Wednesday, February 15, 2012

The more you ignore me, the closer i get

Hari ini tiba-tiba terjadi kehebohan di jejaring sosial. Siaran persidangan kasus wisma atlit yang diputar sepanjang hari masih kalah kehebohannya. Awalnya hanya beberapa orang, mereka menyebar link sebuah situs yang merilis jadwal tour Morrissey di Singapura dan Jakarta pada bulan Mei nanti, kemudian semakin ramai yang menyebar link situs ini dan beritapun menyebar kemana-mana.
Konser mantan vokalis The Smiths itu dijadwalkan di Jakarta tanggal 10 mei dan kata-katanya hanya tersedia 4700 tiket. Ribuan orang senang, ribuan orang siap membeli celengan, ribuan orang siap bernyanyi "The more you ignore me, the closer i get.You're wasting your time......."

Tuesday, February 14, 2012

Grammys 2012

Grammy Awards tahun lalu, album The Suburbs-nya Arcade Fire menang nominasi Album of The Year. Tahun sekarang, ada album 21-nya Adele. Sebuah kewajaran kalau Adele sampai mendapatkan enam awards. Dia benar-benar populer, terutama di kalangan mahasiswa -teman-teman saya kalau berkaraoke, Adele selalu masuk ke dalam list, sampai satu album penuh sepertinya. Saya tahu Adele dari mereka ini.- Berbeda kondisinya dengan Arcade Fire tahun lalu. Siapa yang memprediksi mereka bakalan menang. Lihat saja saingannya ada Katy Perry, Lady Gaga, Eminem, dan Lady Antebellum. The Suburbs dapat masuk ke dalam nominasi saja sudah merupakan kekagetan tersendiri.
Kalau disuruh memilih dari sekian banyak nominasi dan nomenee, saya akan benar-benar bingung. Bukan bingung karena memilih yang enak diantara yang enak-enak, tetapi karena terlalu sedikit yang benar-benar saya dengarkan masuk ke dalam nominasi. Kalau yang saya tahu, banyak lah. Zaman sekarang siapa yang tidak kenal Katy Perry atau Lady Gaga. Penjual es kelapa pinggir jalan mungkin juga tahu. Tergantung umur juga sebenarnya dan pergaulan. Radiohead, The Decemberists, Death Cab for Cutie, Fleet Foxes, Mumford and Sons, Cut Copy, Kings of Leon masuk nominanasi dan tidak ada satupun yang memperoleh award. Mereka memang payah masalah rebutan award, tapi siapa yang peduli.
Setelah baca-baca dan ketahuanlah produser album 21 adalah Jim Abyss. Pantas saja! Saya juga baru tahu di dalam 21 ada cover Lovesong dari The Cure. Lagu ini memang selalu menggoda.

Backsound while writing:
Fleet Foxes - White winter hymnal
The Cure - Lovesong
Mumford and Sons - The Cave

Tuesday, January 31, 2012

tiba-tiba sibuk

Menahan kantuk dengan kopi. Ini sudah gelas ketiga. Benar-benar sangat mujarab. Tetapi stamina otak sudah tidak mampu menyaingi. Saya masih ingat pesan guru biologi. Mie instan menstimulus otak dengan instan. Mata dan otak bertemu di ketidakselarasan. Berebutan, kejar-kejaran, baku hantam. Masih ada lima halaman lagi. Harus selesai hari ini.

Tuesday, January 24, 2012

Waiting for Superman


Film dokumenter ini menyorot kondisi pendidikan di Amerika yang ternyata tidak seperti bayangan saya selama ini. Saya berpikir kalau semua penduduk Amerika itu mendapatkan pendidikan yang cukup karena pendapatan perkapita negara tersebut yang lebih dari sepuluh kali pendapatan perkapita Indonesia. Dengan pendapatan yang jauh lebih besar, dibandingkan dengan penduduk Indonesia, tentu masalah pendidikan bukan menjadi masalah bagi mereka. Tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian saya, yaitu biaya pendidikan di Amerika yang ternyata berkali-kali lipat juga mahalnya dibandingkan di Indonesia.
Hal yang menjadi pusat perhatian dari film ini adalah bagaimana memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di Amerika karena banyak public school yang hanya menjadi persinggahan sementara sebelum anak-anak itu akhirnya di-drop out. Sebelumnya ada dua jenis sekolah di Amerika sana, yang pertama adalah public school, disebut sekolah negeri kalau di Indonesia, dan kedua adalah private school yang mirip seperti sekolah swasta. Bagi keluarga yang mampu menyekolahkan anaknya di private school tentu tidak akan ada masalah dengan kualitas yang diberikan oleh sekolah tersebut. Tetapi keluarga yang berpenghasilan rendah tentu tidak sanggup, padahal mereka dan anaknya sangat ingin memperoleh pendidikan yang berkualitas. Ada beberapa public school yang memiliki kualitas di atas rata-rata, tetapi kursi yang tersedia sangat sedikit. Disinilah mereka yang kurang mampu mempertaruhkan masa depan anaknya pada keberuntungan.
Penelitian dilakukan dan ada beberapa penyebab semakin menurunnya kualitas pendidikan di public school, sementara biaya pendidikan terus meningkat. Lingkungan yang tidak baik menjadi kambing hitam pertama. Lingkungan memberi pengaruh yang besar terhadap kualitas public school di lingkungan itu. Tetapi itu anggapan zaman dulu, setelah diteliti lebih dalam penyebab lingkungan yang buruk adalah karena sekolah itu sendiri. Sekolah-sekolah menjadi drop-out factories. Anak-anak menjadi pengangguran, tidak ada kegiatan, sehingga mereka mulai bertindak kriminal dan semakin memperburuk keadaan lingkungan.
Kebanyakan public school gagal karena kualitas pendidiknya yang bisa dibilang payah. Guru-guru di public school memiliki sejenis antibody yang disebut tenure. Ini adalah kebijakan birokrasi yang menjadikan guru-guru di public school kebal terhadap pemecatan, sama seperti guru-guru di sekolah negeri di Indonesia yang berstatus PNS. Untuk memperoleh tenure ini juga sangat mudah. Guru-guru hanya perlu mengajar kurang lebih selama dua tahun. Setelah itu mereka otomatis mendapat tenure. Hal ini menyebabkan mereka seenaknya saja mau mengajar atau tidak karena gaji akan tetap masuk ke tabungan.
Guru-guru di Amerika berlindung dibalik serikat guru, di dalam film disebutkan NEA dan AFT. Serikat guru inilah yang bisa dibilang membela hak-hak guru ketika dianggap terjadi pertentangan, seperti ketika Michelle Rhee, chancellor of the Washington, D.C. public schools, mengatakan akan menutup sekolah-sekolah yang kurang efektif dan memecat guru-guru yang payah. Perlu diketahui juga, serikat guru menyumbang dana yang tidak sedikit bagi dua partai besar di Amerika, Republican Party dan Democratic Party. Jadi ada simbiosis mutualisme yang terjadi di dunia politik yang menyebabkan masalah tenure sulit dibicarakan di parlemen.
Akhir film ini adalah sebuah undian yang dramatis. Public school yang reputasinya baik biasanya memiliki pendaftar yang melebihi kuota kursi yang mereka punya. Maka dibuat sebuah peraturan yang mewajibkan sekolah-sekolah membuat sebuah undian sebagai bentuk dari tes masuk. Para pendaftar dipaksa beradu keberuntungannya pada putaran bola, cabutan kertas, atau komputer yang memilih secara acak.  Mereka yang beruntunglah yang dapat bersekolah. Mereka yang tidak dipanggil namanya hanya bisa tertunduk lesu, menangis, atau berpura-pura tersenyum.

Thursday, January 5, 2012

Enemy Radio

Sudah lama sekali rasanya saya tidak mendengarkan radio. Masa-masa remaja dulu sewaktu saya masih memakai putih abu-abu, radio satu-satunya hiburan. Bukan karena tidak ada televisi, tetapi karena saya sering pulang terlalu larut. Terlalu melelahkan kalau harus menonton televisi. Lebih santai mendengarkan radio sambil melakukan pekerjaan lain di kamar saya yang selalu berantakan dan tidak beraturan karena buku, kertas, pakaian berserakan dimana-mana. Lalu saya akan terlelap dengan radio terus menyala sampai pagi. Itu sudah menjadi kebiasaan.
Saya mulai berhenti mendengarkan radio sejak hati saya menolak arus mainstream radio. Saya ingat sewaktu semester-semester awal kuliah, saya masih memiliki radio di kamar yang dinyalakan hanya setiap hari minggu jam 2 siang untuk mendengarkan alternative zone di global radio atau dinyalakan untuk memutar kaset Mocca album friends sebagai pengantar tidur kalau sedang mengalami gangguan tidur. Selain dari itu jarang sekali dinyalakan karena radio-radio menyajikan hiburan yang monoton. Mereka takut menjadi berbeda karena takut tidak laku.
Sekarang saya mulai mendengarkan radio lagi. Radio online tepatnya yang memerlukan koneksi internet agak cepat. Terima kasih kepada kemajuan teknologi dan arus globalisasi, saya jadi bisa mendengarkan NME radio. Saya biasanya hanya membaca majalahnya, itupun versi digital. Kalau saja radio-radio lokal, televisi juga, memutar single-single seperti di playlist NME radio, barangkali kondisi hiburan tidak akan separah sekarang ini yang dipenuhi oleh tema romantis dan patah hati. Masih banyak objek lain yang harusnya lebih diperhatikan. But it's always about money and popularity.


< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.