Artikel ini rencananya akan dimasukin ke SUCXzine 5 bertema kemiskinan yang rencananya akan segera diterbitkan. Tapi rencana tinggal rencana. Zine kelima akhirnya ngambang, lebih tepatnya melayang. Sudah berbulan-bulan terbengkalai. Sampai sayapun lupa kapan saya buat artikel ini. Lupa diletakin di folder mana. Coba bongkar-bongkar di email dan ternyata ada.
Menghajar Kemiskinan, Menentang Teori
Kalau saya sebutkan sebuah nama, Muhammad Yunus, siapa yang kenal? Ada puluhan bahkan ratusan manusia yang diberi nama Muhammad Yunus. Salah satu Muhammad Yunus yang akan saya bahas adalah seorang Superhero tanpa kemampuan super yang tidak dapat dibandingkan dengan Superhero-Superhero ala DC atau Marvel.
Sosok Muhammad Yunus adalah pria kelahiran Bangladesh 28 Juni 1940. Integritasnya dalam bidang ekonomi berhasil membantu mengangkat derajat orang-orang miskin di Negaranya, Bangladesh. Beliau adalah seseorang yang berani memberontak melawan teori-teori perbankan tentang pemberian pinjaman hanya kepada mereka yang berkemampuan membayar.
Cerita bermula ketika terjadinya wabah kelaparan di Bangladesh pada tahun 1974. Beliau yang berlatarbelakangkan seorang dosen ekonomi di Universitas Chittagong mulai gelisah melihat wabah ini. Mengapa orang yang sudah bekerja sehari penuh, seminggu penuh, atau bahkan sebulan penuh masih kurang mampu mencukupi kebutuhan makanannya.
Pertanyaan beliau terjawab setelah beliau meninjau langsung ke lapangan. Hulu dari masalah adalah bank-bank komersil yang menolak memberi pinjaman kepada penduduk yang bisa digolongkan kurang mampu atau miskin. Penduduk miskin yang membutuhkan modal untuk usaha terpaksa meminjam langsung kepada rentenir yang sudah pasti dengan imbalan bunga yang tidak kecil, yaitu sekitar 10 persen. Kalau keadaan terus dipertahankan seperti ini tentu masyarakat miskin hanya akan berputar-putar di lingkaran kemiskinan. Untuk memenuhi kebutuhan super primer akan makanan saja masih kurang apalagi untuk kebutuhan lain.
Kegeramannya melihat hal tersebut dilawan dengan memberikan pinjaman langsung hanya kepada orang-orang miskin. Pada awalnya modal pinjaman hanya berasal dari uang pribadi beliau, yaitu US$17 untuk 42 orang miskin. Jumlah sedikit memang buat saat ini, tapi pada saat itu sangat membantu.
Titik terang sudah mulai terlihat. Masyarakat miskin bukanlah seorang pemalas seperti yang disuara-suarakan. Tanpa adanya ketersediaan modal bagaimana mereka dapat membuka usaha dan bekerja dikala lapangan pekerjaan sangat terbatas. Sedangkan meminjam modal dari rentenir sama saja dengan berjalan ke tiang gantungan.
Melanjutkan pemberontakannya terhadap teori-teori perbankan, Muhammad Yunus kemudian mendirikan Bank Grameen pada tahun 1976 yang memfokuskan pinjaman kepada orang-orang yang berada di lingkaran kemiskinan dan mereka yang tidak dapat memperoleh pinjaman dari bank-bank komersil. Keberhasilan Bank ini diluar dugaan teori perbankan. Pada akhir tahun 2006 Bank Grameen yang sudah melayani hampir setengah dari penduduk miskin di Bangladesh, menerima pengembalian sebesar 98,97% untuk kredit bulan november. Tentu ini merupakan suatu keberhasilan luar biasa dari sebuah bank anti komersil yang tulus berazaskan kepercayaan kepada masyarakat tanpa diselubungi oleh niat lain.
Sepertinya sudah menjadi dongeng turun temurun bahwasanya orang baik akan mendapatkan sesuatu yang baik sebagai imbalan. Muhammad Yunus memperoleh Nobel Perdamaian pada tahun 2006.
Bank yang semata-mata memandang profit sebagai tujuan tentu tidak dapat dibandingkan dengan Muhammad Yunus dan Bank Grameen-nya. Apalagi orang-orang yang memandang pangkat dan jabatan hanya sebagai media penambah uang di tabungan. Semoga saja kita bisa tersadar dan membuka mata bahwasanya materi itu bukan satu-satunya tujuan. Materi hanyalah fatamorgana yang membius kita untuk cenderung stagnan.
No comments:
Post a Comment