Wednesday, November 30, 2011

Home: bigger plan than aeroplane



Sudah 3 kali lebaran haji saya selalu di kampung orang. Dan rasanya benar-benar tidak enak. Tidak ada daging yang bisa disantap. Malam takbirannya juga anyep. Tidak seperti di kampung yang takbirannya selalu meriah. Takbiran terakhir di parapat, warga disuruh keliling kota sambil megang obor. Seru! Kota besar memang kalah jauh kalau soal perayaan takbiran. 
Sayapun berniat untuk berlebaran haji di kampung halaman. Rindu juga dengan masakan nyonya besar yang tidak ada tandingan enaknya. Teman-teman saya juga sudah pulang ke daerahnya masing-masing. Dan saya sudah mulai menetap di pasar minggu yang sangat saya hindari selama ini. Benar-benar tidak ada pekerjaan itu benar-benar membosankan. Mulailah saya browsing harga tiket pesawat. 
Seperti biasa, perlu mengorek tabungan dalam-dalam kalau ingin naik pesawat. Sekitar 600an ribu. Saya yang semua sumber pendapatannya sedang anjlok tentu merasa sangat sayang mengeluarkan uang segitu banyak hanya untuk perjalanan selama 2 jam. Sampai di Medan juga saya bingung mau ngapain lama-lama karena semua teman lagi sibuk-sibuknya kuliah. Tercetuslah ide untuk sekalian berkeliling sumatera. Sekalian membuang waktu menganggur beberapa hari. Tetapi karena waktunya sudah mepet dengan lebaran haji, dengan berat hati saya putuskan lebaran haji di kampung orang lagi.

Bagi saya, yang paling menentukan hematnya suatu perjalanan adalah rencana. Rencana yang matang untuk memaksimalkan fungsi waktu dan dana yang ada. yak, saya butuh sebuah rencana. Target utama saya sebenarnya adalah bukit tinggi. Dengar-dengar kotanya tenang, dingin, ramai, dan makanan enak. Tapi kalau dari jakarta langsung ke bukit tinggi perlu waktu sekitar 30an jam. Berlama-lama di dalam bis adalah hal pertama yang saya hindari.
Palembang masuk ke dalam list. Kebetulan pembukaan sea games ada disana dan saya sangat ingin melihat jembatan Ampera yang tersohor itu beserta sungai Musi yang kesohorannya sama. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan pembukaan sea games karena dengar-dengar tiket masuknya tidak terjangkau kantong orang-orang seperti saya. Pembukaan sea games cuma alasan. Waktu saya bilang ke teman saya di MAN dulu, azlia dan ricky, kalau saya mau kesana, mereka antusias sekali sepertinya. Efek tidak pernah dikunjungin teman lama begini lah.
Menurut kitab suci para traveler, Lonely Planet, dari lampung ke palembang ada kereta yang berangkat  pagi dan malam. Pagi yang berangkat adalah kereta ekonomi, sedangkat pada malam hari jatahnya kereta bisnis. Harga tiket kelas ekonomi adalah Rp45.000 dan kereta bisnis Rp65.000. Dengan begini lampung masuk ke dalam list.
Saya berencana berangkat dari Jakarta tanggal 7 November, H+1 lebaran. Saya ingin cepat-cepat kabur dari pasar minggu. Di rumah kakak saya ini benar-benar terasa penganggurannya. Kalau di kosan masih enak. Selalu ada yang bisa dikerjakan entah itu bersih-bersih, menyuci, atau sebaliknya, berantakin kamar. Kalau berangkat tanggal 7 malam, kemungkinan sampai Lampung tanggal 8 pagi. Dilanjutkan kereta api malam, berarti sampai Palembang tanggal 9 pagi. Hal kedua yang saya hindari adalah sampai di tujuan malam hari karena kemampuan eksplorasi jadi terasa turun satu tingkat.
Pertimbangan satu lagi. Kalau kita menumpang di tempat teman yang notabenenya dia sudah lama menetap di tempat itu, biasa-biasanya orangnya sudah malas jalan kemana-mana. Kalau ditinggal jalan sendiri tidak enak hati rasanya. Target saya adalah pembukaan Sea Games tanggal 11 Nopember, ini hanya alasan, tapi teman saya yang di palembang memaksa. Kalau saya sampai di Palembang tanggal 9 pagi. Kemungkinan besar tanggal 9 dan 10 bakalan jadi idle days.
Saya mulai berpikir keras bagaimana caranya berangkat dari Jakarta tanggal 7, tetapi sampai di Palembang tanggal 10. Jawabannya ada di Lampung dan yang saya temukan adalah pulau Sebesi. Orang-orang yang ingin mendaki gunung Krakatau mayoritas singgah di pulau ini. Rutenya dari pelabuhan Bakauheni ke Kalianda terlebih dahulu lalu ke pelabuhan Canti menggunakan angkot. Kemudian menyeberang ke sebesi menggunakan kapal rakyat. Sebesi in the list.
Kapal ke pulau sebesi hanya ada sekali sehari, yaitu pukul 13.00. Dan kapal dari sebesi ke canti cuma ada sekali juga, pukul 07.00. Kalau dari lampung lanjut ke palembang menggunakan kereta, berarti kereta pagi sudah pasti tidak terkejar. Jadi rencanya saya berangkat dengan kereta malam. Dengan waktu menyeberang dengan kapal hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam, saya mulai terpikir apa yang harus saya lakukan di Lampung dari sekitar pukul 08.30 sampai 21.00. Saya sudah buat janji dengan Dharma. Sekalian mengantarkan buku pesanannya. Setelah itu tidak tahu mau kemana. Cari-cari tempat dan saya temukan adalah pantai pasir putih. Pantai pasir putih sebagai cadangan saja karena saya sudah bilang ke si Ketua buat ngajakin jalan-jalan kalau sudah sampai disana.
Capek juga kalau dijabarin satu persatu rencananya. Intinya, saya berencanya berangkat dari Lampung menuju Palembang dengan kereta malam tanggal 9 Nopember. Sampai di Palembang tanggal 10 pagi. Karena target di Palembang hanya jembatan Ampera, sungai Musi, dan kawasan Jakabaring, semua ini berdekatan, sepertinya waktu 2 hari cukuplah. Perkiraan sampai di Bukit Tinggi kalau tidak tanggal 11 ya tanggal 12 lalu menginap satu malam. Jam gadang, ngarai sianok, goa jepang, benteng fort de kock, jembatan limpapeh, pasar atas, pasar bawah, dan danau maninjau adalah target perjalanan. Setelah itu besoknya langsung berangkat menuju parapat buat mengurus berkas-berkas yang belum pasti dipakai atau tidak.

Post ini sudah lama saya buat, sebelum-sebelum lebaran haji la. Bukan bermaksud mengikuti saran si Dharma apalagi Inten yang minta dibuatin field report-nya. Dan bukan bermaksud menyaingi dan ikut-ikutan field report-nya Sanda atau Izati tentang Bali. Tapi memang post ini sudah lama membeku menjadi draft. Dulu saya berpikir beberapa kali buat mengklik tombol "PUBLISH POST" karena takut rencana tinggal rencana. Tapi sekarang rencana bertransformasi menjadi fakta, walaupun semua fakta tidak sesuai rencana.

2 comments:

  1. Ane baru baca sebagian, kayak si Andrea Belitong coy, namun saya malas melanjutkan ntar ane baca lagi soalnya kayaknya seru. Oya bikin buku aja ente siapa tahu jadi penulis populer kan bisa kaya

    ReplyDelete
  2. sangat setuju dengan kalimat terakhir nya Hizbur. Bikin buku gih! *ngiri dah. haha

    ReplyDelete

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.