Monday, February 4, 2013

Tulisan Ngawur


Beberapa teman saya menyarankan untuk membuka akun twitter, beberapa yang lain menyuruh membeli HP android, dan kakak saya ingin mewariskan Blackberry-nya. Tanpa perlu pikir panjang saya menolak semua, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena hal-hal itu sudah saya pertimbangkan dari lama. Saya belum merasa perlu memikirkannya untuk kedua kali.

Jujur, saya menghindari segala bentuk kemudahan komunikasi tanpa bertatap muka, walaupun itu susah. Facebook, twitter, whatsapp, bbm, dan teman-temannya yang lain, bahkan sms dan telepon.  Saya menganggap kemudahan-kemudahan itu sebagai jebakan. Lewat sms atau telpon saja saya sudah sering tertipu dan menipu. Misalnya ketika menanyakan kabar kepada seseorang, berapa persentase jawaban tidak sehat, kurang sehat, atau sakit yang muncul? Jawaban itu hampir selalu sehat, sehat, sehat. Alhamdulillah. Walaupun terkadang kenyataannya mules, sakit kepala, atau kelaparan. Saya adalah bukti yang hampir selalu menjawab sehat ketika ditanya masalah kabar. 

Saya juga melihat orang-orang lebih berani berkomunikasi dan beragumentasi lewat dunia maya. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan dirinya seperti tidak ada rasa grogi dan malu. Kalaupun ada, rasa itu bisa ditahan di dalam kamar. Seperti yang saya lakukan melalui blog ini. Berceloteh mengenai hal-hal tidak penting. Hal yang bisa dibilang parah adalah ketika seseorang di kehidupan nyata yang cenderung introvert bisa menjadi sangat berisik di dunia maya. Sedangkan kebalikannya dianggap biasa saja. Lebih parah lagi kalau orang tersebut adalah anak kamar yang sangat jarang keluar. Di Jepang yang seperti ini disebut Hikikomori. Mereka biasanya memanfaatkan berbagai jejaring sosial untuk berkomunikasi. Dunia nyata dan maya sudah terbalik fungsinya.

Komunikasi lewat telepon masih lebih baik dibandingkan sms, saya hanya ingin (bisa) membandingkan dua ini saja. Melalui telepon feedback yang diharapkan dapat langsung diperoleh. Seseorang yang belum ahli dalam berimprovisasi akan memberikan feedback berupa respon alam bawah sadarnya yang lebih jujur. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk mengarang cerita. Berbeda dengan SMS. Feedback disampaikan sepenuhnya berasal dari kesadaran. Waktu bisa diulur-ulur untuk menciptakan improvisasi yang diharapkan indah. Respon itu menjadi tidak lagi jujur. Sesorang bisa saja terlihat antusias tetapi kenyataannya sinis.

Saya merasa tertipu  dengan itu semua. Sehingga saya lebih suka berkomunikasi face to face. Bahasa tubuh lawan bicara menyampaikan respon yang lebih jujur dari kata-kata. Kau dapat memahami apakah yang disampaikan adalah kejujuran atau karangan. Perasaannya juga dapat jelas tergambarkan. Bosan, sedih, gembira, bahagia. Media-media yang menjadi substitusi dari mengobrol tidak sanggup menyajikan itu semua. Hanya beberapa kata, status, atau emoticons yang dapat sedikit menggambarkan. Itupun kalau jujur. Tetapi sesuatu yang dilakukan untuk mengharapkan reaksi tidak mencerminkan kejujuran.

Terkadang saya berpikir untuk membebaskan diri. Membuang HP ini ke tong sampah. Hidup ke masa lalu dimana kantor pos masih menjadi nomor satu. Tetapi ketika fungsinya masih jauh lebih unggul daripada kerumitan-kerumitan yang saya pikirkan, maka HP ini tetap saya bawa kemana-mana. Saya hanya meminimalisir penggunaannya saja. Sebatas hal-hal yang penting dan kalau saya mulai membahas hal-hal yang tidak penting berarti itu bukan saya, tetapi diri saya yang sedang bosan dan mulai gila.

Sunday, January 20, 2013

Wakil rakyat seharusnya merakyat


Demokrasi itu sangat indah teorinya. Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Negara bahkan didirikan dengan tujuan menyejahterakan rakyatnya, mendidik mereka menjadi pintar, dan melindungi hak-haknya. Semua kebijakan dibuat dengan pertimbangan kepentingan rakyat. Rakyat adalah raja.

Negara modern yang memiliki berjuta-juta penduduk sangatlah susah apabila ingin menerapkan demokrasi langsung. Apabila dipaksakan, yang terjadi adalah ketidakefisienan. Keputusan yang bulat akan sangat lama diperoleh dan ditetapkan. Jadi pilihannya hanyalah demokrasi perwakilan atau tidak langsung. Rakyat memilih wakil-wakilnya yang akan menduduki jabatan legislatif. Melalui wakil-wakilnya itu, pemikiran masyarakat disalurkan.

Demokrasi perwakilan itu bukanlah demokrasi ketika legislatif tidak pernah bersinggungan dengan rakyat yang diwakilinya. Legislatif itu eksklusif. Seakan-akan ada, seharusnya tidak ada, jurang yang sangat lebar yang memisahkan antara legislatif dengan rakyat. Suara rakyat tidak terdengar oleh mereka. Saya sampai bingung, sebenarnya para legislatif itu menyuarakan suara rakyat atau pemikirannya sendiri atau malahan pemikiran partainya.

Saya tidak ingin mengeneralisasi para wakil rakyat yang terhormat itu. Tapi ketika seseorang menduduki kursi legislatif, tidak ada dari mereka yang miskin. Duduk disana berarti kaya raya, punya rumah, mobil, kekuasaan, dan kesibukan yang tiada henti. Itulah alasan mengapa diperebutkan. Bukanlah dongeng bahwa kesenjangan antara yang kaya dan miskin bagaikan tembok berlin yang baru akan runtuh ketika si kaya membuka hati.

Rakyat miskin terlalu berkecil hati untuk mendekati mereka. Sedangkan para legislatif itu dengan rumahnya yang megah, mobilnya yang mewah, dan kesibukannya yang menjadikan waktu seperti sapi perah tidak pernah berhenti bekerja. Mereka membahas peraturan yang tidak pernah selesai. Mereka membawa keluarganya ke eropa untuk belajar dan belanja. Mereka menyusun anggaran untuk memperbaiki ruang rapat mereka sampai taraf mubazir. Mereka juga menjadi selebriti yang berdebat di televisi. Dengan kesibukan yang super padat seperti itu, kapan mereka mendengarkan rakyat? Kalau seperti ini, praktek demokrasi kita hanyalah topeng!

Saya sempat penasaran dengan prestasi legislatif di tahun lalu. Saya coba googling dengan kata kunci “prestasi DPR 2012”. Silahkan lihat sendiri hasilnya.

Tuesday, November 27, 2012

danau dan bukit


Kesalahan itulah yang benar

Entah sejak kapan saya tertarik dengan hukum dan perpolitikan. Saya sudah lupa. Tetapi sejauh yang saya ingat, saya awalnya terpengaruhi (lagi-lagi) oleh buku-buku diskonan yang saya beli. Ketika buku-buku itu dijual dengan harga yang sangat murah karena tidak laku, maka saya siap sedia membelinya. Walaupun saya tidak tahu kapan buku itu selesai dibaca atau bahkan mulai dibaca. Saya seperti wanita yang tergila-gila dengan diskon sepatu atau baju. Syukur saja objeknya berbeda.

Dulu itu saya sempat berpikir kalau politik itu tabu. Orang-orang berpolitik karena ingin berkuasa, mensejahterakan diri sendiri berkedok pro rakyat, kepentingan umum menjadi nomor dua. Tetapi sekarang saya tidak ingin lagi menjadi apatis ria yang tidak peduli dengan keadaan Negara. Tidak peduli sama dengan membiarkan. Setidaknya sekarang saya berusaha memahami sedikit tentang politik dan hukum yang ada. Saya tidak ingin dibodoh-bodohi oleh para penghisap yang berkuasa.

Berusaha memahami tidaklah menjawab pertanyaan yang ada. Tetapi terus melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru dari pemahaman yang masih setengah. Selama ini saya masih bertanya-tanya, apakah hukum yang dibuat manusia itu sebuah kebenaran? Atau jangan-jangan orang yang bertindak melanggar hukum adalah yang benar. Ketika timbul pertentangan antara hukum dengan budaya, hati nurani, dan sisi manusiawi, mana yang harus dibenarkan? Apakah tetap berpihak pada hukum atau sebaliknya?

Perkara pencurian sandal dibawa ke pengadilan, seorang nenek yang dituduh mencuri buah coklat diadili, apakah hati nurani dan sisi manusiawi kita mengatakan itu benar? Saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa hukum itu benar-benar buta –bagi yang tidak punya kuasa- karena tidak disesuaikan dengan hati nurani, budaya dan sisi manusiawi. Hukum itu diciptakan oleh logika manusia yang berusaha adil. Seadil-adilnya manusia tetap tidak adil bagi yang lainnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang widyaiswara pengisi materi  Percepatan Pemberantasan TIPIKOR yang sangat menjaga integritasnya. Apakah hukum itu mutlak? Beliau menjawab, kalau di pengadilan hukum itu mutlak. Pertanyaan saya terjawab setengah. Setengahnya lagi saya coba timang-timang sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia bertindak lebih mengikuti hati nurani dan sisi manusiawi dirinya dibandingkan hukum yang ditulis. Walaupun terkadang, sadar atau tidak sadar, bertentangan dengan hukum dan dianggap salah di mata hukum. Tapi buat saya, tidak semua hal yang salah dari sisi hukum adalah salah. Ketika kesalahan itu adalah kebenaran menurut hati nurani, budaya, kemanusiaan, dan lainnya, maka hal itu tidak salah. Saya baru akan menganggap kesalahan itu adalah salah ketika dibawa ke pengadilan dimana hukum itu mutlak. Ketika masih berada di luar pengadilan, di pinggir jalan, di warung makan, atau di tempat selain pengadilan, maka kesalahan itu tidak salah. Beda tempat, statusnya berbeda.

Saya tidak sedang melakukan pembenaran terhadap tindakan saya yang merelakan uang Rp50.000 untuk terbebas dari tilangan polisi karena tidak punya SIM. Kalau saja ada yang berpikir seperti itu, silahkan saja. Saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya saja. Pemikiran ini sudah lama ada. Tetapi karena kebetulan otak saya mulai bergejolak lagi, jadi saya tulis saja sebagai pelampiasan. Lebih enak keluar kalau sedang panas-panasnya.

Saat ditilang, semua orang ditawari dua pilihan, memilih sidang atau diwakilkan. Kalau memilih sidang, silahkan bawa bukti tilang dan sidang sendiri di bulan desember. Kalau diwakilkan, bayar Rp50.000 dan setelah data-data saya dicatat dan disuruh tanda tangan, saya dapat bebas pergi. Polisi bergerombol, menilang seperti nelayan menjaring ikan, lalu memberi dua pilihan tadi seakan-akan semua itu sah. Saya tidak tahu semua itu sah atau tidak, ada atau tidak peraturan yang mengaturnya-serius, saya benar benar tidak tahu. Motor saja saya tidak punya, apalagi memahami peraturan-peraturan seperti itu. Tapi karena polisi-polisi itu bertindak seperti semuanya sudah tersistem, maka saya berpikir kalau itu sah-sah saja.

Pertimbangan kedua saya adalah motor yang saya gunakan adalah pinjaman dari teman saya Rifqy. Kalau saya sok-sokan berintegritas dan tidak mau mengeluarkan Rp50.000, maka saya tidak hanya menyusahkan diri sendiri, tetapi juga keluarga teman saya itu. Saya tentu tidak mau jauh-jauh dari Bogor ke Jogja, di tengah-tengah jadwal diklat yang padat, hanya untuk sidang karena ditilang polisi di bulan desember nanti. Jadi apa saya mesti menyusahkan orang lain demi sebuah integritas. Sisi manusiawi dan hati nurani saya bersorak-sorak mengatakan itu tidak benar. Lebih baik membayar uang Rp50.000 dan masalah selesai.

Dilema itu muncul, ketika itu saya benar-benar bingung. Saya bertanya tentang sistem transfer bank kepada teman-teman saya yang lain dan tidak ada yang mengerti. Saya terus berpikir bagaimana caranya supaya apa yang saya lakukan tidak melanggar hukum. Tapi kemudian saya berpikir lagi, memangnya saya tahu hukum yang mengaturnya bagaimana. Jangan-jangan ada aturan yang mengatur tentang pungutan Rp50.000 itu dan diwakilkan. Sayapun menggunakan azas praduka tidak tahu dan setelah menimbang-nimbang sisi baik dan buruknya, keuntungan dan kerugian, hukum dan manusiawi, maka saya memutuskan untuk diwakilkan dan membayar.

Saya tidak mau dibilang salah. Apa yang saya lakukan itu tidak salah menurut hati nurani dan sisi manusiawi. Kalau ada sisi manusiawi seseorang yang menganggap menyusahkan orang lain adalah sebuah hal yang benar, maka dia bukan manusia. Dari sisi hukum, saya juga tidak tahu salah atau benar. Kalaupun salah, saya hanya akan mengaku salah kalau sudah di pengadilan.

Wednesday, October 24, 2012

Minggu'


Aku langsung melihat jam di handphone ketika terjaga pagi ini, 04.20, waktu yang sama dengan kemarin. Konyol! Aku lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi, teringat aku belum shalat isya. Kosan ini sepi sekali, seperti hanya aku penghuninya dan tikus yang terkadang numpang lewat. Oh ya kucing juga ada. Aku teringat semalam, entah pukul berapa, sepasang kucing siap bertarung tepat di bawah jendela kamarku. Suaranya sangat berisik. Aku dengan banyak rasa malas berjalan ke luar kamar dan mengambil sapu bersiap-siap menjadi pelerai. Aku kenal kedua kucing itu. Warnanya sama-sama perpaduan hitam dan putih. Kucing yang ada lonceng di lehernya bernama Ketty. Aku tahu namanya dari Ema, anak ibu kos. Bagian atas badannya berwarna hitam. Sedangkan, bagian dada sampai moncongnya berwarna putih. Tepat di bawah hidung ada segaris warna hitam yang terkesan seperti kumis. Dia jadi terlihat macho. Aku juga sempat mendengar cerita yang tidak tahu benar atau tidaknya mengenai kucing ini. Katanya ketika Ketty masih kecil, dia punya seorang ibu susu. Seorang wanita yang sering menggendong Ketty sambil memberikan langsung susu dari payudaranya. Mereka bilang wanita itu sinting. Rumahnya selalu aku lewati setiap hari, 3 rumah dari tempat aku sekarang tinggal. Tapi sekarang wanita itu sudah hilang, tidak ada yang tahu kemana. Kucing yang satu lagi tidak kalah macho dari Ketty. Warnanya hitam dan putih juga, tetapi campur aduk dan tidak berpola. Satu hal yang membuat kucing ini terlihat macho adalah lukanya yang menyebar di sembarang tempat di badannya. Kulit-kulit yang tak berbulu lagi, keras, dan kering. Dan aku masih ingat tatapan matanya yang tajam seolah ingin berkata “aku ini kucing liar, jangan kau macam-macam”. Akhirnya dengan sapu aku berhasil melerai mereka berdua. Ketty berlari menuruni tangga dan kucing satu lagi naik ke atas genteng. Walaupun mereka masih terus bertatapan, tapi sepertinya mereka tidak berkelahi lagi. Setidaknya tidak di bawah jendela kamarku. Aku melanjutkan tidur yang terganggu dan terbangun untuk shalat isya seperti yang tadi sempat aku ceritakan. 

Beberapa menit setelah aku shalat isya, adzan subuh berkumandang. Saat aku aku sudah rebahan di atas kasur masih memakai sarung. Kurang tidur dan tiba-tiba bangun itu benar-benar membuat kepala rasanya berat. Lalu tanpa sadar aku terlelap lagi mengabaikan kumandang adzan. Aku terbangun lagi pukul enam kurang lima belas menit. Dengan otak yang belum berfungsi dengan normal aku masuk lagi ke kamar mandi, berwudhu, lalu shalat subuh. Selesai shalat aku menjatuhkan kepalaku ke atas kasur yang tepat berada di belakang sajadah. Ini adalah posisi tidur favoritku di kamar ini dengan menjadikan kasur sebagai bantal.  Sambil memandang langit-langit kamar aku sempat berpikir tujuan sebenarnya aku shalat itu apa. Apakah untuk mendapatkan pahala, terhindar dari neraka, atau apa? Pertanyaan yang sederhana tetapi rumit dan sulit menjawabnya.. Akupun mengalihkan perhatian ke netbook yang selalu menjadi teman setiaku di kamar ini. Kunyalakan, buka browser, dan mengecek berita terbaru di Antara. Lagi-lagi polemik KPK dengan Polri. Para penegak hukum yang seharusnya saling mendukung, malah bersitegang dan tidak akur. Penyakit Negara ini memang sudah akut. Orang-orang yang diamanahkan kekuasaan takut kehilangan kekuasaannya. Malah menjadikan kekuasaan itu sebagai kekuatan. Mereka takut miskin seperti rakyat yang sejatinya berkuasa. Tapi sekarang mereka sudah menghilangkan kepercayaan rakyat. Rakyat sekarang sudah pintar dan tidak bisa dibodohi. Hanya tinggal menunggu klimaks saja sampai rakyat sebagai penguasa sebenarnya benar-benar marah.

***

Sebenarnya pagi ini aku sedang gundah. Seperti ada sebuah perasaan kosong yang merasuk. Tentu aku tahu penyebabnya, tapi tidak akan aku ungkapkan disini dan saat ini. Itu adalah sebuah sisi sensitif dari seorang laki-laki yang tidak akan diumbar dengan gratis. Aku merasa ini adalah efek dari buku Ajip Rosidi yang aku baca semalam. Tapi kemarin aku juga membaca bukunya Charles Dickens, pagi harinya aku menyelesaikan Bromocorahnya Mochtar Lubis, dan 2 hari yang lalu aku membaca Beauty Affair karya Abdullah Harahap. Aku memang senang bergonta-ganti bacaan sebelum sampai ke halaman terakhirnya. Walaupun akhirnya buku itu selesai aku baca, tetapi terkadang ketika melanjutkan membaca aku harus mengulang beberapa halaman yang sudah terbaca supaya menyegarkan kembali ceritanya. Akibatnya cerita-cerita mereka menjadi campur aduk di kepalaku. Membuat kegundahan ini semakin rumit, serumit pemikiran-pemikiran mereka yang coba dimediakan lewat tutur bahasa.

Hati yang gundah seperti ini sudah sering terjadi. Sampai-sampai aku bisa menemukan sendiri penyembuhnya. Jangan berpikir kalau aku gundah karena seorang wanita. Anggapan itu terlalu picik. Ada banyak hal yang lebih patut diurusi daripada seorang wanita. Hal-hal itu menjadi komplotan pertanyaan di kepalaku dan ketika pertanyaan itu tidak terjawab tetapi pikiran ini terus memaksa bertanya maka saat itulah kegundahan itu muncul. Kalau sudah gundah seperti itu aku akan mencoba mengalihkan konsentrasi dengan menyibukkan diri. Aku paham menyibukkan diri akan membuat aku lupa. Begitu juga pagi ini, tiba-tiba aku terpikir untuk lari pagi. Melihat jam baru setengah tujuh dan hawa Jakarta masih sejuk. Aku mencoba berpikir apa yang harus dibawa. Ini pertama kalinya aku berniat sendiri untuk lari pagi. Aku sebenarnya sangat malas kalau disuruh lari. Rasa malas itu muncul karena aku memang tidak kuat kalau disuruh lari. Baru beberapa menit berlari dadaku akan terasa seperti digebuk-gebuk dari dalam, napas menjadi tidak teratur, dan pikiranku akan kacau tidak terkontrol. Tapi pagi ini, justru pikiran yang tidak terkontrol itulah yang aku cari. Jadi aku menyiapkan DAP trekstorku yang hanya berkapasitas 512mb, membersihkan sepatu NB yang masih ditempeli sisa-sisa pasir dari sawarna, dan uang Rp22.000. Aku siap untuk berangkat ke velodrome.

Aku mau melewatkan saja cerita aku berlari di velodrome, hal yang memalukan ketika aku hanya sanggup berlari dua kali putaran, tapi tentu rasanya akan ada yang bolong dari catatan ini. Jadi aku persingkat sajalah. Aku mulai berlari-lari kecil sambil diiringi lagu Tristan, duo folk dari Jakarta yang CDnya aku dapat secara gratis di Demajors. Stopwatch kunyalakan, napas kujaga supaya tetap teratur, dan langkah kaki diiramakan tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Aku berlari melewati pelari lain dengan percaya diri, menyalip di antara kerumunan anak SMP berpakaian olahraga yang berjalan santai, dan memperlambat lari ketika terpesona dengan seorang dara. Aku menyelesaikan satu putaran dengan sukses. Sambil berlari aku memilih-milih untuk mengganti lagu, Tristan terlalu sendu di pagi hari yang cerah ini. Aku membuka album Lou Reed-Transformer, lalu memilih I’m so free. Aku semakin bersemangat.
Yes, I’m Mother Nature’s son
And I’m the only one
I do what I want and I want what I see   
Could only happen to me
I,m so free. I’m so free
When I feel good, I’m so free
Early in the morning, I’m so free
Late in the evening, I’m so free
I’m so free…   

Setengah putaran kedua aku lewati, kakiku mulai terasa berat. Aku terlalu bersemangat sepertinya sampai lupa mengatur napas dan tempo lari jadi berantakan. Patut aku beritahu juga, aku punya betis kaki yang besar. Teman-temanku selalu kaget kalau melihat betisku yang seperti ini. Kalau kemudian mereka berkomentar aneh-aneh, itu sudah menjadi hal yang biasa. Betisku ini memang barang langka dan berat. Kalau aku berlari, beban paling berat yang perlu ditahan adalah keseluruhan kakiku ini. Mengangkatnya mengorbankan kalori yang banyak. Jadi aku berpikir wajarlah kalau setelah berlari satu setengah kali mengelilingi stadion velodrome betisku ini terasa semakin berat. Sedangkan napasku sebenarnya masih kuat. Tetapi betisku yang besar ini tidak mendukung. Jadi aku memutuskan untuk berhenti sebelum dua putaran di depan sebuah warung yang menjual minuman. Aku mengecek stopwatch dan ternyata aku hanya berlari selama delapan menit. Sangat payah! Aku mencopot sepatu dan memegang betisku yang rasanya seperti ditarik kencang. Susah memang kalau memiliki betis pemain bola, tetapi jarang dilatih berlari. Berlari sebentar saja, otot-ototnya sudah menjerit-jerit meminta oksigen lebih.

***

Aku berjalan pulang sambil sesekali mengguyur tenggorokan dengan sebotol air minum. Jalan pemuda pagi ini sangat lengang jika dibandingkan dengan keadaannya pada hari kerja. Kendaraan bermotor tidak terlalu ramai dan cahaya matahari tidak terlalu terik, Jakarta membuat betah kalau sedang seperti ini. Tapi Jakarta yang seperti ini hanya bisa dinikmati di akhir pekan ketika jutaan pekerja yang sedang libur memilih untuk istirahat di rumah. Ketika sudah masuk hari kerja, tidak ada lagi yang menarik dari Jakarta, kecuali uang dan fasilitasnya.

Aku sempat berpapasan dengan pak rahmat. Dia sedang mengayuh sepedanya yang berwarna merah. Dengan matanya yang sudah tua, aku yakin dia tidak melihatku yang sedang berjalan di trotoar. Jadi aku memutuskan untuk tidak menyapanya. Sepeda yang warna merahnya sudah memudar itu selalu jadi alat transportasinya kemana-mana. Ada keranjang dari kayu diboncengannya. Aku sering melihat keranjang itu berisi botol-botol bekas. Aku tidak tahu pekerjaan Pak Rahmat itu sebenarnya apa, tapi aku sering melihat dia mengumpulkan botol-botol yang sudah tidak terpakai dan terbengkalai. Kasihan aku melihatnya. Menurut perhitunganku, melihat dari raut wajahnya dan kulit yang sudah mengendur, umurnya sudah nyaris 80 tahun atau mungkin lebih, tapi dia masih terlihat kuat. Tuntutan hidup barangkali memaksa. Aku sebenarnya tidak terlalu kenal dengannya. Kami hanya sesekali bertemu di mushalla. Dia selalu memakai baju koko berwarna abu-abu. Aku ingat betul warnanya karena baju itulah yang selalu dia pakai. Dia jarang sekali menjadi imam shalat walaupun dari segi umur dia sudah yang paling senior. Aku akan beritahu alasannya. Dia biasanya berwudhu di mushalla dan ketika dia berwudhu, baju kokonya dilepas, dia memakai kaos dalam putih polos yang sudah lusuh. Setelah berwudhu dia akan memakai lagi baju koko yang tadi dilepasnya dengan sangat perlahan. Benar-benar pelan. Kancing demi kancing dengan sangat hati-hati. Umur yang menua memang melemahkan. Gara-gara kesulitan mengancing bajunya, dia sering ketinggalan takbir pertama, bahkan al fatihah lewat, dan ketika ayat pendek akan selesai dibaca, ketika beberapa detik lagi imam akan bertakbir untuk rukuk, dia akan buru-buru mengikuti dengan kancing baju yang belum dikancingkan semuanya. Dibiarkan terbuka. Tapi beberapa hari terakhir dia selalu menjadi imam ketika shalat maghrib. Suaranya terdengar sangat lemah dan dia membaca dengan pelan dan terkadang samar-samar. Lafadznya lugu dan sederhana dan memang tidak bisa dibandingkan dengan ustadz-ustadz kondang di luar sana, tapi benar-benar membuat kepala ini tertunduk.  

Aku lanjut berjalan. Di depan pasar inpres, aku sempat makan bubur sambil menonton seorang laki-laki dengan ototnya yang kekar dan kulitnya yang hitam membongkar muat pasir dari sebuah truk. Dia bekerja tanpa jeda dan tanpa suara. Menyekop tiap pasir kemudian melemparnya ke tumpukan pasir di pojok jalan. Seperti tidak ada hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari menyekop pasir. Atau dia ingin bersegera mungkin, tidak tahu. Setelah semua pasir berhasil diturunkan barulah dia berhenti, mengambil kausnya yang digantungkan di pinggiran bak truk yang kemudian digunakan untuk mengelap keringatnya. Lalu dia masuk ke dalam truk dan pergi tanpa basa-basi. 

Akhirnya aku sampai di kosan dengan kaus yang masih basah dengan keringat, dengan botol minum kosong yang masih di tangan, dan dengan pertanyaan di kepala yang bertambah banyak. Aku tidak mau keluar lagi di minggu pagi.
< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.