Ada saat kondisi-kondisi tertentu dimana ada keinginan dari pikiran untuk mengungkapkan sesuatu hal tetapi sayangnya pikiran tidak mengenalnya. Hanya ada keinginan untuk mengungkapkan kekosongan, sembarangan, tak beraturan, membingungkan yang mungkin membuat pembaca mengernyitkan dahinya dilingkupi pertanyaan. Tapi siapa peduli dengan pembaca. Kalau peduli dengan pembaca maka yang diungkapkan akan menjadi sesuatu yang sangat komunikatif dan menyenangkan untuk dibaca diulang-ulang.
Lalu timbul pertanyaan “apakah tujuan sebuah tulisan adalah untuk dibaca?”
Lalu seseorang menjawab “eksistensi sebuah tulisan ada karena ada yang membaca. Kalau tidak ada yang membaca maka tulisan itu tidak ada”
“Lalu bagaimana korelasi antara tulisan dengan pembaca?”
“Kau harus mengibaratkan mereka seperti air dan hujan, kalau tidak ada air maka tidak ada hujan. Begitu juga jika tidak ada tulisan maka tidak ada pembaca.”
“Lalu bagaimana kalau dianalogikan sebaliknya?”
Seseorang itu tidak menjawab, mungkin merasa jengah atau salah menganalogikan, lalu dia meninggalkan pikiran. Pikiran lalu mencoba menghitung domba-domba imajiner untuk dapat tertidur. Tetapi hal itu adalah tindakan kuno bagi pikiran yang habis disuntik dengan kafein berlebih dan dibayangi rasa lapar yang menggemetarkan tangan. Hal-hal bergerak lebih cepat sekaligus lebih lambat. Lalu semuanya saling bertabrakan dan menghancurkan. Pikiran mengikuti dengan berlari kencang, menabrak, menghancurkan, lalu melompat ke dalam jurang. Akhirnya dia tertidur
No comments:
Post a Comment