Saturday, December 24, 2011

Before Home: Sebesi Island

07 Nopember 2011 
Pasar Minggu (20.00)
Kp. Rambutan
Bis Primajasa (21.30)
Sesuai rencana, saya berangkat dari pasar minggu tanggal 7 nopember jam 8 malam langsung menuju terminal kampung rambutan. Lalu menuju Merak menggunakan bis Primajasa.
Total pengeluaran hari 1:
Rp4.000 (angkot) + Rp17.000 (primajasa) + Rp2.000 (permen jahe)
= Rp23.000

08 Nopember 2011
Merak (00.30)
Masjid Rihlatul Qudsiyah

Alasan kesekian kenapa saya berangkat malam adalah sunrise. Entah kenapa saya jadi mupeng melihat matahari terbit dari tengah lautan. Sedikit konyol tapi biarlah. Ujung-ujungnya saya harus mencari penginapan sementara sampai menunggu ferry jam 4 nanti. Dan yang saya temukan adalah mesjid pas sebelum gerbang masuk pembelian tiket ferry. Nama mesjidnya adalah Mesjid Rihlatul Qudsiyah dan tempatnya sudah seperti tempat penampungan korban bencana, manusia tepar dimana-mana sesuai posisi yang dirasanya enak. Sayapun mencari-cari posisi yang wenak juga. Inilah salah satu berkah tinggal di Indonesia, banyak mesjidnya, kecuali Bali.
KM Windu Karsa Pratama (03.45)
No Sunrise, Cloudy Sky (05.30)
Bakauheni (06.15)
Flat Rate Ojek
Keluar dari pelabuhan seperti biasa banyak yang menawarkan angkutan, ada bis, ojek, travel dan angkot. Yang paling ngotot menawari saya adalah tukang ojek. Saya sampai kesal juga, akhirnya saya tanya harga. Tukang ojek di pelabuhan ini sudah terorganisir dengan baik sepertinya. Saya dibawa ke pangkalannya dan diperlihatkan standar tarif dari bakauheni ke berbagai tempat dan itu tidak bisa ditawar. Ke Kalianda kalau tidak salah Rp50.000 saya tawar Rp20.000. Saya tidak ada niat naik ojek, saya menawar sambil berlalu pergi. Si tukang malah tertawa dan mengejek saya “mau ngeliat harga doank bang”. Sayapun semakin kesal dan berkata dengan lantang “YA”. Masih pagi emosi sudah meninggi.
Angkot Kuning (06.30)
Kalianda (07.20)

Bubur Ayam #enak
Angkot Biru (07.40)
Dermaga Canti (08.10)
Saya terlalu pagi sampai di canti. Jadwal kapal yang menyeberang ke sebesi adalah pukul 13.00. Ini gara-gara para tukang ojek beringas di terminal kalianda. Saya jadi tidak bisa berpikir dengan jernih. Perkiraan awal sebenarnya saya ingin berputar-putar di kalianda dulu sampai kira-kira agak siang. Tapi rencana berantakan sudah dan hitungannya masih 5 jam lagi sampai pukul 13.00. Mulai kebingungan apa yang harus saya lakukan selama 5 jam kedepan.
Pantai Canti (10.50)

Masjid Dermaga
Makan Siang Lalapan
Angkat Jangkar (13.20)
Pulau Sebesi (15.10)

Homestay
Hanya ada 1 penginapan di pulau sebesi dan itu milik pemerintah. Model penginapannya adalah kamar-kamar menghadap langsung ke laut karena memang letak penginapannya di pinggir laut. Rate satu malamnya Rp200.000 dan dapat diisi sampai 10 orang. Kalau berangkat dengan rombongan hitungannya itu murah, tapi saya seorang diri. Oleh bang Hayun, dia kuncen penginapan itu dan yang mengurus wisatawan di sebesi, saya dibawa ke rumah mertuanya. Disediakan 1 kamar dengan rate Rp50.000 per malam.

Gubuk Seng (17.25)
Sewaktu saya duduk-duduk di dermaga, ada lelaki yang mendekati saya. Saya tidak kenal, tetapi setelah dijelaskan kalau dia tangan kanan bang Hayun dan tadi yang meminjamkan motor ke bang Hayun dan saya sewaktu mencari-cari homestay di rumah warga barulah saya ingat, tapi saya lupa namanya siapa sekarang. Penyakit lama. Dia orangnya terlalu banyak omong tapi kesannya tidak sombong. Jadi asyik ngobrol-ngobrolnya. Dia cerita apa saja sampai-sampai saya lupa tapi kebanyakan tentang sebesi. Dan ujung-ujungnya dia cerita tentang Gubuk Seng. Gubuk Seng itu desa di sebesi yang biasanya kalau orang-orang ingin melihat krakatau pergi kesana karena posisinya langsung menghadap krakatau. Si abang yang saya lupa namanya itu ternyata sangat berbakat dalam hal promosi. Sayapun tertarik dan rela menyewa ojek si abang sebesar Rp30.000. Berangkatlah kami ke Gubung Seng yang cukup jauh juga ternyata karena harus memutari setengah pulau dan jalannya hanya jalan tanah standar dilalui oleh satu orang. Kalau ada dua orang berpapasan, sudah pasti salah satunya harus keluar dari lajur.
Sunset and Krakatau

Listrik Menyala Pukul 18.00
Makan Malam #gratis

Kembali dari Gubuk Seng, saya dibawa si abang yang saya lupa namanya ke penginapan bang Hayun. Katanya cuma mau ada perlu sebentar. Sampai di penginapan bang Hayun ternyata ada tamu lain juga, saya pikir saya sendiri wisatawan disini, dan mereka sedang makan malam. Lapar jadinya saya. Bang Hayun tiba-tiba menawari saya makan, sayapun tanpa pikir panjang tidak menolak. Sambil makan sambil mengobrol sayapun tahu ternyata yang saya pikir wisatawan tadi bukanlah wisatawan yang saya pikirkan. Tapi mereka adalah teman lamanya bang Hayun. Dan ternyata sayalah satu-satunya wisatawan. Setelah cerita lama-lama misteri terkuak kenapa tidak ada wisatawan lain. Di TV sedang heboh-hebohnya berita tentang asap gunung Krakatau yang beracun. Itulah penyebab kenapa orang-orang berpikir beberapa kali kalau ingin berkunjung. Tetapi menurut pengakuan penduduk lokal tidak ada apa-apa disana. Televisi hanya membesar-besarkan masalah. Efeknya sudah beberapa bulan terakhir tidak ada wisatawan dan sepertinya saya menjadi satu-satunya wisatawan yang bodoh tetapi beruntung karena tidak mengikuti perkembangan televisi.
Good Night (21.00)
Saya tidur sekitar pukul 9 malam dan setelah itu saya tidak sadar apa-apa lagi. Saya sempat terbangun, nyamuk-nyamuk mulai menyerang, tidak tahu jam berapa karena semuanya serba gelap. Membuka atau menutup mata sama saja gelapnya. Kalau semua sudah gelap, tidak ada lampu menyala berarti sudah lewat pukul 12 malam.
Total pengeluaran hari 2:
Rp11.500 (ferry) + Rp17.000 (angkot kuning) + Rp5.000 (bubur ayam) + Rp10.000 (angkot biru) + Rp8.000 (makan siang) + Rp15.000 (kapal ke sebesi) + Rp30.000 (gubuk seng)
= Rp96.500

Friday, December 23, 2011

Kartu Pos Musim Dingin

Sunday, December 18, 2011

Bittersweet Symphony

Dalam sehari, sudah kesekian kali lagu ini diputar, sudah sampai puluhan sepertinya. Tapi tetap saja belum bosan. Tapi nanti saya bakalan bosan juga. Saya tahu itu. Kalau belum bosan ya dengarin terus terus terus sampai bosan. Tapi sampai detik ini saya masih belum bosan bosan juga. Dan gaya Richard Ashcroft yang antara songong dan cool itu sepertinya akan saya tiru suatu hari.
Cause it's a bittersweet symphony, this life
Trying to make ends meet
You're a slave to money then you die
I'll take you down the only road I've ever been down
You know the one that takes you to the places
where all the veins meet yeah

No change, I can't change
I can't change, I can't change
But I'm here in my mind
I am here in my mind
But I'm a million different people
from one day to the next
I can't change my mind
No, no, no, no, no, no, no,no,no,no,no,no(fading away)

Well I never pray
But tonight I'm on my knees yeah
I need to hear some sounds that recognize the pain in me, yeah
I let the melody shine, let it cleanse my mind, I feel free now
But the airways are clean and there's nobody singing to me now

No change, I can't change
I can't change, I can't change
But I'm here in my mind
I am here in my mind
And I'm a million different people
from one day to the next
I can't change my mind
No, no, no, no, no, no, no
I can't change
I can't change it

'Cause it's a bittersweet symphony, this life
Trying to make ends meet
Trying to find some money then you die
I'll take you down the only road I've ever been down
You know the one that takes you to the places
where all the veins meet yeah

You know I can't change, I can't change
I can't change, I can't change
But I'm here in my mind
I am here in my mind
And I'm a million different people
from one day to the next
I can't change my mind
No, no, no, no, no

I can't change my mind
no, no, no, no, no,
I can't change
Can't change my body,
no, no, no

I'll take you down the only road I've ever been down
I'll take you down the only road I've ever been down
Been down
Ever been down
Ever been down
Ever been down
Ever been down
That you've ever been down
That you've ever been down

Wednesday, December 14, 2011

Obral Obrol


Terkadang beberapa orang hanya mencari teman mengobrol. Mencoba menurunkan tingkat kejenuhan satu level. Coba bayangkan, sekarang anda berumur 20an, tidak memiliki kegiatan yang pasti, dan tanpa pekerjaan atau kesibukan. Kondisi lainnya, teman-teman anda yang biasa diajak berkumpul ternyata sedang sibuk semua. Mulai dari sibuk kuliah, sibuk skripsi, sibuk bekerja, atau mungkin sibuk mengurus keluarga. Maka yang akan anda lakukan adalah mengajak siapa saja, bahkan orang yang tidak dikenal, hanya sekedar untuk mengobrol, mulai dari mengobrol hal tidak penting sampai yang serius, dan membuang beberapa persen kejenuhan.
Kalau sudah tidak ada orang yang bisa diajak mengobrol secara langsung, maka kita akan mencoba mencari pelarian lain. Kebanyakan orang zaman sekarang tentu saja lari ke dunia maya, mayoritas jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Melalui dunia maya seseorang bisa menjadi siapa saja. Mau menjadi orang baik, bisa. Mau menjadi orang pintar, bisa. Menjadi orang yang bijaksana, bisa. Menjadi orang yang konyol, bisa. Menjadi lawan jenis sendiri juga bisa.
Makanya saya malas aktif di dunia maya, apalagi meladeni orang-orang yang tidak saya kenal langsung, karena semuanya penipu. Lihat saja, ada orang yang sangat aktif memberi komentar sana sini, update status 5 menit sekali, tetapi ketika kita bertemu langsung ternyata dia orang yang lebih banyak diam. Kata-kata yang diketiknya lewat keypad HP lebih banyak daripada yang keluar dari mulut. Atau lihat saja penipuan yang dulu sangat menghebohkan dunia televisi, seorang pria menikahi anak manusia yang mengaku wanita, tetapi ternyata seorang pria. Semua berawal dari kenal-kenalan di dunia maya. Bodoh sekali.

Wednesday, November 30, 2011

Home: bigger plan than aeroplane



Sudah 3 kali lebaran haji saya selalu di kampung orang. Dan rasanya benar-benar tidak enak. Tidak ada daging yang bisa disantap. Malam takbirannya juga anyep. Tidak seperti di kampung yang takbirannya selalu meriah. Takbiran terakhir di parapat, warga disuruh keliling kota sambil megang obor. Seru! Kota besar memang kalah jauh kalau soal perayaan takbiran. 
Sayapun berniat untuk berlebaran haji di kampung halaman. Rindu juga dengan masakan nyonya besar yang tidak ada tandingan enaknya. Teman-teman saya juga sudah pulang ke daerahnya masing-masing. Dan saya sudah mulai menetap di pasar minggu yang sangat saya hindari selama ini. Benar-benar tidak ada pekerjaan itu benar-benar membosankan. Mulailah saya browsing harga tiket pesawat. 
Seperti biasa, perlu mengorek tabungan dalam-dalam kalau ingin naik pesawat. Sekitar 600an ribu. Saya yang semua sumber pendapatannya sedang anjlok tentu merasa sangat sayang mengeluarkan uang segitu banyak hanya untuk perjalanan selama 2 jam. Sampai di Medan juga saya bingung mau ngapain lama-lama karena semua teman lagi sibuk-sibuknya kuliah. Tercetuslah ide untuk sekalian berkeliling sumatera. Sekalian membuang waktu menganggur beberapa hari. Tetapi karena waktunya sudah mepet dengan lebaran haji, dengan berat hati saya putuskan lebaran haji di kampung orang lagi.

Bagi saya, yang paling menentukan hematnya suatu perjalanan adalah rencana. Rencana yang matang untuk memaksimalkan fungsi waktu dan dana yang ada. yak, saya butuh sebuah rencana. Target utama saya sebenarnya adalah bukit tinggi. Dengar-dengar kotanya tenang, dingin, ramai, dan makanan enak. Tapi kalau dari jakarta langsung ke bukit tinggi perlu waktu sekitar 30an jam. Berlama-lama di dalam bis adalah hal pertama yang saya hindari.
Palembang masuk ke dalam list. Kebetulan pembukaan sea games ada disana dan saya sangat ingin melihat jembatan Ampera yang tersohor itu beserta sungai Musi yang kesohorannya sama. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan pembukaan sea games karena dengar-dengar tiket masuknya tidak terjangkau kantong orang-orang seperti saya. Pembukaan sea games cuma alasan. Waktu saya bilang ke teman saya di MAN dulu, azlia dan ricky, kalau saya mau kesana, mereka antusias sekali sepertinya. Efek tidak pernah dikunjungin teman lama begini lah.
Menurut kitab suci para traveler, Lonely Planet, dari lampung ke palembang ada kereta yang berangkat  pagi dan malam. Pagi yang berangkat adalah kereta ekonomi, sedangkat pada malam hari jatahnya kereta bisnis. Harga tiket kelas ekonomi adalah Rp45.000 dan kereta bisnis Rp65.000. Dengan begini lampung masuk ke dalam list.
Saya berencana berangkat dari Jakarta tanggal 7 November, H+1 lebaran. Saya ingin cepat-cepat kabur dari pasar minggu. Di rumah kakak saya ini benar-benar terasa penganggurannya. Kalau di kosan masih enak. Selalu ada yang bisa dikerjakan entah itu bersih-bersih, menyuci, atau sebaliknya, berantakin kamar. Kalau berangkat tanggal 7 malam, kemungkinan sampai Lampung tanggal 8 pagi. Dilanjutkan kereta api malam, berarti sampai Palembang tanggal 9 pagi. Hal kedua yang saya hindari adalah sampai di tujuan malam hari karena kemampuan eksplorasi jadi terasa turun satu tingkat.
Pertimbangan satu lagi. Kalau kita menumpang di tempat teman yang notabenenya dia sudah lama menetap di tempat itu, biasa-biasanya orangnya sudah malas jalan kemana-mana. Kalau ditinggal jalan sendiri tidak enak hati rasanya. Target saya adalah pembukaan Sea Games tanggal 11 Nopember, ini hanya alasan, tapi teman saya yang di palembang memaksa. Kalau saya sampai di Palembang tanggal 9 pagi. Kemungkinan besar tanggal 9 dan 10 bakalan jadi idle days.
Saya mulai berpikir keras bagaimana caranya berangkat dari Jakarta tanggal 7, tetapi sampai di Palembang tanggal 10. Jawabannya ada di Lampung dan yang saya temukan adalah pulau Sebesi. Orang-orang yang ingin mendaki gunung Krakatau mayoritas singgah di pulau ini. Rutenya dari pelabuhan Bakauheni ke Kalianda terlebih dahulu lalu ke pelabuhan Canti menggunakan angkot. Kemudian menyeberang ke sebesi menggunakan kapal rakyat. Sebesi in the list.
Kapal ke pulau sebesi hanya ada sekali sehari, yaitu pukul 13.00. Dan kapal dari sebesi ke canti cuma ada sekali juga, pukul 07.00. Kalau dari lampung lanjut ke palembang menggunakan kereta, berarti kereta pagi sudah pasti tidak terkejar. Jadi rencanya saya berangkat dengan kereta malam. Dengan waktu menyeberang dengan kapal hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam, saya mulai terpikir apa yang harus saya lakukan di Lampung dari sekitar pukul 08.30 sampai 21.00. Saya sudah buat janji dengan Dharma. Sekalian mengantarkan buku pesanannya. Setelah itu tidak tahu mau kemana. Cari-cari tempat dan saya temukan adalah pantai pasir putih. Pantai pasir putih sebagai cadangan saja karena saya sudah bilang ke si Ketua buat ngajakin jalan-jalan kalau sudah sampai disana.
Capek juga kalau dijabarin satu persatu rencananya. Intinya, saya berencanya berangkat dari Lampung menuju Palembang dengan kereta malam tanggal 9 Nopember. Sampai di Palembang tanggal 10 pagi. Karena target di Palembang hanya jembatan Ampera, sungai Musi, dan kawasan Jakabaring, semua ini berdekatan, sepertinya waktu 2 hari cukuplah. Perkiraan sampai di Bukit Tinggi kalau tidak tanggal 11 ya tanggal 12 lalu menginap satu malam. Jam gadang, ngarai sianok, goa jepang, benteng fort de kock, jembatan limpapeh, pasar atas, pasar bawah, dan danau maninjau adalah target perjalanan. Setelah itu besoknya langsung berangkat menuju parapat buat mengurus berkas-berkas yang belum pasti dipakai atau tidak.

Post ini sudah lama saya buat, sebelum-sebelum lebaran haji la. Bukan bermaksud mengikuti saran si Dharma apalagi Inten yang minta dibuatin field report-nya. Dan bukan bermaksud menyaingi dan ikut-ikutan field report-nya Sanda atau Izati tentang Bali. Tapi memang post ini sudah lama membeku menjadi draft. Dulu saya berpikir beberapa kali buat mengklik tombol "PUBLISH POST" karena takut rencana tinggal rencana. Tapi sekarang rencana bertransformasi menjadi fakta, walaupun semua fakta tidak sesuai rencana.

< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.