Friday, October 9, 2020

Kenangan Tak Enak Pun Akan Menyedihkan Kala Hilang

Beberapa minggu lalu kios souvenir saya Partopi Tao Co. di Parapat dirobohkan eskavator. Kios mini yang menjual kaos yang beraliran Pop itu kini sudah rata dengan aspal. Rencananya kios-kios yang dirobohkan akan dirapikan menjadi pedestrian. Pembangunan pedestrian ini sepertinya termasuk salah satu program revitalisasi wisata di Parapat yang sedang jadi target pemerintah.

Sebenarnya saya ikhlas saja apabila kios saya digusur, karena sebenarnya kios itu berdiri di atas tanah negara dan tidak ada dokumen pinjam pakai sehingga bisa juga dibilang bangunan ilegal. Tapi nilai historisnya bagi saya terlalu mahal untuk dihilangkan.

Bagi keluarga saya kios di Pante ini (orang Parapat biasa bilangnya "Pante") punya banyak kenangan. Kenangan yang dulu terasa tidak enak, tapi sekarang ketika hilang ternyata sedih juga. Keluarga besar saya sangat bertumpu pada wisata Danau Toba. Kami adalah pedagang makanan musiman. Biasanya jualan ketika tahun baru, lebaran, libur kenaikan kelas, dan festival Pesta Danau Toba.

Jajaran kios souvenir saya ini dulu adalah sisi warung makanan yang konsepnya bongkar pasang. Ketika musim ramai wisatawan dipasang, ketika tidak terlalu ramai ya dibongkar. Rangkanya adalah balok kayu, atapnya seng, dan ditutupi terpal. Lebih permanen dari warung pecel lele.

Ketika musim liburan, rasanya jadi menjengkelkan karena saya harus membantu keluarga jualan. Tidak ada istilah pergi jalan-jalan ketika liburan, adanya jualan-jualan. Spesialisasi saya dulu adalah cuci piring. Jadi sejak kecil saya sudah terbiasa mencuci piring yang rasanya tidak habis-habis. Ketika tugas selesai saya biasanya keliling Pante 1 lap, melihat keramaian sambil berharap supaya bisa merasakan liburan yang sebenarnya.

Sejak krisis moneter tahun 1997 melanda, wisata Parapat sangat terdampak, bahkan sistemik sampai sekarang. Wisatawan menurun drastis, hotel-hotel sepi, dan wisatawan yang datang mulai membawa makanan sendiri. Mereka hanya datang ke Parapat untuk mandi di danau atau sekadar menyebrang ke Samosir. Warung makanan mulai berkurang dan warung yang bertahan menaikkan harga makanan untuk menutupi biaya. Paling terkenal adalah menembak harga. Akibatnya wisatawan jadi enggan datang dan mencap Parapat tidak lagi enak.

Beberapa tahun kemudian (saya lupa tahunnya), ketika Parapat sedang sepi, sisi lahan warung makanan di Pante yang sedang kosong diperebutkan oleh orang-orang dengan memasang patok. Siapa yang cepat, dia yang dapat. Kakak saya yang dulu sedang berjualan di rumah langsung bergegas ikut perebutan. Dia berhasil mendapatkan walaupun tidak terlalu lebar. Dulu ketika berjualan, warung makanannya bisa sampai 10 meter, sekarang hanya dapat tidak sampai 3 meter. Lahan itulah yang kemudian dibangun menjadi seperti kondisi sebelum dirobohkan.

Kami sempat berjualan makanan beberapa kali di kios baru itu. Tapi hasilnya sudah berbeda. Ketika kakak saya kemudian memutuskan untuk pindah ke medan, kios itu kemudian disewakan kepada orang lain.

Sekian tahun disewakan, saya baru tahu kalau biaya sewanya hanya 2jt per tahun. Ketika pembayaran sewanya mulai macet, saya kemudian mengajukan tawaran untuk saya kelola sendiri. Sekaligus menjaga agar kios itu tidak diklaim orang lain karena secara dokumen hukum memang tidak ada sama sekali.

 

Kios saya renovasi kecil-kecilan supaya terlihat lebih rapi dan akhir 2017 mulai jualan perdana. Selama 1,5 tahun berjualan, struggling-nya sangat terasa dan disinilah saya menyadari bahwa wisata Parapat itu benar-benar "mati". Bahkan ketika akhir pekan, seperti tidak ada orang yang tertarik untuk datang ke Parapat. Wisata Parapat benar-benar hanya bisa mengandalkan libur lebaran dan tahun baru.

Setelah libur lebaran 2019, kios saya terkena longsor. Dinding belakang jebol dan kios penuh terisi tanah. Dengan sisa-sisa modal yang ada, apalagi dengan cash flow yang sangat lambat, akhirnya Partopi Tao Co. pindah lokasi ke sekitar Masjid Raya Parapat. Souvenir yang awalnya beraliran Pop berubah jadi Syariah.

Kios di Pante rencananya dibiarkan mati suri sampai wisata Parapat bangkit lagi. Tapi ternyata malah mati benaran dihantam eskavator. :-(


 


Sunday, April 19, 2020

Langlang

WFH Minggu Keempat

Saya mulai terbiasa di rumah, bahkan keinginan untuk mencari hiburan di luar rumah pun hampir hilang. Ketika disuruh ke kantor, rasanya malas sekali. Dengan kondisi sekarang sepertinya semua pekerjaan kantor dapat dilakukan di rumah.

Selama kerja di rumah, satu hal yang sangat saya sadari adalah waktu yang cepat berlalu. Biasanya tidak terasa jarum jam sudah di angka dua atau tiga.  Padahal pekerjaan tidak banyak. Kalau di kantor jam segitu memasuki fase ngantuk atau malahan baru mulai mengumpulkan konsentrasi.

Kedua, kerja di rumah terasa lebih efisien waktu. Tidak banyak distraksi, terutama mengobrol yang tanpa disadari bisa menghabiskan banyak waktu, entah mengobrol masalah pekerjaan atau masalah yang bukan masalah.



Setelah selesainya Pandemi Corona ini, saya berpikir orang-orang akan menjadi lebih perasa. Berminggu-minggu Physical Distancing sepertinya akan merangsang jiwa-jiwa untuk berkontemplasi, melihat kembali hidup yang sudah dijalani dan merencanakan akan membuat apa besok.

Sekarang adalah masa-masa dimana hidup selalu diselingi dengan media sosial. Di antara pekerjaan yang melelahkan, kita sempatkan membuka instagram. Ketika diam tidak ada kegiatan, kita membuka youtube. Lalu ketika kita sudah lelah dan bosan bermedia sosial, apalagi yang bisa dilakukan? Ya, kembali ke "diam". Membiarkan pikiran melanglang kemana-mana, pergi ke masa lalu atau bahkan masa depan.

Momen "diam" ini sudah mulai jarang terasa. Seringnya muncul ketika nongkrong di kamar mandi, selain itu jarang sekali. Tapi kalau nongkrong sambil membawa ponsel pintar sudah tentu "diam" itu akan pergi. Dengan adanya ponsel pintar, indra kita tidak bisa diam, kita tanpa sadar terus berpacu dengan informasi yang bergerak sekencang internet yang kita miliki.

Semakin cepat internet yang kita miliki, maka semakin cepat juga informasi itu datang dan pergi. Ditambah standar rasa ingin tahu yang semakin tinggi dan gengsi/takut dicap ketinggalan informasi menjadikan kita, pada kenyataannya, tidak "tahu" apa-apa. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Tapi memang tidak sesederhana itu, banyak kondisi-kondisi lain ketika dirunut akan saling berkaitan.

Tidak "tahu" apa-apa maksud saya bukanlah benar-benar tidak tahu apa-apa, tapi lebih pada tidak memahami utuh atau sekadar mau memahami yang sesuai dengan selera. Ketika sekilas membaca suatu hal, kita langsung merasa paham. Bahkan dari judul sebuah artikel saja kita merasa sudah bisa tahu apa isinya. Padahal belum tentu begitu. Kemudian jari-jari kita akan bereaksi entah menekan tombol like, share atau mengetik komentar. Lalu?

Tidak ada. Tidak akan terjadi apa-apa. Kembali ke siklus awal, membaca sekilas.

Bersyukurlah ketika momen "diam" ini datang. Nikmati keheningannya. Siapa tahu tiba-tiba dapat inspirasi besok mau bikin apa.

Patam Lestari, Batam. 2020.
*Kita adalah saya dan saya

Saturday, September 30, 2017

Perihal 5 Kalimat Deskripsi

Akhir-akhir ini saya mulai merasakan apa yang saya takutkan, kemampuan membangun rangkaian kalimat yang mulai menurun dan menghilang. Rasa ingin menulis yang saya miliki tidak diimbangi dengan kemampuan menuliskan. Beberapa kali ide yang ada saya tuliskan, tetapi beberapa menit kemudian rangkaian kalimat itu menjadi tidak pas. Lalu tombol backspace akan ditekan-tekan berusaha menghilangkan rangkaian yang tidak pas dan tanpa sadar semua yang saya tuliskan akan hilang. Inilah namanya kebuntuan dalam menerjemahkan pemikiran ke dalam tulisan.

Kebuntuan ini mulai saya sadari ketika saya berusaha membuat deskripsi suku batak dan danau toba ke dalam 5 kalimat. Singkat cerita, saya memiliki proyek (obsesi) kecil-kecilan tentang souvenir berkualitas premium di Parapat, Danau Toba. Produk utamanya adalah kaos, sedangkan souvenir lainnya sebagai peramai saja. Melalui produk kaos ini saya tidak hanya ingin menjual barang, tetapi juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui label kertas yang tergantung di kaos. Saya ingin memberikan informasi bagi pembeli tentang suku batak dan danau toba melalui tulisan di label kertas tersebut. Target saya adalah 5 kalimat deskriptif yang menarik, informatif, baku, dan tentunya bagus, menurut saya.

Salah satu contoh adalah gambar berikut ini. Akhirnya saya menyerah membentuk kalimat, saya sudah menghapus berkali-kali, dan hanya membuat poin-poin yang kemudian akan saya kembangkan menjadi kalimat. Tetapi rangkaian kalimat sesuai dengan kriteria yang saya inginkan tidak terbentuk juga. Sudah 2 minggu sejak permasalahan ini muncul dan permasalahan yang lebih besar adalah kaos sudah siap dipasarkan, tetapi saya tidak akan memasarkan sampai label ini jadi.


Baiklah, kemampuan yang saya rasa meningkat justru adalah kemampuan saya dalam mendesain. Peningkatan itu sebenarnya dikarenakan jam terbang di pekerjaan, syukurnya kantor memberikan kebebasan selama masih dalam batas wajar dan mulai berani keluar dari zona nyaman atau kebiasaan.

Kemampuan saya dalam menulis berkebalikan dengan desain. Dengan demikian langsung dapat ditarik kesimpulan bahwa jam terbang saya menulis kalah dengan desain. Tetapi bukan demikian, menulis dalam pekerjaan (kantor pemerintahan) jauh lebih mudah dikarenakan tidak memerlukan kemampuan yang mumpuni. Kreatifitas, dapat dikatakan, dipelukan secukupnya saja karena sudah terdapat format tulisan yang harus diikuti. Menulis dalam pekerjaan juga tidak memperhatikan ketertarikan pembaca. Tujuan utamanya hanyalah menyampaikan informasi sesuai dengan EYD dan selera atasan, titik. Jadi jangan heran kalau jarang sekali ditemukan seseorang yang memiliki hobi membaca laporan.

Jika kondisi minat baca di Indonesia dibilang memprihatinkan, maka minat baca saya bisa dibilang sama memprihatinkannya. Jika saja membaca caption instagram masuk hitungan, mungkin saya dan penduduk Indonesia lainnya tidak akan dicap memprihatinkan. Tetapi memang seperti pepatah, entah dari mana, mengatakan, "visual speaks louder." Manusia lebih tertarik melihat gambar daripada membaca tulisan yang panjang karena, mungkin, otak manusia lebih mudah dan cepat menerjemahkan gambar daripada tulisan. Instagram yang sepertinya paham betul pepatah tersebut ditambah dengan strategi bisnis, maka saya, salah satu korbannya, menjadi lebih menyukai menggeser timeline yang tak berujung itu daripada membaca buku. Instragam disini menjadi kambing hitamnya!

Kesadaran itu semualah yang mendorong saya ingin berkomitmen untuk lebih rajin membaca dan menulis. Untung-untung rasa saya dalam menulis jadi lebih baik. Katanya kan rasa itu seperti pisau, semakin sering diasah akan semakin tajam. Semoga komitmen ini bukan hanya sekedar nama seperti komitmen atas hal-hal yang sebelumnya yang sering dilupakan begitu saja. Semoga.

Oh ya, deskripsi suku batak dan danau toba masih belum ketemu yang pas.


- d -

Tuesday, August 8, 2017

Cerita Singkat, Berita Besar



2017, singkat cerita, berita besarnya, saya sudah menikah. Alhamdulillah.


Beberapa teman tidak menyangka saya akan menikah, dan setelah menikah, beberapa teman melihat saya seperti belum menikah. Berbeda dengan istri saya, namanya Tulad Peni Kharisma, sebelum menikah saja sudah ada yang bertanya punya anak berapa. *hahahaha *siap-siap ditendang pas tidur

Rasanya tahun ini waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa sudah bulan Agustus. Laju waktu yang sudah berlalu memang terasa lebih cepat.

Januari 2017
Bulan januari merupakan yang paling berat tahun ini, pikiran saya terpecah antara skripsi dan persiapan pernikahan. Apalagi penguji skripsi saya adalah seorang profesor yang berkemampuan super, hanya dengan melihat judul di sampul skripsi saja sudah tahu apa isinya. Tetapi saya termasuk golongan yang beruntung karena pertanyaan tersulit yang diajukan adalah menyebutkan isi Nawacita. Saya hanya dapat menyebutkan satu poin dan dengan belas kasih sang profesor, kemudian saya hanya diminta menyebutkan isi Pancasila. Nasionalisme saya diuji dan tentu saja ujian skripsi saya diakhiri dengan gemilang.

Februari 2017
Februari tahun ini merupakan kesedihan. Saya harus berpisah dengan waktu luang yang berlimpah, berpisah dengan kontrakan yang penghuninya, katanya, gak berotak, berpisah dengan musik senam 1000 setiap hari jumat,dan berpisah dengan uang beasiswa.
Selanjutnya saya pindah ke Semarang. Kenapa Semarang? Karena teman-teman saya tidak banyak yang mau ke Semarang. Mereka lebih memilih Jogja. Saya juga awalnya ingin ke Jogja atau Bandung, tetapi dengan banyak pertimbangan saya akhirnya memilih Semarang. Dengan demikian dapat dipastikan sejak mengabdi pada negara tahun 2012, saya sudah berpindah kota sebanyak tiga kali, tidak termasuk Jakarta.

Maret 2017
11 Maret 2017, saya menikah dengan Tulad Peni Kharisma, seorang gadis desa. Ini bukan perumpamaan, rumahnya benar-benar di desa. Jendela kamar kami tepat menghadap sawah. Rasanya seperti tinggal di villa di Ubud saja. Setiap kali sawah tersebut dipanen maka saya dapat memastikan bahwa umur pernikahan kami pas dibagi tiga bulan karena tanggal pernikahan kami bertepatan dengan masa tanam.

Perbedaan budaya Batak dan Jawa yang sangat mencolok menyebabkan saya merasakan hal yang namanya "kaget budaya". Salah satu contoh misalnya: beberapa kali saya terjebak dalam kata-kata "hanya silaturahmi". Saya yang dibesarkan dalam budaya yang blak-blakan akan menerjemahkan "hanya silaturahmi" sebagai hanya silaturahmi. Ternyata makna "hanya silaturahmi" dapat bermakna lamaran atau semua keluarga berkumpul untuk membicarakan hal formal. Bagaimanapun dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung dan syukurlah orang batak pandai berimprovisasi.

April - Juli 2017 kebanyakan menganggur atau diisi dengan pekerjaan serabutan di kantor. Beginilah nasib pegawai titipan seperti saya. Lama-lama saya mau ganti profesi di KTP jadi Pegawai Nganggur dan Serabutan sajalah.

Tetapi satu hal yang perlu selalu diingat dan dijunjung adalah selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Saya dan Ny. Sinaga jadi memiliki banyak waktu dan tenaga untuk jalan-jalan. Kendalanya hanya satu, reformasi anggaran oleh Menteri Keuangan Rumah Tangga.




Saturday, December 31, 2016

Satu-satunya di 2016

Postingan ini akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir di tahun 2016. Itupun kalau postingan berhasil diselesaikan.


Tahun 2016 rasanya tahun yang paling memalaskan, tapi sekaligus juga bersejarah. Kemalasan saya bisa dilihat dari jumlah postingan di blog ini. Saya menjadi korban dari kemajuan era digital dimana akses terhadap hal-hal yang menghibur dan menghabiskan waktu dengan sia-sia itu sangat banyak dan mudah. Lihat saja, saya lebih suka melihat instagram daripada membaca berita di kompas. Saya sering juga membuka kompas tapi terkadang hanya membaca judulnya saja, dan mencari-cari berita yang menarik untuk dibaca berlama-lama. Sedangkan ketika membuka instagram saya bisa tidak sadarkan diri sampai muncul sms berisi sisa kuota.
Tetapi instagram juga memberi saya banyak inspirasi dan informasi penting. Lebih dari setengah dari jumlah akun yang saya follow adalah akun-akun yang dapat menghibur Andre dari terlalu sering melihat foto-foto wanita. Oia, Andre adalah teman satu kontrakan saya yang rajin ke gereja, mencuci, dan berkomentar. Jadi, akun-akun yang saya follow kebanyakan adalah toko cd, toko buku, illustrator, traveler, komik strip, tukang sablon, dan beberapa teman yang-sebenarnya-malas-saya-follow-tetapi-segan-kalau-tidak-difolback.
Dengan berakhirnya tahun 2016, maka hanya kurang sebulan lagi agar saya genap dua tahun tinggal di Solo dan bersiap untuk berpindah kota lagi. Kota selanjutnya adalah ketidaktahuan, tidak tahu akan berpindah ke kota mana lagi.
Hidup di Solo itu santai, tenang, tanpa tekanan dan memang bakalan dirindukan. Bayangkan ketika orang-orang dengan tertib berhenti ketika lampu merah tanpa ada yang menerobos atau melanggar garis, walaupun ada, itupun sangat-sangat sedikit. Kota yang saya impikan untuk tinggal itu seperti ini, bukan lagi Jogja, apalagi Jakarta, apalagi Medan.
Semua hal di kota ini rasanya masih dalam tahap wajar. Fasilitas secukupnya, kemacetan masih wajar, cuaca panasnya juga, dan harga makanan apalagi. Dengan beberapa kriteria itu, maka saya berani mengatakan kota Solo merupakan kota paling layak huni. Belum lagi kegiatan yang berbasis hiburan masyarakat yang setiap bulan selalu ada. Mulai dari festival jenang sampai konser-konser band metal.
Di setengah jam sebelum berganti tahun, saya takut postingan ini kebablasan masuk ke 2017, selain karena rasa malas tadi dan rasa ngantuk juga. Tulisan yang ngalor-ngidul tanpa bentuk dan alur yang jelas ini akan saya posting dengan rasa malas yang besar.


Terima kasih 2016 yang bersejarah.

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.