Thursday, October 27, 2011

Nice but sad farewell

Post ini saya tulis ketika saya masih di stasiun lempuyangan, tidak tahulah kapan dipublisnya di blog. Sudah bingung tidak ada kerjaan lagi selain menunggu kereta kahuripan tujuan bandung yang jadwal berangkatnya pukul 20.20.
Saya sudah ready di lempuyangan mulai pukul 16.00 bareng Ryan aka jojom, izati aka ijonk dan iwan. Mereka semua berangkat sekitar pukul setengah 5. Jadilah saya last man standing yang memandang teman saya pergi satu persatu.
Pertama adalah ijonk yang balik menggunakan prameks menuju klaten. Sempat ada rasa tidak rela juga kalau berpisah dengan teman seperjalanan yang hampir seminggu bersama.Setelah prameks tujuan klaten berangkat, prameks tujuan kutoarjo langsung masuk stasiun. Dan sekarang giliran iwan yang cabut. Tinggallah saya dan jojom yang belum hilang juga aura kemahoannya.
Jojom naik kereta progo tujuan pasar senen. Keretanya sendiri sudah ngetem di stasiun ntah dari jam berapa. Tapi dia belum naik-naik ke kereta karena harus menunggu teman sekorban pencaloan. Dia bingung karena mas-mas yang sekorban pencaloan dengan dia awalnya mengatakan kalau tidak bisa balik ke Jakarta, tapi kemudian semua jadi ambigu.
Sudah pukul setengah lima lebih. Sebentar lagi progo akan berangkat dan si mas-mas yang ditunggu tidak muncul-muncul juga. Setelah ditimbang-timbang, kalau si mas-mas tidak jadi ikut maka saya ngikut kereta progo sampai kebumen. Lumayanlah itung-itung pengganti rencana ke kebumen yang tidak jadi bareng si sanda sebelum ke bali dulu.
Lima menit lagi dan si mas-mas tidak muncul-muncul. Naiklah kami ke gerbong nomer 3. Saya tidak mau meletakkan tas saya sampai benar-benar dipastikan kalau si mas-mas benar-benar tidak bisa. Dan yang terjadi kemudian adalah si jojom mendapat sms dari si mas-mas yang bilang kalau dia sudah menunggu di gerbang masuk peron.
Mulai berpacu dengan waktu, si Jojom berlari-lari ke gerbang peron dan saya jalan santai di belakang. Tidak tahulah transaksi apa yang sempat terjadi di gerbang peron. Tapi beberapa detik kemudian yang saya lihat adalah kereta progo sudah mulai bergerak. Sedangkan si Jojom dan mas-masnya masih berada di gerbang peron. Akhirnya terjadilah pemandangan joging-joging akhir petang mengejar kereta. Saya ngakak sendiri melihat mereka lari terbirit-birit mengejar gerbong terakhir yang kalau tidak salah bernomor 9. Syukur saja mereka berhasil naik lewat pintu terakhir, kalau tidak tidak tahulah apa yang terjadi. Yang pasti saya sekarang tidak jadi ke kebumen.
Karena tidak jadi ke kebumen saya bingung mau ngapain. Terjadilah wisata kuliner singkat sekitar stasiun. Kemudian saya mencari posisi yang enak buat tidur sambil menunggu pukul 20.20.
Nice but sad farewell

Friday, October 14, 2011

(bukan) akhir persablonan


Selamat tinggal screen, rakel, rubber, superwhite, binder, milano kain, pigmen, ulano x, M3, neon, dan yang lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih sudah menjadi rekan untuk mencari sedikit tambahan modal untuk jalan-jalan dan makan. Saya tidak pensiun dini, hanya break dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Suatu hari saya akan kembali. Kembali membuat afdrukan, kembali mencampur pasta, kembali menggesek rakel, dan kembali stres karena screen yang susah dibersihkan. :(

Friday, October 7, 2011

Macet itu indah dan Teori Solusi

Ada banyak hal yang memuakkan dari Jakarta. Tapi yang menduduki peringkat pertama hal paling memuakkan adalah kemacetannya. Sampai-sampai rasanya ingin saya lempar semua mobil-mobil yang sedang mengantri di depan. Bayangkan saja, dari bintaro ke pasar minggu butuh waktu sampai tiga setengah jam. Emosi benar-benar meluap.
Ceritanya saya sedang bosan-bosannya di kosan dan butuh sedikit ketenangan. Tapi yang menumpang di kamar saya malah nambah 1, Raden Fachrur namanya. Kamar saya benar-benar jadi tempat penampungan. Penampungan barang dan orang. Keributanpun jadinya tidak mau berhenti. Saya yang sedang butuh ketenangan berinisiatif kabur ke pasar minggu.
Saya sudah sangat pengalaman menghadapi kemacetan. Salah satu triknya adalah hindari jam-jam sibuk yaitu jam berangkat kantor dan jam pulang kantor sekitar jam 4. Kalau sudah mendekati jam-jam ini saya biasanya menahan diri buat bepergian. Tapi kali ini saya dibutakan oleh libur yang berkepanjangan. Sehingga saya lupa kalau rabu bukanlah hari buat libur. Berangkatlah saya sehabis ashar.
Sampai di blok M masih biasa saja. Begitu sampai di blok S emosi benar-benar meluap. Ini kopaja jalannya sudah seperti orang yang sesak boker tapi mesti mengantri dulu sebelum masuk kamar mandi. Meliuk sana sini tidak mau berhenti. Biarpun jalannya cuma satu inchi satu inchi. Gas, rem, gas, rem benar-benar membuat emosi labil.
Tidak tahu sudah berapa tahun barulah sang kopaja bisa menyebrangi mampang. Macetnya ternyata sama saja. Bahkan lebih parah sepertinya. Saya yang keringatan lebih memilih untuk memejamkan mata. Tapi saya yang sangat mudah terjaga dengan suara-suara kecil bagaimana bisa tidur dengan kondisi seperti ini. Saya hanya bisa tidur-tidur ayam.
Maghrib sudah dari tadi. Langit sudah mulai gelap. Sang kopaja sekarang stuck di fly over yang biasa dilewati kalau dari mampang mau ke arah pancoran. Ternyata kemacetanpun menyimpan keindahan. Cahaya dari mobil-mobil yang menginjak rem karena terjebak kemacetan indah juga kalau dipandang pada malam hari. Warna merah dominan di malam yang sudah mulai gelap dan lampu jalan menjadi marjin dengan warna kuningnya. Posisi saya memang sangat pas. Kursi metro mini baris pertama dan berada di fly over yang sudah pasti lebih tinggi. Kalau saya ada kamera sudah saya abadikan momen ini, sayangnya tidak.
Saya jadi terpikir bagaimana mengatasi kemacetan di Jakarta. Ada isu-isu atau prediksi ahli yang mengatakan bahwa pada tahun 2014 Jakarta akan macet total. Bahkan kalau ingin keluar dari gang rumah harus mengantri panjang dahulu. Lalu apa selanjutnya kalau kemacetan total ini terjadi? Kita akan menjadi tua di jalan. Terjebak di dalam mobil yang tidak ada kamar mandinya. Semua itu membosankan.
Orang-orang Jakarta terutama yang bermobil sangat memuja-muja supaya pemerintah dapat memberikan solusi. Tapi dia sendiri tidak pernah berpikir minimal untuk mengurangi kemacetan dengan satu mobil. Kebiasaan dimanja memang sudah menempel pada diri manusia. Kalau kemacetan total terjadi,  barulah orang-orang akan mulai menyalahkan, terutama menyalahkan pemerintah.
Saya jadi terpikir, biarkan saja kemacetan total terjadi. Kalau bisa kemacetan total ini dipercepat. Tidak perlu menghalang-halangi orang jakarta untuk membeli mobil. Biar mereka rasakan batunya nanti. Kalau sudah macet total, mobil-mobil sudah tidak bisa bergerak, tentu yang terjadi adalah orang-orang jakarta yang biasa bermobil akan mencari alternatif lain sebagai substitusi. Orang-orang yang biasanya mengharapkan orang lain untuk mengatasi masalah kemacetan ini akan mencari solusi sendiri untuk mengakalinya. Kemungkinan mereka akan memilih memakai sepeda atau berjalan kaki atau membeli pesawat kalau kaya.
Disinilah saat-saat mobil di jakarta mulai berkurang karena orang-orang yang biasa bermobil menjadi trauma dengan mobil. Bagaimana tidak trauma kalau sehabis pulang dari kantor mereka baru akan sampai di rumah pada dini hari. Semua terjadi karena kemacetan total sudah melanda Jakarta. Pada saat inilah transportasi massal yang nyaman disediakan. Orang-orang yang sudah trauma dengan mobil pribadi akan memilih kendaraan rakyat. Berkuranglah mobil di Jakarta dan kemacetannya juga.

NB: ini hanya teori. Teori tentang kemacetan yang kalau terjadi, kita tidak hanya akan tua di jalan, tetapi mati juga di jalan. Saya harap saya tidak sedang di Jakarta.

Monday, October 3, 2011

Perjanjian dengan Tuhan

Orang-orang galau karena masalah percintaan. Tapi kenapa tidak galau dengan kematian. Apalagi kalau kita tahu apabila mati hari ini, maka kita akan menjadi orang yang dilaknat. Saya tidak peduli kalau saya mati muda atau mati perjaka. Tapi kalau mati hari ini, rasanya Tuhan akan murka pada saya seperti di a contract with God karya Will Eisner.
Semua orang merasa senang dapat lulus kuliah. Tapi apa yang terjadi kalau ternyata kelulusan itu adalah sebuah tanda bahaya. Bahaya karena sebuah perjanjian telah diingkari dan seseorang yang mengerti menyuruh anda segera bertaubat. Tepat di malam saat semua orang bersenang-senang dan tersenyum gembira.
Tak ada lagi kesenangan. Semua menjadi muram. Beberapa hari ke depan semua akan tetap suram. Sampai perjanjian ini ditepati walaupun sebelumnya sudah diingkari. Bertaubat satu-satunya jalan.

Wednesday, September 14, 2011

Saya cukup Mono saja

Beberapa hari yang lalu ada sms mengagetkan dari teman saya. Mono bakalan main di Jakarta di tanggal yang tidak mengenakkan, 11 Oktober. Dan besoknya merupakan tanggal yang bakalan bersejarah, saya wisuda. Dan saya rasa saya adalah salah satu orang gila di dunia.
Saya benar-benar pengen nonton. Kapan lagi bisa merenung, bermuhasabah, dan histeris. Orang-orang bilangnya musik galau, musik bunuh diri. Tapi buat saya Mono itu muhasabah. Sama seperti orang-orang yang ikut ESQ training lalu dipaksa menangis. Saya sudah tidak mempan dengan yang begitu. Tidak tahu kenapa. Tapi rasanya kita jadi tidak ikhlas dengan kematian.
"They talk in no lyric". Itu kalimat yang pernah saya baca di vinyl mereka. Tidak ada lirik, tidak banyak basa-basi, biarkan instrumen saja yang bicara. Mendengarkan Mono, atmosfer gerahnya Jakarta jadi terasa mendinginkan. Jadi jangan heran kalau bulu kuduk berdiri di siang hari yang panas. Musik mereka benar-benar dingin.
< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.