Tanggal 28 oktober selalu diperingati sebagai hari sumpah pemuda karena 83 tahun yang lalu di tanggal yang sama sebuah sumpah dibacakan oleh pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia. Mereka bersumpah akan selalu bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Indonesia.
Headline-headline di media sudah pasti seluruhnya mengenai sumpah para pemuda-pemudi ini. Apa lagi coba? Belakangan ini isu-isu yang menghebohkan sudah jarang. Terakhir kalau tidak salah masalah reshuffle dan ayu ting ting. Media formal tidak mungkin memuat headline ayu ting ting walaupun dia termasuk pemudi juga. Sedangkan masalah reshuffle sudah basi.
Headline salah satu media TV yang saya temukan adalah "Bangkit Pemuda Indonesia". Kata bangkit disini mengungkapkan seolah-olah pemuda Indonesia itu sedang jongkok atau baru bangun tidur dan sedang mengumpulkan nyawa. Menunggu perut kriuk kriuk barulah mau bergerak. Abstraknya pemuda Indonesia itu pemalas.
Tapi apakah pemuda Indonesia saat ini benar-benar belum bangkit? Jangan-jangan beginilah sebenarnya kebangkitan pemuda Indonesia itu. Siapa yang tahu. Tidak ada tolok ukur baku yang dapat digunakan untuk menentukan apakah pemuda Indonesia saat ini sedang jongkok atau sudah bangkit dari jongkoknya.
Lagipula bagaimana bentuk kebangkitan itu abstrak. Apakah pemuda Indonesia harus mengkudeta kepemimpinan golongan tua atau harus membuat Sumpah Pemuda II baru bisa dibilang kebangkitan. Setiap tahun disuruh bangkit berarti pekerjaan pemuda Indonesia adalah jongkok, bangkit, jongkok, bangkit. Bukannya setiap tanggal 20 mei kita selalu bangkit secara nasional.
No comments:
Post a Comment