Tuesday, January 24, 2012

Waiting for Superman


Film dokumenter ini menyorot kondisi pendidikan di Amerika yang ternyata tidak seperti bayangan saya selama ini. Saya berpikir kalau semua penduduk Amerika itu mendapatkan pendidikan yang cukup karena pendapatan perkapita negara tersebut yang lebih dari sepuluh kali pendapatan perkapita Indonesia. Dengan pendapatan yang jauh lebih besar, dibandingkan dengan penduduk Indonesia, tentu masalah pendidikan bukan menjadi masalah bagi mereka. Tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian saya, yaitu biaya pendidikan di Amerika yang ternyata berkali-kali lipat juga mahalnya dibandingkan di Indonesia.
Hal yang menjadi pusat perhatian dari film ini adalah bagaimana memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di Amerika karena banyak public school yang hanya menjadi persinggahan sementara sebelum anak-anak itu akhirnya di-drop out. Sebelumnya ada dua jenis sekolah di Amerika sana, yang pertama adalah public school, disebut sekolah negeri kalau di Indonesia, dan kedua adalah private school yang mirip seperti sekolah swasta. Bagi keluarga yang mampu menyekolahkan anaknya di private school tentu tidak akan ada masalah dengan kualitas yang diberikan oleh sekolah tersebut. Tetapi keluarga yang berpenghasilan rendah tentu tidak sanggup, padahal mereka dan anaknya sangat ingin memperoleh pendidikan yang berkualitas. Ada beberapa public school yang memiliki kualitas di atas rata-rata, tetapi kursi yang tersedia sangat sedikit. Disinilah mereka yang kurang mampu mempertaruhkan masa depan anaknya pada keberuntungan.
Penelitian dilakukan dan ada beberapa penyebab semakin menurunnya kualitas pendidikan di public school, sementara biaya pendidikan terus meningkat. Lingkungan yang tidak baik menjadi kambing hitam pertama. Lingkungan memberi pengaruh yang besar terhadap kualitas public school di lingkungan itu. Tetapi itu anggapan zaman dulu, setelah diteliti lebih dalam penyebab lingkungan yang buruk adalah karena sekolah itu sendiri. Sekolah-sekolah menjadi drop-out factories. Anak-anak menjadi pengangguran, tidak ada kegiatan, sehingga mereka mulai bertindak kriminal dan semakin memperburuk keadaan lingkungan.
Kebanyakan public school gagal karena kualitas pendidiknya yang bisa dibilang payah. Guru-guru di public school memiliki sejenis antibody yang disebut tenure. Ini adalah kebijakan birokrasi yang menjadikan guru-guru di public school kebal terhadap pemecatan, sama seperti guru-guru di sekolah negeri di Indonesia yang berstatus PNS. Untuk memperoleh tenure ini juga sangat mudah. Guru-guru hanya perlu mengajar kurang lebih selama dua tahun. Setelah itu mereka otomatis mendapat tenure. Hal ini menyebabkan mereka seenaknya saja mau mengajar atau tidak karena gaji akan tetap masuk ke tabungan.
Guru-guru di Amerika berlindung dibalik serikat guru, di dalam film disebutkan NEA dan AFT. Serikat guru inilah yang bisa dibilang membela hak-hak guru ketika dianggap terjadi pertentangan, seperti ketika Michelle Rhee, chancellor of the Washington, D.C. public schools, mengatakan akan menutup sekolah-sekolah yang kurang efektif dan memecat guru-guru yang payah. Perlu diketahui juga, serikat guru menyumbang dana yang tidak sedikit bagi dua partai besar di Amerika, Republican Party dan Democratic Party. Jadi ada simbiosis mutualisme yang terjadi di dunia politik yang menyebabkan masalah tenure sulit dibicarakan di parlemen.
Akhir film ini adalah sebuah undian yang dramatis. Public school yang reputasinya baik biasanya memiliki pendaftar yang melebihi kuota kursi yang mereka punya. Maka dibuat sebuah peraturan yang mewajibkan sekolah-sekolah membuat sebuah undian sebagai bentuk dari tes masuk. Para pendaftar dipaksa beradu keberuntungannya pada putaran bola, cabutan kertas, atau komputer yang memilih secara acak.  Mereka yang beruntunglah yang dapat bersekolah. Mereka yang tidak dipanggil namanya hanya bisa tertunduk lesu, menangis, atau berpura-pura tersenyum.

No comments:

Post a Comment

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.