Saturday, April 28, 2012

Ayo Memancing!


Tuesday, April 24, 2012

Antidote for Bored



Ketika rasa jenuh sudah mencapai ubun-ubun, kepala ini benar-benar terasa panas dan penat. Berpikir semakin tidak jernih dan terkadang muncul pemikiran untuk melakukan hal-hal gila, inilah yang saya takutkan. Memikirkan apa yang akan saya lakukan untuk menghilangkan kejenuhan malahan mempercepat penumpukan kejenuhan atau bahkan menimbulkan kejenuhan baru. Komplikasi terjadi, semakin menumpuk, semakin jenuh, kepala semakin berat, saya siap meledak.

Harus keluar dari Jakarta. Satu hari saja sudah cukup. Jakarta sudah tidak ketulungan lagi sumpeknya. Tapi kemana? Itu misteri selanjutnya yang harus dipecahkan.

Okelah. Urusan kemana ini mudah mengatasinya. Masalah yang lebih kompleks lagi adalah teman seperjalanan. Buat saya yang tidak ahli dalam hal ajak-mengajak ini, mengajak orang lain adalah pekerjaan yang lebih berat dan sebuah dilema. Kalau mengajak orang lain saya merasa sedikit tidak enakan. Karena waktu dan, terutama, keuangan tiap orang itu kan berbeda-beda. Walaupun sebenarnya kondisi keuangan saya sedang krisis juga, tapi selalu ada alokasi untuk jalan-jalan. Risikonya ya saya harus puasa senin-jumat atau lebih. Tetapi lebih mengesalkan lagi kalau yang diajak malahan bertanya balik, "si A ikut gak?" atau dia mengajukan sebuah kondisi "aku ikut kalau dia ikut.". Ah, kepala saya semakin penat rasanya. Apa susahnya berkata "YA" atau "TIDAK". Yasudahlah, selamat tinggal.

Dan kalau saya ketahuan jalan sendiri, komentar teman-teman saya beragam dan sepertinya mereka melihat saya seperti anak seorang pejabat yang banyak uang. "tebel bener kantong ni orang" atau "abis ngepet dimana bang?", komentar mereka tidak jauh-jauh dari hal itu. Saya hanya bisa tersenyum. Mau dijawab "ya", takutnya jadi berbohong. Kalau dijawab "nggak", mereka tidak percaya. Lebih baik diam saja kalau begitu.

Karena sudah terbiasa jalan sendiri, saya ya santai-santai saja kalau tidak ada teman. Ini juga yang membuat saya tidak terlalu memaksa kalau mengajak orang. Kalau dia sudah berkata "tidak", ya sudah. Dan biasanya saya sudah menyerah kalau orang pertama sudah berkata "tidak". Ujung-ujungnya jalan sendiri.

Saya malahan merasa lebih nyaman kalau jalan sendiri. Kenapa? Karena saya tidak perlu capek-capek memikirkan orang lain, tidak perlu mendengarkan komentar dan pertimbangan ini itu, dan saya jadi lebih bebas juga. Terserah mau jalan kemana, caranya bagaimana terserah, mau jungkir balik atau jalannya nungging terserah kita sendiri. Enaknya itu. Tidak enaknya ya tidak ada teman buat foto-foto dan mengobrol. Tetapi justru itulah tantangannya. Bagaimana caranya supaya kita bisa mendapat teman mengobrol selama di perjalanan. Jadi rasanya benar juga kalimat yang sering dikutip orang-orang, "it's not about the destination, but the journey". Walaupun sebenarnya tanpa sebuah tujuan kita tidak akan merasakan sebuah petualangan.

Tuesday, April 17, 2012

secepatnya, nanti, atau kapan-kapanlah

Kenyang sudah saya mendengar kata menikah. Sepertinya obrolan orang-orang yang sudah bekerja tidak lagi tentang pacar-pacaran. Tetapi naik satu tingkat menjadi hal yang lebih berat, seperti menikah. Setidaknya pemikiran angkatan saya yang baru lulus tahun lalu dan sekarang sedang magang seperti itu. Bagaimana tidak. Kira-kira setahun lagi para pria-pria sudah sanggup memenuhi kebutuhannya dan untuk memberi makan anak istri sepertinya cukuplah. Kalau hidup sudah mapan, jadi apa lagi yang ditunggu?

Pemikiran itu sederhana sekali. Memang lebih enak memikirkan yang gampang-gampang. Tidak perlu banyak pertimbangan dan perhitungan ini itu. Tetapi karena kita terlalu sering berpikir yang gampang-gampang maka beberapa hal bisa menjadi sangat rumit. Begitu juga menikah disini. Tidak hanya kesiapan materi yang seharusnya kita lihat dan semua itu tidak semudah mengucapkan ijab qabul. Ah! Saya berbicara seperti seorang yang sudah ahli saja.

Saya sebenarnya ingin tertawa ketika terjebak di obrolan berat seperti itu. Tetapi demi menghormati norma-norma yang ada, ditahan sajalah. Walaupun akhirnya saya jadi ikut-ikutan meramaikan suasana. Tetapi lucu juga. Umur saya itu 21 tahun lebih beberapa bulan dan teman-teman saya juga tidak jauh beda. Tetapi obrolannya seperti perkumpulan orang-orang nyaris berkepala tiga yang sudah sangat risih karena tidak kawin-kawin.

Saya jadi merasa ada fase hidup yang saya lompati atau karena bergerak terlalu cepat, fase itu tidak sadar sudah dijalani. Fase apa itu? Sangat susah dijelaskan karena saya sendiri juga tidak tahu. Saya hanya merasa sedikit aneh saja. Ketika orang-orang seumuran yang lain masih kebingungan mengurusi skripsi, kami disini sudah jauh mengobrol masalah nikah-menikah.

Biarkan sajalah teman-teman saya ini menikah duluan. Toh nanti kalau mereka sudah menikah duluan terus melihat saya yang masih melajang berkeliaran kemana-mana, mereka jadi iri sendiri. Atau jangan-jangan saya yang jadi iri melihat mereka. Tidak tahulah. *hehehe

Saturday, March 31, 2012

SUCX zine #5 "akhirnya dirilis"


Dahaga hampir 2 tahun terpuaskan juga. Banyak lika-liku, kemalasan, bahkan terpikir untuk berhenti. Tetapi seperti orang yang kehausan, dahaga ini tidak akan hilang kalau tidak meminum air segar. Kami juga seperti itu, sekali memulai tidak ada kata berhenti. Paling tidak sampai materi-materi yang terpisah bersatu menjadi sebuah zine yang utuh dan siap untuk dikonsumsi. Walaupun membutuhkan waktu bertahun lamanya dan kami terlihat seperti sudah tak bernyawa.
Minggu lalu saya ke kampus. Selain untuk mengambil heater, saya rindu ngeteh di pagi hari, saya juga bertemu teman saya di plasma untuk ketok palu mengenai zine ini. Sepertinya ini bakalan volume terakhir. Rasanya sudah sangat berat kalau ingin dilanjutkan lagi. Saya memang bukan founding father-nya, saya masuk di tengah-tengah, tetapi melalui zine inilah saya mulai belajar menulis. Jadi rasanya sedih juga. Sebagai gantinya, ide untuk membuat fanzine yang baru muncul. Tidak tahu kapan.

download: http://www.mediafire.com/?gg5g7e64s7qlh3d

Ini mungkin edisi terakhir. Tetapi jangan menangis, kami akan muncul lagi.

Before Home: Sambutan Hangat di Lampung

09 Nopember 2011 



            Bangun (05.20)
Pada saat saya tersadar, tidak tahu pukul berapa saat itu, semua serba gelap. Setelah meraba-raba kasur saya berhasil mendapatkan hp, saya mengecek jam dan ternyata sudah pukul setengah 6. Tetapi semua masih terlalu gelap, aneh sekali. Saya berdiri dan coba mengingat-ingat posisi jendela. Jendela berhasil terbuka dan cahaya akhirnya masuk ke dalam kamar. Diluar sudah fajar, sudah mulai terang, tetapi matahari belum terbit.
            Sarapan Nasi Uduk
Selesai mandi, saya langsung membereskan barang-barang. Kapal ke canti hanya berangkat sekali dalam sehari. Tepatnya jam 7 pagi. Saya sudah siap-siap untuk berangkat dan di meja ruang tamu sudah tersedia nasi uduk dan segelas teh manis. Aduh nikmat sekali.
Mandi di rumah ini benar-benar tidak bisa santai. Akan saya jelaskan sedikit. Rumah ini sudah berdinding beton. Susunan batanya terlihat jelas di dalam rumah. Lantainya plesteran semen yang tidak rata, tetapi selalu terlihat mengkilap. Melihat ke langit-langit rumah, bambu yang bersilangan dan genteng merah yang tersusun rapi. Di kamar yang saya tiduri, langit-langit kamar ditutupi dengan sambungan-sambungan karung yang dijahit. Kebanyakan adalah bekas karung beras dengan merk yang beraneka ragam. Pencitraan sebuah asbes. Dan yang paling menarik buat saya adalah sedikitnya daun pintu di rumah ini. Tiga pintu yang langsung menghadap keluar berada di depan, samping, dan belakang, sedangkan pintu yang berada di dalam rumah hanya ada satu, SATU. Itupun pintu WC. WC dan kamar mandi berbeda, kamar mandi tidak ada pintunya. 
Bagaimana seseorang dapat mandi dengan tenang di dalam sebuah kamar mandi yang tidak ada pintunya. Maksud saya kamar mandi di rumah orang lain. Kalau di rumah sendiri tentu santai-santai saja. Walaupun saya seorang laki-laki, tetap saja ketakutan kalau-kalau ada orang yang tiba-tiba masuk itu ada. Bayangkan ketika sedang enak-enaknya mandi sambil berdendang, tiba-tiba seseorang yang tidak dikenal nyelonong masuk. Horor!

            Homestay GRATIS.
Sedikit terjadi konflik ketika saya akan pergi. Bapak yang punya rumah menolak ketika saya akan membayar uang penginapan. Katanya “Tidak usah. Bawa saja. Bapak ikhlas kok.” Saya melihat ke arah istrinya. Ibu itu hanya tersenyum-senyum. Saya sebenarnya senang, tetapi saya mengerti sedikitlah mengenai tata-krama. Si Bapak melanjutkan “Mas Dedi uda mau menginap di rumah kami, kami uda senang kok. Kalau misalnya dateng lagi, jangan lupa singgah kesini”. Saya harus menjawab apa. Bingung. Saya hanya bisa senyum-senyum saja akhirnya. Sayapun menyerah dan berangkat ke pelabuhan diantar anak laki-lakinya dengan motor. Perasaan saya campur aduk.




            Naik Kapal (07.20)
Sudah hampir pukul 7, tetapi belum ada tanda-tanda kapal akan berangkat tepat waktu. Orang-orang sedang sibuk memuat barang. Sekitar pukul setengah 8 kapal mulai bergerak meninggalkan pulau sebesi. Saya mengambil posisi duduk di buritan di sebelah pengemudinya, saya lebih senang menyebutnya pengemudi daripada nakhoda. Misteri mengenai pengemudi kapal ini akhirnya terpecahkan.
Saya cerita sedikit mengenai pegemudi kapal ini. Sewaktu menaiki kapal yang menuju ke pulau sebesi hari sebelumnya, saya bertanya-tanya, bagaimana cara pengemudinya melihat arah kapalnya. Lihat saja, kaki-kaki penumpang yang duduk di atap kapal menutupi kaca bagian depan kapal. Kalau pengemudinya berada di dek bawah, bagaimana dia bisa melihat? Saya benar-benar ingin tahu.
Sekarang saya tahu. Pengemudi kapal ini mengendalikan kapalnya dengan cara yang benar-benar bertentangan. Menaikturunkan kecepatan menggunakan tangan dan membelokkan arah kapal dengan kaki. Sebuah tali ditarik untuk menambah kecepatan kapal atau diulur kalau mau diperlambat dan sebuah besi yang diinjak dengan kaki menggantikan kemudi. Perlu diingat. Ini kapal tradisional, bukan mobil. Pengemudinya duduk tepat di sebelah saya di atap kapal. Dan saya belajar satu hal. Jangan menentang ombak, ikuti iramanya. 



            Dermaga Canti dan Angkot Biru (09.00)
Kapal berlabuh di dermaga Canti sekitar pukul 9. Tujuan saya selanjutnya adalah Bandar Lampung. Saya sudah membuat janji dengan ketua kelas saya, Dharma, untuk bertemu disana. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot biru menuju Kalianda. Hanya saya sendiri penumpangnya, duduk di depan di sebelah supir yang mulai curhat mengenai kondisi perangkotan disana. Katanya orang-orang sudah jarang sekali naik angkot. Sepeda motor ada dimana-mana sekarang. Angkot lebih banyak digunakan sebagai kurir barang.
Dia juga bercerita mengenai isu-isu terbaru saat ini mengenai anak gunung Krakatau yang mulai mengeluarkan asap. Media-media menyebutkan asap ini beracun. Wisatawan yang berkunjung menurun drastis. Dua bulan yang lalu, setiap minggu selalu ada rombongan yang berkunjung ke sebesi. Sekarang, sepi sekali.
            Kalianda (09.45)
Saya tiba di terminal kalianda. Berdasarkan info dari sopir angkot yang saya naiki, kalau mau ke Bandar lampung, menunggu bisnya di Fajar. “Kesana naik ojek biar gampang, kasih saja tiga ribu. Dekat kok. Disana banyak travel juga. Tapi mahal. Mending naik bis.”, katanya sambil menurunkan saya di terminal kalianda.

            Fajar (09.50)
            Bis Bukit Barisan (10.40)
Saya naik ojek sampai ke Fajar. Turun dari ojek, tanpa banyak tanya, saya langsung membayar Rp3000. Fajar itu sebuah pertigaan ternyata. Kendaraan-kendaraan dari Bakauheni melewati jalan ini kalau ingin ke Bandar Lampung. Mobil-mobil travel sudah banyak yang ngetem. Saya sudah beberapa kali ditawari dan selalu menolak.
Perlu sedikit saya jelaskan perbedaan mobil “travel” di Sumatra dan Jawa. Kalau di Sumatra mobil travelnya itu mobil pribadi semua. Platnya hitam. Kebanyakan adalah mobil-mobil keluarga seperti kijang kapsul, xenia, avanza, innova, sampai APV. Biasanya hanya diisi oleh 7 orang.  Jadi serasa naik mobil pribadi kalau di dalamnya. Nyaman memang, tapi mahal. Berbeda dengan di Jawa. Mobil travelnya sejenis bis-bis tanggung. Platnya kuning dan sudah ada perusahaan legalnya. Contohnya Cipaganti yang ke Bandung dan X-trans yang sering saya pakai ke bandara.
Sudah lebih dari setengah jam saya duduk di pertigaan ini. Tetapi bis ke Rajabasa belum muncul-muncul juga. Hari sudah semakin panas. Saya tadi sempat menunggu dengan seorang Ibu dan anak gadisnya. Tapi mereka menyerah dan naik travel. Saya tetap di pertigaan ini menunggu sebuah bis untuk muncul. Hampir satu jam dan sebuah bis besar muncul. Ada tulisan Rajabasa di kaca depannya. Saya angkat ransel, melambai-lambaikan tangan dan langsung naik ketika bisnya berhenti. Kondisi bisnya? Sebelas-dua belas dengan metro mini. Tapi saya sangat senang. Berarti inilah transportasi paling murah.

            Terminal Rajabasa Lampung (13.20)
            Rumah Dharma (13.50)
Dharma akan menjemput saya di terminal Rajabasa. Dia sangat antusias sepertinya waktu saya bilang akan ke Lampung. Tidak tahu dia antusias karena saya akan datang atau karena saya datang membawa sebuah barang yang sangat dia idam-idamkan. Barang apa itu? Rahasia.
Saya akhirnya bertemu dengan Dharma dan langsung meluncur ke rumahnya. Ibunya sangat ramah, baru sampai saya langsung disuruh makan. Sepertinya saya memang terlihat sedang kelaparan. Selesai makan, shalat, istirahat sebentar, saya langsung diajak untuk jalan. Sebelum ke Lampung saya memang sudah meminta untuk diajakin jalan-jalan kalau sudah sampai disana. Saya tidak menyangka seburu-buru ini. Saya baru saja merebahkan diri di kasur.

            Pantai Kelapa Rapet
Tujuan kami adalah pantai Kelapa Rapet yang kalau disingkat menjadi Klara, seperti nama wanita. Kami ditemani oleh dua orang teman si Dharma, Primbon dan Mr.X –sial, saya lupa nama lagi, kami semua sekampus di Bintaro. Perjalanan ke sana sangat jauh. Kami sudah lama keluar dari Bandar Lampung dan ini sudah kabupaten yang berbeda. Akhirnya kami mulai menyusuri jalanan aspal di pinggir pantai. Keren. Rasanya seperti melintas di jalur kereta lintas utara Jawa. Mirip-mirip seperti itulah.
Sampai di pantai Klara. Banyak pondok-pondok di pinggir pantainya. Kondisi pantainya sendiri biasa saja. Seperti kebanyakan pantai yang sudah sering dijamah manusia. Kami duduk di satu pondok, mengobrol, sambil berharap dapat melihat sunset. Tapi sepertinya sunset tidak akan terlihat dari pantai ini. Kecuali matahari terbenam jauh ke selatan.

            Stasiun Tanjung Karang
            Kereta Sriwijaya II (21.00)
Malam harinya saya sudah merencanakan untuk melanjutkan perjalanan ke Palembang menggunakan kereta. Jadwal keretanya pukul 21.00. Kembali dari pantai klara saya langsung mengantri tiket di Stasiun Tanjung Karang. Ternyata antriannya sangat panjang. Untuk menghemat waktu, saya mengantri tiket dan Dharma mengambil ransel saya di rumahnya. Saya merasa sedikit tidak enak karena tidak dapat berpamitan langsung dengan orang tuanya di rumah.
Tiket kereta sudah habis, tetapi saya berhasil mendapatkan tiket di gerbong tambahan. Awalnya saya bingung apa itu gerbong tambahan. Nanti setelah naik saya baru mengerti. Gerbong tambahan adalah gerbong ekonomi yang menempel di belakang gerbong bisnis dengan harga yang sama dengan bisnis. Kereta yang saya naiki adalah Sriwijaya II dan itu kereta bisnis dengan harga tiket Rp70.000. Kalau saja saya tahu tiket kereta ekonomi yang berangkat besok paginya hanya Rp10.000, tentu saya akan rela menggembel satu malam saja. Tapi semua sudah terlambat.
Setelah mendapatkan tiket, saya mendatangi Dharma yang sedang menunggu di parkiran. Ransel saya sudah dibawa, tetapi sepatu saya ketinggalan. Sepertinya saya memang harus kembali ke rumahnya. Kasihan ketua kelas saya ini harus mondar-mandir. Sampai di rumahnya, saya disuruh makan lagi. Saya tidak menolak, tetapi hanya sedikit segan. Jadinya ya makan sajalah. Sudah lama juga rasanya saya tidak makan yang berkualitas. Setelah berpamitan, kami harus kembali lagi ke stasiun Tanjung Karang untuk mengejar kereta jam Sembilan.
Di stasiun saya bertemu lagi dengan Primbon. Sebelum masuk ke dalam kereta dia malahan berusaha memberi saya sedikit pegangan uang. Dia memaksa, saya menolak. Semua orang di stasiun memperhatikan kami. Tapi maaf saja teman. Kalau wujudnya oleh-oleh, mungkin saya masih bisa terima. Uang harusnya menjadi benda yang paling kita hindari di dunia.  Saya juga sempat melihat Dharma memasukkan sesuatu ke dalam kantong belakang saya. Saya sempat berpikir kalau-kalau dia menyelipkan narkoba. Tapi sepertinya itu uang dari barang yang saya bawakan. Sambutan yang meriah dari Lampung. Saya naik ke kereta yang siap melaju ke Palembang pukul 21.00.
Total pengeluaran hari 3:
Rp15.000 (kapal ke Canti) + Rp5.000 (angkot ke Kalianda) + Rp3.000 (ojek ke Fajar) + Rp5.000 (Mizone) + Rp17.000 (Bis Bukit Barisan) + Rp3.000 (tahu dan arem-arem) + Rp10.000 (pondok pantai Klara) + Rp70.000 (Tiket kereta Sriwijaya II)
=Rp128.000
< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.