Saturday, February 25, 2012

Kenikmatan di Bulan Februari


Cinta Tak Pernah Mati
Kalau melihat judul dan sampulnya, sudah tentu buku ini tidak akan saya beli. Melihatnya seperti melihat undangan pernikahan atau kado buat mereka yang menikah, cocok sekali. Tapi lihat daftar penulis yang terdapat di sampulnya. Dua jempol untuk penerbitnya!
Dari 17 penulis di dalamnya, hanya 3 orang yang pernah saya baca karyanya, Fyodor Dostoevsky, Leo Tolstoy, dan Mark Twain. Cukup melihat nama mereka bertiga, pandangan saya mengenai buku ini langsung bertolak belakang dengan judul dan sampulnya. Saya yakin isinya berbeda dan semakin membuat penasaran.
Buku ini pertama kali saya lihat di Toga Mas Jogja sewaktu ada diskon besar-besaran di awal tahun. Saya masih ingat sekali harganya Rp38.000. Tetapi buku ini tidak jadi saya beli karena finansial kurang mendukung. Saya sudah memegang buku John Steinbeck, Leo Tolstoy, dan satu buku lainnya. Kalau ditambah buku ini lagi, takutnya saya tidak bisa kembali ke Jakarta. Tetapi akhirnya buku ini saya temukan di Blok M, masih mulus dengan harga Rp20.000. Senang sekali rasanya.
Cinta tak pernah mati ternyata cerpen karya Honore de Balzac, ceritanya mengenai seorang tentara berstatus tahanan yang berhasil kabur ketika melintasi gurun pasir di sekitar sungai nil. Kemudian dia bertemu dengan seekor macan betina dan rasa takut yang awalnya muncul berubah menjadi kasih sayang karena sudah lama bersama. Balzac menyorot sisi psikologis dari tokoh ciptaannya dan pesan yang saya terima adalah hewan juga punya jiwa. Akhirnya cerpen ini berakhir tragis bercucuran air mata.
Semua cepen di dalamnya memang bertemakan cinta. Tetapi cinta dalam sudut pandang yang jauh lebih luas, sampai saya sendiri ragu menggolongkannya tema cinta atau tidak. Lihat saja cerpen Akutagawa yang menceritakan hubungan antara Buddha dan hambanya atau cerita mengenai bekas luka seorang penjual tiket karya Somerset Maugham.
Saya membutuhkan hari yang cukup lama untuk menyelesaikan membaca buku ini. Setiap cerita memiliki sudut pandang yang berbeda dan gaya bercerita penulisnya yang berbeda juga.Selesai membaca satu cerita suasana hati saya langsung labil, berubah-ubah tidak menentu. Karena itu membacanya seperti kredit motor, dicicil sedikit demi sedikit.
Beberapa cerita dapat membuat pembacanya tersenyum bahkan tertawa, seperti cerita O. Henry dan Maupassannt. Kalau tertarik dengan cerita bertemakan horror, silahkan baca Rudyard Kipling dan Edgar Allan Poe. Cerita lainnya dapat membuat dahi berkerut dan memaksa kita pelan-pelan mencernanya. Kalau membaca lagi maka kita akan diajak untuk merenung. Baca cerpen Leo Tolstoy, ini favorit saya, maka anda akan benar-benar murung. Mungkin sedikit kutipan akan mendukung.
"Ketika kami kaya raya, kami tidak pernah merasakan kedamaian: tak ada waktu untuk bercakap-cakap, merenung tentang jiwa kami, atau berdoa kepada Tuhan. Kami punya banyak kecemasan."
Saran saya kalau anda menemukan buku ini, konsumsi dan cerna perlahan-lahan. Kenikmatan dari pesan yang disampaikan pengarangnya akan terasa lebih....



My Bloody Valentine - Loveless
Bukan karena orang-orang merayakan valentine, maka saya memutar rekaman ini dengan intensitas yang lebih tinggi bulan ini, tapi karena saya memang sedang ingin. Saya kecanduan raungan gitar Kevin Shields. Pantas saja banyak orang yang memuja dan memuji Loveless, termasuk saya yang baru berumur 1 tahun 2 hari ketika album ini dirilis. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Lihat ekspresi wajah orang yang sedang mendengarkannya. Itu lebih jujur.
Album ini semakin melegenda karena dengar-dengar hampir membangkrutkan Creation Records. Alan McGee rela mengeluarkan dana ratusan ribu poundsterling untuk membiayai proses rekaman album ini selama 2 tahun. Walaupun penjualannya tidak bisa dibilang sukses kala itu, tapi Loveless sudah seperti berhala bagi pemuja shoegazing sekarang dan mungkin selamanya.
Track favorit saya tentu semuanya, tapi "when you sleep" lebih sering berputar-putar di kepala dan berhasil membuat saya tersenyum dengan mata sayu.
When I look at you. Oh, I dont know what I feel.



Wednesday, February 22, 2012

Demokrasi tanpa partai politik, bisa tidak?

Saya teringat sewaktu saya mengubek-ubek pasar kebayoran dan saya menemukan sebuah kaos bertuliskan "bisa tidak demokrasi tanpa partai politik?". Walaupun kaos itu tidak saya beli, tetapi kata-katanya benar-benar tidak bisa dilupakan. Apalagi kalau mengikuti berita kondisi politik di Indonesia sekarang ini. Terkadang saya terpikir kira-kira bisa tidak sebuah negara demokrasi tidak diperebutkan oleh partai-partai politik.
Tujuan dari didirikannya partai politik adalah untuk merebut kekuasaan politik di sebuah negara, walaupun mereka berkata mereka akan mewakili rakyat karena rasanya mustahil kalau ingin menerapkan demokrasi langsung di negara kita ini. Setelah mereka berhasil berkuasa, tujuan itu sedikit bergeser menjadi bagaimana mempertahankannya. Jadi jangan heran kalau kita melihat pemilu seperti sebuah perang internal. Penuh dengan strategi, mulai dari bagaimana caranya mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya sampai bagaimana menyiapkan serangan di kala fajar.
Menurut teori klasik Aristoteles, politik merupakan usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pengertian lainnya mengatakan, politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional dan nonkonstitusinal. Kalau dipersatukan menjadi politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional dan nonkonstitusional untuk mewujudkan kebaikan bersama. Kebaikan bersama tentu saja kebaikan bersama partai politiknya. Kalau mereka katakan demi kebaikan masyarakat, that's bullshit!
Pernah terpikir tidak kenapa ada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)? Ilmu sosial dan ilmu politik pada awalnya dapat berjalan berbarengan, tetapi sekarang saya merasa kedua ilmu itu bertentangan. Ilmu sosial fokus pada kepentingan masyarakat umum sedangkan ilmu politik lebih terfokus pada kepentingan sebuah kelompok atau golongan. Kebanyakan sekarang itu adanya politik berkedok sosial. Berkoar-koar mengenai kesejahteraan untuk rakyat, sembako murah, atau apalah yang lainnya.
Dia yang banyak uang, dia yang berkuasa. Rasa-rasanya semua bisa dibeli dengan uang. Kursi di parlemen saja bisa dijual. Kalau saya punya mesin waktu, bakalan saya lempar mereka ke zaman batu.

Wednesday, February 15, 2012

The more you ignore me, the closer i get

Hari ini tiba-tiba terjadi kehebohan di jejaring sosial. Siaran persidangan kasus wisma atlit yang diputar sepanjang hari masih kalah kehebohannya. Awalnya hanya beberapa orang, mereka menyebar link sebuah situs yang merilis jadwal tour Morrissey di Singapura dan Jakarta pada bulan Mei nanti, kemudian semakin ramai yang menyebar link situs ini dan beritapun menyebar kemana-mana.
Konser mantan vokalis The Smiths itu dijadwalkan di Jakarta tanggal 10 mei dan kata-katanya hanya tersedia 4700 tiket. Ribuan orang senang, ribuan orang siap membeli celengan, ribuan orang siap bernyanyi "The more you ignore me, the closer i get.You're wasting your time......."

Tuesday, February 14, 2012

Grammys 2012

Grammy Awards tahun lalu, album The Suburbs-nya Arcade Fire menang nominasi Album of The Year. Tahun sekarang, ada album 21-nya Adele. Sebuah kewajaran kalau Adele sampai mendapatkan enam awards. Dia benar-benar populer, terutama di kalangan mahasiswa -teman-teman saya kalau berkaraoke, Adele selalu masuk ke dalam list, sampai satu album penuh sepertinya. Saya tahu Adele dari mereka ini.- Berbeda kondisinya dengan Arcade Fire tahun lalu. Siapa yang memprediksi mereka bakalan menang. Lihat saja saingannya ada Katy Perry, Lady Gaga, Eminem, dan Lady Antebellum. The Suburbs dapat masuk ke dalam nominasi saja sudah merupakan kekagetan tersendiri.
Kalau disuruh memilih dari sekian banyak nominasi dan nomenee, saya akan benar-benar bingung. Bukan bingung karena memilih yang enak diantara yang enak-enak, tetapi karena terlalu sedikit yang benar-benar saya dengarkan masuk ke dalam nominasi. Kalau yang saya tahu, banyak lah. Zaman sekarang siapa yang tidak kenal Katy Perry atau Lady Gaga. Penjual es kelapa pinggir jalan mungkin juga tahu. Tergantung umur juga sebenarnya dan pergaulan. Radiohead, The Decemberists, Death Cab for Cutie, Fleet Foxes, Mumford and Sons, Cut Copy, Kings of Leon masuk nominanasi dan tidak ada satupun yang memperoleh award. Mereka memang payah masalah rebutan award, tapi siapa yang peduli.
Setelah baca-baca dan ketahuanlah produser album 21 adalah Jim Abyss. Pantas saja! Saya juga baru tahu di dalam 21 ada cover Lovesong dari The Cure. Lagu ini memang selalu menggoda.

Backsound while writing:
Fleet Foxes - White winter hymnal
The Cure - Lovesong
Mumford and Sons - The Cave

Tuesday, January 31, 2012

tiba-tiba sibuk

Menahan kantuk dengan kopi. Ini sudah gelas ketiga. Benar-benar sangat mujarab. Tetapi stamina otak sudah tidak mampu menyaingi. Saya masih ingat pesan guru biologi. Mie instan menstimulus otak dengan instan. Mata dan otak bertemu di ketidakselarasan. Berebutan, kejar-kejaran, baku hantam. Masih ada lima halaman lagi. Harus selesai hari ini.
< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.