Thursday, April 29, 2021

Terjebak di 2010

Sekian lama berlangganan Spotify, beberapa hari belakangan ini saya menyadari kalau selera lagu saya tidak berubah sejak 2010, masa-masa akhir saya kuliah. Saya juga mendengarkan lagu-lagu terbaru atau yang lebih sering saya lakukan adalah memutar saja secara acak tanpa tahu itu lagu apa. Tapi rasanya ada berbeda ketika mendengarkan apa yang dulu sangat saya senangi.

Spotify dengan referensi yang tidak terbatas memang sangat menyenangkan. Kita hampir bisa mendengarkan apa saja, kecuali memang musisinya tidak mau majang di Spotify. Tapi kesenangan streaming itu rasanya berbeda dengan mendengarkan dari MP3 hasil buruan, apalagi dengan rilisan fisik. Tidak ada rasa ingin tahu lebih disana.

Akses yang begitu besar dan lengkap itu membunuh rasa penasaran kita. Kita disajikan yang mirip dengan apa yang kita dengarkan. Tidak perlu bingung menentukan apa yang mau didengarkan. Cukup dengan beberapa klik saja musik sudah diputar, kalau kurang cocok tinggal klik next. Tidak perlu lagi googling band apa saja yang mirip Arctic Monkeys atau bagaimana The Radio Dept. dengan M83 bisa digolongkan dalam Shoegaze. AI memanjakan kita dan kita memang suka dimanjakan.

Menjelang 2010 menurut saya adalah puncak-puncaknya perburuan MP3. Download, barter, atau beli di penjual CD bajakan. Bahkan sampai muncul yang namanya NetLabel, label yang merilis lagu gratis secara online. 

Saya adalah salah satu yang sangat menikmati perburuan MP3. Koleksi saya hampir 80GB yang dikategorikan dalam beberapa genre. Sampai sekarang masih tersimpan aman, kecuali satu folder Indie Pop yang hilang diambil maling bersama laptopnya.

Sebagian besar hasil perburuan saya lakukan di warnet. Supaya lebih efektif, dulu sebelum ke warnet, saya biasanya sudah menyiapkan daftar incaran hasil baca review di Pitchfork, Indierockcafe, Deathrockstar atau Wastedrocker. Bisa dibilang dulu tingkat keberhasilan perburuan saya sekitar 80%. Trik saya paling ampuh adalah dengan "site:mediafire.com" di google. Bisa langsung dapat satu album full, cepat, bisa di-resume dan minim iklan.

Kenikmatan kedua tentu saja mendengarkannya. Seperti ketika saya menulis ini sambil mendengarkan apa yang saya dengarkan dulu. The Strokes, Arcade Fire, Beach House dan teman-temannya yang lain. Sambil berharap gairah, idealisme, dan semangat yang dulu tidak menua secepat raga ini atau kalaupun bisa tetap muda sajalah.

Tulisan setelah mendengarkan Wake Up dari Arcade Fire dengan liriknya yang menggetarkan,

But now that I'm older,
My heart's colder,
And I can see that it's a lie...

 

 

 Bintaro (2011), Masa Pencarian Jati Diri dan Menggalaukan Setiap Hal


 

Friday, October 9, 2020

Kenangan Tak Enak Pun Akan Menyedihkan Kala Hilang

Beberapa minggu lalu kios souvenir saya Partopi Tao Co. di Parapat dirobohkan eskavator. Kios mini yang menjual kaos yang beraliran Pop itu kini sudah rata dengan aspal. Rencananya kios-kios yang dirobohkan akan dirapikan menjadi pedestrian. Pembangunan pedestrian ini sepertinya termasuk salah satu program revitalisasi wisata di Parapat yang sedang jadi target pemerintah.

Sebenarnya saya ikhlas saja apabila kios saya digusur, karena sebenarnya kios itu berdiri di atas tanah negara dan tidak ada dokumen pinjam pakai sehingga bisa juga dibilang bangunan ilegal. Tapi nilai historisnya bagi saya terlalu mahal untuk dihilangkan.

Bagi keluarga saya kios di Pante ini (orang Parapat biasa bilangnya "Pante") punya banyak kenangan. Kenangan yang dulu terasa tidak enak, tapi sekarang ketika hilang ternyata sedih juga. Keluarga besar saya sangat bertumpu pada wisata Danau Toba. Kami adalah pedagang makanan musiman. Biasanya jualan ketika tahun baru, lebaran, libur kenaikan kelas, dan festival Pesta Danau Toba.

Jajaran kios souvenir saya ini dulu adalah sisi warung makanan yang konsepnya bongkar pasang. Ketika musim ramai wisatawan dipasang, ketika tidak terlalu ramai ya dibongkar. Rangkanya adalah balok kayu, atapnya seng, dan ditutupi terpal. Lebih permanen dari warung pecel lele.

Ketika musim liburan, rasanya jadi menjengkelkan karena saya harus membantu keluarga jualan. Tidak ada istilah pergi jalan-jalan ketika liburan, adanya jualan-jualan. Spesialisasi saya dulu adalah cuci piring. Jadi sejak kecil saya sudah terbiasa mencuci piring yang rasanya tidak habis-habis. Ketika tugas selesai saya biasanya keliling Pante 1 lap, melihat keramaian sambil berharap supaya bisa merasakan liburan yang sebenarnya.

Sejak krisis moneter tahun 1997 melanda, wisata Parapat sangat terdampak, bahkan sistemik sampai sekarang. Wisatawan menurun drastis, hotel-hotel sepi, dan wisatawan yang datang mulai membawa makanan sendiri. Mereka hanya datang ke Parapat untuk mandi di danau atau sekadar menyebrang ke Samosir. Warung makanan mulai berkurang dan warung yang bertahan menaikkan harga makanan untuk menutupi biaya. Paling terkenal adalah menembak harga. Akibatnya wisatawan jadi enggan datang dan mencap Parapat tidak lagi enak.

Beberapa tahun kemudian (saya lupa tahunnya), ketika Parapat sedang sepi, sisi lahan warung makanan di Pante yang sedang kosong diperebutkan oleh orang-orang dengan memasang patok. Siapa yang cepat, dia yang dapat. Kakak saya yang dulu sedang berjualan di rumah langsung bergegas ikut perebutan. Dia berhasil mendapatkan walaupun tidak terlalu lebar. Dulu ketika berjualan, warung makanannya bisa sampai 10 meter, sekarang hanya dapat tidak sampai 3 meter. Lahan itulah yang kemudian dibangun menjadi seperti kondisi sebelum dirobohkan.

Kami sempat berjualan makanan beberapa kali di kios baru itu. Tapi hasilnya sudah berbeda. Ketika kakak saya kemudian memutuskan untuk pindah ke medan, kios itu kemudian disewakan kepada orang lain.

Sekian tahun disewakan, saya baru tahu kalau biaya sewanya hanya 2jt per tahun. Ketika pembayaran sewanya mulai macet, saya kemudian mengajukan tawaran untuk saya kelola sendiri. Sekaligus menjaga agar kios itu tidak diklaim orang lain karena secara dokumen hukum memang tidak ada sama sekali.

 

Kios saya renovasi kecil-kecilan supaya terlihat lebih rapi dan akhir 2017 mulai jualan perdana. Selama 1,5 tahun berjualan, struggling-nya sangat terasa dan disinilah saya menyadari bahwa wisata Parapat itu benar-benar "mati". Bahkan ketika akhir pekan, seperti tidak ada orang yang tertarik untuk datang ke Parapat. Wisata Parapat benar-benar hanya bisa mengandalkan libur lebaran dan tahun baru.

Setelah libur lebaran 2019, kios saya terkena longsor. Dinding belakang jebol dan kios penuh terisi tanah. Dengan sisa-sisa modal yang ada, apalagi dengan cash flow yang sangat lambat, akhirnya Partopi Tao Co. pindah lokasi ke sekitar Masjid Raya Parapat. Souvenir yang awalnya beraliran Pop berubah jadi Syariah.

Kios di Pante rencananya dibiarkan mati suri sampai wisata Parapat bangkit lagi. Tapi ternyata malah mati benaran dihantam eskavator. :-(


 


Sunday, April 19, 2020

Langlang

WFH Minggu Keempat

Saya mulai terbiasa di rumah, bahkan keinginan untuk mencari hiburan di luar rumah pun hampir hilang. Ketika disuruh ke kantor, rasanya malas sekali. Dengan kondisi sekarang sepertinya semua pekerjaan kantor dapat dilakukan di rumah.

Selama kerja di rumah, satu hal yang sangat saya sadari adalah waktu yang cepat berlalu. Biasanya tidak terasa jarum jam sudah di angka dua atau tiga.  Padahal pekerjaan tidak banyak. Kalau di kantor jam segitu memasuki fase ngantuk atau malahan baru mulai mengumpulkan konsentrasi.

Kedua, kerja di rumah terasa lebih efisien waktu. Tidak banyak distraksi, terutama mengobrol yang tanpa disadari bisa menghabiskan banyak waktu, entah mengobrol masalah pekerjaan atau masalah yang bukan masalah.



Setelah selesainya Pandemi Corona ini, saya berpikir orang-orang akan menjadi lebih perasa. Berminggu-minggu Physical Distancing sepertinya akan merangsang jiwa-jiwa untuk berkontemplasi, melihat kembali hidup yang sudah dijalani dan merencanakan akan membuat apa besok.

Sekarang adalah masa-masa dimana hidup selalu diselingi dengan media sosial. Di antara pekerjaan yang melelahkan, kita sempatkan membuka instagram. Ketika diam tidak ada kegiatan, kita membuka youtube. Lalu ketika kita sudah lelah dan bosan bermedia sosial, apalagi yang bisa dilakukan? Ya, kembali ke "diam". Membiarkan pikiran melanglang kemana-mana, pergi ke masa lalu atau bahkan masa depan.

Momen "diam" ini sudah mulai jarang terasa. Seringnya muncul ketika nongkrong di kamar mandi, selain itu jarang sekali. Tapi kalau nongkrong sambil membawa ponsel pintar sudah tentu "diam" itu akan pergi. Dengan adanya ponsel pintar, indra kita tidak bisa diam, kita tanpa sadar terus berpacu dengan informasi yang bergerak sekencang internet yang kita miliki.

Semakin cepat internet yang kita miliki, maka semakin cepat juga informasi itu datang dan pergi. Ditambah standar rasa ingin tahu yang semakin tinggi dan gengsi/takut dicap ketinggalan informasi menjadikan kita, pada kenyataannya, tidak "tahu" apa-apa. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Tapi memang tidak sesederhana itu, banyak kondisi-kondisi lain ketika dirunut akan saling berkaitan.

Tidak "tahu" apa-apa maksud saya bukanlah benar-benar tidak tahu apa-apa, tapi lebih pada tidak memahami utuh atau sekadar mau memahami yang sesuai dengan selera. Ketika sekilas membaca suatu hal, kita langsung merasa paham. Bahkan dari judul sebuah artikel saja kita merasa sudah bisa tahu apa isinya. Padahal belum tentu begitu. Kemudian jari-jari kita akan bereaksi entah menekan tombol like, share atau mengetik komentar. Lalu?

Tidak ada. Tidak akan terjadi apa-apa. Kembali ke siklus awal, membaca sekilas.

Bersyukurlah ketika momen "diam" ini datang. Nikmati keheningannya. Siapa tahu tiba-tiba dapat inspirasi besok mau bikin apa.

Patam Lestari, Batam. 2020.
*Kita adalah saya dan saya

Saturday, September 30, 2017

Perihal 5 Kalimat Deskripsi

Akhir-akhir ini saya mulai merasakan apa yang saya takutkan, kemampuan membangun rangkaian kalimat yang mulai menurun dan menghilang. Rasa ingin menulis yang saya miliki tidak diimbangi dengan kemampuan menuliskan. Beberapa kali ide yang ada saya tuliskan, tetapi beberapa menit kemudian rangkaian kalimat itu menjadi tidak pas. Lalu tombol backspace akan ditekan-tekan berusaha menghilangkan rangkaian yang tidak pas dan tanpa sadar semua yang saya tuliskan akan hilang. Inilah namanya kebuntuan dalam menerjemahkan pemikiran ke dalam tulisan.

Kebuntuan ini mulai saya sadari ketika saya berusaha membuat deskripsi suku batak dan danau toba ke dalam 5 kalimat. Singkat cerita, saya memiliki proyek (obsesi) kecil-kecilan tentang souvenir berkualitas premium di Parapat, Danau Toba. Produk utamanya adalah kaos, sedangkan souvenir lainnya sebagai peramai saja. Melalui produk kaos ini saya tidak hanya ingin menjual barang, tetapi juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui label kertas yang tergantung di kaos. Saya ingin memberikan informasi bagi pembeli tentang suku batak dan danau toba melalui tulisan di label kertas tersebut. Target saya adalah 5 kalimat deskriptif yang menarik, informatif, baku, dan tentunya bagus, menurut saya.

Salah satu contoh adalah gambar berikut ini. Akhirnya saya menyerah membentuk kalimat, saya sudah menghapus berkali-kali, dan hanya membuat poin-poin yang kemudian akan saya kembangkan menjadi kalimat. Tetapi rangkaian kalimat sesuai dengan kriteria yang saya inginkan tidak terbentuk juga. Sudah 2 minggu sejak permasalahan ini muncul dan permasalahan yang lebih besar adalah kaos sudah siap dipasarkan, tetapi saya tidak akan memasarkan sampai label ini jadi.


Baiklah, kemampuan yang saya rasa meningkat justru adalah kemampuan saya dalam mendesain. Peningkatan itu sebenarnya dikarenakan jam terbang di pekerjaan, syukurnya kantor memberikan kebebasan selama masih dalam batas wajar dan mulai berani keluar dari zona nyaman atau kebiasaan.

Kemampuan saya dalam menulis berkebalikan dengan desain. Dengan demikian langsung dapat ditarik kesimpulan bahwa jam terbang saya menulis kalah dengan desain. Tetapi bukan demikian, menulis dalam pekerjaan (kantor pemerintahan) jauh lebih mudah dikarenakan tidak memerlukan kemampuan yang mumpuni. Kreatifitas, dapat dikatakan, dipelukan secukupnya saja karena sudah terdapat format tulisan yang harus diikuti. Menulis dalam pekerjaan juga tidak memperhatikan ketertarikan pembaca. Tujuan utamanya hanyalah menyampaikan informasi sesuai dengan EYD dan selera atasan, titik. Jadi jangan heran kalau jarang sekali ditemukan seseorang yang memiliki hobi membaca laporan.

Jika kondisi minat baca di Indonesia dibilang memprihatinkan, maka minat baca saya bisa dibilang sama memprihatinkannya. Jika saja membaca caption instagram masuk hitungan, mungkin saya dan penduduk Indonesia lainnya tidak akan dicap memprihatinkan. Tetapi memang seperti pepatah, entah dari mana, mengatakan, "visual speaks louder." Manusia lebih tertarik melihat gambar daripada membaca tulisan yang panjang karena, mungkin, otak manusia lebih mudah dan cepat menerjemahkan gambar daripada tulisan. Instagram yang sepertinya paham betul pepatah tersebut ditambah dengan strategi bisnis, maka saya, salah satu korbannya, menjadi lebih menyukai menggeser timeline yang tak berujung itu daripada membaca buku. Instragam disini menjadi kambing hitamnya!

Kesadaran itu semualah yang mendorong saya ingin berkomitmen untuk lebih rajin membaca dan menulis. Untung-untung rasa saya dalam menulis jadi lebih baik. Katanya kan rasa itu seperti pisau, semakin sering diasah akan semakin tajam. Semoga komitmen ini bukan hanya sekedar nama seperti komitmen atas hal-hal yang sebelumnya yang sering dilupakan begitu saja. Semoga.

Oh ya, deskripsi suku batak dan danau toba masih belum ketemu yang pas.


- d -

Tuesday, August 8, 2017

Cerita Singkat, Berita Besar



2017, singkat cerita, berita besarnya, saya sudah menikah. Alhamdulillah.


Beberapa teman tidak menyangka saya akan menikah, dan setelah menikah, beberapa teman melihat saya seperti belum menikah. Berbeda dengan istri saya, namanya Tulad Peni Kharisma, sebelum menikah saja sudah ada yang bertanya punya anak berapa. *hahahaha *siap-siap ditendang pas tidur

Rasanya tahun ini waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa sudah bulan Agustus. Laju waktu yang sudah berlalu memang terasa lebih cepat.

Januari 2017
Bulan januari merupakan yang paling berat tahun ini, pikiran saya terpecah antara skripsi dan persiapan pernikahan. Apalagi penguji skripsi saya adalah seorang profesor yang berkemampuan super, hanya dengan melihat judul di sampul skripsi saja sudah tahu apa isinya. Tetapi saya termasuk golongan yang beruntung karena pertanyaan tersulit yang diajukan adalah menyebutkan isi Nawacita. Saya hanya dapat menyebutkan satu poin dan dengan belas kasih sang profesor, kemudian saya hanya diminta menyebutkan isi Pancasila. Nasionalisme saya diuji dan tentu saja ujian skripsi saya diakhiri dengan gemilang.

Februari 2017
Februari tahun ini merupakan kesedihan. Saya harus berpisah dengan waktu luang yang berlimpah, berpisah dengan kontrakan yang penghuninya, katanya, gak berotak, berpisah dengan musik senam 1000 setiap hari jumat,dan berpisah dengan uang beasiswa.
Selanjutnya saya pindah ke Semarang. Kenapa Semarang? Karena teman-teman saya tidak banyak yang mau ke Semarang. Mereka lebih memilih Jogja. Saya juga awalnya ingin ke Jogja atau Bandung, tetapi dengan banyak pertimbangan saya akhirnya memilih Semarang. Dengan demikian dapat dipastikan sejak mengabdi pada negara tahun 2012, saya sudah berpindah kota sebanyak tiga kali, tidak termasuk Jakarta.

Maret 2017
11 Maret 2017, saya menikah dengan Tulad Peni Kharisma, seorang gadis desa. Ini bukan perumpamaan, rumahnya benar-benar di desa. Jendela kamar kami tepat menghadap sawah. Rasanya seperti tinggal di villa di Ubud saja. Setiap kali sawah tersebut dipanen maka saya dapat memastikan bahwa umur pernikahan kami pas dibagi tiga bulan karena tanggal pernikahan kami bertepatan dengan masa tanam.

Perbedaan budaya Batak dan Jawa yang sangat mencolok menyebabkan saya merasakan hal yang namanya "kaget budaya". Salah satu contoh misalnya: beberapa kali saya terjebak dalam kata-kata "hanya silaturahmi". Saya yang dibesarkan dalam budaya yang blak-blakan akan menerjemahkan "hanya silaturahmi" sebagai hanya silaturahmi. Ternyata makna "hanya silaturahmi" dapat bermakna lamaran atau semua keluarga berkumpul untuk membicarakan hal formal. Bagaimanapun dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung dan syukurlah orang batak pandai berimprovisasi.

April - Juli 2017 kebanyakan menganggur atau diisi dengan pekerjaan serabutan di kantor. Beginilah nasib pegawai titipan seperti saya. Lama-lama saya mau ganti profesi di KTP jadi Pegawai Nganggur dan Serabutan sajalah.

Tetapi satu hal yang perlu selalu diingat dan dijunjung adalah selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Saya dan Ny. Sinaga jadi memiliki banyak waktu dan tenaga untuk jalan-jalan. Kendalanya hanya satu, reformasi anggaran oleh Menteri Keuangan Rumah Tangga.




Saturday, December 31, 2016

Satu-satunya di 2016

Postingan ini akan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir di tahun 2016. Itupun kalau postingan berhasil diselesaikan.


Tahun 2016 rasanya tahun yang paling memalaskan, tapi sekaligus juga bersejarah. Kemalasan saya bisa dilihat dari jumlah postingan di blog ini. Saya menjadi korban dari kemajuan era digital dimana akses terhadap hal-hal yang menghibur dan menghabiskan waktu dengan sia-sia itu sangat banyak dan mudah. Lihat saja, saya lebih suka melihat instagram daripada membaca berita di kompas. Saya sering juga membuka kompas tapi terkadang hanya membaca judulnya saja, dan mencari-cari berita yang menarik untuk dibaca berlama-lama. Sedangkan ketika membuka instagram saya bisa tidak sadarkan diri sampai muncul sms berisi sisa kuota.
Tetapi instagram juga memberi saya banyak inspirasi dan informasi penting. Lebih dari setengah dari jumlah akun yang saya follow adalah akun-akun yang dapat menghibur Andre dari terlalu sering melihat foto-foto wanita. Oia, Andre adalah teman satu kontrakan saya yang rajin ke gereja, mencuci, dan berkomentar. Jadi, akun-akun yang saya follow kebanyakan adalah toko cd, toko buku, illustrator, traveler, komik strip, tukang sablon, dan beberapa teman yang-sebenarnya-malas-saya-follow-tetapi-segan-kalau-tidak-difolback.
Dengan berakhirnya tahun 2016, maka hanya kurang sebulan lagi agar saya genap dua tahun tinggal di Solo dan bersiap untuk berpindah kota lagi. Kota selanjutnya adalah ketidaktahuan, tidak tahu akan berpindah ke kota mana lagi.
Hidup di Solo itu santai, tenang, tanpa tekanan dan memang bakalan dirindukan. Bayangkan ketika orang-orang dengan tertib berhenti ketika lampu merah tanpa ada yang menerobos atau melanggar garis, walaupun ada, itupun sangat-sangat sedikit. Kota yang saya impikan untuk tinggal itu seperti ini, bukan lagi Jogja, apalagi Jakarta, apalagi Medan.
Semua hal di kota ini rasanya masih dalam tahap wajar. Fasilitas secukupnya, kemacetan masih wajar, cuaca panasnya juga, dan harga makanan apalagi. Dengan beberapa kriteria itu, maka saya berani mengatakan kota Solo merupakan kota paling layak huni. Belum lagi kegiatan yang berbasis hiburan masyarakat yang setiap bulan selalu ada. Mulai dari festival jenang sampai konser-konser band metal.
Di setengah jam sebelum berganti tahun, saya takut postingan ini kebablasan masuk ke 2017, selain karena rasa malas tadi dan rasa ngantuk juga. Tulisan yang ngalor-ngidul tanpa bentuk dan alur yang jelas ini akan saya posting dengan rasa malas yang besar.


Terima kasih 2016 yang bersejarah.

Saturday, August 8, 2015

The Hundred-Foot Journey

Film apakah yang terakhir kau tonton? Apakah film box office yang diputar di bioskop atau film yang tidak diputar di bioskop (Indonesia) dan kau berhasil menontonnya setelah mengeluarkan sedikit usaha untuk men-download? Kalau saya bertanya kepada diri saya sendiri, maka saya akan menjawab yang kedua.

Film yang baru saja saya tonton berjudul The Hundred-Foot Journey. Sekilas, maka akan terbayang film tentang petualangan, penjelajalan, adventure. Tetapi sayangnya tidak. Film ini bercerita tentang dunia tata boga, masak-memasak makanan yang membuat perut lapar.

Saya tidak mengetahui film ini sebelumnya sampai saya melihat poster film ini di salah satu website berbagi film. Didominasi warna kuning dengan gambar segerombolan orang sedang bercengkrama, sayapun teringat film Little Miss Sunshine. Dan setelah melihat trailer-nya dan membaca sinopsisnya di IMDB, maka saya merasa kedua film ini memiliki kesamaan. Keduanya berlatarkan keluarga besar dan cerita yang, saya rasa, tidak bertele-tele dan didramatisir.
The Hundred-Foot Journey bercerita tentang Hassan Kadam yang sejak kecil sudah diperkenalkan dengan dunia masak-memasak oleh Ibunya. Dikarenakan restoran mereka di India dirusak oleh sekelompok orang dan  Ibunya meninggal, merekapun (Papa Kadam, Hassan, dan empat saudaranya) memutuskan untuk pindah ke eropa dan akhirnya tinggal di sebuah desa di Prancis yang bernama Saint-Antonin-Noble-Val.

Setelah mereka dibantu oleh Marguerete, yang kemudian menjadi teman dekat Hassan, Papa Kadam memutuskan membuka restoran India yang dinamakan Maison Mumbai di bekas sebuah restoran yang terbengkalai. Di seberang Maison Mumbai, tepatnya seratus kaki (one hundred feet), terdapat restoran Prancis mewah, Le Saule Pleureur yang dimiliki oleh seorang wanita bernama Madame Mallory yang sangat berambisi untuk mendapatkan bintang kedua Michelin Stars, bintang pertama sudah didapatkannya 30 tahun yang lalu ketika suaminya masih hidup. Michelin Stars sendiri adalah sebuah penghargaan yang sangat bergengsi untuk sebuah restoran di Prancis.

Singkat cerita, setelah banyak perselisihan antara Maison Mumbai dan Le Saule Pleureur, Hassan bekerja di Le Saule Pleureur dan membantu Madame Mallory mendapatkan ambisinya selama ini, yaitu bintang kedua Michelin Stars. Bintang kedua Michelin Stars ini juga membuka karir Hassan untuk jenjang yang tertinggi. Diapun pindah ke Paris dan bekerja untuk sebuah restoran La Baleine Grise yang berprinsip Cooking is no longer art, it’s a science. La Baleine Grise mengolah makanan menggunakan teknik-teknik memasak yang inovatif dan futuristik.

Di Paris Hassan mencapai puncak keberhasilannya, wajahnya mengisi cover berbagai majalah, orang-orang meminta untuk berfoto bersama. Tetapi disinilah dia mulai merasakan suatu kekosongan. Dia mulai merasa terdapat kekurangan dari masakannya. Dan kekurangan itu seperti tidak dapat dijelaskan, dia tidak mengetahui penyebabnya. Diapun menyadari bahwa kekurangan tersebut terdapat di Saint-Antonin-Noble-Val dimana terdapat keluarganya, Marguerite, dan Madame Mallory. Dia hampir mendapatkan bintang ketiga Michelin Stars, tetapi dia sadar bahwa yang dibutuhkannya adalah rumah, keluarganya.
Sepanjang film, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan perdesaan di Prancis, hutan dengan jamurnya, dan warna dari sinar matahari yang tidak terlalu terik tetapi justru meneduhkan. Suasana yang meneduhkan itu menjadi sangat indah ketika dipadukan dengan warna-warna menyala, merah dan kuning, dari buah tomat atau jeruk yang baru dipetik, dan tentu saja masakan yang selalu membuat kita menelan air liur.

Saya merindukan film-film seperti ini. Film tentang slice of life dengan cerita yang mengalir dan konflik yang tidak dipaksakan. Bukan film tentang superhero, tembak-tembakan, tangis-tangisan, apalagi sinetron tentang hewan-hewananan. Menonton The Hundred-Foot Journey rasanya menyenangkan dan mengobati kerinduan.

Sebagai penutup, saya terbayang-bayang quote dari Papa Kadam, “Wherever the family is, that is the home”

Monday, February 2, 2015

Lama

"Selamat datang kembali"
Apabila blog ini punya indra, mungkin itu yang akan diucapkan ketika,setelah sekian lama, saya mulai mengetik.
Kemungkinan saya akan membalas sapaannya itu dengan sedikit tertawa.
"Maaf, waktuku tersita oleh mesin absen, pemeriksaan, dan laporan. Pulang agak malam dan di akhir pekan, apabila tidak sedang dalam perjalanan, aku akan terlelap. Tapi sekarang hidupku lebih luang."

Saturday, September 7, 2013

domba- domba kelaparan

Ada saat kondisi-kondisi tertentu dimana ada keinginan dari pikiran untuk mengungkapkan sesuatu hal tetapi sayangnya pikiran tidak mengenalnya. Hanya ada keinginan untuk mengungkapkan kekosongan, sembarangan, tak beraturan, membingungkan yang mungkin membuat pembaca mengernyitkan dahinya dilingkupi pertanyaan. Tapi siapa peduli dengan pembaca. Kalau peduli dengan pembaca maka yang diungkapkan akan menjadi sesuatu yang sangat komunikatif dan menyenangkan untuk dibaca diulang-ulang.
Lalu timbul pertanyaan “apakah tujuan sebuah tulisan adalah untuk dibaca?”
Lalu seseorang menjawab “eksistensi sebuah tulisan ada karena ada yang membaca. Kalau tidak ada yang membaca maka tulisan itu tidak ada”
“Lalu bagaimana korelasi antara tulisan dengan pembaca?”
“Kau harus mengibaratkan mereka seperti air dan hujan, kalau tidak ada air maka tidak ada hujan. Begitu juga jika tidak ada tulisan maka tidak ada pembaca.”
“Lalu bagaimana kalau dianalogikan sebaliknya?”
Seseorang itu tidak menjawab, mungkin merasa jengah atau salah menganalogikan, lalu dia meninggalkan pikiran. Pikiran lalu mencoba menghitung domba-domba imajiner untuk dapat tertidur. Tetapi hal itu adalah tindakan kuno bagi pikiran yang habis disuntik dengan kafein berlebih dan dibayangi rasa lapar yang menggemetarkan tangan. Hal-hal bergerak lebih cepat sekaligus lebih lambat. Lalu semuanya saling bertabrakan dan menghancurkan. Pikiran mengikuti dengan berlari kencang, menabrak, menghancurkan, lalu melompat ke dalam jurang. Akhirnya dia tertidur

Friday, August 9, 2013

Menjadi Pemalu

Sudah lama sekali blog ini tidak diisi tulisan, sudah hampir setengah tahun. Kalau diibaratkan sebuah rumah, tentu atap-atapnya sudah dipenuhi sarang laba-laba dan lantainya berdebu tebal. Tetapi ada alasan untuk itu. Saya mulai merasa menulis tentang diri sendiri, bercerita pengalaman atau kondisi perasaan, adalah hal yang memalukan dan menggelikan.  Entah mengapa, walaupun sebenarnya hal itu tidaklah memalukan.


Thursday, March 14, 2013

Sepeda Sekolah

Panjul berlari keluar rumah. Sepedanya kesayangannya hilang. Dalam kepanikan dia berusaha tenang.  Penjaga warung di depan rumah tadi melihat seseorang laki-laki berdasi membawa sepedanya. Orang itu pasti pencuri. Pencuri itu ingin dikejarnya, tapi tidak tahu kemana. Dia hanya bisa berlari.

Panjul terus berlari. Sekarang lebih kencang. Dia berlari ke jembatan perbatasan dengan desa sebelah. "Pencurinya pasti dari desa itu. Desa ini tidak pernah menyimpan pencuri.", otaknya mulai mencari-cari tersangka. Dia berlari sepanjang jalan desa yang berbatu. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi dia tidak menangis. Dia hanya sesekali meringis karena lupa memakai alas kaki.

Daripada disebut sepeda, benda itu lebih pantas dikatakan besi tua. Kalau saja Panjul tidak merawatnya dengan tekun, tentu saja sepeda itu hanya akan menjadi onggokan besi tak berguna. Persendiannya berkarat,  bautnya longgar, dan bunyinya menjeritkan umur yang renta. Semangat Panjul untuk bersekolah yang menggiatkan dia untuk merawat besi tua itu dengan sayang. Dengan menggunakan sepeda saja, perlu waktu sejam untuk sampai ke sekolahnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana cara dia ke sekolah tanpa sepeda itu. Dan sekarang hatinya benar-benar remuk.

Pengejaran Panjul tidak sia-sia. Instingnya benar-benar tajam untuk menduga kemana tujuan pencuri itu. Dia melihat seorang laki-laki di atas jembatan. Berpakaian sangat rapi dengan celana berwarna hitam, kemeja putih, dan sebuah dasi. Di dekat laki-laki itu ada sepedanya yang disandarkan di pinggir jembatan. Penjaga warung tadi juga mengatakan bahwa laki-laki itu berdasi. Tidak salah lagi, orang itulah pencurinya. Panjul semakin kencang berlari. Dia takut laki-laki itu membawa lari sepedanya lagi.

Jaraknya dengan laki-laki itu semakin dekat. Pada detik-detik seperti itu, fokusnya hanya pada laki-laki itu dan sepedanya. Panjul memandang keduanya terus-menerus secara bergantian. Sepedanya tidak bergerak, laki-laki itu juga. Dia berdiri diam memandangi sungai. Panjul bersiap-siap untuk melabrak pencuri itu.

"Aku sudah menunggumu dari tadi.", tiba-tiba laki-laki itu bersuara.

Panjul terkejut, tapi dia tidak lantas diam.  "Kau pencuri. Kembalikan sepedaku!", katanya sambil mendekat untuk meraih sepedanya.

Laki-laki itu bergerak dari posisi diamnya, dia memandangi Panjul yang sedang mengangkat sepeda kesayangnnya. "Apa yang membuatmu cukup lama untuk sampai kesini? Aku sudah menunggu dari tadi. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan."

"Sejak kapan pencuri banyak bicara?", sepedanya sekarang sudah berdiri di sebelahnya.

"Apa kau tahu siapa aku?", laki-laki itu balik bertanya.

Panjul hanya diam. Dia tidak menjawab.

"Aku ini Menteri Pendidikan. Aku ingin membangun sekolah di desa ini. Kasihan melihat disini tidak ada sekolah dan aku kasihan melihatmu harus bersepeda dua jam sehari hanya untuk menuntut ilmu. Bagaimana desa ini bisa maju kalau sekolah saja tidak ada. Kau harus senang karena akan ada sekolah disini.", laki-laki itu menjelaskan.

"Lantas kenapa kau mencuri sepedaku, Pak Menteri? Kau sudah tahu kalau aku mungkin tidak akan bisa bersekolah tanpa sepeda ini. Kakiku sampai luka karena mengejarmu.", Panjul mulai merasakan perih di kakinya.

"Sudah aku jelaskan tadi. Aku ingin berbicara beberapa hal denganmu."

"Kenapa tidak di rumahku saja? Kau bisa datang dengan baik-baik. Tidak akan ada yang mengusir atau menuduh kau pencuri. Kau bahkan akan disuguhi teh."

"Terlalu banyak orang yang tidak memahami arti pendidikan disana. Kau pasti mengerti bagaimana susahnya berbicara dengan orang-orang yang tidak berpendidikan. Mereka kolot. Hanya ingin hasil yang instan tanpa memahami prosesnya. Di desa ini, aku hanya melihat kau yang masih bersemangat untuk bersekolah. Anak-anak lainnya lebih memilih untuk bekerja di sawah. Aku harap kau mau membantuku. Aku akan membangun sekolah di desa ini." kata laki-laki itu.

Panjul menimbang-nimbang apa yang dikatakan laki-laki itu. Dia masih belum bisa menerima pencuri sepedanya ternyata seorang menteri. Kalau yang dikatakan oleh laki-laki itu adalah kebohongan, maka itu adalah kebohongan yang paling tolol yang pernah terjadi. Seorang pembohong sekalipun tidak akan mengarang cerita konyol seperti itu. Kalau apa yang dikatakan laki-laki itu benar, mungkin saja benar, tidak ada salahnya sekali-kali untuk percaya. Toh sepedanya sudah kembali ke kuasaannya. Dia juga ingin agar teman-temannya yang lain merasakan sekolah.

"Bagaimana caraku membantu bapak? Bapak tentu tahu aku masih SMA.", tanya Panjul ke laki-laki itu dengan lebih sopan.

Muncul sebuah seringai di wajah laki-laki itu, "Jadi kau bersedia membantuku? Ada banyak yang bisa kau lakukan. Kalau kau bersedia, akan aku jelaskan semua. Aku jamin desa ini akan maju."

"Aku belum bilang bersedia. Aku ingin tahu dulu apa yang akan aku lakukan.", Panjul mulai mencurigai laki-laki itu. "Kapan bapak mau membangun sekolah disini?"

"Sebagai seorang yang berpendidikan kau tentu paham. Tidak ada yang bisa dibuat dengan instan selain indomie, selalu ada proses yang harus dijalani.", laki-laki itu mulai membual.

"Kapan?", sela Panjul.

"Langsung ke inti. Aku suka gayamu.", Laki-laki itu menjawab dengan sedikit tersenyum. "Tahun depan adalah pemilu presiden. Kalau aku menang dan jadi presiden, akan aku bangun sekolah di desa ini. Aku bisa juga membantu membangun rumahmu. Karena itu aku berharap kau mau membantuku."

Panjul terkesiap. Dia terdiam sebentar untuk mencoba mencerna situasi lawan bicara yang dihadapinya. Awalnya seorang pencuri, lalu menteri, dan sekarang calon presiden. Dia teringat tiga tahun lalu, menjelang pemilu, ada seorang laki-laki yang mencalonkan diri menjadi gubernur berkunjung ke desanya. Laki-laki itu berhasil menarik simpati seluruh warga desa dengan janjinya untuk membangun jalan di desa itu yang tidak pernah layak dan banyak janji-janji lainnya. Sekarang laki-laki itu menjabat sebagai gubernur dan sampai sekarang dia seperti sudah lupa janjinya. Desa itu dilupakan dan jalan tidak berubah. Tetap berbentuk tanah bergelombang yang menjadi tempat kerbau berkubang setelah hujan.

"Kenapa harus menunggu menjadi presiden dulu? Kalau bapak benar-benar ingin membantu, ingin membangun sekolah, tentu sekarang juga bisa. Tidak harus menunggu menjadi presiden.", kata Panjul.

Wajah laki-laki itu berubah menjadi datar. Seringai di wajahnya sudah hilang dari tadi. Dia menyangka akan mudah menaklukkan Panjul dan menjadikannya tim sukses di desa ini. Ternyata tidak. Tapi dia tetap tenang seperti sudah biasa menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

"Aku mengakui kau memang anak yang cerdas. Tapi kau tidak memahami birokrasi. Aku tidak sedang meledekmu. Tidak. Anak seumurmu wajar tidak mengerti hal seperti itu karena memahami birokrasi bukanlah hal yang mudah. Bahkan orang-orang yang terlibat di birokrasi bertahun-tahun belum tentu paham filosofi mereka bekerja. Dan..."

Laki-laki itu terdiam sejenak. Lalu menghela napas.

"Ah! Aku benci berbasa-basi. Tapi ketika terlibat di dunia politik semakin jauh, maka semakin banyak basa-basi yang harus dikeluarkan. Begini saja. Aku hanya ingin kau membantuku. Bantu aku agar menang di desa ini. Kita membuat kesepakatan. Kalau kau setuju untuk membantuku, aku juga akan membantumu. Aku akan memperbaiki rumahmu. Lantainya akan aku semen, atapnya akan diganti dengan genteng. Aku akan membelikanmu motor. Kau tidak perlu capek lagi menggowes kalau ingin bersekolah. Aku juga akan memberikan modal untuk ayahmu. Kalian bisa membuka usaha di desa ini. Kalian bisa membuka warung nasi atau jualan apapun yang kalian mau. Aku bisa membantu itu. Kau hanya perlu mengatakan ya untuk membantuku. Hanya itu. Lalu kalau aku berhasil menang menjadi presiden, akan aku bangun desa ini, akan aku bangun sekolah. Bagaimana menurutmu?"

Wajah laki-laki itu berubah menjadi serius. Sebuah keseriusan yang menggambarkan kesungguhan. Panjul-pun menjadi bimbang dengan tawaran laki-laki itu. Keluarganya sudah cukup lama terjebak di lingkaran hidup yang pas-pasan dengan kemungkinan untuk bebas yang sangat kecil. Kebebasan baru akan didapat setelah mati karena setelah itu, kemiskinan akan menjadi harta yang harus diwariskan. Jadi tidak heran ketika sudah beberapa orang dari desa itu yang cukup berani untuk mengakhiri hidupnya sendiri demi sebuah kebebasan. Tapi Panjul masih mengingat pengingkaran yang dilakukan gubernur sekarang. Dia tidak ingin desanya dikhianati lagi. Kalau dia bersedia membantu laki-laki itu, maka secara tidak langsung dia akan bertanggung jawab atas semua janji-janji yang akan dibuat. Ketika semua janji-janji itu tidak ditepati, maka dia akan menjadi kambing hitam. Seluruh desa akan menghujatnya. Kemungkinan terburuk adalah dia akan diusir atau mungkin dibunuh. Sedangkan dia pernah bercita-cita untuk membangun desanya itu.

"Aku heran mengapa para politisi selalu siap dengan janji-janji yang tak pernah habis. Seperti tidak ada yang bisa mereka berikan selain janji. Perjanjian itu baru akan ditetapi kalau mereka menang di pemilihan. Tapi janji itu hanyalah lisan. Tidak ada yang berani menjadikannya tulisan yang bisa digugat.", kata Panjul tiba-tiba.

"Ketika mereka menang dan ditagih janjinya, mereka selalu berbicara proses sebagai alibi. Siklus empat tahunan itu selalu terjadi seperti itu. Rakyat sebenarnya sudah mulai jengah. Tapi apa yang bisa dilakukan rakyat kecil seperti kami? Kami hanya bisa memilih orang dengan janji yang paling menarik dan dengan kemungkinan terbesar dia memenuhi janjinya. Aku terkadang berpikir lebih baik tidak memilih. Tapi apakah itu lebih baik atau lebih buruk. Lalu aku berpikir lebih baik memilih yang lebih baik di antara pilihan yang buruk daripada tidak memilihnya sama sekali."

Laki-laki itu sedikit keheranan, tapi sebagai seorang politisi senior, dia sudah biasa menghadapi setiap situasi dengan tenang. Dia sebenarnya tidak terlalu terobsesi untuk menjadi Presiden, tetapi tekanan dari partai membuatnya harus menyiapkan strategi dan ,terutama, dana ekstra. Partailah yang sudah menjadikannya orang besar dan sekarang partai mengharapkan imbalan yang seimbang dari simbiosis mutualisme yang terbentuk. Tetapi seperti utang budi yang tak pernah dapat terbalaskan, partai selalu mengungkit jasa yang sudah diberikannya dan mengharapkan imbalan yang progresif dan tidak pernah habis.

Dia sudah ingin keluar dari partai sejak lama dan menjalani hidup yang lebih tenang tanpa gangguan. Tetapi perpolitikan adalah wujud lain dari labirin kehidupan seperti kemiskinan yang dihadapi warga di pedesaan. Tekanan dari partai dan modal miliyaran yang sudah dikeluarkan menjadikan kekuasaan adalah satu-satunya jalan keluar menuju ketenangan.

"Apa kau menolak tawaranku?", tanya laki-laki dengan tegas.

"Aku tidak menolak, hanya saja aku tidak mau menerima tawaran Bapak.", Panjul menjawab.

"Apa bedanya? Kau mulai bertingkah sok pintar dengan logika yang berbelit-belit. Aku sempat berpikir kalau kau lebih pintar dari orang-orang desa lainnya. Ternyata sama saja. Semua warga desa sama saja.". Ekspektasi dan optimisme yang terlalu tinggi dari laki-laki itu atas Panjul menjadikan hatinya benar-benar kecewa. Dia tidak bisa menahan emosi yang berusaha keluar menguasai.

"Aku tidak menolak. Aku hanya tidak percaya dengan politisi yang terlalu mengumbar janji. Semakin tinggi janji yang mereka tawarkan maka kemungkinan untuk tidak ditepati akan menjadi semakin tinggi. Mereka sama saja dengan penipu.", Panjul menjelaskan.

"Kau menuduhku penipu sekarang?", tanya laki-laki itu dengan berang.

"Tidak ada yang menuduh bapak penipu. Aku hanya mengatakan mereka yang tidak menepati janjinya adalah penipu."

"Kau tidak berkata seperti itu tadi. Secara tidak langsung kau sudah menuduhku penipu. Memangnya kau siapa berani menuduhku penipu."

Panjul memutar sepedanya ke arah desa dan menaikinya. Dia memilih untuk pulang ke rumah daripada terus  berdebat dengan laki-laki itu yang mungkin tidak akan jelas ujungnya. Rasa sedih akan kehilangan sepedanya sudah hilang. Perasaan sedih itu sekarang berubah menjadi kekesalan terhadap laki-laki yang menjadi lawan bicaranya. Tapi dia berusaha menahan perasaannya dan tetap tenang. Dia tidak ingin meladeni perkataan laki-laki itu lagi. Setidaknya sekarang sepedanya sudah aman di tangannya. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi.

"Mau kemana kau?", tanya laki-laki itu.

Panjul hanya diam. Dia tidak mengacuhkan laki-laki itu sambil mulai menggowes sepedanya.

"Lancang sekali kau meninggalkanku. Aku sedang berbicara kepadamu. Kau benar-benar tidak tahu sopan santun."

Melihat Panjul meningkalkan dan tidak mengacuhkannya, laki-laki menjadi semakin berang. Dia merasa seperti dihina. Apalagi oleh seorang anak dari desa yang diremehkan oleh orang-orang. Harga dirinya seperti diinjak-injak. Laki-laki itu menjadi kalap, emosinya tidak dapat lagi dikontrolnya. Dia mendorong Panjul yang mulai menggowes sepedanya sampai terbanting di jembatan.

"Apa yang bapak lakukan?", Panjul membentak.

Laki-laki itu tidak lagi dapat berpikir dengan jernih. Pandangannya sudah gelap dan otaknya sudah dikuasai amarah. Ketenangan yang daritadi tergambarkan di wajahnya lenyap. Wajahnya berubah menjadi buas dikarenakan kemarahan. Dia melihat sepeda Panjul yang tadi dicurinya tergeletak di jembatan. Sepeda itu diangkat dengan kedua tanggannya, tidak memerlukan tenaga yang banyak untuk mengangkat sepeda itu, lalu dilempanya sepeda itu ke sungai. Besi tua itu sempat mengenai pembatas jembatan yang diikuti suara besi beradu dan patah sebelum terjun jatuh ke sungai.

Panjul yang sedang meringis kesakitan karena badannya terbanting keras melihat kejadian itu dengan mulut menganga. Pikirannya sempat kosong sebelum merespon apa yang sebenarnya terjadi. Seketika mendengar suara benda yang masuk ke sungai, Panjul langsung bangkit dan berlari ke pinggir jembatan. Dia sempat melihat sepedanya yang terbawa arus dan tenggelam menghilang.

"Apa yang kau lakukan?". Tanya Panjul dengan penuh amarah. Tetapi ketika dia menoleh ke belakang, laki-laki yang ditanyainya sudah menghilang. Matanya mulai mencari-cari, tetapi wujud laki-laki itu sudah lenyap. Tidak ada. Tidak ada dimana-mana. Laki-laki itu menghilang seperti angin yang tak berjejak.

Panjul kebingungan. Pikirannya mulai membayangkan nasib sekolahnya besok. Sekolah tanpa sepeda itu adalah sebuah penyiksaan. Dia harus berjalan kaki selama tiga jam lebih atau terancam tidak dapat bersekolah.

Amarah, kesedihan, kekesalan, dan kekecewaan memenuhi perasaannya. Objek pelampiasan sangat dibutuhkannya saat itu. Tetapi tidak ada apa-apa selain tanah, langit yang berawan, dan angin. Pikiran dan perasaannya benar-benar terbebani. Tidak ada pilihan yang bisa dilakukannya selain menjerit. Menjerit sekeras-kerasnya dengan harapan beban perasaan itu terlampiaskan.

Dg. Sija, 14 Maret 2013

Monday, February 4, 2013

Tulisan Ngawur


Beberapa teman saya menyarankan untuk membuka akun twitter, beberapa yang lain menyuruh membeli HP android, dan kakak saya ingin mewariskan Blackberry-nya. Tanpa perlu pikir panjang saya menolak semua, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena hal-hal itu sudah saya pertimbangkan dari lama. Saya belum merasa perlu memikirkannya untuk kedua kali.

Jujur, saya menghindari segala bentuk kemudahan komunikasi tanpa bertatap muka, walaupun itu susah. Facebook, twitter, whatsapp, bbm, dan teman-temannya yang lain, bahkan sms dan telepon.  Saya menganggap kemudahan-kemudahan itu sebagai jebakan. Lewat sms atau telpon saja saya sudah sering tertipu dan menipu. Misalnya ketika menanyakan kabar kepada seseorang, berapa persentase jawaban tidak sehat, kurang sehat, atau sakit yang muncul? Jawaban itu hampir selalu sehat, sehat, sehat. Alhamdulillah. Walaupun terkadang kenyataannya mules, sakit kepala, atau kelaparan. Saya adalah bukti yang hampir selalu menjawab sehat ketika ditanya masalah kabar. 

Saya juga melihat orang-orang lebih berani berkomunikasi dan beragumentasi lewat dunia maya. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan dirinya seperti tidak ada rasa grogi dan malu. Kalaupun ada, rasa itu bisa ditahan di dalam kamar. Seperti yang saya lakukan melalui blog ini. Berceloteh mengenai hal-hal tidak penting. Hal yang bisa dibilang parah adalah ketika seseorang di kehidupan nyata yang cenderung introvert bisa menjadi sangat berisik di dunia maya. Sedangkan kebalikannya dianggap biasa saja. Lebih parah lagi kalau orang tersebut adalah anak kamar yang sangat jarang keluar. Di Jepang yang seperti ini disebut Hikikomori. Mereka biasanya memanfaatkan berbagai jejaring sosial untuk berkomunikasi. Dunia nyata dan maya sudah terbalik fungsinya.

Komunikasi lewat telepon masih lebih baik dibandingkan sms, saya hanya ingin (bisa) membandingkan dua ini saja. Melalui telepon feedback yang diharapkan dapat langsung diperoleh. Seseorang yang belum ahli dalam berimprovisasi akan memberikan feedback berupa respon alam bawah sadarnya yang lebih jujur. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk mengarang cerita. Berbeda dengan SMS. Feedback disampaikan sepenuhnya berasal dari kesadaran. Waktu bisa diulur-ulur untuk menciptakan improvisasi yang diharapkan indah. Respon itu menjadi tidak lagi jujur. Sesorang bisa saja terlihat antusias tetapi kenyataannya sinis.

Saya merasa tertipu  dengan itu semua. Sehingga saya lebih suka berkomunikasi face to face. Bahasa tubuh lawan bicara menyampaikan respon yang lebih jujur dari kata-kata. Kau dapat memahami apakah yang disampaikan adalah kejujuran atau karangan. Perasaannya juga dapat jelas tergambarkan. Bosan, sedih, gembira, bahagia. Media-media yang menjadi substitusi dari mengobrol tidak sanggup menyajikan itu semua. Hanya beberapa kata, status, atau emoticons yang dapat sedikit menggambarkan. Itupun kalau jujur. Tetapi sesuatu yang dilakukan untuk mengharapkan reaksi tidak mencerminkan kejujuran.

Terkadang saya berpikir untuk membebaskan diri. Membuang HP ini ke tong sampah. Hidup ke masa lalu dimana kantor pos masih menjadi nomor satu. Tetapi ketika fungsinya masih jauh lebih unggul daripada kerumitan-kerumitan yang saya pikirkan, maka HP ini tetap saya bawa kemana-mana. Saya hanya meminimalisir penggunaannya saja. Sebatas hal-hal yang penting dan kalau saya mulai membahas hal-hal yang tidak penting berarti itu bukan saya, tetapi diri saya yang sedang bosan dan mulai gila.

Sunday, January 20, 2013

Wakil rakyat seharusnya merakyat


Demokrasi itu sangat indah teorinya. Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Negara bahkan didirikan dengan tujuan menyejahterakan rakyatnya, mendidik mereka menjadi pintar, dan melindungi hak-haknya. Semua kebijakan dibuat dengan pertimbangan kepentingan rakyat. Rakyat adalah raja.

Negara modern yang memiliki berjuta-juta penduduk sangatlah susah apabila ingin menerapkan demokrasi langsung. Apabila dipaksakan, yang terjadi adalah ketidakefisienan. Keputusan yang bulat akan sangat lama diperoleh dan ditetapkan. Jadi pilihannya hanyalah demokrasi perwakilan atau tidak langsung. Rakyat memilih wakil-wakilnya yang akan menduduki jabatan legislatif. Melalui wakil-wakilnya itu, pemikiran masyarakat disalurkan.

Demokrasi perwakilan itu bukanlah demokrasi ketika legislatif tidak pernah bersinggungan dengan rakyat yang diwakilinya. Legislatif itu eksklusif. Seakan-akan ada, seharusnya tidak ada, jurang yang sangat lebar yang memisahkan antara legislatif dengan rakyat. Suara rakyat tidak terdengar oleh mereka. Saya sampai bingung, sebenarnya para legislatif itu menyuarakan suara rakyat atau pemikirannya sendiri atau malahan pemikiran partainya.

Saya tidak ingin mengeneralisasi para wakil rakyat yang terhormat itu. Tapi ketika seseorang menduduki kursi legislatif, tidak ada dari mereka yang miskin. Duduk disana berarti kaya raya, punya rumah, mobil, kekuasaan, dan kesibukan yang tiada henti. Itulah alasan mengapa diperebutkan. Bukanlah dongeng bahwa kesenjangan antara yang kaya dan miskin bagaikan tembok berlin yang baru akan runtuh ketika si kaya membuka hati.

Rakyat miskin terlalu berkecil hati untuk mendekati mereka. Sedangkan para legislatif itu dengan rumahnya yang megah, mobilnya yang mewah, dan kesibukannya yang menjadikan waktu seperti sapi perah tidak pernah berhenti bekerja. Mereka membahas peraturan yang tidak pernah selesai. Mereka membawa keluarganya ke eropa untuk belajar dan belanja. Mereka menyusun anggaran untuk memperbaiki ruang rapat mereka sampai taraf mubazir. Mereka juga menjadi selebriti yang berdebat di televisi. Dengan kesibukan yang super padat seperti itu, kapan mereka mendengarkan rakyat? Kalau seperti ini, praktek demokrasi kita hanyalah topeng!

Saya sempat penasaran dengan prestasi legislatif di tahun lalu. Saya coba googling dengan kata kunci “prestasi DPR 2012”. Silahkan lihat sendiri hasilnya.

Tuesday, November 27, 2012

danau dan bukit


Kesalahan itulah yang benar

Entah sejak kapan saya tertarik dengan hukum dan perpolitikan. Saya sudah lupa. Tetapi sejauh yang saya ingat, saya awalnya terpengaruhi (lagi-lagi) oleh buku-buku diskonan yang saya beli. Ketika buku-buku itu dijual dengan harga yang sangat murah karena tidak laku, maka saya siap sedia membelinya. Walaupun saya tidak tahu kapan buku itu selesai dibaca atau bahkan mulai dibaca. Saya seperti wanita yang tergila-gila dengan diskon sepatu atau baju. Syukur saja objeknya berbeda.

Dulu itu saya sempat berpikir kalau politik itu tabu. Orang-orang berpolitik karena ingin berkuasa, mensejahterakan diri sendiri berkedok pro rakyat, kepentingan umum menjadi nomor dua. Tetapi sekarang saya tidak ingin lagi menjadi apatis ria yang tidak peduli dengan keadaan Negara. Tidak peduli sama dengan membiarkan. Setidaknya sekarang saya berusaha memahami sedikit tentang politik dan hukum yang ada. Saya tidak ingin dibodoh-bodohi oleh para penghisap yang berkuasa.

Berusaha memahami tidaklah menjawab pertanyaan yang ada. Tetapi terus melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru dari pemahaman yang masih setengah. Selama ini saya masih bertanya-tanya, apakah hukum yang dibuat manusia itu sebuah kebenaran? Atau jangan-jangan orang yang bertindak melanggar hukum adalah yang benar. Ketika timbul pertentangan antara hukum dengan budaya, hati nurani, dan sisi manusiawi, mana yang harus dibenarkan? Apakah tetap berpihak pada hukum atau sebaliknya?

Perkara pencurian sandal dibawa ke pengadilan, seorang nenek yang dituduh mencuri buah coklat diadili, apakah hati nurani dan sisi manusiawi kita mengatakan itu benar? Saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa hukum itu benar-benar buta –bagi yang tidak punya kuasa- karena tidak disesuaikan dengan hati nurani, budaya dan sisi manusiawi. Hukum itu diciptakan oleh logika manusia yang berusaha adil. Seadil-adilnya manusia tetap tidak adil bagi yang lainnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang widyaiswara pengisi materi  Percepatan Pemberantasan TIPIKOR yang sangat menjaga integritasnya. Apakah hukum itu mutlak? Beliau menjawab, kalau di pengadilan hukum itu mutlak. Pertanyaan saya terjawab setengah. Setengahnya lagi saya coba timang-timang sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia bertindak lebih mengikuti hati nurani dan sisi manusiawi dirinya dibandingkan hukum yang ditulis. Walaupun terkadang, sadar atau tidak sadar, bertentangan dengan hukum dan dianggap salah di mata hukum. Tapi buat saya, tidak semua hal yang salah dari sisi hukum adalah salah. Ketika kesalahan itu adalah kebenaran menurut hati nurani, budaya, kemanusiaan, dan lainnya, maka hal itu tidak salah. Saya baru akan menganggap kesalahan itu adalah salah ketika dibawa ke pengadilan dimana hukum itu mutlak. Ketika masih berada di luar pengadilan, di pinggir jalan, di warung makan, atau di tempat selain pengadilan, maka kesalahan itu tidak salah. Beda tempat, statusnya berbeda.

Saya tidak sedang melakukan pembenaran terhadap tindakan saya yang merelakan uang Rp50.000 untuk terbebas dari tilangan polisi karena tidak punya SIM. Kalau saja ada yang berpikir seperti itu, silahkan saja. Saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya saja. Pemikiran ini sudah lama ada. Tetapi karena kebetulan otak saya mulai bergejolak lagi, jadi saya tulis saja sebagai pelampiasan. Lebih enak keluar kalau sedang panas-panasnya.

Saat ditilang, semua orang ditawari dua pilihan, memilih sidang atau diwakilkan. Kalau memilih sidang, silahkan bawa bukti tilang dan sidang sendiri di bulan desember. Kalau diwakilkan, bayar Rp50.000 dan setelah data-data saya dicatat dan disuruh tanda tangan, saya dapat bebas pergi. Polisi bergerombol, menilang seperti nelayan menjaring ikan, lalu memberi dua pilihan tadi seakan-akan semua itu sah. Saya tidak tahu semua itu sah atau tidak, ada atau tidak peraturan yang mengaturnya-serius, saya benar benar tidak tahu. Motor saja saya tidak punya, apalagi memahami peraturan-peraturan seperti itu. Tapi karena polisi-polisi itu bertindak seperti semuanya sudah tersistem, maka saya berpikir kalau itu sah-sah saja.

Pertimbangan kedua saya adalah motor yang saya gunakan adalah pinjaman dari teman saya Rifqy. Kalau saya sok-sokan berintegritas dan tidak mau mengeluarkan Rp50.000, maka saya tidak hanya menyusahkan diri sendiri, tetapi juga keluarga teman saya itu. Saya tentu tidak mau jauh-jauh dari Bogor ke Jogja, di tengah-tengah jadwal diklat yang padat, hanya untuk sidang karena ditilang polisi di bulan desember nanti. Jadi apa saya mesti menyusahkan orang lain demi sebuah integritas. Sisi manusiawi dan hati nurani saya bersorak-sorak mengatakan itu tidak benar. Lebih baik membayar uang Rp50.000 dan masalah selesai.

Dilema itu muncul, ketika itu saya benar-benar bingung. Saya bertanya tentang sistem transfer bank kepada teman-teman saya yang lain dan tidak ada yang mengerti. Saya terus berpikir bagaimana caranya supaya apa yang saya lakukan tidak melanggar hukum. Tapi kemudian saya berpikir lagi, memangnya saya tahu hukum yang mengaturnya bagaimana. Jangan-jangan ada aturan yang mengatur tentang pungutan Rp50.000 itu dan diwakilkan. Sayapun menggunakan azas praduka tidak tahu dan setelah menimbang-nimbang sisi baik dan buruknya, keuntungan dan kerugian, hukum dan manusiawi, maka saya memutuskan untuk diwakilkan dan membayar.

Saya tidak mau dibilang salah. Apa yang saya lakukan itu tidak salah menurut hati nurani dan sisi manusiawi. Kalau ada sisi manusiawi seseorang yang menganggap menyusahkan orang lain adalah sebuah hal yang benar, maka dia bukan manusia. Dari sisi hukum, saya juga tidak tahu salah atau benar. Kalaupun salah, saya hanya akan mengaku salah kalau sudah di pengadilan.

Wednesday, October 24, 2012

Minggu'


Aku langsung melihat jam di handphone ketika terjaga pagi ini, 04.20, waktu yang sama dengan kemarin. Konyol! Aku lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi, teringat aku belum shalat isya. Kosan ini sepi sekali, seperti hanya aku penghuninya dan tikus yang terkadang numpang lewat. Oh ya kucing juga ada. Aku teringat semalam, entah pukul berapa, sepasang kucing siap bertarung tepat di bawah jendela kamarku. Suaranya sangat berisik. Aku dengan banyak rasa malas berjalan ke luar kamar dan mengambil sapu bersiap-siap menjadi pelerai. Aku kenal kedua kucing itu. Warnanya sama-sama perpaduan hitam dan putih. Kucing yang ada lonceng di lehernya bernama Ketty. Aku tahu namanya dari Ema, anak ibu kos. Bagian atas badannya berwarna hitam. Sedangkan, bagian dada sampai moncongnya berwarna putih. Tepat di bawah hidung ada segaris warna hitam yang terkesan seperti kumis. Dia jadi terlihat macho. Aku juga sempat mendengar cerita yang tidak tahu benar atau tidaknya mengenai kucing ini. Katanya ketika Ketty masih kecil, dia punya seorang ibu susu. Seorang wanita yang sering menggendong Ketty sambil memberikan langsung susu dari payudaranya. Mereka bilang wanita itu sinting. Rumahnya selalu aku lewati setiap hari, 3 rumah dari tempat aku sekarang tinggal. Tapi sekarang wanita itu sudah hilang, tidak ada yang tahu kemana. Kucing yang satu lagi tidak kalah macho dari Ketty. Warnanya hitam dan putih juga, tetapi campur aduk dan tidak berpola. Satu hal yang membuat kucing ini terlihat macho adalah lukanya yang menyebar di sembarang tempat di badannya. Kulit-kulit yang tak berbulu lagi, keras, dan kering. Dan aku masih ingat tatapan matanya yang tajam seolah ingin berkata “aku ini kucing liar, jangan kau macam-macam”. Akhirnya dengan sapu aku berhasil melerai mereka berdua. Ketty berlari menuruni tangga dan kucing satu lagi naik ke atas genteng. Walaupun mereka masih terus bertatapan, tapi sepertinya mereka tidak berkelahi lagi. Setidaknya tidak di bawah jendela kamarku. Aku melanjutkan tidur yang terganggu dan terbangun untuk shalat isya seperti yang tadi sempat aku ceritakan. 

Beberapa menit setelah aku shalat isya, adzan subuh berkumandang. Saat aku aku sudah rebahan di atas kasur masih memakai sarung. Kurang tidur dan tiba-tiba bangun itu benar-benar membuat kepala rasanya berat. Lalu tanpa sadar aku terlelap lagi mengabaikan kumandang adzan. Aku terbangun lagi pukul enam kurang lima belas menit. Dengan otak yang belum berfungsi dengan normal aku masuk lagi ke kamar mandi, berwudhu, lalu shalat subuh. Selesai shalat aku menjatuhkan kepalaku ke atas kasur yang tepat berada di belakang sajadah. Ini adalah posisi tidur favoritku di kamar ini dengan menjadikan kasur sebagai bantal.  Sambil memandang langit-langit kamar aku sempat berpikir tujuan sebenarnya aku shalat itu apa. Apakah untuk mendapatkan pahala, terhindar dari neraka, atau apa? Pertanyaan yang sederhana tetapi rumit dan sulit menjawabnya.. Akupun mengalihkan perhatian ke netbook yang selalu menjadi teman setiaku di kamar ini. Kunyalakan, buka browser, dan mengecek berita terbaru di Antara. Lagi-lagi polemik KPK dengan Polri. Para penegak hukum yang seharusnya saling mendukung, malah bersitegang dan tidak akur. Penyakit Negara ini memang sudah akut. Orang-orang yang diamanahkan kekuasaan takut kehilangan kekuasaannya. Malah menjadikan kekuasaan itu sebagai kekuatan. Mereka takut miskin seperti rakyat yang sejatinya berkuasa. Tapi sekarang mereka sudah menghilangkan kepercayaan rakyat. Rakyat sekarang sudah pintar dan tidak bisa dibodohi. Hanya tinggal menunggu klimaks saja sampai rakyat sebagai penguasa sebenarnya benar-benar marah.

***

Sebenarnya pagi ini aku sedang gundah. Seperti ada sebuah perasaan kosong yang merasuk. Tentu aku tahu penyebabnya, tapi tidak akan aku ungkapkan disini dan saat ini. Itu adalah sebuah sisi sensitif dari seorang laki-laki yang tidak akan diumbar dengan gratis. Aku merasa ini adalah efek dari buku Ajip Rosidi yang aku baca semalam. Tapi kemarin aku juga membaca bukunya Charles Dickens, pagi harinya aku menyelesaikan Bromocorahnya Mochtar Lubis, dan 2 hari yang lalu aku membaca Beauty Affair karya Abdullah Harahap. Aku memang senang bergonta-ganti bacaan sebelum sampai ke halaman terakhirnya. Walaupun akhirnya buku itu selesai aku baca, tetapi terkadang ketika melanjutkan membaca aku harus mengulang beberapa halaman yang sudah terbaca supaya menyegarkan kembali ceritanya. Akibatnya cerita-cerita mereka menjadi campur aduk di kepalaku. Membuat kegundahan ini semakin rumit, serumit pemikiran-pemikiran mereka yang coba dimediakan lewat tutur bahasa.

Hati yang gundah seperti ini sudah sering terjadi. Sampai-sampai aku bisa menemukan sendiri penyembuhnya. Jangan berpikir kalau aku gundah karena seorang wanita. Anggapan itu terlalu picik. Ada banyak hal yang lebih patut diurusi daripada seorang wanita. Hal-hal itu menjadi komplotan pertanyaan di kepalaku dan ketika pertanyaan itu tidak terjawab tetapi pikiran ini terus memaksa bertanya maka saat itulah kegundahan itu muncul. Kalau sudah gundah seperti itu aku akan mencoba mengalihkan konsentrasi dengan menyibukkan diri. Aku paham menyibukkan diri akan membuat aku lupa. Begitu juga pagi ini, tiba-tiba aku terpikir untuk lari pagi. Melihat jam baru setengah tujuh dan hawa Jakarta masih sejuk. Aku mencoba berpikir apa yang harus dibawa. Ini pertama kalinya aku berniat sendiri untuk lari pagi. Aku sebenarnya sangat malas kalau disuruh lari. Rasa malas itu muncul karena aku memang tidak kuat kalau disuruh lari. Baru beberapa menit berlari dadaku akan terasa seperti digebuk-gebuk dari dalam, napas menjadi tidak teratur, dan pikiranku akan kacau tidak terkontrol. Tapi pagi ini, justru pikiran yang tidak terkontrol itulah yang aku cari. Jadi aku menyiapkan DAP trekstorku yang hanya berkapasitas 512mb, membersihkan sepatu NB yang masih ditempeli sisa-sisa pasir dari sawarna, dan uang Rp22.000. Aku siap untuk berangkat ke velodrome.

Aku mau melewatkan saja cerita aku berlari di velodrome, hal yang memalukan ketika aku hanya sanggup berlari dua kali putaran, tapi tentu rasanya akan ada yang bolong dari catatan ini. Jadi aku persingkat sajalah. Aku mulai berlari-lari kecil sambil diiringi lagu Tristan, duo folk dari Jakarta yang CDnya aku dapat secara gratis di Demajors. Stopwatch kunyalakan, napas kujaga supaya tetap teratur, dan langkah kaki diiramakan tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Aku berlari melewati pelari lain dengan percaya diri, menyalip di antara kerumunan anak SMP berpakaian olahraga yang berjalan santai, dan memperlambat lari ketika terpesona dengan seorang dara. Aku menyelesaikan satu putaran dengan sukses. Sambil berlari aku memilih-milih untuk mengganti lagu, Tristan terlalu sendu di pagi hari yang cerah ini. Aku membuka album Lou Reed-Transformer, lalu memilih I’m so free. Aku semakin bersemangat.
Yes, I’m Mother Nature’s son
And I’m the only one
I do what I want and I want what I see   
Could only happen to me
I,m so free. I’m so free
When I feel good, I’m so free
Early in the morning, I’m so free
Late in the evening, I’m so free
I’m so free…   

Setengah putaran kedua aku lewati, kakiku mulai terasa berat. Aku terlalu bersemangat sepertinya sampai lupa mengatur napas dan tempo lari jadi berantakan. Patut aku beritahu juga, aku punya betis kaki yang besar. Teman-temanku selalu kaget kalau melihat betisku yang seperti ini. Kalau kemudian mereka berkomentar aneh-aneh, itu sudah menjadi hal yang biasa. Betisku ini memang barang langka dan berat. Kalau aku berlari, beban paling berat yang perlu ditahan adalah keseluruhan kakiku ini. Mengangkatnya mengorbankan kalori yang banyak. Jadi aku berpikir wajarlah kalau setelah berlari satu setengah kali mengelilingi stadion velodrome betisku ini terasa semakin berat. Sedangkan napasku sebenarnya masih kuat. Tetapi betisku yang besar ini tidak mendukung. Jadi aku memutuskan untuk berhenti sebelum dua putaran di depan sebuah warung yang menjual minuman. Aku mengecek stopwatch dan ternyata aku hanya berlari selama delapan menit. Sangat payah! Aku mencopot sepatu dan memegang betisku yang rasanya seperti ditarik kencang. Susah memang kalau memiliki betis pemain bola, tetapi jarang dilatih berlari. Berlari sebentar saja, otot-ototnya sudah menjerit-jerit meminta oksigen lebih.

***

Aku berjalan pulang sambil sesekali mengguyur tenggorokan dengan sebotol air minum. Jalan pemuda pagi ini sangat lengang jika dibandingkan dengan keadaannya pada hari kerja. Kendaraan bermotor tidak terlalu ramai dan cahaya matahari tidak terlalu terik, Jakarta membuat betah kalau sedang seperti ini. Tapi Jakarta yang seperti ini hanya bisa dinikmati di akhir pekan ketika jutaan pekerja yang sedang libur memilih untuk istirahat di rumah. Ketika sudah masuk hari kerja, tidak ada lagi yang menarik dari Jakarta, kecuali uang dan fasilitasnya.

Aku sempat berpapasan dengan pak rahmat. Dia sedang mengayuh sepedanya yang berwarna merah. Dengan matanya yang sudah tua, aku yakin dia tidak melihatku yang sedang berjalan di trotoar. Jadi aku memutuskan untuk tidak menyapanya. Sepeda yang warna merahnya sudah memudar itu selalu jadi alat transportasinya kemana-mana. Ada keranjang dari kayu diboncengannya. Aku sering melihat keranjang itu berisi botol-botol bekas. Aku tidak tahu pekerjaan Pak Rahmat itu sebenarnya apa, tapi aku sering melihat dia mengumpulkan botol-botol yang sudah tidak terpakai dan terbengkalai. Kasihan aku melihatnya. Menurut perhitunganku, melihat dari raut wajahnya dan kulit yang sudah mengendur, umurnya sudah nyaris 80 tahun atau mungkin lebih, tapi dia masih terlihat kuat. Tuntutan hidup barangkali memaksa. Aku sebenarnya tidak terlalu kenal dengannya. Kami hanya sesekali bertemu di mushalla. Dia selalu memakai baju koko berwarna abu-abu. Aku ingat betul warnanya karena baju itulah yang selalu dia pakai. Dia jarang sekali menjadi imam shalat walaupun dari segi umur dia sudah yang paling senior. Aku akan beritahu alasannya. Dia biasanya berwudhu di mushalla dan ketika dia berwudhu, baju kokonya dilepas, dia memakai kaos dalam putih polos yang sudah lusuh. Setelah berwudhu dia akan memakai lagi baju koko yang tadi dilepasnya dengan sangat perlahan. Benar-benar pelan. Kancing demi kancing dengan sangat hati-hati. Umur yang menua memang melemahkan. Gara-gara kesulitan mengancing bajunya, dia sering ketinggalan takbir pertama, bahkan al fatihah lewat, dan ketika ayat pendek akan selesai dibaca, ketika beberapa detik lagi imam akan bertakbir untuk rukuk, dia akan buru-buru mengikuti dengan kancing baju yang belum dikancingkan semuanya. Dibiarkan terbuka. Tapi beberapa hari terakhir dia selalu menjadi imam ketika shalat maghrib. Suaranya terdengar sangat lemah dan dia membaca dengan pelan dan terkadang samar-samar. Lafadznya lugu dan sederhana dan memang tidak bisa dibandingkan dengan ustadz-ustadz kondang di luar sana, tapi benar-benar membuat kepala ini tertunduk.  

Aku lanjut berjalan. Di depan pasar inpres, aku sempat makan bubur sambil menonton seorang laki-laki dengan ototnya yang kekar dan kulitnya yang hitam membongkar muat pasir dari sebuah truk. Dia bekerja tanpa jeda dan tanpa suara. Menyekop tiap pasir kemudian melemparnya ke tumpukan pasir di pojok jalan. Seperti tidak ada hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari menyekop pasir. Atau dia ingin bersegera mungkin, tidak tahu. Setelah semua pasir berhasil diturunkan barulah dia berhenti, mengambil kausnya yang digantungkan di pinggiran bak truk yang kemudian digunakan untuk mengelap keringatnya. Lalu dia masuk ke dalam truk dan pergi tanpa basa-basi. 

Akhirnya aku sampai di kosan dengan kaus yang masih basah dengan keringat, dengan botol minum kosong yang masih di tangan, dan dengan pertanyaan di kepala yang bertambah banyak. Aku tidak mau keluar lagi di minggu pagi.
< > Home
Powered by Blogger.
Kursi Kayu jati © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.