Ada banyak hal yang memuakkan dari Jakarta. Tapi yang menduduki peringkat pertama hal paling memuakkan adalah kemacetannya. Sampai-sampai rasanya ingin saya lempar semua mobil-mobil yang sedang mengantri di depan. Bayangkan saja, dari bintaro ke pasar minggu butuh waktu sampai tiga setengah jam. Emosi benar-benar meluap.
Ceritanya saya sedang bosan-bosannya di kosan dan butuh sedikit ketenangan. Tapi yang menumpang di kamar saya malah nambah 1, Raden Fachrur namanya. Kamar saya benar-benar jadi tempat penampungan. Penampungan barang dan orang. Keributanpun jadinya tidak mau berhenti. Saya yang sedang butuh ketenangan berinisiatif kabur ke pasar minggu.
Saya sudah sangat pengalaman menghadapi kemacetan. Salah satu triknya adalah hindari jam-jam sibuk yaitu jam berangkat kantor dan jam pulang kantor sekitar jam 4. Kalau sudah mendekati jam-jam ini saya biasanya menahan diri buat bepergian. Tapi kali ini saya dibutakan oleh libur yang berkepanjangan. Sehingga saya lupa kalau rabu bukanlah hari buat libur. Berangkatlah saya sehabis ashar.
Sampai di blok M masih biasa saja. Begitu sampai di blok S emosi benar-benar meluap. Ini kopaja jalannya sudah seperti orang yang sesak boker tapi mesti mengantri dulu sebelum masuk kamar mandi. Meliuk sana sini tidak mau berhenti. Biarpun jalannya cuma satu inchi satu inchi. Gas, rem, gas, rem benar-benar membuat emosi labil.
Tidak tahu sudah berapa tahun barulah sang kopaja bisa menyebrangi mampang. Macetnya ternyata sama saja. Bahkan lebih parah sepertinya. Saya yang keringatan lebih memilih untuk memejamkan mata. Tapi saya yang sangat mudah terjaga dengan suara-suara kecil bagaimana bisa tidur dengan kondisi seperti ini. Saya hanya bisa tidur-tidur ayam.
Maghrib sudah dari tadi. Langit sudah mulai gelap. Sang kopaja sekarang stuck di fly over yang biasa dilewati kalau dari mampang mau ke arah pancoran. Ternyata kemacetanpun menyimpan keindahan. Cahaya dari mobil-mobil yang menginjak rem karena terjebak kemacetan indah juga kalau dipandang pada malam hari. Warna merah dominan di malam yang sudah mulai gelap dan lampu jalan menjadi marjin dengan warna kuningnya. Posisi saya memang sangat pas. Kursi metro mini baris pertama dan berada di fly over yang sudah pasti lebih tinggi. Kalau saya ada kamera sudah saya abadikan momen ini, sayangnya tidak.
Saya jadi terpikir bagaimana mengatasi kemacetan di Jakarta. Ada isu-isu atau prediksi ahli yang mengatakan bahwa pada tahun 2014 Jakarta akan macet total. Bahkan kalau ingin keluar dari gang rumah harus mengantri panjang dahulu. Lalu apa selanjutnya kalau kemacetan total ini terjadi? Kita akan menjadi tua di jalan. Terjebak di dalam mobil yang tidak ada kamar mandinya. Semua itu membosankan.
Orang-orang Jakarta terutama yang bermobil sangat memuja-muja supaya pemerintah dapat memberikan solusi. Tapi dia sendiri tidak pernah berpikir minimal untuk mengurangi kemacetan dengan satu mobil. Kebiasaan dimanja memang sudah menempel pada diri manusia. Kalau kemacetan total terjadi, barulah orang-orang akan mulai menyalahkan, terutama menyalahkan pemerintah.
Saya jadi terpikir, biarkan saja kemacetan total terjadi. Kalau bisa kemacetan total ini dipercepat. Tidak perlu menghalang-halangi orang jakarta untuk membeli mobil. Biar mereka rasakan batunya nanti. Kalau sudah macet total, mobil-mobil sudah tidak bisa bergerak, tentu yang terjadi adalah orang-orang jakarta yang biasa bermobil akan mencari alternatif lain sebagai substitusi. Orang-orang yang biasanya mengharapkan orang lain untuk mengatasi masalah kemacetan ini akan mencari solusi sendiri untuk mengakalinya. Kemungkinan mereka akan memilih memakai sepeda atau berjalan kaki atau membeli pesawat kalau kaya.
Disinilah saat-saat mobil di jakarta mulai berkurang karena orang-orang yang biasa bermobil menjadi trauma dengan mobil. Bagaimana tidak trauma kalau sehabis pulang dari kantor mereka baru akan sampai di rumah pada dini hari. Semua terjadi karena kemacetan total sudah melanda Jakarta. Pada saat inilah transportasi massal yang nyaman disediakan. Orang-orang yang sudah trauma dengan mobil pribadi akan memilih kendaraan rakyat. Berkuranglah mobil di Jakarta dan kemacetannya juga.
NB: ini hanya teori. Teori tentang kemacetan yang kalau terjadi, kita tidak hanya akan tua di jalan, tetapi mati juga di jalan. Saya harap saya tidak sedang di Jakarta.
No comments:
Post a Comment