Aku langsung
melihat jam di handphone ketika
terjaga pagi ini, 04.20, waktu yang sama dengan kemarin. Konyol! Aku lalu
bangun dan berjalan menuju kamar mandi, teringat aku belum shalat isya. Kosan
ini sepi sekali, seperti hanya aku penghuninya dan tikus yang terkadang numpang
lewat. Oh ya kucing juga ada. Aku teringat semalam, entah pukul berapa,
sepasang kucing siap bertarung tepat di bawah jendela kamarku. Suaranya sangat
berisik. Aku dengan banyak rasa malas berjalan ke luar kamar dan mengambil sapu
bersiap-siap menjadi pelerai. Aku kenal kedua kucing itu. Warnanya sama-sama
perpaduan hitam dan putih. Kucing yang ada lonceng di lehernya bernama Ketty.
Aku tahu namanya dari Ema, anak ibu kos. Bagian atas badannya berwarna hitam.
Sedangkan, bagian dada sampai moncongnya berwarna putih. Tepat di bawah hidung
ada segaris warna hitam yang terkesan seperti kumis. Dia jadi terlihat macho. Aku
juga sempat mendengar cerita yang tidak tahu benar atau tidaknya mengenai
kucing ini. Katanya ketika Ketty masih kecil, dia punya seorang ibu susu.
Seorang wanita yang sering menggendong Ketty sambil memberikan langsung susu
dari payudaranya. Mereka bilang wanita itu sinting. Rumahnya selalu aku lewati
setiap hari, 3 rumah dari tempat aku sekarang tinggal. Tapi sekarang wanita itu
sudah hilang, tidak ada yang tahu kemana. Kucing yang satu lagi tidak kalah
macho dari Ketty. Warnanya hitam dan putih juga, tetapi campur aduk dan tidak
berpola. Satu hal yang membuat kucing ini terlihat macho adalah lukanya yang
menyebar di sembarang tempat di badannya. Kulit-kulit yang tak berbulu lagi,
keras, dan kering. Dan aku masih ingat tatapan matanya yang tajam seolah ingin
berkata “aku ini kucing liar, jangan kau macam-macam”. Akhirnya dengan sapu aku
berhasil melerai mereka berdua. Ketty berlari menuruni tangga dan kucing satu
lagi naik ke atas genteng. Walaupun mereka masih terus bertatapan, tapi
sepertinya mereka tidak berkelahi lagi. Setidaknya tidak di bawah jendela
kamarku. Aku melanjutkan tidur yang terganggu dan terbangun untuk shalat isya
seperti yang tadi sempat aku ceritakan.
Beberapa
menit setelah aku shalat isya, adzan subuh berkumandang. Saat aku aku sudah
rebahan di atas kasur masih memakai sarung. Kurang tidur dan tiba-tiba bangun
itu benar-benar membuat kepala rasanya berat. Lalu tanpa sadar aku terlelap
lagi mengabaikan kumandang adzan. Aku terbangun lagi pukul enam kurang lima
belas menit. Dengan otak yang belum berfungsi dengan normal aku masuk lagi ke
kamar mandi, berwudhu, lalu shalat subuh. Selesai shalat aku menjatuhkan
kepalaku ke atas kasur yang tepat berada di belakang sajadah. Ini adalah posisi
tidur favoritku di kamar ini dengan menjadikan kasur sebagai bantal. Sambil memandang langit-langit kamar aku
sempat berpikir tujuan sebenarnya aku shalat itu apa. Apakah untuk mendapatkan
pahala, terhindar dari neraka, atau apa? Pertanyaan yang sederhana tetapi rumit
dan sulit menjawabnya.. Akupun mengalihkan perhatian ke netbook yang selalu menjadi teman setiaku di kamar ini. Kunyalakan,
buka browser, dan mengecek berita terbaru di Antara. Lagi-lagi polemik KPK
dengan Polri. Para penegak hukum yang seharusnya saling mendukung, malah
bersitegang dan tidak akur. Penyakit Negara ini memang sudah akut. Orang-orang
yang diamanahkan kekuasaan takut kehilangan kekuasaannya. Malah menjadikan
kekuasaan itu sebagai kekuatan. Mereka takut miskin seperti rakyat yang
sejatinya berkuasa. Tapi sekarang mereka sudah menghilangkan kepercayaan
rakyat. Rakyat sekarang sudah pintar dan tidak bisa dibodohi. Hanya tinggal
menunggu klimaks saja sampai rakyat sebagai penguasa sebenarnya benar-benar
marah.
***
Sebenarnya
pagi ini aku sedang gundah. Seperti ada sebuah perasaan kosong yang merasuk.
Tentu aku tahu penyebabnya, tapi tidak akan aku ungkapkan disini dan saat ini.
Itu adalah sebuah sisi sensitif dari seorang laki-laki yang tidak akan diumbar
dengan gratis. Aku merasa ini adalah efek dari buku Ajip Rosidi yang aku baca
semalam. Tapi kemarin aku juga membaca bukunya Charles Dickens, pagi harinya
aku menyelesaikan Bromocorahnya Mochtar Lubis, dan 2 hari yang lalu aku membaca
Beauty Affair karya Abdullah Harahap. Aku memang senang bergonta-ganti bacaan
sebelum sampai ke halaman terakhirnya. Walaupun akhirnya buku itu selesai aku
baca, tetapi terkadang ketika melanjutkan membaca aku harus mengulang beberapa
halaman yang sudah terbaca supaya menyegarkan kembali ceritanya. Akibatnya
cerita-cerita mereka menjadi campur aduk di kepalaku. Membuat kegundahan ini
semakin rumit, serumit pemikiran-pemikiran mereka yang coba dimediakan lewat
tutur bahasa.
Hati yang
gundah seperti ini sudah sering terjadi. Sampai-sampai aku bisa menemukan
sendiri penyembuhnya. Jangan berpikir kalau aku gundah karena seorang wanita.
Anggapan itu terlalu picik. Ada banyak hal yang lebih patut diurusi daripada
seorang wanita. Hal-hal itu menjadi komplotan pertanyaan di kepalaku dan ketika
pertanyaan itu tidak terjawab tetapi pikiran ini terus memaksa bertanya maka
saat itulah kegundahan itu muncul. Kalau sudah gundah seperti itu aku akan
mencoba mengalihkan konsentrasi dengan menyibukkan diri. Aku paham menyibukkan
diri akan membuat aku lupa. Begitu juga pagi ini, tiba-tiba aku terpikir untuk
lari pagi. Melihat jam baru setengah tujuh dan hawa Jakarta masih sejuk. Aku mencoba
berpikir apa yang harus dibawa. Ini pertama kalinya aku berniat sendiri untuk
lari pagi. Aku sebenarnya sangat malas kalau disuruh lari. Rasa malas itu
muncul karena aku memang tidak kuat kalau disuruh lari. Baru beberapa menit
berlari dadaku akan terasa seperti digebuk-gebuk dari dalam, napas menjadi
tidak teratur, dan pikiranku akan kacau tidak terkontrol. Tapi pagi ini, justru
pikiran yang tidak terkontrol itulah yang aku cari. Jadi aku menyiapkan DAP
trekstorku yang hanya berkapasitas 512mb, membersihkan sepatu NB yang masih
ditempeli sisa-sisa pasir dari sawarna, dan uang Rp22.000. Aku siap untuk
berangkat ke velodrome.
Aku mau
melewatkan saja cerita aku berlari di velodrome, hal yang memalukan ketika aku
hanya sanggup berlari dua kali putaran, tapi tentu rasanya akan ada yang bolong
dari catatan ini. Jadi aku persingkat sajalah. Aku mulai berlari-lari kecil
sambil diiringi lagu Tristan, duo folk dari Jakarta yang CDnya aku dapat secara
gratis di Demajors. Stopwatch kunyalakan, napas kujaga supaya tetap teratur,
dan langkah kaki diiramakan tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Aku
berlari melewati pelari lain dengan percaya diri, menyalip di antara kerumunan
anak SMP berpakaian olahraga yang berjalan santai, dan memperlambat lari ketika
terpesona dengan seorang dara. Aku menyelesaikan satu putaran dengan sukses. Sambil
berlari aku memilih-milih untuk mengganti lagu, Tristan terlalu sendu di pagi
hari yang cerah ini. Aku membuka album Lou
Reed-Transformer, lalu memilih I’m so
free. Aku semakin bersemangat.
Yes,
I’m Mother Nature’s son
And
I’m the only one
I
do what I want and I want what I see
Could
only happen to me
I,m
so free. I’m so free
When
I feel good, I’m so free
Early
in the morning, I’m so free
Late
in the evening, I’m so free
I’m
so free…
Setengah
putaran kedua aku lewati, kakiku mulai terasa berat. Aku terlalu bersemangat
sepertinya sampai lupa mengatur napas dan tempo lari jadi berantakan. Patut aku
beritahu juga, aku punya betis kaki yang besar. Teman-temanku selalu kaget
kalau melihat betisku yang seperti ini. Kalau kemudian mereka berkomentar
aneh-aneh, itu sudah menjadi hal yang biasa. Betisku ini memang barang langka
dan berat. Kalau aku berlari, beban paling berat yang perlu ditahan adalah
keseluruhan kakiku ini. Mengangkatnya mengorbankan kalori yang banyak. Jadi aku
berpikir wajarlah kalau setelah berlari satu setengah kali mengelilingi stadion
velodrome betisku ini terasa semakin berat. Sedangkan napasku sebenarnya masih
kuat. Tetapi betisku yang besar ini tidak mendukung. Jadi aku memutuskan untuk
berhenti sebelum dua putaran di depan sebuah warung yang menjual minuman. Aku
mengecek stopwatch dan ternyata aku hanya berlari selama delapan menit. Sangat
payah! Aku mencopot sepatu dan memegang betisku yang rasanya seperti ditarik
kencang. Susah memang kalau memiliki betis pemain bola, tetapi jarang dilatih
berlari. Berlari sebentar saja, otot-ototnya sudah menjerit-jerit meminta
oksigen lebih.
***
Aku berjalan
pulang sambil sesekali mengguyur tenggorokan dengan sebotol air minum. Jalan
pemuda pagi ini sangat lengang jika dibandingkan dengan keadaannya pada hari
kerja. Kendaraan bermotor tidak terlalu ramai dan cahaya matahari tidak terlalu
terik, Jakarta membuat betah kalau sedang seperti ini. Tapi Jakarta yang seperti
ini hanya bisa dinikmati di akhir pekan ketika jutaan pekerja yang sedang libur
memilih untuk istirahat di rumah. Ketika sudah masuk hari kerja, tidak ada lagi
yang menarik dari Jakarta, kecuali uang dan fasilitasnya.
Aku sempat
berpapasan dengan pak rahmat. Dia sedang mengayuh sepedanya yang berwarna merah.
Dengan matanya yang sudah tua, aku yakin dia tidak melihatku yang sedang
berjalan di trotoar. Jadi aku memutuskan untuk tidak menyapanya. Sepeda yang
warna merahnya sudah memudar itu selalu jadi alat transportasinya kemana-mana.
Ada keranjang dari kayu diboncengannya. Aku sering melihat keranjang itu berisi
botol-botol bekas. Aku tidak tahu pekerjaan Pak Rahmat itu sebenarnya apa, tapi
aku sering melihat dia mengumpulkan botol-botol yang sudah tidak terpakai dan
terbengkalai. Kasihan aku melihatnya. Menurut perhitunganku, melihat dari raut
wajahnya dan kulit yang sudah mengendur, umurnya sudah nyaris 80 tahun atau
mungkin lebih, tapi dia masih terlihat kuat. Tuntutan hidup barangkali memaksa.
Aku sebenarnya tidak terlalu kenal dengannya. Kami hanya sesekali bertemu di
mushalla. Dia selalu memakai baju koko berwarna abu-abu. Aku ingat betul
warnanya karena baju itulah yang selalu dia pakai. Dia jarang sekali menjadi
imam shalat walaupun dari segi umur dia sudah yang paling senior. Aku akan
beritahu alasannya. Dia biasanya berwudhu di mushalla dan ketika dia berwudhu,
baju kokonya dilepas, dia memakai kaos dalam putih polos yang sudah lusuh.
Setelah berwudhu dia akan memakai lagi baju koko yang tadi dilepasnya dengan
sangat perlahan. Benar-benar pelan. Kancing demi kancing dengan sangat
hati-hati. Umur yang menua memang melemahkan. Gara-gara kesulitan mengancing
bajunya, dia sering ketinggalan takbir pertama, bahkan al fatihah lewat, dan
ketika ayat pendek akan selesai dibaca, ketika beberapa detik lagi imam akan
bertakbir untuk rukuk, dia akan buru-buru mengikuti dengan kancing baju yang
belum dikancingkan semuanya. Dibiarkan terbuka. Tapi beberapa hari terakhir dia
selalu menjadi imam ketika shalat maghrib. Suaranya terdengar sangat lemah dan
dia membaca dengan pelan dan terkadang samar-samar. Lafadznya lugu dan
sederhana dan memang tidak bisa dibandingkan dengan ustadz-ustadz kondang di
luar sana, tapi benar-benar membuat kepala ini tertunduk.
Aku lanjut
berjalan. Di depan pasar inpres, aku sempat makan bubur sambil menonton seorang
laki-laki dengan ototnya yang kekar dan kulitnya yang hitam membongkar muat
pasir dari sebuah truk. Dia bekerja tanpa jeda dan tanpa suara. Menyekop tiap
pasir kemudian melemparnya ke tumpukan pasir di pojok jalan. Seperti tidak ada
hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari menyekop pasir. Atau dia ingin
bersegera mungkin, tidak tahu. Setelah semua pasir berhasil diturunkan barulah
dia berhenti, mengambil kausnya yang digantungkan di pinggiran bak truk yang
kemudian digunakan untuk mengelap keringatnya. Lalu dia masuk ke dalam truk dan
pergi tanpa basa-basi.
Akhirnya aku
sampai di kosan dengan kaus yang masih basah dengan keringat, dengan botol
minum kosong yang masih di tangan, dan dengan pertanyaan di kepala yang
bertambah banyak. Aku tidak mau keluar lagi di minggu pagi.