Hampir semua orang percaya apa yang diberitakan oleh media-media. Saya juga percaya kalau yang mereka tulis adalah fakta. Tetapi ketika sebuah berita hanya disampaikan secara sederhana dan tidak dibahas lebih dalam tentu akan menimbulkan sebuah kesalahpahaman. Orang-orang yang kemudian membacanya secara gamblang dan tidak mencoba mengeksplor latar belakangnya akan cepat menyimpulkan. Kalau sudah begini, jatuhlah korban baru.
Setiap hal atau kejadian selalu mempunyai dua sisi, sisi terang dan sisi gelap. Sebuah berita seharusnya disampaikan dengan mempertimbangkan kedua sisi itu. Keduanya harus diseimbangkan. Tetapi yang menjadi kenyataannya adalah kita manusia lebih tertarik membaca pokok berita tentang pencurian atau pembunuhan dibandingkan membaca penjelasan kenapa pencurian atau pembunuhan itu bisa sampai terjadi, apalagi membaca berita panen padi atau kerbau yang melahirkan. Sudah pasti tidak laku.
Dunia yang dinamis, globalisasi teknologi, dan pemikiran manusianya yang praktis merubah cara kita mengonsumsi berita. Semua berita berusaha disampaikan sesingkat-singkatnya, sepadat-padatnya, setepat-tepatnya, dan update. Buat anak-anak muda sekarang yang umurnya menengah ke bawah, koran yang terbit sehari sekali sudah tidak menarik lagi. Mereka lebih senang membuka HP pintarnya kemudian browsing berita terbaru dari website-website yang menyampaikan berita dalam hitungan detik. Itupun kalau mereka sedang tertarik membaca berita atau sudah bosan membuka facebook dan twitter.
Semuanya lebih praktis memang dan hemat. Tidak perlu mengeluarkan uang Rp3000 sampai Rp5000 untuk membeli koran kalau hanya ingin mengetahui berita terbaru. Media online itu menyediakan berita-berita yang jauh lebih baru daripada koran. Tetapi dibalik keunggulannya itulah kelemahannya. Ketika sebuah berita berusaha disampaikan se-singkat, padat, tepat, dan cepat-nya, maka keseluruhan berita tidak bisa disampaikan. Banyak hal yang dihilangkan menjadi resume dari si penulisnya dan terkadang peristiwa yang samar buntut dan kepalanya diberitakan dengan alasan segera.
Sekarang tergantung kepada pembacanya. Apakah akan menerima dengan mulut lebar doktrin yang diberikan oleh media kemudian menelannya bulat-bulat -syukur-syukur tidak meracau sok tahu- atau menerimanya dengan tangan terbuka kemudian memilah-milah mana yang harus dikunyah. Semua terserah kita sebagai manusia yang dikaruniai akal.
No comments:
Post a Comment