Saturday, October 29, 2011

Hello Mrs. Cold

 

Hey baby, Mrs. Cold
Acting so tough,
didn't know you had it in you so be hurt at all
You waited too long
You should've hook me,
before I put my raincoat on

Oh can I get it
Oh can I see
You were fronting because
You knew you'd find yourself vulnerable around me
Oh can I get it
Oh can I see
You feel vulnerable around me

Hey, baby
what’s going on?
You lost control and you lost your tongue
You lost me
Deaf in my ear
Nothing you can say is gonna change the way I feel

Oh can I get it
Oh can I see
You were fronting because
You knew you find yourself vulnerable around me

Oh can I get it
Oh can I see
I step too close to your boundaries

You wanted nobody around to see
You feel vulnerable around me

Hey baby
What is love?
It was just a game
We're both playing and we can’t get enough of
We're both playing and we can’t get enough of
We're both playing and we can’t get enough of

Sumpah Pemuda, Jongkok Pemuda, Bangkit Pemuda

Tanggal 28 oktober selalu diperingati sebagai hari sumpah pemuda karena 83 tahun yang lalu di tanggal yang sama sebuah sumpah dibacakan oleh pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia. Mereka bersumpah akan selalu bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Indonesia.
Headline-headline di media sudah pasti seluruhnya mengenai sumpah para pemuda-pemudi ini. Apa lagi coba? Belakangan ini isu-isu yang menghebohkan sudah jarang. Terakhir kalau tidak salah masalah reshuffle dan ayu ting ting. Media formal tidak mungkin memuat headline ayu ting ting walaupun dia termasuk pemudi juga. Sedangkan masalah reshuffle sudah basi. 
Headline salah satu media TV yang saya temukan adalah "Bangkit Pemuda Indonesia". Kata bangkit disini mengungkapkan seolah-olah pemuda Indonesia itu sedang jongkok atau baru bangun tidur dan sedang mengumpulkan nyawa. Menunggu perut kriuk kriuk barulah mau bergerak. Abstraknya pemuda Indonesia itu pemalas.
Tapi apakah pemuda Indonesia saat ini benar-benar belum bangkit? Jangan-jangan beginilah sebenarnya kebangkitan pemuda Indonesia itu. Siapa yang tahu. Tidak ada tolok ukur baku yang dapat digunakan untuk menentukan apakah pemuda Indonesia saat ini sedang jongkok atau sudah bangkit dari jongkoknya. 
Lagipula bagaimana bentuk kebangkitan itu abstrak. Apakah pemuda Indonesia harus mengkudeta kepemimpinan golongan tua atau harus membuat Sumpah Pemuda II baru bisa dibilang kebangkitan.  Setiap tahun disuruh bangkit berarti pekerjaan pemuda Indonesia adalah jongkok, bangkit, jongkok, bangkit. Bukannya setiap tanggal 20 mei kita selalu bangkit secara nasional.

Thursday, October 27, 2011

Nice but sad farewell

Post ini saya tulis ketika saya masih di stasiun lempuyangan, tidak tahulah kapan dipublisnya di blog. Sudah bingung tidak ada kerjaan lagi selain menunggu kereta kahuripan tujuan bandung yang jadwal berangkatnya pukul 20.20.
Saya sudah ready di lempuyangan mulai pukul 16.00 bareng Ryan aka jojom, izati aka ijonk dan iwan. Mereka semua berangkat sekitar pukul setengah 5. Jadilah saya last man standing yang memandang teman saya pergi satu persatu.
Pertama adalah ijonk yang balik menggunakan prameks menuju klaten. Sempat ada rasa tidak rela juga kalau berpisah dengan teman seperjalanan yang hampir seminggu bersama.Setelah prameks tujuan klaten berangkat, prameks tujuan kutoarjo langsung masuk stasiun. Dan sekarang giliran iwan yang cabut. Tinggallah saya dan jojom yang belum hilang juga aura kemahoannya.
Jojom naik kereta progo tujuan pasar senen. Keretanya sendiri sudah ngetem di stasiun ntah dari jam berapa. Tapi dia belum naik-naik ke kereta karena harus menunggu teman sekorban pencaloan. Dia bingung karena mas-mas yang sekorban pencaloan dengan dia awalnya mengatakan kalau tidak bisa balik ke Jakarta, tapi kemudian semua jadi ambigu.
Sudah pukul setengah lima lebih. Sebentar lagi progo akan berangkat dan si mas-mas yang ditunggu tidak muncul-muncul juga. Setelah ditimbang-timbang, kalau si mas-mas tidak jadi ikut maka saya ngikut kereta progo sampai kebumen. Lumayanlah itung-itung pengganti rencana ke kebumen yang tidak jadi bareng si sanda sebelum ke bali dulu.
Lima menit lagi dan si mas-mas tidak muncul-muncul. Naiklah kami ke gerbong nomer 3. Saya tidak mau meletakkan tas saya sampai benar-benar dipastikan kalau si mas-mas benar-benar tidak bisa. Dan yang terjadi kemudian adalah si jojom mendapat sms dari si mas-mas yang bilang kalau dia sudah menunggu di gerbang masuk peron.
Mulai berpacu dengan waktu, si Jojom berlari-lari ke gerbang peron dan saya jalan santai di belakang. Tidak tahulah transaksi apa yang sempat terjadi di gerbang peron. Tapi beberapa detik kemudian yang saya lihat adalah kereta progo sudah mulai bergerak. Sedangkan si Jojom dan mas-masnya masih berada di gerbang peron. Akhirnya terjadilah pemandangan joging-joging akhir petang mengejar kereta. Saya ngakak sendiri melihat mereka lari terbirit-birit mengejar gerbong terakhir yang kalau tidak salah bernomor 9. Syukur saja mereka berhasil naik lewat pintu terakhir, kalau tidak tidak tahulah apa yang terjadi. Yang pasti saya sekarang tidak jadi ke kebumen.
Karena tidak jadi ke kebumen saya bingung mau ngapain. Terjadilah wisata kuliner singkat sekitar stasiun. Kemudian saya mencari posisi yang enak buat tidur sambil menunggu pukul 20.20.
Nice but sad farewell

Friday, October 14, 2011

(bukan) akhir persablonan


Selamat tinggal screen, rakel, rubber, superwhite, binder, milano kain, pigmen, ulano x, M3, neon, dan yang lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih sudah menjadi rekan untuk mencari sedikit tambahan modal untuk jalan-jalan dan makan. Saya tidak pensiun dini, hanya break dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Suatu hari saya akan kembali. Kembali membuat afdrukan, kembali mencampur pasta, kembali menggesek rakel, dan kembali stres karena screen yang susah dibersihkan. :(

Friday, October 7, 2011

Macet itu indah dan Teori Solusi

Ada banyak hal yang memuakkan dari Jakarta. Tapi yang menduduki peringkat pertama hal paling memuakkan adalah kemacetannya. Sampai-sampai rasanya ingin saya lempar semua mobil-mobil yang sedang mengantri di depan. Bayangkan saja, dari bintaro ke pasar minggu butuh waktu sampai tiga setengah jam. Emosi benar-benar meluap.
Ceritanya saya sedang bosan-bosannya di kosan dan butuh sedikit ketenangan. Tapi yang menumpang di kamar saya malah nambah 1, Raden Fachrur namanya. Kamar saya benar-benar jadi tempat penampungan. Penampungan barang dan orang. Keributanpun jadinya tidak mau berhenti. Saya yang sedang butuh ketenangan berinisiatif kabur ke pasar minggu.
Saya sudah sangat pengalaman menghadapi kemacetan. Salah satu triknya adalah hindari jam-jam sibuk yaitu jam berangkat kantor dan jam pulang kantor sekitar jam 4. Kalau sudah mendekati jam-jam ini saya biasanya menahan diri buat bepergian. Tapi kali ini saya dibutakan oleh libur yang berkepanjangan. Sehingga saya lupa kalau rabu bukanlah hari buat libur. Berangkatlah saya sehabis ashar.
Sampai di blok M masih biasa saja. Begitu sampai di blok S emosi benar-benar meluap. Ini kopaja jalannya sudah seperti orang yang sesak boker tapi mesti mengantri dulu sebelum masuk kamar mandi. Meliuk sana sini tidak mau berhenti. Biarpun jalannya cuma satu inchi satu inchi. Gas, rem, gas, rem benar-benar membuat emosi labil.
Tidak tahu sudah berapa tahun barulah sang kopaja bisa menyebrangi mampang. Macetnya ternyata sama saja. Bahkan lebih parah sepertinya. Saya yang keringatan lebih memilih untuk memejamkan mata. Tapi saya yang sangat mudah terjaga dengan suara-suara kecil bagaimana bisa tidur dengan kondisi seperti ini. Saya hanya bisa tidur-tidur ayam.
Maghrib sudah dari tadi. Langit sudah mulai gelap. Sang kopaja sekarang stuck di fly over yang biasa dilewati kalau dari mampang mau ke arah pancoran. Ternyata kemacetanpun menyimpan keindahan. Cahaya dari mobil-mobil yang menginjak rem karena terjebak kemacetan indah juga kalau dipandang pada malam hari. Warna merah dominan di malam yang sudah mulai gelap dan lampu jalan menjadi marjin dengan warna kuningnya. Posisi saya memang sangat pas. Kursi metro mini baris pertama dan berada di fly over yang sudah pasti lebih tinggi. Kalau saya ada kamera sudah saya abadikan momen ini, sayangnya tidak.
Saya jadi terpikir bagaimana mengatasi kemacetan di Jakarta. Ada isu-isu atau prediksi ahli yang mengatakan bahwa pada tahun 2014 Jakarta akan macet total. Bahkan kalau ingin keluar dari gang rumah harus mengantri panjang dahulu. Lalu apa selanjutnya kalau kemacetan total ini terjadi? Kita akan menjadi tua di jalan. Terjebak di dalam mobil yang tidak ada kamar mandinya. Semua itu membosankan.
Orang-orang Jakarta terutama yang bermobil sangat memuja-muja supaya pemerintah dapat memberikan solusi. Tapi dia sendiri tidak pernah berpikir minimal untuk mengurangi kemacetan dengan satu mobil. Kebiasaan dimanja memang sudah menempel pada diri manusia. Kalau kemacetan total terjadi,  barulah orang-orang akan mulai menyalahkan, terutama menyalahkan pemerintah.
Saya jadi terpikir, biarkan saja kemacetan total terjadi. Kalau bisa kemacetan total ini dipercepat. Tidak perlu menghalang-halangi orang jakarta untuk membeli mobil. Biar mereka rasakan batunya nanti. Kalau sudah macet total, mobil-mobil sudah tidak bisa bergerak, tentu yang terjadi adalah orang-orang jakarta yang biasa bermobil akan mencari alternatif lain sebagai substitusi. Orang-orang yang biasanya mengharapkan orang lain untuk mengatasi masalah kemacetan ini akan mencari solusi sendiri untuk mengakalinya. Kemungkinan mereka akan memilih memakai sepeda atau berjalan kaki atau membeli pesawat kalau kaya.
Disinilah saat-saat mobil di jakarta mulai berkurang karena orang-orang yang biasa bermobil menjadi trauma dengan mobil. Bagaimana tidak trauma kalau sehabis pulang dari kantor mereka baru akan sampai di rumah pada dini hari. Semua terjadi karena kemacetan total sudah melanda Jakarta. Pada saat inilah transportasi massal yang nyaman disediakan. Orang-orang yang sudah trauma dengan mobil pribadi akan memilih kendaraan rakyat. Berkuranglah mobil di Jakarta dan kemacetannya juga.

NB: ini hanya teori. Teori tentang kemacetan yang kalau terjadi, kita tidak hanya akan tua di jalan, tetapi mati juga di jalan. Saya harap saya tidak sedang di Jakarta.
< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.