Kebuntuan ini mulai saya sadari ketika saya berusaha membuat deskripsi suku batak dan danau toba ke dalam 5 kalimat. Singkat cerita, saya memiliki proyek (obsesi) kecil-kecilan tentang souvenir berkualitas premium di Parapat, Danau Toba. Produk utamanya adalah kaos, sedangkan souvenir lainnya sebagai peramai saja. Melalui produk kaos ini saya tidak hanya ingin menjual barang, tetapi juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui label kertas yang tergantung di kaos. Saya ingin memberikan informasi bagi pembeli tentang suku batak dan danau toba melalui tulisan di label kertas tersebut. Target saya adalah 5 kalimat deskriptif yang menarik, informatif, baku, dan tentunya bagus, menurut saya.
Salah satu contoh adalah gambar berikut ini. Akhirnya saya menyerah membentuk kalimat, saya sudah menghapus berkali-kali, dan hanya membuat poin-poin yang kemudian akan saya kembangkan menjadi kalimat. Tetapi rangkaian kalimat sesuai dengan kriteria yang saya inginkan tidak terbentuk juga. Sudah 2 minggu sejak permasalahan ini muncul dan permasalahan yang lebih besar adalah kaos sudah siap dipasarkan, tetapi saya tidak akan memasarkan sampai label ini jadi.
Baiklah, kemampuan yang saya rasa meningkat justru adalah kemampuan saya dalam mendesain. Peningkatan itu sebenarnya dikarenakan jam terbang di pekerjaan, syukurnya kantor memberikan kebebasan selama masih dalam batas wajar dan mulai berani keluar dari zona nyaman atau kebiasaan.
Kemampuan saya dalam menulis berkebalikan dengan desain. Dengan demikian langsung dapat ditarik kesimpulan bahwa jam terbang saya menulis kalah dengan desain. Tetapi bukan demikian, menulis dalam pekerjaan (kantor pemerintahan) jauh lebih mudah dikarenakan tidak memerlukan kemampuan yang mumpuni. Kreatifitas, dapat dikatakan, dipelukan secukupnya saja karena sudah terdapat format tulisan yang harus diikuti. Menulis dalam pekerjaan juga tidak memperhatikan ketertarikan pembaca. Tujuan utamanya hanyalah menyampaikan informasi sesuai dengan EYD dan selera atasan, titik. Jadi jangan heran kalau jarang sekali ditemukan seseorang yang memiliki hobi membaca laporan.
Jika kondisi minat baca di Indonesia dibilang memprihatinkan, maka minat baca saya bisa dibilang sama memprihatinkannya. Jika saja membaca caption instagram masuk hitungan, mungkin saya dan penduduk Indonesia lainnya tidak akan dicap memprihatinkan. Tetapi memang seperti pepatah, entah dari mana, mengatakan, "visual speaks louder." Manusia lebih tertarik melihat gambar daripada membaca tulisan yang panjang karena, mungkin, otak manusia lebih mudah dan cepat menerjemahkan gambar daripada tulisan. Instagram yang sepertinya paham betul pepatah tersebut ditambah dengan strategi bisnis, maka saya, salah satu korbannya, menjadi lebih menyukai menggeser timeline yang tak berujung itu daripada membaca buku. Instragam disini menjadi kambing hitamnya!
Kesadaran itu semualah yang mendorong saya ingin berkomitmen untuk lebih rajin membaca dan menulis. Untung-untung rasa saya dalam menulis jadi lebih baik. Katanya kan rasa itu seperti pisau, semakin sering diasah akan semakin tajam. Semoga komitmen ini bukan hanya sekedar nama seperti komitmen atas hal-hal yang sebelumnya yang sering dilupakan begitu saja. Semoga.
Oh ya, deskripsi suku batak dan danau toba masih belum ketemu yang pas.
- d -

No comments:
Post a Comment