Tengah malam,
saat itu saya sedang berada di ruang tunggu bandara dengan kaki yang diluruskan
di atas kursi panjang dan tas yang menjadi bantal. Saya sempat berpikir kalau
saya akan pulang. Tapi tidak. Kali ini saya akan terbang semakin jauh dari
rumah dan membuat saya semakin rindu untuk pulang. Kerinduan ini jauh lebih
unggul dibandingkan kerinduan untuk bertemu gadis yang disuka.
Ada sisi
kenikmatan tersendiri ketika saya hanya bisa pulang setahun sekali. Kenikmatan
dari kerinduan yang memuncak yang tidak akan bisa ditemukan kalau saya bisa
pulang setiap hari. Rasa rindu karena jarang bertemu. Rasa rindu yang membuat
sendu. Begitu kerinduan itu sanggup terlampiaskan, setiap hal yang terjadi akan
menjadi meriah. Hal biasapun akan terasa mewah. Senyum, perhatian, tawa, dan
canda yang tak biasa ada menjadi ada.
Pulang ada karena ada rumah. Walaupun rumah itu hanya berisi satu orang atau dua atau tidak ada seorangpun. Selalu ada yang membuat kita rindu untuk pulang. Kalau rumah sudah tidak berisi lagi, maka yang akan kita temukan hanyalah memori. Hal yang sangat menyedihkan ketika kerinduan hanya bisa terobati oleh memori. Maka banyak-banyak bersyukurlah kalau rumah kita masih berisi satu orang atau dua atau lengkap barangkali.
membuka blogmu, rasanya bau kamar kosanmu.
ReplyDelete