Wednesday, August 29, 2012
Tuesday, August 14, 2012
Pikiran dan Rasa Lapar
Pikiran saya semakin dipenuhi makanan yang tidak (belum) bisa dimakan. Teman saya baru saja menagih traktiran di Nelayan. Tiba-tiba juga saya jadi rindu nasi goreng Pak Tiam, martabak mesir Salim, ikan Arsik buatan enyak, dan... stop stop stop!! Sebentar lagi saya akan naik ke pesawat.
Berbeda-beda itu indah kalau satu, seperti halnya pelangi.
Membingungkan memang kalau melihat manusia tindas menindas hanya karena
warna kulit yang sedikit berbeda atau saling mencaci karena berbeda agama atau
saling meludahi karena beda suku. Seharusnya kita hidup saling berdampingan dan
damai, tetapi kenyataannya berbeda. Kaum mayoritas merasa ekslusif dan
minoritas dikerdilkan.
Ketika perbedaan dan kesenjangan sanggup membutakan logika, maka setiap hal bisa dikambinghitamkan. Hal-hal sepele yang membesar atau isu yang tidak jelas asal-usulnya sering dijadikan sumber masalah. Padahal tanpa sadar, kita sendirilah sumber masalah karena sangat mudah terprovokasi.
Tidak ada yang salah dengan perbedaan. Hanya saja manusia dengan fanatismenya yang tinggi tidak ingin disamakan dengan yang lain. Alasan mengikuti ego inilah sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok. Kalau saja kelompok-kelompok manusia yang berbeda bisa hidup dengan tenggang rasa, rukun, dan damai, tentu akan menjadi indah. Seperti pelangi, satu dan warna-warni.
Ketika perbedaan dan kesenjangan sanggup membutakan logika, maka setiap hal bisa dikambinghitamkan. Hal-hal sepele yang membesar atau isu yang tidak jelas asal-usulnya sering dijadikan sumber masalah. Padahal tanpa sadar, kita sendirilah sumber masalah karena sangat mudah terprovokasi.
Tidak ada yang salah dengan perbedaan. Hanya saja manusia dengan fanatismenya yang tinggi tidak ingin disamakan dengan yang lain. Alasan mengikuti ego inilah sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok. Kalau saja kelompok-kelompok manusia yang berbeda bisa hidup dengan tenggang rasa, rukun, dan damai, tentu akan menjadi indah. Seperti pelangi, satu dan warna-warni.
No comments
Labels:
daylife,
sosial,
words
+ SHARE
Berbeda-beda itu indah kalau satu, seperti halnya pelangi.
Monday, July 30, 2012
Monday, July 16, 2012
Pulang berarti memiliki tempat yang disebut rumah
Tengah malam,
saat itu saya sedang berada di ruang tunggu bandara dengan kaki yang diluruskan
di atas kursi panjang dan tas yang menjadi bantal. Saya sempat berpikir kalau
saya akan pulang. Tapi tidak. Kali ini saya akan terbang semakin jauh dari
rumah dan membuat saya semakin rindu untuk pulang. Kerinduan ini jauh lebih
unggul dibandingkan kerinduan untuk bertemu gadis yang disuka.
Ada sisi
kenikmatan tersendiri ketika saya hanya bisa pulang setahun sekali. Kenikmatan
dari kerinduan yang memuncak yang tidak akan bisa ditemukan kalau saya bisa
pulang setiap hari. Rasa rindu karena jarang bertemu. Rasa rindu yang membuat
sendu. Begitu kerinduan itu sanggup terlampiaskan, setiap hal yang terjadi akan
menjadi meriah. Hal biasapun akan terasa mewah. Senyum, perhatian, tawa, dan
canda yang tak biasa ada menjadi ada.
Pulang ada karena ada rumah. Walaupun rumah itu hanya berisi satu orang atau dua atau tidak ada seorangpun. Selalu ada yang membuat kita rindu untuk pulang. Kalau rumah sudah tidak berisi lagi, maka yang akan kita temukan hanyalah memori. Hal yang sangat menyedihkan ketika kerinduan hanya bisa terobati oleh memori. Maka banyak-banyak bersyukurlah kalau rumah kita masih berisi satu orang atau dua atau lengkap barangkali.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.


