Membingungkan memang kalau melihat manusia tindas menindas hanya karena
warna kulit yang sedikit berbeda atau saling mencaci karena berbeda agama atau
saling meludahi karena beda suku. Seharusnya kita hidup saling berdampingan dan
damai, tetapi kenyataannya berbeda. Kaum mayoritas merasa ekslusif dan
minoritas dikerdilkan.
Ketika perbedaan dan kesenjangan sanggup membutakan logika, maka setiap hal bisa dikambinghitamkan. Hal-hal sepele yang membesar atau isu yang tidak jelas asal-usulnya sering dijadikan sumber masalah. Padahal tanpa sadar, kita sendirilah sumber masalah karena sangat mudah terprovokasi.
Tidak ada yang salah dengan perbedaan. Hanya saja manusia dengan fanatismenya yang tinggi tidak ingin disamakan dengan yang lain. Alasan mengikuti ego inilah sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok. Kalau saja kelompok-kelompok manusia yang berbeda bisa hidup dengan tenggang rasa, rukun, dan damai, tentu akan menjadi indah. Seperti pelangi, satu dan warna-warni.
Ketika perbedaan dan kesenjangan sanggup membutakan logika, maka setiap hal bisa dikambinghitamkan. Hal-hal sepele yang membesar atau isu yang tidak jelas asal-usulnya sering dijadikan sumber masalah. Padahal tanpa sadar, kita sendirilah sumber masalah karena sangat mudah terprovokasi.
Tidak ada yang salah dengan perbedaan. Hanya saja manusia dengan fanatismenya yang tinggi tidak ingin disamakan dengan yang lain. Alasan mengikuti ego inilah sehingga manusia terkotak-kotak menjadi kelompok. Kalau saja kelompok-kelompok manusia yang berbeda bisa hidup dengan tenggang rasa, rukun, dan damai, tentu akan menjadi indah. Seperti pelangi, satu dan warna-warni.

