Tuesday, August 8, 2017

Cerita Singkat, Berita Besar



2017, singkat cerita, berita besarnya, saya sudah menikah. Alhamdulillah.


Beberapa teman tidak menyangka saya akan menikah, dan setelah menikah, beberapa teman melihat saya seperti belum menikah. Berbeda dengan istri saya, namanya Tulad Peni Kharisma, sebelum menikah saja sudah ada yang bertanya punya anak berapa. *hahahaha *siap-siap ditendang pas tidur

Rasanya tahun ini waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa sudah bulan Agustus. Laju waktu yang sudah berlalu memang terasa lebih cepat.

Januari 2017
Bulan januari merupakan yang paling berat tahun ini, pikiran saya terpecah antara skripsi dan persiapan pernikahan. Apalagi penguji skripsi saya adalah seorang profesor yang berkemampuan super, hanya dengan melihat judul di sampul skripsi saja sudah tahu apa isinya. Tetapi saya termasuk golongan yang beruntung karena pertanyaan tersulit yang diajukan adalah menyebutkan isi Nawacita. Saya hanya dapat menyebutkan satu poin dan dengan belas kasih sang profesor, kemudian saya hanya diminta menyebutkan isi Pancasila. Nasionalisme saya diuji dan tentu saja ujian skripsi saya diakhiri dengan gemilang.

Februari 2017
Februari tahun ini merupakan kesedihan. Saya harus berpisah dengan waktu luang yang berlimpah, berpisah dengan kontrakan yang penghuninya, katanya, gak berotak, berpisah dengan musik senam 1000 setiap hari jumat,dan berpisah dengan uang beasiswa.
Selanjutnya saya pindah ke Semarang. Kenapa Semarang? Karena teman-teman saya tidak banyak yang mau ke Semarang. Mereka lebih memilih Jogja. Saya juga awalnya ingin ke Jogja atau Bandung, tetapi dengan banyak pertimbangan saya akhirnya memilih Semarang. Dengan demikian dapat dipastikan sejak mengabdi pada negara tahun 2012, saya sudah berpindah kota sebanyak tiga kali, tidak termasuk Jakarta.

Maret 2017
11 Maret 2017, saya menikah dengan Tulad Peni Kharisma, seorang gadis desa. Ini bukan perumpamaan, rumahnya benar-benar di desa. Jendela kamar kami tepat menghadap sawah. Rasanya seperti tinggal di villa di Ubud saja. Setiap kali sawah tersebut dipanen maka saya dapat memastikan bahwa umur pernikahan kami pas dibagi tiga bulan karena tanggal pernikahan kami bertepatan dengan masa tanam.

Perbedaan budaya Batak dan Jawa yang sangat mencolok menyebabkan saya merasakan hal yang namanya "kaget budaya". Salah satu contoh misalnya: beberapa kali saya terjebak dalam kata-kata "hanya silaturahmi". Saya yang dibesarkan dalam budaya yang blak-blakan akan menerjemahkan "hanya silaturahmi" sebagai hanya silaturahmi. Ternyata makna "hanya silaturahmi" dapat bermakna lamaran atau semua keluarga berkumpul untuk membicarakan hal formal. Bagaimanapun dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung dan syukurlah orang batak pandai berimprovisasi.

April - Juli 2017 kebanyakan menganggur atau diisi dengan pekerjaan serabutan di kantor. Beginilah nasib pegawai titipan seperti saya. Lama-lama saya mau ganti profesi di KTP jadi Pegawai Nganggur dan Serabutan sajalah.

Tetapi satu hal yang perlu selalu diingat dan dijunjung adalah selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Saya dan Ny. Sinaga jadi memiliki banyak waktu dan tenaga untuk jalan-jalan. Kendalanya hanya satu, reformasi anggaran oleh Menteri Keuangan Rumah Tangga.




No comments:

Post a Comment

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.