Friday, August 26, 2011

Hari ini, 23 Agustus 2011


Saya baru tidur sekitar pukul setengah 1. Bukan karena belajar buat kompre, tapi karena saya sedang menyiapkan list barang yang mau dipacking nanti sambil membuat afdrukan sablon. Kompre sesi 3 sudah tinggal beberapa jam lagi. Saya masih sempat-sempatnya menyiapkan sablonan. Tidak tahu la apa yang ada di otak ini.
Bangun jam setengah 4, lalu jalan ke ceger buat mencari makan sahur. Jalan sudah nyeret kayak zombie, males, dan ngantuk. Soal-soal TO 2 di tangan makin menambah rasa ngantuk saja. Selama ujian kompre saya hanya bermodal soal-soal TO 2. Rasanya sudah tidak sanggup lagi kalau harus baca-baca modul tebal.
Setelah perut terisi dan adzan subuh menandakan saya harus berhenti mengisi, konsentrasi saya terpecah. Sablon atau soal-soal TO 2. Akhirnya saya memilih menyablon sambil belajar. Karena kaos ini mesti jadi hari ini. Sedangkan waktu sudah benar-benar mepet. Packing barang-barang saja belum. Kalau belajar bisalah dicicil sedikit demi sedikit.
Semua berjalan lancar sampai saya masuk ruang ujian dan membaca soal ujian kompre hari ketiga. Ini soal ajib bener ya. Baru dibaca sedikit langsung meruntuhkan semangat untuk membaca yang berikutnya. Berhasil juga mengkhatamkan 130 soal, walaupun yang bolong lebih banyak dari yang terisi. Di depan pengawas sudah mulai koar-koar masalah waktu. Alhamdulillah semua yang bolong sudah terisi penuh. Terisi penuh dengan pilihan B, hahaha
Setelah ujian, saya kembali ke masa pra sejarah dimana uang belum ditemukan. Kaos Iron Maiden dibarter dengan novel Harry Potter. Uang tidak berlaku disini karena uang hanyalah pembentuk image untung atau rugi. Begini kita semua merasa diuntungkan.  Saya beruntung karena berhasil melepas kaos Iron Maiden yang sudah sangat lama mendiami lemari, tidak pernah dipakai karena saya bukan anak metal. You are what you wear, mate. Btw, thank you Rara “The Momo Geisha”.
Buru-buru cabut balik ke kosan. Saya harus packing barang-barang. List barang-barang yang harus dibawa sudah disiapin. Kerjaan tinggal mencari barangnya dimana. Si ochol menawarkan tumpangan, sekalian mau ngejarah bacaan katanya. Dan akhirnya dia balik dengan tas penuh buku pinjaman. Gak tau lah berapa buku yang dibawa ini orang.
Packing dilakukan dengan kilat. Waktu yang mepet membuat saya tidak sempat mandi. Biarlah yang penting tidak tecium bau. Jam satu kurang sekian saya berangkat ke travel, sebelumnya pamitan dulu dengan peghuni yang lain. Tenyata saya yang pertama angkat kaki. Tapi tenang saja, kita bakalan bertemu lagi. Yudisium atau kompre tahap kedua.
Bis jam 1 full-booked. Saya mendapat yang jam setengah 2 dengan kursi di sebelah supir. Baru berangkat saya sudah mulai mengantuk. Membosankan, tidak ada seorangpun yang bersuara. Akhirnya saya dengan pak supir mengobrol berdua. Cerita masa mudanya yang sudah merantau 30 tahun di Jakarta, menikah dengan istri beragama Buddha, kemacetan Jakarta, dan pekerjaannya sekarang yang saya bilang seperti beruang. Mengumpulkan uang dalam sehari untuk makan beberapa hari. Upah sehari bisa mencapai setengah juta, tetapi 3 hari kemudian dia libur bekerja. Begitulah kira-kira pekerjaan supir bis travel, sama seperti beruang.
Check in lancar, sekarang tinggal menunggu jam 5 dan itu satu setengah jam lagi. Menunggu memang membosankan. Apalagi ada kalimat di buku Frankenstein yang sedang saya baca yang sangat menggambarkan keadaan saat ini. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi pikiran manusia daripada ketenangan tanpa kesibukan dan ketidakpastian setelah perasaan dibebani peristiwa menyedihkan.
Pesawat yang ke medan on time juga, walaupun pesawat-pesawat sebelumnya pada delay. Itu prasangka awal, karena pesawat saya delay-nya setelah saya naik ke pesawat. Semakin kesal juga setelah melihat ternyata kursinya sangat rapat. Seperti kursi bis ekonomi jurusan blok m - bekasi. Perlu sedikit usaha kalau mau meluruskan kaki. Jadi tidak salah status saya waktu beli tiket dulu "di masa-masa puasa, maskapai penerbangan kapitalis semua". Ini buktinya.
Saya ingat betul waktu pesawat take off, yaitu waktu berbuka untuk daerah jakarta. Jadi saya berbuka puasa di udara sewaktu pesawat belum stabil karena masih dalam posisi menanjak. Lumayanlah berbuka dengan sunset. Saya tidak membawa bekal apa-apa karena tadi packing saja sangat buru-buru. Ini juga salah satu kesenangan saya terbang di sore hari. Kita merasa lebih tinggi dari matahari.
Singkatnya, setelah beberapa kali disenggol pramugari, saya mendarat di Medan dengan selamat. Tujuan pertama tentu saja acara buka bersama teman-teman MAN. Langsung menelpon saudara Tanzil ,yang entah sejak kapan nama belakangnya sudah berganti menjadi supertramp, untuk minta dijemput. Dan jemputan datang sekitar 15 menit kemudian.
Ternyata kemacetan di Medan sudah mulai menyaingi Jakarta. Tapi jangan samakan dengan kemacetan yang seperti di Jakarta. Kalau di Jakarta kemacetan disebabkan karena melimpahnya jumlah kendaraan, di Medan penyebabnya adalah orang-orangnya yang tidak sabaran, angkot yang berhenti sembarangan atau tukang becak yang berjalan sangat pelan. Kesabaran kita benar-benar diuji.
Sampai juga di tempat acara buka bersama, rumah Ricky, setelah tadi si Tanzil sempat menubruk mobil avanza dari belakang dan sambil berlalu saya melambaikan tangan ke yang punya mobil sambil bilang "maaaff pak". Sukur saja yang punya mobil tidak mau memperpanjang masalah.
Yang ikut buka bersama tidak seramai tahun lalu. Kebanyakan lagi PKL di luar Medan jadinya tidak bisa hadir. Saya langsung mencari makanan karena perut sudah sangat minta diisi. Menu tahun ini ada ayam bakar ternyata. Langsung saya hajar walaupun saya tidak ada bayar kolektifan. Saya terus makan sambil mengikuti run down acara yang saya tidak mengerti. Yang penting saya makan dan terus tertawa. Kerjaan kalau sudah ngumpul begini ya ketawa terus. 
Sekitar pukul setengah 10, kakak saya sudah mulai menteror. Acara buka bersama juga sudah kelar dan kami sudah siap-siap buat pulang. Setelah pamitan dengan ibu si Ricky yang sudah rela menyediakan makanan buat kami, kamipun pulang dengan hati gembira. Tujuan pertama adalah mengantar para wanita. Padahal saya berharap saya segera pulang karena badan sudah benar-benar lelah.  
Setengah 11 lewat selesai juga mengantar wanita-wanita ke rumahnya masing-masing. Tinggallah 4 orang lelaki, Sarep, Anca, Tanzil, dan seorang lelaki di kursi belakang yang sudah kelelahan dan ingin segera pulang. Tetapi ketika ditanya mau kemana dulu ini, saya dengan semangat langsung menjawab makan burger. Penyakit saya kalau sudah berkumpul dengan teman kumat lagi. Lupa sudah saya dengan rasa lelah.
Setelah berkeliling-keliling, akhirnya diputuskan buat makan sate padang. Sate padang di medan lebih nikmat. Tidak seperti di jakarta, mahal dan  tidak enak. Membuat saya jadi perhitungan kalau mau membelinya. Sambil mengobrol sana sini, melupakan waktu dan rasa lelah. Rasanya saya ingin muda selamanya, tapi itu melanggar kodrat manusia.
Jam sudah menunjukkan jam setengah 12. Akhirnya kami cabut pulang. Tetap saja saya diantar terakhir karena rumah saya dan rumah si Sarep hanya beda gang. Setelah menyinggung masalah si Miss Rip off yang membuat saya ingin masuk trauma center, saya sampai di rumah jam 12 kurang. Kakak saya sudah tidur sepertinya. Saya disambut keponakan yang segera senang karena buku sebelas patriot akhirnya sampai di tangannya. 
Saya masuk kamar dan persiapan untuk istirahat. Saya sudah memprediksi kakak saya akan mengomel waktu sahur nanti. Tapi tenang saja. Itu sudah menjadi hal biasa. Dia malahan akan terheran-heran kalau saya sampai di rumah cepat. Sambil berkata  atau lebih tepatnya menyindir "tumben cepet pulangnya" atau "tumben langsung pulang". ah, semua itu sudah biasa.

No comments:

Post a Comment

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.