Tuesday, August 14, 2012

Berbeda-beda itu indah kalau satu, seperti halnya pelangi.

Membingungkan memang kalau melihat manusia tindas menindas hanya karena warna kulit yang sedikit berbeda atau saling mencaci karena berbeda agama atau saling meludahi karena beda suku. Seharusnya kita hidup saling berdampingan dan damai, tetapi kenyataannya berbeda. Kaum mayoritas merasa ekslusif dan minoritas dikerdilkan.

Ketika perbedaan dan kesenjangan sanggup membutakan logika, maka setiap hal bisa dikambinghitamkan. Hal-hal sepele yang membesar atau isu yang tidak jelas asal-usulnya sering dijadikan sumber masalah. Padahal tanpa sadar, kita sendirilah sumber masalah karena sangat mudah terprovokasi.

Tidak ada yang salah dengan perbedaan. Hanya saja manusia dengan fanatismenya yang tinggi tidak ingin disamakan dengan yang lain. Alasan mengikuti ego inilah sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok. Kalau saja kelompok-kelompok manusia yang berbeda bisa hidup dengan tenggang rasa, rukun, dan damai, tentu akan menjadi indah. Seperti pelangi, satu dan warna-warni.

Monday, July 30, 2012

Senja Menggila


Monday, July 16, 2012

Pulang berarti memiliki tempat yang disebut rumah

Tengah malam, saat itu saya sedang berada di ruang tunggu bandara dengan kaki yang diluruskan di atas kursi panjang dan tas yang menjadi bantal. Saya sempat berpikir kalau saya akan pulang. Tapi tidak. Kali ini saya akan terbang semakin jauh dari rumah dan membuat saya semakin rindu untuk pulang. Kerinduan ini jauh lebih unggul dibandingkan kerinduan untuk bertemu gadis yang disuka.

Ada sisi kenikmatan tersendiri ketika saya hanya bisa pulang setahun sekali. Kenikmatan dari kerinduan yang memuncak yang tidak akan bisa ditemukan kalau saya bisa pulang setiap hari. Rasa rindu karena jarang bertemu. Rasa rindu yang membuat sendu. Begitu kerinduan itu sanggup terlampiaskan, setiap hal yang terjadi akan menjadi meriah. Hal biasapun akan terasa mewah. Senyum, perhatian, tawa, dan canda yang tak biasa ada menjadi ada.

Pulang ada karena ada rumah. Walaupun rumah itu hanya berisi satu orang atau dua atau tidak ada seorangpun. Selalu ada yang membuat kita rindu untuk pulang. Kalau rumah sudah tidak berisi lagi, maka yang akan kita temukan hanyalah memori. Hal yang sangat menyedihkan ketika kerinduan hanya bisa terobati oleh memori. Maka banyak-banyak bersyukurlah kalau rumah kita masih berisi satu orang atau dua atau lengkap barangkali. 

Thursday, June 21, 2012

Berita Buruk adalah Baik

Hampir semua orang percaya apa yang diberitakan oleh media-media. Saya juga percaya kalau yang mereka tulis adalah fakta. Tetapi ketika sebuah berita hanya disampaikan secara sederhana dan tidak dibahas lebih dalam tentu akan menimbulkan sebuah kesalahpahaman. Orang-orang yang kemudian membacanya secara gamblang dan tidak mencoba mengeksplor latar belakangnya akan cepat menyimpulkan. Kalau sudah begini, jatuhlah korban baru.

Setiap hal atau kejadian selalu mempunyai dua sisi, sisi terang dan sisi gelap. Sebuah berita seharusnya disampaikan dengan mempertimbangkan kedua sisi itu. Keduanya harus diseimbangkan. Tetapi yang menjadi kenyataannya adalah kita manusia lebih tertarik membaca pokok berita tentang pencurian atau pembunuhan dibandingkan membaca penjelasan kenapa pencurian atau pembunuhan itu bisa sampai terjadi, apalagi membaca berita panen padi atau kerbau yang melahirkan. Sudah pasti tidak laku.

Dunia yang dinamis, globalisasi teknologi, dan pemikiran manusianya yang praktis merubah cara kita mengonsumsi berita. Semua berita berusaha disampaikan sesingkat-singkatnya, sepadat-padatnya, setepat-tepatnya, dan update. Buat anak-anak muda sekarang yang umurnya menengah ke bawah, koran yang terbit sehari sekali sudah tidak menarik lagi. Mereka lebih senang membuka HP pintarnya kemudian browsing berita terbaru dari website-website yang menyampaikan berita dalam hitungan detik. Itupun kalau mereka sedang tertarik membaca berita atau sudah bosan membuka facebook dan twitter.

Semuanya lebih praktis memang dan hemat. Tidak perlu mengeluarkan uang Rp3000 sampai Rp5000 untuk membeli koran kalau hanya ingin mengetahui berita terbaru. Media online itu menyediakan berita-berita yang jauh lebih baru daripada koran. Tetapi dibalik keunggulannya itulah kelemahannya. Ketika sebuah berita berusaha disampaikan se-singkat, padat, tepat, dan cepat-nya, maka keseluruhan berita tidak bisa disampaikan. Banyak hal yang dihilangkan menjadi resume dari si penulisnya dan terkadang peristiwa yang samar buntut dan kepalanya diberitakan dengan alasan segera.

Sekarang tergantung kepada pembacanya. Apakah akan menerima dengan mulut lebar doktrin yang diberikan oleh media kemudian menelannya bulat-bulat -syukur-syukur tidak meracau sok tahu- atau menerimanya dengan tangan terbuka kemudian memilah-milah mana yang harus dikunyah. Semua terserah kita sebagai manusia yang dikaruniai akal.



Monday, June 4, 2012

Mempersiapkan Amunisi Bukan Untuk Perang



Amunisi buat malam ini sudah disiapkan. Entah kenapa saya rasanya tidak ingin tidur secepat biasanya. Hujan sedang mengguyur Jakarta yang di luar sana.  Awalnya saya memutar playlist yang berbau dream pop dan ambient, saya jadi terbawa suasana. Hujan dan ambient itu serasi, menggoda mata untuk segera terpejam. Tapi sepertinya tidak untuk malam ini.

Mie sedaap kari spesial paling top, tidak bermaksud promosi, menjadi alternatif kalau sedang hujan dan malas berjalan jauh. Cukup untuk mengganjal perut sampai saya tidur dan melupakan rasa lapar. Dua sachet nescafe classic siap untuk diseduh. Sebenarnya saya sedang diet kopi. Kalau minum terlalu banyak bisa-bisa saya melihat bumi berputar-putar dan gelap. Tapi mau bagaimana lagi, sementara ini dilupakan sajalah dulu. Pensil HB, drawing pen, spidol hitam, dan penghapus menjadi satu tim yang siap bekerja mencoret-coret kertas A3 yang saya bawa kabur dari kantor. Ready to start.
< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.