Wednesday, October 3, 2012

Man Machine

Beberapa minggu belakangan ini, saya punya jam tidur yang berantakan. Pola tidur saya tidak terjadwal, seenaknya saja. Bisa sepulang dari kantor, setelah makan malam, dini hari, atau pagi. Tetapi anehnya, saya selalu bangun di waktu yang itu-itu saja. Setidaknya saya selalu bangun di tiga jenis waktu. Sekitar pukul 12 antara malam dan pagi, pukul 4 pagi sebelum subuh, dan pukul 8 pagi yang seharusnya saya sudah mengabsen di kantor.

Kalau saya tertidur sehabis jam makan malam, sekitar pukul 7, maka pukul 12 kurang atau lebih saya biasanya terbangun. Mata ini sudah seperti jam weker yang otomatis terbuka tanpa dipaksa. Setelah bangun maka saya akan kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya biasanya menikmati bubur di warung kopi, membaca buku murahan yang menumpuk di kamar, atau mengisi blog yang tak menghasilkan uang ini.

Jadwal bangun saya yang kedua adalah pukul 4 pagi. Ini terjadi hampir setiap hari. Tidak peduli saya tidur di jam yang dibilang baik, sekitar pukul 9 atau 10 malam, atau di pagi hari yang terlalu pagi. Bagaimana mungkin saya tidak terbangun ketika mushalla yang hanya berjarak 15 meter dari kosan saya sudah menyuarakan bahwa shalat itu lebih baik dari tidur. Sebenarnya saya tidak terbangun karena seruannya itu, tetapi secara aerodinamika, ada jalur udara yang mengarah langsung ke kamar saya melalui atap-atap dan tembok-tembok rumah penduduk yang menyebabkan suara yang merambat di udara benar-benar terasa di kamar ini. Suara yang berasal dari toa mushalla itu lebih sanggup membangunkan daripada alarm yang saya set di handphone.

Ketika saya sedang malas-malasnya bangun pagi dan di kantor sedang tidak ada kerjan, maka saya biasanya saya akan memilih untuk bangun siang, maksimal pukul 8 pagi. Sebenarnya saya ingin tidur lebih lama lagi, tetapi teriknya cahaya matahari pagi yang langsung masuk ke dalam kamar ini benar-benar membuat gerah. ada sebuah efek rumah kaca mini yang terjadi di dalam kamar saya ini. Ketika jendelanya hanyalah sebuah keca besar yang berukuran 1,5 m x 1 m, maka layaknya bumi yang sudah terlalu banyak ditutupi oleh karbondioksida, cahaya yang masuk ke dalamnya akan terjebak dan susah untuk keluar karena akan dipantul-pantulkan, sehingga suhu di dalamnya akan semakin memanas. Mau tidak mau sayapun mandi dan berangkat ke kantor.

Tetapi mulai hari ini, semua jadwal itu harus ditata ulang lebih ketat. Setiap pagi dan sore jari ini harus menempel di mesin absen yang kalau telat semenit saja akan memangkas tunjangan saya sekian persen. Saya manusia tetapi merasa seperti hewan peliharaan yang dilepas mencari makan setiap pagi dan disuruh masuk kandang ketika senja. Atau seperti mesin yang sudah diset tupoksinya dan bekerja terjadwal dan selalu berada di jalur seharusnya. Haha! Hidup saya bisa saja seperti sapi atau mesin, tapi saya tetap manusia. Percayalah!

2 comments:

  1. mbeeek. #sudah jadi piaraan (kalau kau bilang begitu) sejak awal maret dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. salah nulisnya. harusnya hewan ternak biar lebih tragis. :D

      Delete

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.