Bekerja tanpa mendapatkan gaji itu sangat tidak mengenakkan. Nasib ini lebih buruk dari para buruh yang berunjuk rasa pada tanggal 1 Mei. Sebenarnya saya mendapatkan gaji, tapi rasanya lebih tepat kalau dibilang upah. Upah yang hanya sekitar setengah dari UMR itu dirapel dalam beberapa bulan supaya terlihat banyak. Beberapa bulan inilah yang tidak pasti berapa lama. Sampai sekarang saya sudah menjalani bulan ketiga bekerja dan rekening BRI milik saya belum terisi-terisi juga.
Tentu menjadi pertanyaan kenapa saya masih mau bekerja dengan banyak ketidakjelasan yang jelas-jelas terlihat. Hal yang membuat saya bertahan dengan semua kesulitan ini, mungkin teman-teman saya juga, adalah sebuah janji. Janji dari pemerintah bahwa secepatnya akan dicetak sebuah SK CPNS dengan nama saya di dalamnya. Dan lagi-lagi kata "secepatnya" disini tidak cukup untuk menjelaskan waktu yang konkret.
Kekesalan tentu ada. Keinginan untuk memberontak juga ada dan lebih besar. Tetapi saya terjebak di sebuah sistem yang diciptakan dengan sengaja sehingga orang-orang yang berada di strata yang rendah tidak dapat melakukan perlawanan karena belum cukup memiliki kekuasaan dan kekuatan. Akhirnya apa yang akan saya lakukan adalah menerima. Percaya sajalah kalau pemerintah itu bijaksana.
Bulan februari saya pergi ke Tegal, sebuah kabupaten di Jawa Tengah dan berada di dekat-dekat kaki gunung Slamet. Saat itu saya ditawari mengajar SD di sebuah kampung antah berantah. Saya yang sedang menganggur dengan semangat langsung berangkat kesana. Walaupun sampai disana saya malahan dilarang untuk mengajar oleh ayah teman saya dengan alasan yang sebenarnya ingin saya tentang, tetapi saya menghormati dan tidak mau menentang orang tua.
Ayah teman saya itu mengatakan bahwa menjadi guru di daerah pelosok itu tidak enak. Kalau masih berstatus honorer, gajinya sangat kecil. Hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Kalau tidak dibarengi dengan iktikad baik, sangat jarang ada yang mau mengajar.
Saya sempat berpikir, barangkali karena standar hidup di daerah pelosok yang rendah, sehingga pendapatan yang kecil rasa-rasanya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi setelah saya merasakan keadaan saya sekarang ini, saya jadi tersadar apa sebenarnya yang membuat mereka tetap bertahan menjadi guru honorer selama bertahun-tahun dan akut. Mereka rela hidup pas-pasan atau memiliki pekerjaan lain untuk menutupi kekurangan demi sebuah jaminan bagi keluarganya. Harapan mereka adalah kebijaksanaan dari pemerintah bahwa suatu hari nanti, mereka akan diangkat derajatnya dan status honorer dihilangkan.
Mungkin kondisi seperti ini jugalah yang
dirasakan oleh pegawai-pegawai honorer bergaji rendah lainnya. Setelah
bertahun-tahun bergantung pada harapan dan lelah menunggu kemudian
mereka akan berunjuk rasa menuntut diangkat menjadi pegawai negeri.
Sekeras apapun mereka berteriak, pengambilan keputusan tetap saja berada
di tangan penguasa. Penguasa juga mengerti kalau mencari pekerjaan di
Indonesia itu sangat susah. Jadi kurang berguna berteriak kencang-kencang atau menghancurkan benda yang ada di sekitar. Keputusan
ada di tangan mereka yang syukur-syukur tergerak hatinya.
sedih banget ya kita digantung terus T_T
ReplyDeletetapi kayaknya sinaga yang itu gak suka gantung2 orang. #eeeaaaa
ReplyDelete