Tuesday, November 27, 2012

Kesalahan itulah yang benar

Entah sejak kapan saya tertarik dengan hukum dan perpolitikan. Saya sudah lupa. Tetapi sejauh yang saya ingat, saya awalnya terpengaruhi (lagi-lagi) oleh buku-buku diskonan yang saya beli. Ketika buku-buku itu dijual dengan harga yang sangat murah karena tidak laku, maka saya siap sedia membelinya. Walaupun saya tidak tahu kapan buku itu selesai dibaca atau bahkan mulai dibaca. Saya seperti wanita yang tergila-gila dengan diskon sepatu atau baju. Syukur saja objeknya berbeda.

Dulu itu saya sempat berpikir kalau politik itu tabu. Orang-orang berpolitik karena ingin berkuasa, mensejahterakan diri sendiri berkedok pro rakyat, kepentingan umum menjadi nomor dua. Tetapi sekarang saya tidak ingin lagi menjadi apatis ria yang tidak peduli dengan keadaan Negara. Tidak peduli sama dengan membiarkan. Setidaknya sekarang saya berusaha memahami sedikit tentang politik dan hukum yang ada. Saya tidak ingin dibodoh-bodohi oleh para penghisap yang berkuasa.

Berusaha memahami tidaklah menjawab pertanyaan yang ada. Tetapi terus melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru dari pemahaman yang masih setengah. Selama ini saya masih bertanya-tanya, apakah hukum yang dibuat manusia itu sebuah kebenaran? Atau jangan-jangan orang yang bertindak melanggar hukum adalah yang benar. Ketika timbul pertentangan antara hukum dengan budaya, hati nurani, dan sisi manusiawi, mana yang harus dibenarkan? Apakah tetap berpihak pada hukum atau sebaliknya?

Perkara pencurian sandal dibawa ke pengadilan, seorang nenek yang dituduh mencuri buah coklat diadili, apakah hati nurani dan sisi manusiawi kita mengatakan itu benar? Saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa hukum itu benar-benar buta –bagi yang tidak punya kuasa- karena tidak disesuaikan dengan hati nurani, budaya dan sisi manusiawi. Hukum itu diciptakan oleh logika manusia yang berusaha adil. Seadil-adilnya manusia tetap tidak adil bagi yang lainnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang widyaiswara pengisi materi  Percepatan Pemberantasan TIPIKOR yang sangat menjaga integritasnya. Apakah hukum itu mutlak? Beliau menjawab, kalau di pengadilan hukum itu mutlak. Pertanyaan saya terjawab setengah. Setengahnya lagi saya coba timang-timang sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia bertindak lebih mengikuti hati nurani dan sisi manusiawi dirinya dibandingkan hukum yang ditulis. Walaupun terkadang, sadar atau tidak sadar, bertentangan dengan hukum dan dianggap salah di mata hukum. Tapi buat saya, tidak semua hal yang salah dari sisi hukum adalah salah. Ketika kesalahan itu adalah kebenaran menurut hati nurani, budaya, kemanusiaan, dan lainnya, maka hal itu tidak salah. Saya baru akan menganggap kesalahan itu adalah salah ketika dibawa ke pengadilan dimana hukum itu mutlak. Ketika masih berada di luar pengadilan, di pinggir jalan, di warung makan, atau di tempat selain pengadilan, maka kesalahan itu tidak salah. Beda tempat, statusnya berbeda.

Saya tidak sedang melakukan pembenaran terhadap tindakan saya yang merelakan uang Rp50.000 untuk terbebas dari tilangan polisi karena tidak punya SIM. Kalau saja ada yang berpikir seperti itu, silahkan saja. Saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya saja. Pemikiran ini sudah lama ada. Tetapi karena kebetulan otak saya mulai bergejolak lagi, jadi saya tulis saja sebagai pelampiasan. Lebih enak keluar kalau sedang panas-panasnya.

Saat ditilang, semua orang ditawari dua pilihan, memilih sidang atau diwakilkan. Kalau memilih sidang, silahkan bawa bukti tilang dan sidang sendiri di bulan desember. Kalau diwakilkan, bayar Rp50.000 dan setelah data-data saya dicatat dan disuruh tanda tangan, saya dapat bebas pergi. Polisi bergerombol, menilang seperti nelayan menjaring ikan, lalu memberi dua pilihan tadi seakan-akan semua itu sah. Saya tidak tahu semua itu sah atau tidak, ada atau tidak peraturan yang mengaturnya-serius, saya benar benar tidak tahu. Motor saja saya tidak punya, apalagi memahami peraturan-peraturan seperti itu. Tapi karena polisi-polisi itu bertindak seperti semuanya sudah tersistem, maka saya berpikir kalau itu sah-sah saja.

Pertimbangan kedua saya adalah motor yang saya gunakan adalah pinjaman dari teman saya Rifqy. Kalau saya sok-sokan berintegritas dan tidak mau mengeluarkan Rp50.000, maka saya tidak hanya menyusahkan diri sendiri, tetapi juga keluarga teman saya itu. Saya tentu tidak mau jauh-jauh dari Bogor ke Jogja, di tengah-tengah jadwal diklat yang padat, hanya untuk sidang karena ditilang polisi di bulan desember nanti. Jadi apa saya mesti menyusahkan orang lain demi sebuah integritas. Sisi manusiawi dan hati nurani saya bersorak-sorak mengatakan itu tidak benar. Lebih baik membayar uang Rp50.000 dan masalah selesai.

Dilema itu muncul, ketika itu saya benar-benar bingung. Saya bertanya tentang sistem transfer bank kepada teman-teman saya yang lain dan tidak ada yang mengerti. Saya terus berpikir bagaimana caranya supaya apa yang saya lakukan tidak melanggar hukum. Tapi kemudian saya berpikir lagi, memangnya saya tahu hukum yang mengaturnya bagaimana. Jangan-jangan ada aturan yang mengatur tentang pungutan Rp50.000 itu dan diwakilkan. Sayapun menggunakan azas praduka tidak tahu dan setelah menimbang-nimbang sisi baik dan buruknya, keuntungan dan kerugian, hukum dan manusiawi, maka saya memutuskan untuk diwakilkan dan membayar.

Saya tidak mau dibilang salah. Apa yang saya lakukan itu tidak salah menurut hati nurani dan sisi manusiawi. Kalau ada sisi manusiawi seseorang yang menganggap menyusahkan orang lain adalah sebuah hal yang benar, maka dia bukan manusia. Dari sisi hukum, saya juga tidak tahu salah atau benar. Kalaupun salah, saya hanya akan mengaku salah kalau sudah di pengadilan.

Wednesday, October 24, 2012

Minggu'


Aku langsung melihat jam di handphone ketika terjaga pagi ini, 04.20, waktu yang sama dengan kemarin. Konyol! Aku lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi, teringat aku belum shalat isya. Kosan ini sepi sekali, seperti hanya aku penghuninya dan tikus yang terkadang numpang lewat. Oh ya kucing juga ada. Aku teringat semalam, entah pukul berapa, sepasang kucing siap bertarung tepat di bawah jendela kamarku. Suaranya sangat berisik. Aku dengan banyak rasa malas berjalan ke luar kamar dan mengambil sapu bersiap-siap menjadi pelerai. Aku kenal kedua kucing itu. Warnanya sama-sama perpaduan hitam dan putih. Kucing yang ada lonceng di lehernya bernama Ketty. Aku tahu namanya dari Ema, anak ibu kos. Bagian atas badannya berwarna hitam. Sedangkan, bagian dada sampai moncongnya berwarna putih. Tepat di bawah hidung ada segaris warna hitam yang terkesan seperti kumis. Dia jadi terlihat macho. Aku juga sempat mendengar cerita yang tidak tahu benar atau tidaknya mengenai kucing ini. Katanya ketika Ketty masih kecil, dia punya seorang ibu susu. Seorang wanita yang sering menggendong Ketty sambil memberikan langsung susu dari payudaranya. Mereka bilang wanita itu sinting. Rumahnya selalu aku lewati setiap hari, 3 rumah dari tempat aku sekarang tinggal. Tapi sekarang wanita itu sudah hilang, tidak ada yang tahu kemana. Kucing yang satu lagi tidak kalah macho dari Ketty. Warnanya hitam dan putih juga, tetapi campur aduk dan tidak berpola. Satu hal yang membuat kucing ini terlihat macho adalah lukanya yang menyebar di sembarang tempat di badannya. Kulit-kulit yang tak berbulu lagi, keras, dan kering. Dan aku masih ingat tatapan matanya yang tajam seolah ingin berkata “aku ini kucing liar, jangan kau macam-macam”. Akhirnya dengan sapu aku berhasil melerai mereka berdua. Ketty berlari menuruni tangga dan kucing satu lagi naik ke atas genteng. Walaupun mereka masih terus bertatapan, tapi sepertinya mereka tidak berkelahi lagi. Setidaknya tidak di bawah jendela kamarku. Aku melanjutkan tidur yang terganggu dan terbangun untuk shalat isya seperti yang tadi sempat aku ceritakan. 

Beberapa menit setelah aku shalat isya, adzan subuh berkumandang. Saat aku aku sudah rebahan di atas kasur masih memakai sarung. Kurang tidur dan tiba-tiba bangun itu benar-benar membuat kepala rasanya berat. Lalu tanpa sadar aku terlelap lagi mengabaikan kumandang adzan. Aku terbangun lagi pukul enam kurang lima belas menit. Dengan otak yang belum berfungsi dengan normal aku masuk lagi ke kamar mandi, berwudhu, lalu shalat subuh. Selesai shalat aku menjatuhkan kepalaku ke atas kasur yang tepat berada di belakang sajadah. Ini adalah posisi tidur favoritku di kamar ini dengan menjadikan kasur sebagai bantal.  Sambil memandang langit-langit kamar aku sempat berpikir tujuan sebenarnya aku shalat itu apa. Apakah untuk mendapatkan pahala, terhindar dari neraka, atau apa? Pertanyaan yang sederhana tetapi rumit dan sulit menjawabnya.. Akupun mengalihkan perhatian ke netbook yang selalu menjadi teman setiaku di kamar ini. Kunyalakan, buka browser, dan mengecek berita terbaru di Antara. Lagi-lagi polemik KPK dengan Polri. Para penegak hukum yang seharusnya saling mendukung, malah bersitegang dan tidak akur. Penyakit Negara ini memang sudah akut. Orang-orang yang diamanahkan kekuasaan takut kehilangan kekuasaannya. Malah menjadikan kekuasaan itu sebagai kekuatan. Mereka takut miskin seperti rakyat yang sejatinya berkuasa. Tapi sekarang mereka sudah menghilangkan kepercayaan rakyat. Rakyat sekarang sudah pintar dan tidak bisa dibodohi. Hanya tinggal menunggu klimaks saja sampai rakyat sebagai penguasa sebenarnya benar-benar marah.

***

Sebenarnya pagi ini aku sedang gundah. Seperti ada sebuah perasaan kosong yang merasuk. Tentu aku tahu penyebabnya, tapi tidak akan aku ungkapkan disini dan saat ini. Itu adalah sebuah sisi sensitif dari seorang laki-laki yang tidak akan diumbar dengan gratis. Aku merasa ini adalah efek dari buku Ajip Rosidi yang aku baca semalam. Tapi kemarin aku juga membaca bukunya Charles Dickens, pagi harinya aku menyelesaikan Bromocorahnya Mochtar Lubis, dan 2 hari yang lalu aku membaca Beauty Affair karya Abdullah Harahap. Aku memang senang bergonta-ganti bacaan sebelum sampai ke halaman terakhirnya. Walaupun akhirnya buku itu selesai aku baca, tetapi terkadang ketika melanjutkan membaca aku harus mengulang beberapa halaman yang sudah terbaca supaya menyegarkan kembali ceritanya. Akibatnya cerita-cerita mereka menjadi campur aduk di kepalaku. Membuat kegundahan ini semakin rumit, serumit pemikiran-pemikiran mereka yang coba dimediakan lewat tutur bahasa.

Hati yang gundah seperti ini sudah sering terjadi. Sampai-sampai aku bisa menemukan sendiri penyembuhnya. Jangan berpikir kalau aku gundah karena seorang wanita. Anggapan itu terlalu picik. Ada banyak hal yang lebih patut diurusi daripada seorang wanita. Hal-hal itu menjadi komplotan pertanyaan di kepalaku dan ketika pertanyaan itu tidak terjawab tetapi pikiran ini terus memaksa bertanya maka saat itulah kegundahan itu muncul. Kalau sudah gundah seperti itu aku akan mencoba mengalihkan konsentrasi dengan menyibukkan diri. Aku paham menyibukkan diri akan membuat aku lupa. Begitu juga pagi ini, tiba-tiba aku terpikir untuk lari pagi. Melihat jam baru setengah tujuh dan hawa Jakarta masih sejuk. Aku mencoba berpikir apa yang harus dibawa. Ini pertama kalinya aku berniat sendiri untuk lari pagi. Aku sebenarnya sangat malas kalau disuruh lari. Rasa malas itu muncul karena aku memang tidak kuat kalau disuruh lari. Baru beberapa menit berlari dadaku akan terasa seperti digebuk-gebuk dari dalam, napas menjadi tidak teratur, dan pikiranku akan kacau tidak terkontrol. Tapi pagi ini, justru pikiran yang tidak terkontrol itulah yang aku cari. Jadi aku menyiapkan DAP trekstorku yang hanya berkapasitas 512mb, membersihkan sepatu NB yang masih ditempeli sisa-sisa pasir dari sawarna, dan uang Rp22.000. Aku siap untuk berangkat ke velodrome.

Aku mau melewatkan saja cerita aku berlari di velodrome, hal yang memalukan ketika aku hanya sanggup berlari dua kali putaran, tapi tentu rasanya akan ada yang bolong dari catatan ini. Jadi aku persingkat sajalah. Aku mulai berlari-lari kecil sambil diiringi lagu Tristan, duo folk dari Jakarta yang CDnya aku dapat secara gratis di Demajors. Stopwatch kunyalakan, napas kujaga supaya tetap teratur, dan langkah kaki diiramakan tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Aku berlari melewati pelari lain dengan percaya diri, menyalip di antara kerumunan anak SMP berpakaian olahraga yang berjalan santai, dan memperlambat lari ketika terpesona dengan seorang dara. Aku menyelesaikan satu putaran dengan sukses. Sambil berlari aku memilih-milih untuk mengganti lagu, Tristan terlalu sendu di pagi hari yang cerah ini. Aku membuka album Lou Reed-Transformer, lalu memilih I’m so free. Aku semakin bersemangat.
Yes, I’m Mother Nature’s son
And I’m the only one
I do what I want and I want what I see   
Could only happen to me
I,m so free. I’m so free
When I feel good, I’m so free
Early in the morning, I’m so free
Late in the evening, I’m so free
I’m so free…   

Setengah putaran kedua aku lewati, kakiku mulai terasa berat. Aku terlalu bersemangat sepertinya sampai lupa mengatur napas dan tempo lari jadi berantakan. Patut aku beritahu juga, aku punya betis kaki yang besar. Teman-temanku selalu kaget kalau melihat betisku yang seperti ini. Kalau kemudian mereka berkomentar aneh-aneh, itu sudah menjadi hal yang biasa. Betisku ini memang barang langka dan berat. Kalau aku berlari, beban paling berat yang perlu ditahan adalah keseluruhan kakiku ini. Mengangkatnya mengorbankan kalori yang banyak. Jadi aku berpikir wajarlah kalau setelah berlari satu setengah kali mengelilingi stadion velodrome betisku ini terasa semakin berat. Sedangkan napasku sebenarnya masih kuat. Tetapi betisku yang besar ini tidak mendukung. Jadi aku memutuskan untuk berhenti sebelum dua putaran di depan sebuah warung yang menjual minuman. Aku mengecek stopwatch dan ternyata aku hanya berlari selama delapan menit. Sangat payah! Aku mencopot sepatu dan memegang betisku yang rasanya seperti ditarik kencang. Susah memang kalau memiliki betis pemain bola, tetapi jarang dilatih berlari. Berlari sebentar saja, otot-ototnya sudah menjerit-jerit meminta oksigen lebih.

***

Aku berjalan pulang sambil sesekali mengguyur tenggorokan dengan sebotol air minum. Jalan pemuda pagi ini sangat lengang jika dibandingkan dengan keadaannya pada hari kerja. Kendaraan bermotor tidak terlalu ramai dan cahaya matahari tidak terlalu terik, Jakarta membuat betah kalau sedang seperti ini. Tapi Jakarta yang seperti ini hanya bisa dinikmati di akhir pekan ketika jutaan pekerja yang sedang libur memilih untuk istirahat di rumah. Ketika sudah masuk hari kerja, tidak ada lagi yang menarik dari Jakarta, kecuali uang dan fasilitasnya.

Aku sempat berpapasan dengan pak rahmat. Dia sedang mengayuh sepedanya yang berwarna merah. Dengan matanya yang sudah tua, aku yakin dia tidak melihatku yang sedang berjalan di trotoar. Jadi aku memutuskan untuk tidak menyapanya. Sepeda yang warna merahnya sudah memudar itu selalu jadi alat transportasinya kemana-mana. Ada keranjang dari kayu diboncengannya. Aku sering melihat keranjang itu berisi botol-botol bekas. Aku tidak tahu pekerjaan Pak Rahmat itu sebenarnya apa, tapi aku sering melihat dia mengumpulkan botol-botol yang sudah tidak terpakai dan terbengkalai. Kasihan aku melihatnya. Menurut perhitunganku, melihat dari raut wajahnya dan kulit yang sudah mengendur, umurnya sudah nyaris 80 tahun atau mungkin lebih, tapi dia masih terlihat kuat. Tuntutan hidup barangkali memaksa. Aku sebenarnya tidak terlalu kenal dengannya. Kami hanya sesekali bertemu di mushalla. Dia selalu memakai baju koko berwarna abu-abu. Aku ingat betul warnanya karena baju itulah yang selalu dia pakai. Dia jarang sekali menjadi imam shalat walaupun dari segi umur dia sudah yang paling senior. Aku akan beritahu alasannya. Dia biasanya berwudhu di mushalla dan ketika dia berwudhu, baju kokonya dilepas, dia memakai kaos dalam putih polos yang sudah lusuh. Setelah berwudhu dia akan memakai lagi baju koko yang tadi dilepasnya dengan sangat perlahan. Benar-benar pelan. Kancing demi kancing dengan sangat hati-hati. Umur yang menua memang melemahkan. Gara-gara kesulitan mengancing bajunya, dia sering ketinggalan takbir pertama, bahkan al fatihah lewat, dan ketika ayat pendek akan selesai dibaca, ketika beberapa detik lagi imam akan bertakbir untuk rukuk, dia akan buru-buru mengikuti dengan kancing baju yang belum dikancingkan semuanya. Dibiarkan terbuka. Tapi beberapa hari terakhir dia selalu menjadi imam ketika shalat maghrib. Suaranya terdengar sangat lemah dan dia membaca dengan pelan dan terkadang samar-samar. Lafadznya lugu dan sederhana dan memang tidak bisa dibandingkan dengan ustadz-ustadz kondang di luar sana, tapi benar-benar membuat kepala ini tertunduk.  

Aku lanjut berjalan. Di depan pasar inpres, aku sempat makan bubur sambil menonton seorang laki-laki dengan ototnya yang kekar dan kulitnya yang hitam membongkar muat pasir dari sebuah truk. Dia bekerja tanpa jeda dan tanpa suara. Menyekop tiap pasir kemudian melemparnya ke tumpukan pasir di pojok jalan. Seperti tidak ada hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari menyekop pasir. Atau dia ingin bersegera mungkin, tidak tahu. Setelah semua pasir berhasil diturunkan barulah dia berhenti, mengambil kausnya yang digantungkan di pinggiran bak truk yang kemudian digunakan untuk mengelap keringatnya. Lalu dia masuk ke dalam truk dan pergi tanpa basa-basi. 

Akhirnya aku sampai di kosan dengan kaus yang masih basah dengan keringat, dengan botol minum kosong yang masih di tangan, dan dengan pertanyaan di kepala yang bertambah banyak. Aku tidak mau keluar lagi di minggu pagi.

Wednesday, October 3, 2012

Man Machine

Beberapa minggu belakangan ini, saya punya jam tidur yang berantakan. Pola tidur saya tidak terjadwal, seenaknya saja. Bisa sepulang dari kantor, setelah makan malam, dini hari, atau pagi. Tetapi anehnya, saya selalu bangun di waktu yang itu-itu saja. Setidaknya saya selalu bangun di tiga jenis waktu. Sekitar pukul 12 antara malam dan pagi, pukul 4 pagi sebelum subuh, dan pukul 8 pagi yang seharusnya saya sudah mengabsen di kantor.

Kalau saya tertidur sehabis jam makan malam, sekitar pukul 7, maka pukul 12 kurang atau lebih saya biasanya terbangun. Mata ini sudah seperti jam weker yang otomatis terbuka tanpa dipaksa. Setelah bangun maka saya akan kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya biasanya menikmati bubur di warung kopi, membaca buku murahan yang menumpuk di kamar, atau mengisi blog yang tak menghasilkan uang ini.

Jadwal bangun saya yang kedua adalah pukul 4 pagi. Ini terjadi hampir setiap hari. Tidak peduli saya tidur di jam yang dibilang baik, sekitar pukul 9 atau 10 malam, atau di pagi hari yang terlalu pagi. Bagaimana mungkin saya tidak terbangun ketika mushalla yang hanya berjarak 15 meter dari kosan saya sudah menyuarakan bahwa shalat itu lebih baik dari tidur. Sebenarnya saya tidak terbangun karena seruannya itu, tetapi secara aerodinamika, ada jalur udara yang mengarah langsung ke kamar saya melalui atap-atap dan tembok-tembok rumah penduduk yang menyebabkan suara yang merambat di udara benar-benar terasa di kamar ini. Suara yang berasal dari toa mushalla itu lebih sanggup membangunkan daripada alarm yang saya set di handphone.

Ketika saya sedang malas-malasnya bangun pagi dan di kantor sedang tidak ada kerjan, maka saya biasanya saya akan memilih untuk bangun siang, maksimal pukul 8 pagi. Sebenarnya saya ingin tidur lebih lama lagi, tetapi teriknya cahaya matahari pagi yang langsung masuk ke dalam kamar ini benar-benar membuat gerah. ada sebuah efek rumah kaca mini yang terjadi di dalam kamar saya ini. Ketika jendelanya hanyalah sebuah keca besar yang berukuran 1,5 m x 1 m, maka layaknya bumi yang sudah terlalu banyak ditutupi oleh karbondioksida, cahaya yang masuk ke dalamnya akan terjebak dan susah untuk keluar karena akan dipantul-pantulkan, sehingga suhu di dalamnya akan semakin memanas. Mau tidak mau sayapun mandi dan berangkat ke kantor.

Tetapi mulai hari ini, semua jadwal itu harus ditata ulang lebih ketat. Setiap pagi dan sore jari ini harus menempel di mesin absen yang kalau telat semenit saja akan memangkas tunjangan saya sekian persen. Saya manusia tetapi merasa seperti hewan peliharaan yang dilepas mencari makan setiap pagi dan disuruh masuk kandang ketika senja. Atau seperti mesin yang sudah diset tupoksinya dan bekerja terjadwal dan selalu berada di jalur seharusnya. Haha! Hidup saya bisa saja seperti sapi atau mesin, tapi saya tetap manusia. Percayalah!

Monday, September 10, 2012

Hujan dan Jakarta masih berteman

Sudah lama sekali hujan tidak membasahi Jakarta. Sampai saya lupa kapan terakhir kali dia turun. Tapi pagi ini suara rintik-rintik air itu terdengar lagi, suara yang mulai terdengar asing disini. Membuat saya terbangun dari tidur dan keluar melihat. Hujan akhirnya bersua dengan Jakarta. Menguapkan rindu-rindu penghuninya.

Ketika masih tinggal di bintaro, saya punya kebiasaan buruk yang dilakukan ketika hujan. Menyeduh segelas kopi dan memutar lagu sendu. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka itu pasangan serasi. Pikiran saya untuk sekejap menjadi hening. Keheningan dan ketenangan yang sangat susah dicari di tengah kota yang hiruk pikuk ini.




Wednesday, August 29, 2012

Mereka tidak peduli dengan minyak yang akan mengotori celana mereka yang merah

Tuesday, August 14, 2012

Berbeda-beda itu indah kalau satu, seperti halnya pelangi.

Membingungkan memang kalau melihat manusia tindas menindas hanya karena warna kulit yang sedikit berbeda atau saling mencaci karena berbeda agama atau saling meludahi karena beda suku. Seharusnya kita hidup saling berdampingan dan damai, tetapi kenyataannya berbeda. Kaum mayoritas merasa ekslusif dan minoritas dikerdilkan.

Ketika perbedaan dan kesenjangan sanggup membutakan logika, maka setiap hal bisa dikambinghitamkan. Hal-hal sepele yang membesar atau isu yang tidak jelas asal-usulnya sering dijadikan sumber masalah. Padahal tanpa sadar, kita sendirilah sumber masalah karena sangat mudah terprovokasi.

Tidak ada yang salah dengan perbedaan. Hanya saja manusia dengan fanatismenya yang tinggi tidak ingin disamakan dengan yang lain. Alasan mengikuti ego inilah sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok. Kalau saja kelompok-kelompok manusia yang berbeda bisa hidup dengan tenggang rasa, rukun, dan damai, tentu akan menjadi indah. Seperti pelangi, satu dan warna-warni.

Monday, July 16, 2012

Pulang berarti memiliki tempat yang disebut rumah

Tengah malam, saat itu saya sedang berada di ruang tunggu bandara dengan kaki yang diluruskan di atas kursi panjang dan tas yang menjadi bantal. Saya sempat berpikir kalau saya akan pulang. Tapi tidak. Kali ini saya akan terbang semakin jauh dari rumah dan membuat saya semakin rindu untuk pulang. Kerinduan ini jauh lebih unggul dibandingkan kerinduan untuk bertemu gadis yang disuka.

Ada sisi kenikmatan tersendiri ketika saya hanya bisa pulang setahun sekali. Kenikmatan dari kerinduan yang memuncak yang tidak akan bisa ditemukan kalau saya bisa pulang setiap hari. Rasa rindu karena jarang bertemu. Rasa rindu yang membuat sendu. Begitu kerinduan itu sanggup terlampiaskan, setiap hal yang terjadi akan menjadi meriah. Hal biasapun akan terasa mewah. Senyum, perhatian, tawa, dan canda yang tak biasa ada menjadi ada.

Pulang ada karena ada rumah. Walaupun rumah itu hanya berisi satu orang atau dua atau tidak ada seorangpun. Selalu ada yang membuat kita rindu untuk pulang. Kalau rumah sudah tidak berisi lagi, maka yang akan kita temukan hanyalah memori. Hal yang sangat menyedihkan ketika kerinduan hanya bisa terobati oleh memori. Maka banyak-banyak bersyukurlah kalau rumah kita masih berisi satu orang atau dua atau lengkap barangkali. 

Thursday, June 21, 2012

Berita Buruk adalah Baik

Hampir semua orang percaya apa yang diberitakan oleh media-media. Saya juga percaya kalau yang mereka tulis adalah fakta. Tetapi ketika sebuah berita hanya disampaikan secara sederhana dan tidak dibahas lebih dalam tentu akan menimbulkan sebuah kesalahpahaman. Orang-orang yang kemudian membacanya secara gamblang dan tidak mencoba mengeksplor latar belakangnya akan cepat menyimpulkan. Kalau sudah begini, jatuhlah korban baru.

Setiap hal atau kejadian selalu mempunyai dua sisi, sisi terang dan sisi gelap. Sebuah berita seharusnya disampaikan dengan mempertimbangkan kedua sisi itu. Keduanya harus diseimbangkan. Tetapi yang menjadi kenyataannya adalah kita manusia lebih tertarik membaca pokok berita tentang pencurian atau pembunuhan dibandingkan membaca penjelasan kenapa pencurian atau pembunuhan itu bisa sampai terjadi, apalagi membaca berita panen padi atau kerbau yang melahirkan. Sudah pasti tidak laku.

Dunia yang dinamis, globalisasi teknologi, dan pemikiran manusianya yang praktis merubah cara kita mengonsumsi berita. Semua berita berusaha disampaikan sesingkat-singkatnya, sepadat-padatnya, setepat-tepatnya, dan update. Buat anak-anak muda sekarang yang umurnya menengah ke bawah, koran yang terbit sehari sekali sudah tidak menarik lagi. Mereka lebih senang membuka HP pintarnya kemudian browsing berita terbaru dari website-website yang menyampaikan berita dalam hitungan detik. Itupun kalau mereka sedang tertarik membaca berita atau sudah bosan membuka facebook dan twitter.

Semuanya lebih praktis memang dan hemat. Tidak perlu mengeluarkan uang Rp3000 sampai Rp5000 untuk membeli koran kalau hanya ingin mengetahui berita terbaru. Media online itu menyediakan berita-berita yang jauh lebih baru daripada koran. Tetapi dibalik keunggulannya itulah kelemahannya. Ketika sebuah berita berusaha disampaikan se-singkat, padat, tepat, dan cepat-nya, maka keseluruhan berita tidak bisa disampaikan. Banyak hal yang dihilangkan menjadi resume dari si penulisnya dan terkadang peristiwa yang samar buntut dan kepalanya diberitakan dengan alasan segera.

Sekarang tergantung kepada pembacanya. Apakah akan menerima dengan mulut lebar doktrin yang diberikan oleh media kemudian menelannya bulat-bulat -syukur-syukur tidak meracau sok tahu- atau menerimanya dengan tangan terbuka kemudian memilah-milah mana yang harus dikunyah. Semua terserah kita sebagai manusia yang dikaruniai akal.



Monday, June 4, 2012

Mempersiapkan Amunisi Bukan Untuk Perang



Amunisi buat malam ini sudah disiapkan. Entah kenapa saya rasanya tidak ingin tidur secepat biasanya. Hujan sedang mengguyur Jakarta yang di luar sana.  Awalnya saya memutar playlist yang berbau dream pop dan ambient, saya jadi terbawa suasana. Hujan dan ambient itu serasi, menggoda mata untuk segera terpejam. Tapi sepertinya tidak untuk malam ini.

Mie sedaap kari spesial paling top, tidak bermaksud promosi, menjadi alternatif kalau sedang hujan dan malas berjalan jauh. Cukup untuk mengganjal perut sampai saya tidur dan melupakan rasa lapar. Dua sachet nescafe classic siap untuk diseduh. Sebenarnya saya sedang diet kopi. Kalau minum terlalu banyak bisa-bisa saya melihat bumi berputar-putar dan gelap. Tapi mau bagaimana lagi, sementara ini dilupakan sajalah dulu. Pensil HB, drawing pen, spidol hitam, dan penghapus menjadi satu tim yang siap bekerja mencoret-coret kertas A3 yang saya bawa kabur dari kantor. Ready to start.

Monday, May 21, 2012

Akhir Pekan Sangat Panjang

Sekarang sudah hari senin. Akhir pekan yang sangat panjang sudah berakhir tanpa terasa. Kalau saja rencana beberapa minggu lalu masih berjalan sesuai rencana, mungkin pikiran saya tidak akan sesumpek ini. Tapi terkadang pilihan yang tidak mengenakkan memang harus dipilih. Sia-sia saya mencuci sepatu New Balance 574 sampai kinclong.

Sangat mengecewakan kalau saya menceritakan apa saja yang saya lakukan selama libur akhir pekan yang sangat panjang ini. Setiap hari rasanya membosankan dan berkeliling di dalam kota Jakarta tidak akan menghilangkan rasa kebosanan. Walaupun selama libur kemacetannya tidak terasa parah, tetapi panasnya tetap saja membuat gerah. Kalau saja saya ber-KTP Jakarta dan salah seorang calon gubernur berkampanye dengan janji akan membuat Jakarta lebih sejuk, tentu pada tanggal 11 Juli nanti, gambarnya akan saya coblos besar-besar.

Dikarenakan rencana perjalanan saya tidak terealisasi minggu lalu, maka rekor perjalanan saya mulai bulan oktober tahun lalu berhenti di bulan mei. Hal ini tidak terprediksi sama sekali. Padahal selama 2 bulan terakhir saya sanggup memanfaatkan setiap libur hari jum'at semaksimal mungkin. Jadi bayangan saya kalau liburnya mulai dari hari kamis, perjalanan akan lebih jauh dan lebih lama. Tapi kenyataannya, saya tidak kemana-mana dengan perasaan kecewa.

Tuesday, May 15, 2012

Menggantung Harapan di Tali Jemuran

Bekerja tanpa mendapatkan gaji itu sangat tidak mengenakkan. Nasib ini lebih buruk dari para buruh yang berunjuk rasa pada tanggal 1 Mei. Sebenarnya saya mendapatkan gaji, tapi rasanya lebih tepat kalau dibilang upah. Upah yang hanya sekitar setengah dari UMR itu dirapel dalam beberapa bulan supaya terlihat banyak. Beberapa bulan inilah yang tidak pasti berapa lama. Sampai sekarang saya sudah menjalani bulan ketiga bekerja dan rekening BRI milik saya belum terisi-terisi juga.

Tentu menjadi pertanyaan kenapa saya masih mau bekerja dengan banyak ketidakjelasan yang jelas-jelas terlihat. Hal yang membuat saya bertahan dengan semua kesulitan ini, mungkin teman-teman saya juga, adalah sebuah janji. Janji dari pemerintah bahwa secepatnya akan dicetak sebuah SK CPNS dengan nama saya di dalamnya. Dan lagi-lagi kata "secepatnya" disini tidak cukup untuk menjelaskan waktu yang konkret.

Kekesalan tentu ada. Keinginan untuk memberontak juga ada dan lebih besar. Tetapi saya terjebak di sebuah sistem yang diciptakan dengan sengaja sehingga orang-orang yang berada di strata yang rendah tidak dapat melakukan perlawanan karena belum cukup memiliki kekuasaan dan kekuatan. Akhirnya apa yang akan saya lakukan adalah menerima. Percaya sajalah kalau pemerintah itu bijaksana.

Bulan februari saya pergi ke Tegal, sebuah kabupaten di Jawa Tengah dan berada di dekat-dekat kaki gunung Slamet. Saat itu saya ditawari mengajar SD di sebuah kampung antah berantah. Saya yang sedang menganggur dengan semangat langsung berangkat kesana. Walaupun sampai disana saya malahan dilarang untuk mengajar oleh ayah teman saya dengan alasan yang sebenarnya ingin saya tentang, tetapi saya menghormati dan tidak mau menentang orang tua.

Ayah teman saya itu mengatakan bahwa menjadi guru di daerah pelosok itu tidak enak. Kalau masih berstatus honorer, gajinya sangat kecil. Hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Kalau tidak dibarengi dengan iktikad baik, sangat jarang ada yang mau mengajar.

Saya sempat berpikir, barangkali karena standar hidup di daerah pelosok yang rendah, sehingga pendapatan yang kecil rasa-rasanya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi setelah saya merasakan keadaan saya sekarang ini, saya jadi tersadar apa sebenarnya yang membuat mereka tetap bertahan menjadi guru honorer selama bertahun-tahun dan akut. Mereka rela hidup pas-pasan atau memiliki pekerjaan lain untuk menutupi kekurangan demi sebuah jaminan bagi keluarganya. Harapan mereka adalah kebijaksanaan dari pemerintah bahwa suatu hari nanti, mereka akan diangkat derajatnya dan status honorer dihilangkan.

Mungkin kondisi seperti ini jugalah yang dirasakan oleh pegawai-pegawai honorer bergaji rendah lainnya. Setelah bertahun-tahun bergantung pada harapan dan lelah menunggu kemudian mereka akan berunjuk rasa menuntut diangkat menjadi pegawai negeri. Sekeras apapun mereka berteriak, pengambilan keputusan tetap saja berada di tangan penguasa. Penguasa juga mengerti kalau mencari pekerjaan di Indonesia itu sangat susah. Jadi kurang berguna berteriak kencang-kencang atau menghancurkan benda yang ada di sekitar. Keputusan ada di tangan mereka yang syukur-syukur tergerak hatinya.



Tuesday, April 17, 2012

secepatnya, nanti, atau kapan-kapanlah

Kenyang sudah saya mendengar kata menikah. Sepertinya obrolan orang-orang yang sudah bekerja tidak lagi tentang pacar-pacaran. Tetapi naik satu tingkat menjadi hal yang lebih berat, seperti menikah. Setidaknya pemikiran angkatan saya yang baru lulus tahun lalu dan sekarang sedang magang seperti itu. Bagaimana tidak. Kira-kira setahun lagi para pria-pria sudah sanggup memenuhi kebutuhannya dan untuk memberi makan anak istri sepertinya cukuplah. Kalau hidup sudah mapan, jadi apa lagi yang ditunggu?

Pemikiran itu sederhana sekali. Memang lebih enak memikirkan yang gampang-gampang. Tidak perlu banyak pertimbangan dan perhitungan ini itu. Tetapi karena kita terlalu sering berpikir yang gampang-gampang maka beberapa hal bisa menjadi sangat rumit. Begitu juga menikah disini. Tidak hanya kesiapan materi yang seharusnya kita lihat dan semua itu tidak semudah mengucapkan ijab qabul. Ah! Saya berbicara seperti seorang yang sudah ahli saja.

Saya sebenarnya ingin tertawa ketika terjebak di obrolan berat seperti itu. Tetapi demi menghormati norma-norma yang ada, ditahan sajalah. Walaupun akhirnya saya jadi ikut-ikutan meramaikan suasana. Tetapi lucu juga. Umur saya itu 21 tahun lebih beberapa bulan dan teman-teman saya juga tidak jauh beda. Tetapi obrolannya seperti perkumpulan orang-orang nyaris berkepala tiga yang sudah sangat risih karena tidak kawin-kawin.

Saya jadi merasa ada fase hidup yang saya lompati atau karena bergerak terlalu cepat, fase itu tidak sadar sudah dijalani. Fase apa itu? Sangat susah dijelaskan karena saya sendiri juga tidak tahu. Saya hanya merasa sedikit aneh saja. Ketika orang-orang seumuran yang lain masih kebingungan mengurusi skripsi, kami disini sudah jauh mengobrol masalah nikah-menikah.

Biarkan sajalah teman-teman saya ini menikah duluan. Toh nanti kalau mereka sudah menikah duluan terus melihat saya yang masih melajang berkeliaran kemana-mana, mereka jadi iri sendiri. Atau jangan-jangan saya yang jadi iri melihat mereka. Tidak tahulah. *hehehe

Thursday, March 29, 2012

... (1)

Maret sudah akan berakhir. Banyak kekesalan, cerita, omelan, dan umpatan yang ingin keluar. Tetapi semua harus tertahan. Saya sedang berada di masa-masa transisi. Hidup saya yang awalnya normal mulai bertindak fluktuatif. Titik keseimbangan baru harus dicari.

Wednesday, February 15, 2012

The more you ignore me, the closer i get

Hari ini tiba-tiba terjadi kehebohan di jejaring sosial. Siaran persidangan kasus wisma atlit yang diputar sepanjang hari masih kalah kehebohannya. Awalnya hanya beberapa orang, mereka menyebar link sebuah situs yang merilis jadwal tour Morrissey di Singapura dan Jakarta pada bulan Mei nanti, kemudian semakin ramai yang menyebar link situs ini dan beritapun menyebar kemana-mana.
Konser mantan vokalis The Smiths itu dijadwalkan di Jakarta tanggal 10 mei dan kata-katanya hanya tersedia 4700 tiket. Ribuan orang senang, ribuan orang siap membeli celengan, ribuan orang siap bernyanyi "The more you ignore me, the closer i get.You're wasting your time......."

Tuesday, January 31, 2012

tiba-tiba sibuk

Menahan kantuk dengan kopi. Ini sudah gelas ketiga. Benar-benar sangat mujarab. Tetapi stamina otak sudah tidak mampu menyaingi. Saya masih ingat pesan guru biologi. Mie instan menstimulus otak dengan instan. Mata dan otak bertemu di ketidakselarasan. Berebutan, kejar-kejaran, baku hantam. Masih ada lima halaman lagi. Harus selesai hari ini.

Thursday, January 5, 2012

Enemy Radio

Sudah lama sekali rasanya saya tidak mendengarkan radio. Masa-masa remaja dulu sewaktu saya masih memakai putih abu-abu, radio satu-satunya hiburan. Bukan karena tidak ada televisi, tetapi karena saya sering pulang terlalu larut. Terlalu melelahkan kalau harus menonton televisi. Lebih santai mendengarkan radio sambil melakukan pekerjaan lain di kamar saya yang selalu berantakan dan tidak beraturan karena buku, kertas, pakaian berserakan dimana-mana. Lalu saya akan terlelap dengan radio terus menyala sampai pagi. Itu sudah menjadi kebiasaan.
Saya mulai berhenti mendengarkan radio sejak hati saya menolak arus mainstream radio. Saya ingat sewaktu semester-semester awal kuliah, saya masih memiliki radio di kamar yang dinyalakan hanya setiap hari minggu jam 2 siang untuk mendengarkan alternative zone di global radio atau dinyalakan untuk memutar kaset Mocca album friends sebagai pengantar tidur kalau sedang mengalami gangguan tidur. Selain dari itu jarang sekali dinyalakan karena radio-radio menyajikan hiburan yang monoton. Mereka takut menjadi berbeda karena takut tidak laku.
Sekarang saya mulai mendengarkan radio lagi. Radio online tepatnya yang memerlukan koneksi internet agak cepat. Terima kasih kepada kemajuan teknologi dan arus globalisasi, saya jadi bisa mendengarkan NME radio. Saya biasanya hanya membaca majalahnya, itupun versi digital. Kalau saja radio-radio lokal, televisi juga, memutar single-single seperti di playlist NME radio, barangkali kondisi hiburan tidak akan separah sekarang ini yang dipenuhi oleh tema romantis dan patah hati. Masih banyak objek lain yang harusnya lebih diperhatikan. But it's always about money and popularity.


Sunday, December 18, 2011

Bittersweet Symphony

Dalam sehari, sudah kesekian kali lagu ini diputar, sudah sampai puluhan sepertinya. Tapi tetap saja belum bosan. Tapi nanti saya bakalan bosan juga. Saya tahu itu. Kalau belum bosan ya dengarin terus terus terus sampai bosan. Tapi sampai detik ini saya masih belum bosan bosan juga. Dan gaya Richard Ashcroft yang antara songong dan cool itu sepertinya akan saya tiru suatu hari.
Cause it's a bittersweet symphony, this life
Trying to make ends meet
You're a slave to money then you die
I'll take you down the only road I've ever been down
You know the one that takes you to the places
where all the veins meet yeah

No change, I can't change
I can't change, I can't change
But I'm here in my mind
I am here in my mind
But I'm a million different people
from one day to the next
I can't change my mind
No, no, no, no, no, no, no,no,no,no,no,no(fading away)

Well I never pray
But tonight I'm on my knees yeah
I need to hear some sounds that recognize the pain in me, yeah
I let the melody shine, let it cleanse my mind, I feel free now
But the airways are clean and there's nobody singing to me now

No change, I can't change
I can't change, I can't change
But I'm here in my mind
I am here in my mind
And I'm a million different people
from one day to the next
I can't change my mind
No, no, no, no, no, no, no
I can't change
I can't change it

'Cause it's a bittersweet symphony, this life
Trying to make ends meet
Trying to find some money then you die
I'll take you down the only road I've ever been down
You know the one that takes you to the places
where all the veins meet yeah

You know I can't change, I can't change
I can't change, I can't change
But I'm here in my mind
I am here in my mind
And I'm a million different people
from one day to the next
I can't change my mind
No, no, no, no, no

I can't change my mind
no, no, no, no, no,
I can't change
Can't change my body,
no, no, no

I'll take you down the only road I've ever been down
I'll take you down the only road I've ever been down
Been down
Ever been down
Ever been down
Ever been down
Ever been down
That you've ever been down
That you've ever been down

Wednesday, December 14, 2011

Obral Obrol


Terkadang beberapa orang hanya mencari teman mengobrol. Mencoba menurunkan tingkat kejenuhan satu level. Coba bayangkan, sekarang anda berumur 20an, tidak memiliki kegiatan yang pasti, dan tanpa pekerjaan atau kesibukan. Kondisi lainnya, teman-teman anda yang biasa diajak berkumpul ternyata sedang sibuk semua. Mulai dari sibuk kuliah, sibuk skripsi, sibuk bekerja, atau mungkin sibuk mengurus keluarga. Maka yang akan anda lakukan adalah mengajak siapa saja, bahkan orang yang tidak dikenal, hanya sekedar untuk mengobrol, mulai dari mengobrol hal tidak penting sampai yang serius, dan membuang beberapa persen kejenuhan.
Kalau sudah tidak ada orang yang bisa diajak mengobrol secara langsung, maka kita akan mencoba mencari pelarian lain. Kebanyakan orang zaman sekarang tentu saja lari ke dunia maya, mayoritas jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Melalui dunia maya seseorang bisa menjadi siapa saja. Mau menjadi orang baik, bisa. Mau menjadi orang pintar, bisa. Menjadi orang yang bijaksana, bisa. Menjadi orang yang konyol, bisa. Menjadi lawan jenis sendiri juga bisa.
Makanya saya malas aktif di dunia maya, apalagi meladeni orang-orang yang tidak saya kenal langsung, karena semuanya penipu. Lihat saja, ada orang yang sangat aktif memberi komentar sana sini, update status 5 menit sekali, tetapi ketika kita bertemu langsung ternyata dia orang yang lebih banyak diam. Kata-kata yang diketiknya lewat keypad HP lebih banyak daripada yang keluar dari mulut. Atau lihat saja penipuan yang dulu sangat menghebohkan dunia televisi, seorang pria menikahi anak manusia yang mengaku wanita, tetapi ternyata seorang pria. Semua berawal dari kenal-kenalan di dunia maya. Bodoh sekali.

Wednesday, November 30, 2011

Home: bigger plan than aeroplane



Sudah 3 kali lebaran haji saya selalu di kampung orang. Dan rasanya benar-benar tidak enak. Tidak ada daging yang bisa disantap. Malam takbirannya juga anyep. Tidak seperti di kampung yang takbirannya selalu meriah. Takbiran terakhir di parapat, warga disuruh keliling kota sambil megang obor. Seru! Kota besar memang kalah jauh kalau soal perayaan takbiran. 
Sayapun berniat untuk berlebaran haji di kampung halaman. Rindu juga dengan masakan nyonya besar yang tidak ada tandingan enaknya. Teman-teman saya juga sudah pulang ke daerahnya masing-masing. Dan saya sudah mulai menetap di pasar minggu yang sangat saya hindari selama ini. Benar-benar tidak ada pekerjaan itu benar-benar membosankan. Mulailah saya browsing harga tiket pesawat. 
Seperti biasa, perlu mengorek tabungan dalam-dalam kalau ingin naik pesawat. Sekitar 600an ribu. Saya yang semua sumber pendapatannya sedang anjlok tentu merasa sangat sayang mengeluarkan uang segitu banyak hanya untuk perjalanan selama 2 jam. Sampai di Medan juga saya bingung mau ngapain lama-lama karena semua teman lagi sibuk-sibuknya kuliah. Tercetuslah ide untuk sekalian berkeliling sumatera. Sekalian membuang waktu menganggur beberapa hari. Tetapi karena waktunya sudah mepet dengan lebaran haji, dengan berat hati saya putuskan lebaran haji di kampung orang lagi.

Bagi saya, yang paling menentukan hematnya suatu perjalanan adalah rencana. Rencana yang matang untuk memaksimalkan fungsi waktu dan dana yang ada. yak, saya butuh sebuah rencana. Target utama saya sebenarnya adalah bukit tinggi. Dengar-dengar kotanya tenang, dingin, ramai, dan makanan enak. Tapi kalau dari jakarta langsung ke bukit tinggi perlu waktu sekitar 30an jam. Berlama-lama di dalam bis adalah hal pertama yang saya hindari.
Palembang masuk ke dalam list. Kebetulan pembukaan sea games ada disana dan saya sangat ingin melihat jembatan Ampera yang tersohor itu beserta sungai Musi yang kesohorannya sama. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan pembukaan sea games karena dengar-dengar tiket masuknya tidak terjangkau kantong orang-orang seperti saya. Pembukaan sea games cuma alasan. Waktu saya bilang ke teman saya di MAN dulu, azlia dan ricky, kalau saya mau kesana, mereka antusias sekali sepertinya. Efek tidak pernah dikunjungin teman lama begini lah.
Menurut kitab suci para traveler, Lonely Planet, dari lampung ke palembang ada kereta yang berangkat  pagi dan malam. Pagi yang berangkat adalah kereta ekonomi, sedangkat pada malam hari jatahnya kereta bisnis. Harga tiket kelas ekonomi adalah Rp45.000 dan kereta bisnis Rp65.000. Dengan begini lampung masuk ke dalam list.
Saya berencana berangkat dari Jakarta tanggal 7 November, H+1 lebaran. Saya ingin cepat-cepat kabur dari pasar minggu. Di rumah kakak saya ini benar-benar terasa penganggurannya. Kalau di kosan masih enak. Selalu ada yang bisa dikerjakan entah itu bersih-bersih, menyuci, atau sebaliknya, berantakin kamar. Kalau berangkat tanggal 7 malam, kemungkinan sampai Lampung tanggal 8 pagi. Dilanjutkan kereta api malam, berarti sampai Palembang tanggal 9 pagi. Hal kedua yang saya hindari adalah sampai di tujuan malam hari karena kemampuan eksplorasi jadi terasa turun satu tingkat.
Pertimbangan satu lagi. Kalau kita menumpang di tempat teman yang notabenenya dia sudah lama menetap di tempat itu, biasa-biasanya orangnya sudah malas jalan kemana-mana. Kalau ditinggal jalan sendiri tidak enak hati rasanya. Target saya adalah pembukaan Sea Games tanggal 11 Nopember, ini hanya alasan, tapi teman saya yang di palembang memaksa. Kalau saya sampai di Palembang tanggal 9 pagi. Kemungkinan besar tanggal 9 dan 10 bakalan jadi idle days.
Saya mulai berpikir keras bagaimana caranya berangkat dari Jakarta tanggal 7, tetapi sampai di Palembang tanggal 10. Jawabannya ada di Lampung dan yang saya temukan adalah pulau Sebesi. Orang-orang yang ingin mendaki gunung Krakatau mayoritas singgah di pulau ini. Rutenya dari pelabuhan Bakauheni ke Kalianda terlebih dahulu lalu ke pelabuhan Canti menggunakan angkot. Kemudian menyeberang ke sebesi menggunakan kapal rakyat. Sebesi in the list.
Kapal ke pulau sebesi hanya ada sekali sehari, yaitu pukul 13.00. Dan kapal dari sebesi ke canti cuma ada sekali juga, pukul 07.00. Kalau dari lampung lanjut ke palembang menggunakan kereta, berarti kereta pagi sudah pasti tidak terkejar. Jadi rencanya saya berangkat dengan kereta malam. Dengan waktu menyeberang dengan kapal hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam, saya mulai terpikir apa yang harus saya lakukan di Lampung dari sekitar pukul 08.30 sampai 21.00. Saya sudah buat janji dengan Dharma. Sekalian mengantarkan buku pesanannya. Setelah itu tidak tahu mau kemana. Cari-cari tempat dan saya temukan adalah pantai pasir putih. Pantai pasir putih sebagai cadangan saja karena saya sudah bilang ke si Ketua buat ngajakin jalan-jalan kalau sudah sampai disana.
Capek juga kalau dijabarin satu persatu rencananya. Intinya, saya berencanya berangkat dari Lampung menuju Palembang dengan kereta malam tanggal 9 Nopember. Sampai di Palembang tanggal 10 pagi. Karena target di Palembang hanya jembatan Ampera, sungai Musi, dan kawasan Jakabaring, semua ini berdekatan, sepertinya waktu 2 hari cukuplah. Perkiraan sampai di Bukit Tinggi kalau tidak tanggal 11 ya tanggal 12 lalu menginap satu malam. Jam gadang, ngarai sianok, goa jepang, benteng fort de kock, jembatan limpapeh, pasar atas, pasar bawah, dan danau maninjau adalah target perjalanan. Setelah itu besoknya langsung berangkat menuju parapat buat mengurus berkas-berkas yang belum pasti dipakai atau tidak.

Post ini sudah lama saya buat, sebelum-sebelum lebaran haji la. Bukan bermaksud mengikuti saran si Dharma apalagi Inten yang minta dibuatin field report-nya. Dan bukan bermaksud menyaingi dan ikut-ikutan field report-nya Sanda atau Izati tentang Bali. Tapi memang post ini sudah lama membeku menjadi draft. Dulu saya berpikir beberapa kali buat mengklik tombol "PUBLISH POST" karena takut rencana tinggal rencana. Tapi sekarang rencana bertransformasi menjadi fakta, walaupun semua fakta tidak sesuai rencana.

Friday, October 14, 2011

(bukan) akhir persablonan


Selamat tinggal screen, rakel, rubber, superwhite, binder, milano kain, pigmen, ulano x, M3, neon, dan yang lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih sudah menjadi rekan untuk mencari sedikit tambahan modal untuk jalan-jalan dan makan. Saya tidak pensiun dini, hanya break dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Suatu hari saya akan kembali. Kembali membuat afdrukan, kembali mencampur pasta, kembali menggesek rakel, dan kembali stres karena screen yang susah dibersihkan. :(
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.