Saturday, December 31, 2016

Satu-satunya di 2016

Postingan ini akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir di tahun 2016. Itupun kalau postingan berhasil diselesaikan.


Tahun 2016 rasanya tahun yang paling memalaskan, tapi sekaligus juga bersejarah. Kemalasan saya bisa dilihat dari jumlah postingan di blog ini. Saya menjadi korban dari kemajuan era digital dimana akses terhadap hal-hal yang menghibur dan menghabiskan waktu dengan sia-sia itu sangat banyak dan mudah. Lihat saja, saya lebih suka melihat instagram daripada membaca berita di kompas. Saya sering juga membuka kompas tapi terkadang hanya membaca judulnya saja, dan mencari-cari berita yang menarik untuk dibaca berlama-lama. Sedangkan ketika membuka instagram saya bisa tidak sadarkan diri sampai muncul sms berisi sisa kuota.
Tetapi instagram juga memberi saya banyak inspirasi dan informasi penting. Lebih dari setengah dari jumlah akun yang saya follow adalah akun-akun yang dapat menghibur Andre dari terlalu sering melihat foto-foto wanita. Oia, Andre adalah teman satu kontrakan saya yang rajin ke gereja, mencuci, dan berkomentar. Jadi, akun-akun yang saya follow kebanyakan adalah toko cd, toko buku, illustrator, traveler, komik strip, tukang sablon, dan beberapa teman yang-sebenarnya-malas-saya-follow-tetapi-segan-kalau-tidak-difolback.
Dengan berakhirnya tahun 2016, maka hanya kurang sebulan lagi agar saya genap dua tahun tinggal di Solo dan bersiap untuk berpindah kota lagi. Kota selanjutnya adalah ketidaktahuan, tidak tahu akan berpindah ke kota mana lagi.
Hidup di Solo itu santai, tenang, tanpa tekanan dan memang bakalan dirindukan. Bayangkan ketika orang-orang dengan tertib berhenti ketika lampu merah tanpa ada yang menerobos atau melanggar garis, walaupun ada, itupun sangat-sangat sedikit. Kota yang saya impikan untuk tinggal itu seperti ini, bukan lagi Jogja, apalagi Jakarta, apalagi Medan.
Semua hal di kota ini rasanya masih dalam tahap wajar. Fasilitas secukupnya, kemacetan masih wajar, cuaca panasnya juga, dan harga makanan apalagi. Dengan beberapa kriteria itu, maka saya berani mengatakan kota Solo merupakan kota paling layak huni. Belum lagi kegiatan yang berbasis hiburan masyarakat yang setiap bulan selalu ada. Mulai dari festival jenang sampai konser-konser band metal.
Di setengah jam sebelum berganti tahun, saya takut postingan ini kebablasan masuk ke 2017, selain karena rasa malas tadi dan rasa ngantuk juga. Tulisan yang ngalor-ngidul tanpa bentuk dan alur yang jelas ini akan saya posting dengan rasa malas yang besar.


Terima kasih 2016 yang bersejarah.

2 comments:

  1. ded, jogja juga gak ada yg nerobos lampu merah lho kecuali traveler2 luar jogja yg nyewa motor kayak kita dulu. :')

    mbak siapa itu di atas batu?

    ReplyDelete

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.