Thursday, January 5, 2012

Enemy Radio

Sudah lama sekali rasanya saya tidak mendengarkan radio. Masa-masa remaja dulu sewaktu saya masih memakai putih abu-abu, radio satu-satunya hiburan. Bukan karena tidak ada televisi, tetapi karena saya sering pulang terlalu larut. Terlalu melelahkan kalau harus menonton televisi. Lebih santai mendengarkan radio sambil melakukan pekerjaan lain di kamar saya yang selalu berantakan dan tidak beraturan karena buku, kertas, pakaian berserakan dimana-mana. Lalu saya akan terlelap dengan radio terus menyala sampai pagi. Itu sudah menjadi kebiasaan.
Saya mulai berhenti mendengarkan radio sejak hati saya menolak arus mainstream radio. Saya ingat sewaktu semester-semester awal kuliah, saya masih memiliki radio di kamar yang dinyalakan hanya setiap hari minggu jam 2 siang untuk mendengarkan alternative zone di global radio atau dinyalakan untuk memutar kaset Mocca album friends sebagai pengantar tidur kalau sedang mengalami gangguan tidur. Selain dari itu jarang sekali dinyalakan karena radio-radio menyajikan hiburan yang monoton. Mereka takut menjadi berbeda karena takut tidak laku.
Sekarang saya mulai mendengarkan radio lagi. Radio online tepatnya yang memerlukan koneksi internet agak cepat. Terima kasih kepada kemajuan teknologi dan arus globalisasi, saya jadi bisa mendengarkan NME radio. Saya biasanya hanya membaca majalahnya, itupun versi digital. Kalau saja radio-radio lokal, televisi juga, memutar single-single seperti di playlist NME radio, barangkali kondisi hiburan tidak akan separah sekarang ini yang dipenuhi oleh tema romantis dan patah hati. Masih banyak objek lain yang harusnya lebih diperhatikan. But it's always about money and popularity.


No comments:

Post a Comment

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.