Tuesday, November 27, 2012

danau dan bukit


Kesalahan itulah yang benar

Entah sejak kapan saya tertarik dengan hukum dan perpolitikan. Saya sudah lupa. Tetapi sejauh yang saya ingat, saya awalnya terpengaruhi (lagi-lagi) oleh buku-buku diskonan yang saya beli. Ketika buku-buku itu dijual dengan harga yang sangat murah karena tidak laku, maka saya siap sedia membelinya. Walaupun saya tidak tahu kapan buku itu selesai dibaca atau bahkan mulai dibaca. Saya seperti wanita yang tergila-gila dengan diskon sepatu atau baju. Syukur saja objeknya berbeda.

Dulu itu saya sempat berpikir kalau politik itu tabu. Orang-orang berpolitik karena ingin berkuasa, mensejahterakan diri sendiri berkedok pro rakyat, kepentingan umum menjadi nomor dua. Tetapi sekarang saya tidak ingin lagi menjadi apatis ria yang tidak peduli dengan keadaan Negara. Tidak peduli sama dengan membiarkan. Setidaknya sekarang saya berusaha memahami sedikit tentang politik dan hukum yang ada. Saya tidak ingin dibodoh-bodohi oleh para penghisap yang berkuasa.

Berusaha memahami tidaklah menjawab pertanyaan yang ada. Tetapi terus melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru dari pemahaman yang masih setengah. Selama ini saya masih bertanya-tanya, apakah hukum yang dibuat manusia itu sebuah kebenaran? Atau jangan-jangan orang yang bertindak melanggar hukum adalah yang benar. Ketika timbul pertentangan antara hukum dengan budaya, hati nurani, dan sisi manusiawi, mana yang harus dibenarkan? Apakah tetap berpihak pada hukum atau sebaliknya?

Perkara pencurian sandal dibawa ke pengadilan, seorang nenek yang dituduh mencuri buah coklat diadili, apakah hati nurani dan sisi manusiawi kita mengatakan itu benar? Saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa hukum itu benar-benar buta –bagi yang tidak punya kuasa- karena tidak disesuaikan dengan hati nurani, budaya dan sisi manusiawi. Hukum itu diciptakan oleh logika manusia yang berusaha adil. Seadil-adilnya manusia tetap tidak adil bagi yang lainnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang widyaiswara pengisi materi  Percepatan Pemberantasan TIPIKOR yang sangat menjaga integritasnya. Apakah hukum itu mutlak? Beliau menjawab, kalau di pengadilan hukum itu mutlak. Pertanyaan saya terjawab setengah. Setengahnya lagi saya coba timang-timang sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia bertindak lebih mengikuti hati nurani dan sisi manusiawi dirinya dibandingkan hukum yang ditulis. Walaupun terkadang, sadar atau tidak sadar, bertentangan dengan hukum dan dianggap salah di mata hukum. Tapi buat saya, tidak semua hal yang salah dari sisi hukum adalah salah. Ketika kesalahan itu adalah kebenaran menurut hati nurani, budaya, kemanusiaan, dan lainnya, maka hal itu tidak salah. Saya baru akan menganggap kesalahan itu adalah salah ketika dibawa ke pengadilan dimana hukum itu mutlak. Ketika masih berada di luar pengadilan, di pinggir jalan, di warung makan, atau di tempat selain pengadilan, maka kesalahan itu tidak salah. Beda tempat, statusnya berbeda.

Saya tidak sedang melakukan pembenaran terhadap tindakan saya yang merelakan uang Rp50.000 untuk terbebas dari tilangan polisi karena tidak punya SIM. Kalau saja ada yang berpikir seperti itu, silahkan saja. Saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya saja. Pemikiran ini sudah lama ada. Tetapi karena kebetulan otak saya mulai bergejolak lagi, jadi saya tulis saja sebagai pelampiasan. Lebih enak keluar kalau sedang panas-panasnya.

Saat ditilang, semua orang ditawari dua pilihan, memilih sidang atau diwakilkan. Kalau memilih sidang, silahkan bawa bukti tilang dan sidang sendiri di bulan desember. Kalau diwakilkan, bayar Rp50.000 dan setelah data-data saya dicatat dan disuruh tanda tangan, saya dapat bebas pergi. Polisi bergerombol, menilang seperti nelayan menjaring ikan, lalu memberi dua pilihan tadi seakan-akan semua itu sah. Saya tidak tahu semua itu sah atau tidak, ada atau tidak peraturan yang mengaturnya-serius, saya benar benar tidak tahu. Motor saja saya tidak punya, apalagi memahami peraturan-peraturan seperti itu. Tapi karena polisi-polisi itu bertindak seperti semuanya sudah tersistem, maka saya berpikir kalau itu sah-sah saja.

Pertimbangan kedua saya adalah motor yang saya gunakan adalah pinjaman dari teman saya Rifqy. Kalau saya sok-sokan berintegritas dan tidak mau mengeluarkan Rp50.000, maka saya tidak hanya menyusahkan diri sendiri, tetapi juga keluarga teman saya itu. Saya tentu tidak mau jauh-jauh dari Bogor ke Jogja, di tengah-tengah jadwal diklat yang padat, hanya untuk sidang karena ditilang polisi di bulan desember nanti. Jadi apa saya mesti menyusahkan orang lain demi sebuah integritas. Sisi manusiawi dan hati nurani saya bersorak-sorak mengatakan itu tidak benar. Lebih baik membayar uang Rp50.000 dan masalah selesai.

Dilema itu muncul, ketika itu saya benar-benar bingung. Saya bertanya tentang sistem transfer bank kepada teman-teman saya yang lain dan tidak ada yang mengerti. Saya terus berpikir bagaimana caranya supaya apa yang saya lakukan tidak melanggar hukum. Tapi kemudian saya berpikir lagi, memangnya saya tahu hukum yang mengaturnya bagaimana. Jangan-jangan ada aturan yang mengatur tentang pungutan Rp50.000 itu dan diwakilkan. Sayapun menggunakan azas praduka tidak tahu dan setelah menimbang-nimbang sisi baik dan buruknya, keuntungan dan kerugian, hukum dan manusiawi, maka saya memutuskan untuk diwakilkan dan membayar.

Saya tidak mau dibilang salah. Apa yang saya lakukan itu tidak salah menurut hati nurani dan sisi manusiawi. Kalau ada sisi manusiawi seseorang yang menganggap menyusahkan orang lain adalah sebuah hal yang benar, maka dia bukan manusia. Dari sisi hukum, saya juga tidak tahu salah atau benar. Kalaupun salah, saya hanya akan mengaku salah kalau sudah di pengadilan.

Wednesday, October 24, 2012

Minggu'


Aku langsung melihat jam di handphone ketika terjaga pagi ini, 04.20, waktu yang sama dengan kemarin. Konyol! Aku lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi, teringat aku belum shalat isya. Kosan ini sepi sekali, seperti hanya aku penghuninya dan tikus yang terkadang numpang lewat. Oh ya kucing juga ada. Aku teringat semalam, entah pukul berapa, sepasang kucing siap bertarung tepat di bawah jendela kamarku. Suaranya sangat berisik. Aku dengan banyak rasa malas berjalan ke luar kamar dan mengambil sapu bersiap-siap menjadi pelerai. Aku kenal kedua kucing itu. Warnanya sama-sama perpaduan hitam dan putih. Kucing yang ada lonceng di lehernya bernama Ketty. Aku tahu namanya dari Ema, anak ibu kos. Bagian atas badannya berwarna hitam. Sedangkan, bagian dada sampai moncongnya berwarna putih. Tepat di bawah hidung ada segaris warna hitam yang terkesan seperti kumis. Dia jadi terlihat macho. Aku juga sempat mendengar cerita yang tidak tahu benar atau tidaknya mengenai kucing ini. Katanya ketika Ketty masih kecil, dia punya seorang ibu susu. Seorang wanita yang sering menggendong Ketty sambil memberikan langsung susu dari payudaranya. Mereka bilang wanita itu sinting. Rumahnya selalu aku lewati setiap hari, 3 rumah dari tempat aku sekarang tinggal. Tapi sekarang wanita itu sudah hilang, tidak ada yang tahu kemana. Kucing yang satu lagi tidak kalah macho dari Ketty. Warnanya hitam dan putih juga, tetapi campur aduk dan tidak berpola. Satu hal yang membuat kucing ini terlihat macho adalah lukanya yang menyebar di sembarang tempat di badannya. Kulit-kulit yang tak berbulu lagi, keras, dan kering. Dan aku masih ingat tatapan matanya yang tajam seolah ingin berkata “aku ini kucing liar, jangan kau macam-macam”. Akhirnya dengan sapu aku berhasil melerai mereka berdua. Ketty berlari menuruni tangga dan kucing satu lagi naik ke atas genteng. Walaupun mereka masih terus bertatapan, tapi sepertinya mereka tidak berkelahi lagi. Setidaknya tidak di bawah jendela kamarku. Aku melanjutkan tidur yang terganggu dan terbangun untuk shalat isya seperti yang tadi sempat aku ceritakan. 

Beberapa menit setelah aku shalat isya, adzan subuh berkumandang. Saat aku aku sudah rebahan di atas kasur masih memakai sarung. Kurang tidur dan tiba-tiba bangun itu benar-benar membuat kepala rasanya berat. Lalu tanpa sadar aku terlelap lagi mengabaikan kumandang adzan. Aku terbangun lagi pukul enam kurang lima belas menit. Dengan otak yang belum berfungsi dengan normal aku masuk lagi ke kamar mandi, berwudhu, lalu shalat subuh. Selesai shalat aku menjatuhkan kepalaku ke atas kasur yang tepat berada di belakang sajadah. Ini adalah posisi tidur favoritku di kamar ini dengan menjadikan kasur sebagai bantal.  Sambil memandang langit-langit kamar aku sempat berpikir tujuan sebenarnya aku shalat itu apa. Apakah untuk mendapatkan pahala, terhindar dari neraka, atau apa? Pertanyaan yang sederhana tetapi rumit dan sulit menjawabnya.. Akupun mengalihkan perhatian ke netbook yang selalu menjadi teman setiaku di kamar ini. Kunyalakan, buka browser, dan mengecek berita terbaru di Antara. Lagi-lagi polemik KPK dengan Polri. Para penegak hukum yang seharusnya saling mendukung, malah bersitegang dan tidak akur. Penyakit Negara ini memang sudah akut. Orang-orang yang diamanahkan kekuasaan takut kehilangan kekuasaannya. Malah menjadikan kekuasaan itu sebagai kekuatan. Mereka takut miskin seperti rakyat yang sejatinya berkuasa. Tapi sekarang mereka sudah menghilangkan kepercayaan rakyat. Rakyat sekarang sudah pintar dan tidak bisa dibodohi. Hanya tinggal menunggu klimaks saja sampai rakyat sebagai penguasa sebenarnya benar-benar marah.

***

Sebenarnya pagi ini aku sedang gundah. Seperti ada sebuah perasaan kosong yang merasuk. Tentu aku tahu penyebabnya, tapi tidak akan aku ungkapkan disini dan saat ini. Itu adalah sebuah sisi sensitif dari seorang laki-laki yang tidak akan diumbar dengan gratis. Aku merasa ini adalah efek dari buku Ajip Rosidi yang aku baca semalam. Tapi kemarin aku juga membaca bukunya Charles Dickens, pagi harinya aku menyelesaikan Bromocorahnya Mochtar Lubis, dan 2 hari yang lalu aku membaca Beauty Affair karya Abdullah Harahap. Aku memang senang bergonta-ganti bacaan sebelum sampai ke halaman terakhirnya. Walaupun akhirnya buku itu selesai aku baca, tetapi terkadang ketika melanjutkan membaca aku harus mengulang beberapa halaman yang sudah terbaca supaya menyegarkan kembali ceritanya. Akibatnya cerita-cerita mereka menjadi campur aduk di kepalaku. Membuat kegundahan ini semakin rumit, serumit pemikiran-pemikiran mereka yang coba dimediakan lewat tutur bahasa.

Hati yang gundah seperti ini sudah sering terjadi. Sampai-sampai aku bisa menemukan sendiri penyembuhnya. Jangan berpikir kalau aku gundah karena seorang wanita. Anggapan itu terlalu picik. Ada banyak hal yang lebih patut diurusi daripada seorang wanita. Hal-hal itu menjadi komplotan pertanyaan di kepalaku dan ketika pertanyaan itu tidak terjawab tetapi pikiran ini terus memaksa bertanya maka saat itulah kegundahan itu muncul. Kalau sudah gundah seperti itu aku akan mencoba mengalihkan konsentrasi dengan menyibukkan diri. Aku paham menyibukkan diri akan membuat aku lupa. Begitu juga pagi ini, tiba-tiba aku terpikir untuk lari pagi. Melihat jam baru setengah tujuh dan hawa Jakarta masih sejuk. Aku mencoba berpikir apa yang harus dibawa. Ini pertama kalinya aku berniat sendiri untuk lari pagi. Aku sebenarnya sangat malas kalau disuruh lari. Rasa malas itu muncul karena aku memang tidak kuat kalau disuruh lari. Baru beberapa menit berlari dadaku akan terasa seperti digebuk-gebuk dari dalam, napas menjadi tidak teratur, dan pikiranku akan kacau tidak terkontrol. Tapi pagi ini, justru pikiran yang tidak terkontrol itulah yang aku cari. Jadi aku menyiapkan DAP trekstorku yang hanya berkapasitas 512mb, membersihkan sepatu NB yang masih ditempeli sisa-sisa pasir dari sawarna, dan uang Rp22.000. Aku siap untuk berangkat ke velodrome.

Aku mau melewatkan saja cerita aku berlari di velodrome, hal yang memalukan ketika aku hanya sanggup berlari dua kali putaran, tapi tentu rasanya akan ada yang bolong dari catatan ini. Jadi aku persingkat sajalah. Aku mulai berlari-lari kecil sambil diiringi lagu Tristan, duo folk dari Jakarta yang CDnya aku dapat secara gratis di Demajors. Stopwatch kunyalakan, napas kujaga supaya tetap teratur, dan langkah kaki diiramakan tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Aku berlari melewati pelari lain dengan percaya diri, menyalip di antara kerumunan anak SMP berpakaian olahraga yang berjalan santai, dan memperlambat lari ketika terpesona dengan seorang dara. Aku menyelesaikan satu putaran dengan sukses. Sambil berlari aku memilih-milih untuk mengganti lagu, Tristan terlalu sendu di pagi hari yang cerah ini. Aku membuka album Lou Reed-Transformer, lalu memilih I’m so free. Aku semakin bersemangat.
Yes, I’m Mother Nature’s son
And I’m the only one
I do what I want and I want what I see   
Could only happen to me
I,m so free. I’m so free
When I feel good, I’m so free
Early in the morning, I’m so free
Late in the evening, I’m so free
I’m so free…   

Setengah putaran kedua aku lewati, kakiku mulai terasa berat. Aku terlalu bersemangat sepertinya sampai lupa mengatur napas dan tempo lari jadi berantakan. Patut aku beritahu juga, aku punya betis kaki yang besar. Teman-temanku selalu kaget kalau melihat betisku yang seperti ini. Kalau kemudian mereka berkomentar aneh-aneh, itu sudah menjadi hal yang biasa. Betisku ini memang barang langka dan berat. Kalau aku berlari, beban paling berat yang perlu ditahan adalah keseluruhan kakiku ini. Mengangkatnya mengorbankan kalori yang banyak. Jadi aku berpikir wajarlah kalau setelah berlari satu setengah kali mengelilingi stadion velodrome betisku ini terasa semakin berat. Sedangkan napasku sebenarnya masih kuat. Tetapi betisku yang besar ini tidak mendukung. Jadi aku memutuskan untuk berhenti sebelum dua putaran di depan sebuah warung yang menjual minuman. Aku mengecek stopwatch dan ternyata aku hanya berlari selama delapan menit. Sangat payah! Aku mencopot sepatu dan memegang betisku yang rasanya seperti ditarik kencang. Susah memang kalau memiliki betis pemain bola, tetapi jarang dilatih berlari. Berlari sebentar saja, otot-ototnya sudah menjerit-jerit meminta oksigen lebih.

***

Aku berjalan pulang sambil sesekali mengguyur tenggorokan dengan sebotol air minum. Jalan pemuda pagi ini sangat lengang jika dibandingkan dengan keadaannya pada hari kerja. Kendaraan bermotor tidak terlalu ramai dan cahaya matahari tidak terlalu terik, Jakarta membuat betah kalau sedang seperti ini. Tapi Jakarta yang seperti ini hanya bisa dinikmati di akhir pekan ketika jutaan pekerja yang sedang libur memilih untuk istirahat di rumah. Ketika sudah masuk hari kerja, tidak ada lagi yang menarik dari Jakarta, kecuali uang dan fasilitasnya.

Aku sempat berpapasan dengan pak rahmat. Dia sedang mengayuh sepedanya yang berwarna merah. Dengan matanya yang sudah tua, aku yakin dia tidak melihatku yang sedang berjalan di trotoar. Jadi aku memutuskan untuk tidak menyapanya. Sepeda yang warna merahnya sudah memudar itu selalu jadi alat transportasinya kemana-mana. Ada keranjang dari kayu diboncengannya. Aku sering melihat keranjang itu berisi botol-botol bekas. Aku tidak tahu pekerjaan Pak Rahmat itu sebenarnya apa, tapi aku sering melihat dia mengumpulkan botol-botol yang sudah tidak terpakai dan terbengkalai. Kasihan aku melihatnya. Menurut perhitunganku, melihat dari raut wajahnya dan kulit yang sudah mengendur, umurnya sudah nyaris 80 tahun atau mungkin lebih, tapi dia masih terlihat kuat. Tuntutan hidup barangkali memaksa. Aku sebenarnya tidak terlalu kenal dengannya. Kami hanya sesekali bertemu di mushalla. Dia selalu memakai baju koko berwarna abu-abu. Aku ingat betul warnanya karena baju itulah yang selalu dia pakai. Dia jarang sekali menjadi imam shalat walaupun dari segi umur dia sudah yang paling senior. Aku akan beritahu alasannya. Dia biasanya berwudhu di mushalla dan ketika dia berwudhu, baju kokonya dilepas, dia memakai kaos dalam putih polos yang sudah lusuh. Setelah berwudhu dia akan memakai lagi baju koko yang tadi dilepasnya dengan sangat perlahan. Benar-benar pelan. Kancing demi kancing dengan sangat hati-hati. Umur yang menua memang melemahkan. Gara-gara kesulitan mengancing bajunya, dia sering ketinggalan takbir pertama, bahkan al fatihah lewat, dan ketika ayat pendek akan selesai dibaca, ketika beberapa detik lagi imam akan bertakbir untuk rukuk, dia akan buru-buru mengikuti dengan kancing baju yang belum dikancingkan semuanya. Dibiarkan terbuka. Tapi beberapa hari terakhir dia selalu menjadi imam ketika shalat maghrib. Suaranya terdengar sangat lemah dan dia membaca dengan pelan dan terkadang samar-samar. Lafadznya lugu dan sederhana dan memang tidak bisa dibandingkan dengan ustadz-ustadz kondang di luar sana, tapi benar-benar membuat kepala ini tertunduk.  

Aku lanjut berjalan. Di depan pasar inpres, aku sempat makan bubur sambil menonton seorang laki-laki dengan ototnya yang kekar dan kulitnya yang hitam membongkar muat pasir dari sebuah truk. Dia bekerja tanpa jeda dan tanpa suara. Menyekop tiap pasir kemudian melemparnya ke tumpukan pasir di pojok jalan. Seperti tidak ada hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari menyekop pasir. Atau dia ingin bersegera mungkin, tidak tahu. Setelah semua pasir berhasil diturunkan barulah dia berhenti, mengambil kausnya yang digantungkan di pinggiran bak truk yang kemudian digunakan untuk mengelap keringatnya. Lalu dia masuk ke dalam truk dan pergi tanpa basa-basi. 

Akhirnya aku sampai di kosan dengan kaus yang masih basah dengan keringat, dengan botol minum kosong yang masih di tangan, dan dengan pertanyaan di kepala yang bertambah banyak. Aku tidak mau keluar lagi di minggu pagi.

Wednesday, October 3, 2012

Man Machine

Beberapa minggu belakangan ini, saya punya jam tidur yang berantakan. Pola tidur saya tidak terjadwal, seenaknya saja. Bisa sepulang dari kantor, setelah makan malam, dini hari, atau pagi. Tetapi anehnya, saya selalu bangun di waktu yang itu-itu saja. Setidaknya saya selalu bangun di tiga jenis waktu. Sekitar pukul 12 antara malam dan pagi, pukul 4 pagi sebelum subuh, dan pukul 8 pagi yang seharusnya saya sudah mengabsen di kantor.

Kalau saya tertidur sehabis jam makan malam, sekitar pukul 7, maka pukul 12 kurang atau lebih saya biasanya terbangun. Mata ini sudah seperti jam weker yang otomatis terbuka tanpa dipaksa. Setelah bangun maka saya akan kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya biasanya menikmati bubur di warung kopi, membaca buku murahan yang menumpuk di kamar, atau mengisi blog yang tak menghasilkan uang ini.

Jadwal bangun saya yang kedua adalah pukul 4 pagi. Ini terjadi hampir setiap hari. Tidak peduli saya tidur di jam yang dibilang baik, sekitar pukul 9 atau 10 malam, atau di pagi hari yang terlalu pagi. Bagaimana mungkin saya tidak terbangun ketika mushalla yang hanya berjarak 15 meter dari kosan saya sudah menyuarakan bahwa shalat itu lebih baik dari tidur. Sebenarnya saya tidak terbangun karena seruannya itu, tetapi secara aerodinamika, ada jalur udara yang mengarah langsung ke kamar saya melalui atap-atap dan tembok-tembok rumah penduduk yang menyebabkan suara yang merambat di udara benar-benar terasa di kamar ini. Suara yang berasal dari toa mushalla itu lebih sanggup membangunkan daripada alarm yang saya set di handphone.

Ketika saya sedang malas-malasnya bangun pagi dan di kantor sedang tidak ada kerjan, maka saya biasanya saya akan memilih untuk bangun siang, maksimal pukul 8 pagi. Sebenarnya saya ingin tidur lebih lama lagi, tetapi teriknya cahaya matahari pagi yang langsung masuk ke dalam kamar ini benar-benar membuat gerah. ada sebuah efek rumah kaca mini yang terjadi di dalam kamar saya ini. Ketika jendelanya hanyalah sebuah keca besar yang berukuran 1,5 m x 1 m, maka layaknya bumi yang sudah terlalu banyak ditutupi oleh karbondioksida, cahaya yang masuk ke dalamnya akan terjebak dan susah untuk keluar karena akan dipantul-pantulkan, sehingga suhu di dalamnya akan semakin memanas. Mau tidak mau sayapun mandi dan berangkat ke kantor.

Tetapi mulai hari ini, semua jadwal itu harus ditata ulang lebih ketat. Setiap pagi dan sore jari ini harus menempel di mesin absen yang kalau telat semenit saja akan memangkas tunjangan saya sekian persen. Saya manusia tetapi merasa seperti hewan peliharaan yang dilepas mencari makan setiap pagi dan disuruh masuk kandang ketika senja. Atau seperti mesin yang sudah diset tupoksinya dan bekerja terjadwal dan selalu berada di jalur seharusnya. Haha! Hidup saya bisa saja seperti sapi atau mesin, tapi saya tetap manusia. Percayalah!

Monday, September 10, 2012

Hujan dan Jakarta masih berteman

Sudah lama sekali hujan tidak membasahi Jakarta. Sampai saya lupa kapan terakhir kali dia turun. Tapi pagi ini suara rintik-rintik air itu terdengar lagi, suara yang mulai terdengar asing disini. Membuat saya terbangun dari tidur dan keluar melihat. Hujan akhirnya bersua dengan Jakarta. Menguapkan rindu-rindu penghuninya.

Ketika masih tinggal di bintaro, saya punya kebiasaan buruk yang dilakukan ketika hujan. Menyeduh segelas kopi dan memutar lagu sendu. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka itu pasangan serasi. Pikiran saya untuk sekejap menjadi hening. Keheningan dan ketenangan yang sangat susah dicari di tengah kota yang hiruk pikuk ini.




< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.