Kalau melihat judul dan sampulnya, sudah tentu buku ini tidak akan saya beli. Melihatnya seperti melihat undangan pernikahan atau kado buat mereka yang menikah, cocok sekali. Tapi lihat daftar penulis yang terdapat di sampulnya. Dua jempol untuk penerbitnya!
Dari 17 penulis di dalamnya, hanya 3 orang yang pernah saya baca karyanya, Fyodor Dostoevsky, Leo Tolstoy, dan Mark Twain. Cukup melihat nama mereka bertiga, pandangan saya mengenai buku ini langsung bertolak belakang dengan judul dan sampulnya. Saya yakin isinya berbeda dan semakin membuat penasaran.
Buku ini pertama kali saya lihat di Toga Mas Jogja sewaktu ada diskon besar-besaran di awal tahun. Saya masih ingat sekali harganya Rp38.000. Tetapi buku ini tidak jadi saya beli karena finansial kurang mendukung. Saya sudah memegang buku John Steinbeck, Leo Tolstoy, dan satu buku lainnya. Kalau ditambah buku ini lagi, takutnya saya tidak bisa kembali ke Jakarta. Tetapi akhirnya buku ini saya temukan di Blok M, masih mulus dengan harga Rp20.000. Senang sekali rasanya.
Cinta tak pernah mati ternyata cerpen karya Honore de Balzac, ceritanya mengenai seorang tentara berstatus tahanan yang berhasil kabur ketika melintasi gurun pasir di sekitar sungai nil. Kemudian dia bertemu dengan seekor macan betina dan rasa takut yang awalnya muncul berubah menjadi kasih sayang karena sudah lama bersama. Balzac menyorot sisi psikologis dari tokoh ciptaannya dan pesan yang saya terima adalah hewan juga punya jiwa. Akhirnya cerpen ini berakhir tragis bercucuran air mata.
Semua cepen di dalamnya memang bertemakan cinta. Tetapi cinta dalam sudut pandang yang jauh lebih luas, sampai saya sendiri ragu menggolongkannya tema cinta atau tidak. Lihat saja cerpen Akutagawa yang menceritakan hubungan antara Buddha dan hambanya atau cerita mengenai bekas luka seorang penjual tiket karya Somerset Maugham.
Saya membutuhkan hari yang cukup lama untuk menyelesaikan membaca buku ini. Setiap cerita memiliki sudut pandang yang berbeda dan gaya bercerita penulisnya yang berbeda juga.Selesai membaca satu cerita suasana hati saya langsung labil, berubah-ubah tidak menentu. Karena itu membacanya seperti kredit motor, dicicil sedikit demi sedikit.
Beberapa cerita dapat membuat pembacanya tersenyum bahkan tertawa, seperti cerita O. Henry dan Maupassannt. Kalau tertarik dengan cerita bertemakan horror, silahkan baca Rudyard Kipling dan Edgar Allan Poe. Cerita lainnya dapat membuat dahi berkerut dan memaksa kita pelan-pelan mencernanya. Kalau membaca lagi maka kita akan diajak untuk merenung. Baca cerpen Leo Tolstoy, ini favorit saya, maka anda akan benar-benar murung. Mungkin sedikit kutipan akan mendukung.
"Ketika kami kaya raya, kami tidak pernah merasakan kedamaian: tak ada waktu untuk bercakap-cakap, merenung tentang jiwa kami, atau berdoa kepada Tuhan. Kami punya banyak kecemasan."
Saran saya kalau anda menemukan buku ini, konsumsi dan cerna perlahan-lahan. Kenikmatan dari pesan yang disampaikan pengarangnya akan terasa lebih....
My Bloody Valentine - Loveless
Bukan karena orang-orang merayakan valentine, maka saya memutar rekaman ini dengan intensitas yang lebih tinggi bulan ini, tapi karena saya memang sedang ingin. Saya kecanduan raungan gitar Kevin Shields. Pantas saja banyak orang yang memuja dan memuji Loveless, termasuk saya yang baru berumur 1 tahun 2 hari ketika album ini dirilis. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Lihat ekspresi wajah orang yang sedang mendengarkannya. Itu lebih jujur.
Album ini semakin melegenda karena dengar-dengar hampir membangkrutkan Creation Records. Alan McGee rela mengeluarkan dana ratusan ribu poundsterling untuk membiayai proses rekaman album ini selama 2 tahun. Walaupun penjualannya tidak bisa dibilang sukses kala itu, tapi Loveless sudah seperti berhala bagi pemuja shoegazing sekarang dan mungkin selamanya.
Track favorit saya tentu semuanya, tapi "when you sleep" lebih sering berputar-putar di kepala dan berhasil membuat saya tersenyum dengan mata sayu.
When I look at you. Oh, I dont know what I feel.
No comments:
Post a Comment